Torat vs Kasih Karunia

Sepuluh pemikiran untuk perenungan Anda dalam persoalan yang sangat penting ini

Saya mempercayai hukum Taurat sesuai dengan tujuan mengapa hal itu diberikan: tidak untuk menyelamatkan, menyembuhkan atau menguduskan kita, tetapi untuk menunjukkan bahwa kita membutuhkan penyelamat. Hukum Taurat Musa selama periode waktu seribu empat ratus tahun menunjukkan kepada kita bahwa tidak ada seorangpun bisa menjadi orang benar karena perbuatannya. Itulah hukum Taurat – perbuatan manusia untuk menyenangkan Allah yang menurut dugaan sedang tidak senang. Semua agama didasarkan pada perbuatan manusia, dan yang menyedihkan banyak orang telah menurunkan kekristenan menjadi sebuah agama dengan perbuatan. Kekristenan tanpa Injil kasih karunia Allah (Kis 20:24) tidak lebih baik dari agama-agama lainnya.

Hukum Taurat adalah tentang apa yang dapat kita lakukan, tentang prestasi dan usaha kita. Hukum Torat berhubungan dengan apa yang ada di luar, meletakkan kemampuan kita sebagai fokusnya. Kasih karunia Allah adalah kemurahan Allah yang tidak diusahakan, tidak pantas, tidak layak untuk diterima. Kemurahan itu atas dasar perbuatan Yesus, karya yang telah Dia selesaikan di atas kayu salib dan kemampuan-Nya untuk menyelamatkan, menyembuhkan, menyucikan mereka yang “datang kepada Allah melalui Dia” (Ibrani 7:14).

Saya menyertakan sepuluh bahan pemikiran untuk perenungan Anda mengenai persoalan yang penting ini. Biarkan Roh Kudus menerangi apa yang telah Yesus lakukan bagi Anda.

1. Alasan dan motif

Agama yang mengutamakan hukum (legalistik) berdasarkan pada kemampuan kita agar bisa melakukan hal yang baik, tetapi untuk alasan yang salah. Doa, pendalaman Alkitab, memberi dan bersaksi, semua itu adalah hal yang baik, tetapi semua hal itu hanya akan membawa keuntungan bagi kita bila dilakukan sebagai respon dari karya yang telah diselesaikan Yesus di atas kayu salib.
Paulus berkata kepada kita jika kita memberikan semua uang kita kepada orang miskin, tetapi tanpa kasih, hal itu tidak ada faedahnya bagi kita (1 Korintus 13:3). Jelas sekali pemberian kita tetap akan berfaedah bagi orang miskin, tidak peduli motivasinya dari kasih ataupun bukan. Akan tetapi, Bapa Sorgawi sangat mengasihi kita dan Dia ingin kita mendapatkan keuntungan.

Saat kita melakukan hal baik agar mengesankan Allah atau orang lain, perbuatan baik tersebut tidak berfaedah bagi kita. Sebaliknya, saat kita meresponi kasi Allah bagi kita dengan mengasihi sesama, hal itu merupakan perbuatan baik yang tinggal tetap. Orang Farisi, baik mereka yang hidup 2000 tahun lalu dan yang hidup di dunia modern, selalu mementingkan pandangan orang lain terhadap mereka. Hal itu selalu mengenai menjaga penampilan, khususnya agar berkesan bagi mereka yang datang ke gereja yang sama, atau mereka yang memiliki daftar peraturan yang sama tentang mana yang benar dan yang salah mengenai apa yang kita lakukan.
Kasih karunia adalah tentang menikmati apa yang telah dilakukan Yesus bagi kita, dan merespono kasih-Nya dengan berjalan pada “perbuatan baik” yang dipersiapkan Allah sebelumnya bagi kita (Efesus 2:10).

2. Kosmetik agamawi atau kejujuran

Terkadang saat para wanita mengenakan makeup mereka menyebutnya sebagai “memakai wajah.” Legalisme adalah kosmetik agamawi – memakaikan wajah orang Kristen yang baik. Yesus berkata pada perempuan Samaria “Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.” (Yohanes 4:23).

“ Saat kita melakukan hal baik agar mengesankan Allah atau orang lain, perbuatan baik tersebut tidak berfaedah bagi kita.”

Dalam “roh” mengacu pada Perjanjian Baru, perjanjian dari Roh yang berbeda dengan perjanjian dari huruf (2 Korintus 3). Perjanjian yang pertama memberikan hidup, sementara yang kemudian membunuh. Dalam “kebenaran” berarti dalam kenyataan. Perjanjian Lama adalah salah satu dari bentuk luar, Allah ada di luar, sementara Perjanjian Baru berhubungan dengan penyembahan yang sejati, Allah ada di dalam. Kasih karunia memampukan kita untuk menjadi yang sesungguhnya dan jujur. Bukan usaha kita yang menjadi faktor penentu, tetapi tindakan Kristus yang tidak bercacat yang berlaku. Allah mengasihi Anda bukan karena apa yang telah Anda lakukan bagi Dia tetapi karena apa yang telah dilakukan Yesus di kayu salib. Tidak perlu berpura-pura, “memakai wajah.” Jika ada kekurangan di dalam kita, biarkan hal itu muncul ke permukaan ke tempat dimana kita dapat membiarkan kasih Allah menolong kita.

3. Jawaban bagi kekurangan kita

Legalisme agama dalam segala bentuknya mempunyai ciri yang sama. Selalu ada peraturan lain untuk diterapkan, tugas lain yang harus kita selesaikan, harus membangun karakter yang lebih saleh, dan selalu ada permasalahan pribadi yang kita harus bertobat atasnya – pada intinya kita tidak pernah cukup baik.

“Tidak peduli apakah dosa-dosa kita di mata orang lain merupakan dosa besar ataupun kecil, kita sama-sama membutuhkan Yesus.”

Sementara hal diatas merupakan kebenaran, Injil adalah bahwa Yesus telah menuntaskan syarat yang benar dari hukum Taurat bagi kita. Dia telah menyelesaikan segala yang diperlukan, dan karakter saleh yang sesungguhnya dibangun oleh Kristus yang hidup di dalam kita. Moral yang baik tidak diperoleh karena berfokus pada moralitas tetapi pada Kristus yang tinggal di dalam kita. “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” (Galatia 2:20). Seberapa besar Anda membiarkan Yesus berada di dalam Anda?

4. Bagaimana dengan perbuatan baik?

Inti dari agama legalistik adalah keyakinan yang menyatakan kalau kita mencoba lebih keras lagi, dan melakukan lebih banyak lagi, kita akan membuat Allah harus memberikan pengampunan, kesembuhan atau kemakmuran yang lebih lagi bagi kita. Ini adalah pengajaran penganut faham elit yang memberikan kemuliaan bagi kita, bukan pada Kristus. Pemikiran ini sangat kontras dengan mempercayai apa yang telah Yesus lakukan, seperti yang dinyatakan dalam sebuah lagu “Pada Kristus batu karang yang teguh aku berdiri, semua tempat yang lain adalah pasir yang menghisap.”
Legalisme mengatakan pada Anda untuk menjadi lebih benar, lebih baik, bekerja lebih keras, meningkatkan kualitas hidup Anda, memberi lebih banyak, melayani lebih sungguh, melakukan lebih banyak. Injil menyatakan bahwa Kristus telah meletakkan hidup ciptaan baru-Nya di dalam kita. “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” (Ef 2:10). Pekerjaan baik bukanlah hasil dari kebulatan tekad dan maksud baik kita, tetapi hasil dari pengenalan dari mengapa kita dilahirkan kembali: kita diciptakan untuk melakukan “pekerjaan baik” di dalam Kristus Yesus.

5. Kemunafikan atau ketulusan

Dalam Matius 15 kita dapatkan kisah tentang orang-orang Farisi yang merasa lebih mulia dari murid-murid Yesus karena mereka melibatkan dirinya dalam ritual penyucian yang telah ditentukan dan dengan mencuci tangan mereka sebelum makan, sementara murid-murid Yesus tidak melakukannya. Orang-orang Farisi menggunakan alasan ini untuk menyalahkan Yesus dan murid-murid-Nya, tetapi Yesus menyingkapkan mereka sebagai penipu rohani. Saat mereka “memilih” satu perintah dan menggunakannya untuk menyalahkan Yesus dan murid-murid-Nya, mereka sendiri bersalah karena melanggar perintah yang lebih berat. Anda bisa melihat legalisme akan membiakkan kesombongan dan sikap merendahkan. Bacalah seluruh kisahnya dalam Matius 15:1-10. Ini merupakan pertarungan yang menarik antara Yesus dan beberapa agamawan munafik terbesar yang pernah ada.
Kasih karunia merupakan kontras dari legalisme karena menghasilkan ketulusan. Anda hidup sebagaimana Anda sebenarnya. “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2 Kor 5:17). Saat Anda menikmati hidup ciptaan baru yang ada di dalam Anda, Anda tidak perlu mencari kesalahan orang lain, tetapi Anda akan lebih fokus pada membagikan hidup baru yang telah Anda terima.

“Saat kita menerima bahwa Yesus saja sudah cukup kita akan menemukan diri kita bertobat dari kebenaran pribadi dan mengandalkan diri sendiri.”

6. Apakah kita melihat kebutuhan kita akan Yesus?

Dalam Lukas 7 Anda mendapatkan kisah tentang perempuan “berdosa” menyembah Yesus di dalam rumah seorang Farisi bernama Simon. Dosa-dosa perempuan itu tampak dan sangat dikenal dalam komunitas itu; mungkin dia adalah seorang pelacur. Dosa-dosa Simon kurang dapat diperhatikan: kesombongan, kebenaran pribadi, keangkuhan dan kemunafikan. Saat kita mempelajari cara Yesus menghadapi keduanya, kita memperhatikan bahwa Kristus tidak membuat perbedaan antara dosa mereka. Di mata Allah dosa adalah dosa. Jika ada perbedaan, Simon lebih parah karena kebenaran pribadinya menutupi pengelihatan rohaninya. Dia tidak melihat kebutuhannya yang sebenarnya terhadap Allah. Malah dia memandang bahwa orang lain yang membutuhkannya, sementara dia memandang dirinya sendiri sudah cukup.
Begitu kita menangkap Injil Kasih Karunia, perasaan kita akan bergema seperti Rasul Paulus, “Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah” (2 Korintus 3:5).  Tidak peduli apakah dosa-dosa kita di mata orang lain merupakan dosa besar ataupun kecil, kita sama-sama membutuhkan Yesus.

7. Elitisme rohani atau sama-sama membutuhkan

Elitisme rohani adalah perangkap mengerikan yang telah menjerat banyak orang di sepanjang sejarah. Salah satu yang terperangkap dalam muslihat ini adalah Simon, orang Farisi yang rumahnya dikunjungi Yesus. Kisah dalam Lukas 7 menunjukkan pada kita tentang dua orang yang bertolak belakang. Seorang perempuan yang terkenal karena gaya hidupnya yang imoral; seorang laki-laki yang mempunyai reputasi moral yang baik. Simon tampaknya tidak akan pernah bertanya pada dirinya sendiri, “Berapa banyak dosa yang harus kamu lakukan agar bisa disebut sebagai orang berdosa?” Yesus mengembalikan maksud yang sebenarnya, kemudian hal itu diucapkan lagi oleh Rasul Paulus, kalau engkau melanggar satu saja, engkau sudah melanggar semuanya.

“Jangan menyerah terhadap Tuhan – Dia tidak menyerah terhadap Anda!”

Bayangkan ada dua orang yang demi menyelamatkan nyawanya harus melompati Grand Canyon. Orang yang pertama adalah pemegang medali emas olimpiade lompat jauh, orang yang kedua adalah seorang pengusaha tua yang kegemukan, tidak pernah berolahraga sekalipun dalam hidupnya. Tidak diragukan lagi pemegang medali emas olimpiade akan melakukan lompatan yang jauh lebih baik daripada pengusaha tua itu, tetapi pada akhirnya mereka berdua akan menghadapi nasib yang sama – dasar jurang Grand Canyon. Itulah maksud dari Kitab Suci, yang mengatakan pada kita bahwa semua orang telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah tetapi karunia kehidupan kekal adalah oleh kasih karunia bagi mereka yang mau percaya (Roma 6:23). Tidak ada seorangpun yang lebih dari yang lain; di atas salib Yesus kita semua sama-sama membutuhkan.

8. Apakah ini kasih karunia yang memalukan?

Kasih karunia itu tidak masuk akal. Bahkan dianggap memalukan oleh banyak orang. Mengapa Allah meletakkan murka-Nya atas dosa keatas Yesus? Mengapa Yesus mau membawa hutang yang bukan milik-Nya? Bagaimana bisa beban hutang itu telah dibereskan sebelum Anda dan saya lahir? Kemudian diatas semua itu, mengapa Allah menawarkan pengampunan ini sebagai pemberian cuma-cuma? Apalagi, bagaimana kalau kita mengambil keuntungan dari kasih tanpa syarat Allah itu? Fakta bahwa dia menawarkan keselamatan tanpa syarat yang mengikat, bukankah itu memalukan? Bagaimana mungkin Allah menasehatkan bahwa pengampunan harus diberikan tujuh puluh kali tujuh kali dalam sehari?

Yas, kasih Allah adalah batu sandungan memalikan bagi pikiran farisi dan kebodohan bagi ahli filsafat teologi, tetapi bagi kita yang percaya, hal itu adalah kekuatan dan hikmat Allah. Kasih karunia-Nya yang membuat kita berkuasa dalam hidup dan mengalahkan godaan dan jeratan-jeratan hidup serta untuk hidup yang dipersembahkan dan kudus bagi Yesus (Roma 5:17, 1 Korintus 1:18-25, Titus 2:11, 12).

9. Siapa yang mendapatkan kemuliaan?

Seringkali orang tidak menginginkan kabar baik kasih karunia Yesus, paling tidak saat pertama didengar. Normalnya manusia tidak merayakan kasih karunia Allah. Kenyataannya jika kita menerima kemurahan Allah yang tidak kita usahakan, tidak layak kita terima melalui Yesus Kristus, maka kita tidak dapat mendapatkan penghargaan bagi diri kita sendiri. Itu artinya bahwa keselamtan kita dan seluruh berkat yang mengikutinya adalah karena karya yang telah diselesaikan Kristus di atas keu salib, bukan hasil usaha kita sendiri, tidak ada kemuliaan bagi kita, semuanya untuk Yesus.
Injil kasih karunia sama sekali kontras dengan semua agama, yang adalah tentang apa yang dapat kita lakukan. Kasih karunia adalah tentang apa yang telah dilakukan Yesus.  Saat kita menerima bahwa Yesus saja sudah cukup kita akan menemukan diri kita bertobat dari kebenaran pribadi dan mengandalkan diri sendiri. Kemudian sesuatu yang mengagumkan terjadi – kita mulai berhasil dan membumbung tinggi dalam hidup karena energi kasih karunia-Nya yang tinggal di dalam kita. Itulah yang membuat Rasul Paulus menjadi besar. Dia menulis, “Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku” (1 Korintus 15:10).

10. Kasih dan karunia Allah tidak pernah berakhir!

Jangan menyerah terhadap Tuhan – Dia tidak menyerah terhadap Anda! Mempelajari perjalanan bangsa Israel melalui padang gurun terkadang melemahkan, akan tetapi kasih tersebut memiliki banyak elemen yang menguatkan. Bagian yang melemahkan adalah sebenarnya bangsa Israel dapat masuk ke dalam tanah perjanjian dengan lebih cepat, mungkin hanya dalam 3-4 minggu, akan tetapi mereka malah berputar-putar di padang gurun selama empat puluh tahun. Sepanjang tahun-tahun yang membawa hasil yang melemahkan tersebut berhadapan dengan fakta bahwa Allah tidak pernah menyerah atas mereka. Pernahkah Anda merasa tergoda untuk menyerah? Terhadap Allah? Terhadap orang lain? Terhadap diri sendiri? Ingatlah kasih dan komitmen Allah terhadap Anda tidak pernah berubah. Yeremia menulis, “Dari jauh TUHAN menampakkan diri kepadanya [kata-Nya]: Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu” (Yeremia 31:3). “Kasih yang kekal” dan “kasih setia”itu sepenuhnya dinyatakan dalam Yesus Kristus, dan hal tersebut tersedia bagi Anda dan saya, bukan karena perbuatan kita, tetapi karena kecakapan Yesus. Hal itu merupakan alasan untuk tidak pernah menyerah – perbuatan Yesus telah diperhitungkan bagi Anda. Legalisme selalu gagal pada akhirnya; kasih karunia menang.

Sumber: http://globalgracenews.org/id/global/grace/considerations_on_grace_and_law/

Baca juga:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *