Tingkatan-Tingkatan Iman

Oleh Ralph Mahoney
Bab 1
Bagaimana Cara Biji Sesawi Tumbuh?

 

Pendahuluan

Salah satu alasan Tuhan menunjuk guru-guru adalah untuk memampukan mereka berurusan dengan orang-orang yang tidak percaya. Ketika Yesus pergi ke Nazareth, kota sesama kecil hingga masa mudaNya, Alkitab mengatakan : “Dia tidak dapat mengerjakan pekerjaan-pekerjaan ajaib di sana karena ketidakpercayaan mereka “ (Mrk 6:5).

Sepertinya ada sesuatu di dalam kelompok atau masyarakat yang tidak percaya, yang dapat menghambat Kristus bekerja. Apabila kita membaca ulasan berikut ini dalam Markus 6, kita akan membaca dengan jelas: “Yesus berjalan keliling dari desa ke desa sambil mengajar”. Mengapa? Karena pengajaran adalah penangkal dari ketidakpercayaan.

Kita harus mengasihi tanpa melihat ketidak percayaan mereka, kita pun harus mengajar mereka karena ketidakpercayaan itu. Karena itu kita perlu diajar tentang iman : tentang potensi iman yang ada dalam kita; tentang prinsip-prinsip yang menentukan pertumbuhan iman; dan terutama bagaimana kita meningkatkan iman kita.

Saat Yesus berbicara soal iman, Ia selalu menghubungkannya dengan hubungan kita dengan sesama. Jika iman akan bertumbuh, hal itu akan mencakup hubungan kita dengan orang-orang percaya lainnya.

Dalam Lukas 17:3-4 Yesus mengajar murid-muridNya: “Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia, dan jikalau dia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata : Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia”.

Menanggapi ajaran dalam hal pengampunan dan hubungan antar manusia ini para rasul memohon pada Tuhan : “Tambahkan iman kami” (ayat 5).

Untuk menjalin hubungan baik dengan orang-orang suci lainnya kita memerlukan iman. Seperti seorang pengarang pernah menuliskannya beberapa tahun yang lalu; “Untuk hidup di atas bersama dengan orang-orang suci yang kita cintai, itu adalah kemuliaan. Untuk hidup di bawah dengan orang-orang suci yang kita kenal itu adalah cerita lain!”

Saat Yesus mulai berbicara tentang “hidup di bawah dengan orang-orang suci yang mereka kenal”, segera para rasul mengerti kebutuhan mereka untuk meningkatkan iman mereka.

A. IMAN TUMBUH DALAM TINGKATAN-TINGKATAN

Dalam ayat lain, Lukas 17:6; mungkin merupakan bacaan yang paling disalahmengertikan dalam hal iman dalam Alkitab: Jawab Tuhan “Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini : Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut dan ia akan taat kepadamu”.

Bacaan yang serupa pada Markus 11:23 disebutkan bukan hanya pohon-pohon tapi gunung-gunung : “Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung itu : Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut, maka hal itu akan terjadi baginya”.

Tak banyak dari kita yang benar-benar dapat memindahkan gunung-gunung ini, karena itu kita lalu `merohanikan’ dari konsep iman yang memindahkan gunung ini. Apabila kita tidak dapat membuat Firman bekerja, kita merohanikannya dengan menarik turun Firman Allah kepada pengalaman kita bukannya mengangkat naik pengalaman kita kepada Firman Allah.

Allah ingin FirmanNya bekerja. Dia berkata pada Yeremia 1:12, “Aku siap sedia untuk melaksanakan FirmanKu”, atau dalam terjemahan yang lebih baik : “Aku akan berdiri dibelakang (mendukung), FirmanKu untuk membuatnya bekerja”. Kita perlu menemukan iman semacam ini yaitu yang “mengucapkan sesuatu” dan hal-hal itu pun terjadi.

Maksud dari ini adalah : Ada “iman yang berbicara” yang tersedia untuk anak-anak Allah “sebuah iman yang berkata-kata.”

Penterjemah Alkitab telah mengartikan Lukas 17:6, sebagai “untuk melakukan perkara yang besar hanya membutuhkan iman yang kecil”. Masalah yang timbul dari doktrin ini adalah: tidak mungkin berhasil! Iman yang “kecil” tidak mungkin akan menyelesaikan hal-hal yang “besar”.

1. Iman Sebesar Biji Sesawi

Beberapa tahun lalu, saya menemukan terjemahan Weymouth yang menyebutkan : “Jika kamu mempunyai iman yang tumbuh seperti biji sesawi …” Ketika saya membaca itu, Roh Tuhan membuat saya mengerti apa Yesus ajarkan dengan cara yang baru. Itu adalah suatu cara penjelasan tentang iman yang belum pernah saya dengar sebelumnya.

Yesus tidak mengajarkan pada kita bahwa yang kita perlukan adalah iman yang kecil, sekecil biji sesawi, dan kemudian kita dapat memindahkan pohon-pohon dan gunung-gunung. Sebetulnya, Tuhan mengajarkan kita bahwa iman yang TUMBUH seperti benih biji sesawi dapat menyembuhkan yang sakit, mengusir setan-setan dan melihat tanda-tanda yang menyertainya (Mrk 16:17-20).

Kita mempunyai uraian yang rohani tentang bagaimana biji sesawi tumbuh pada Matius 13: 31,32. Ini adalah Firman Tuhan sendiri : “Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kataNya : Hal kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari sayuran lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya”.

Sekarang, kita tahu bahwa biji sesawi itu kecil; namun Yesus mengatakan bahwa apabila sudah tumbuh; sesawi itu lebih besar dari sayuran lain, bahkan menjadi pohon yang cukup besar untuk burung-burung bersarang.

Saat kita mengerti bahwa bukan kecilnya suatu iman tapi iman yang bertumbuh yang mengerjakan perkara-perkara besar, maka itu adalah konsep tentang iman yang sama sekali berbeda. Iman yang kecil akan mengerjakan beberapa perkara saja, dan iman yang lebih besar mengerjakan hal-hal yang lebih besar lagi, tapi iman yang bertumbuh adalah iman ideal yang diajarkan Yesus. “Dari iman dan memimpin kepada iman” (Rm 1:17) yaitu kita maju menuju sasaran, iman yang dewasa (matang).

2. Iman Memindahkan Gunung

Dalam 1 Korintus 13:2, Paulus memberi penjelasan tentang iman yang memindahkan gunung-gunung : “Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat, dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan, dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung …”

Paulus sadar bahwa untuk memindahkan gunung-gunung diperlukan seluruh atau total iman, atau iman yang dewasa. Anda tidak dapat memindahkan gunung-gunung dengan iman yang sebiji, anda memindahkan gunung-gunung dengan iman yang utuh. Untuk memindahkan gunung diperlukan iman yang sudah benar-benar diolah! Paulus mengetahui hal ini dan Yesus mengajarkannya.

Dalam Matius 17, kita membaca bahwa Yesus naik ke gunung tempat Ia dipermuliakan dengan Petrus, Yakobus dan Yohanes.

Pada saat yang bersamaan, ketika sembilan rasul lain menunggu di bawah, datanglah seorang yang mempunyai anak yang menderita ayan, yang menyebabkan dia jatuh dalam api dan air.

Kesembilan rasul ini mencoba untuk menghardik/mengusir kuasa kegelapan tersebut tetapi tidak berhasil. Orang tersebut datang kepada Yesus setelah Dia turun dari gunung dan berkata: “Aku sudah membawa kepada murid-muridMu tetapi mereka tidak dapat menyembuhkannya” (Mat 17:16). Betapa mereka tidak dapat menyembuhkannya.

“Dengan keras Yesus menegur dia, lalu keluarlah setan itu dari padanya dan anak itupun sembuh seketika itu juga. Kemudian murid-murid Yesus datang dan ketika mereka sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka, Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?” (Mat 17:18,19).

Dengan kata lain murid-murid berkata : “Tuhan, kami melayani orang itu dengan pelayanan kharismatik yang sepenuhnya; kami menggoncangkan dia, kami ucapkan “dalam nama Yesus”, kami melakukan semuanya itu, dan iblis tidak keluar. Mengapa?

Alkitab versi terjemahan King James menuliskan, “Ia berkata kepada mereka, Karena ketidakpercayaanmu … ” (Mat 17:20). Namun sebetulnya dalam bahasa Yunani yang asli bukan disebukan “tidak percaya” namun “iman yang kecil” atau “iman yang tidak berkembang”.

Yesus tidak berkata-kata tentang ketidak percayaan (usaha yang negatif). Murid-murid ini tidak akan mencoba mengusir iblis-iblis jika mereka belum percaya.

Ketidakpercayaan adalah hal negatif yang berarti tidak mempunyai iman, tetapi masalah ke sembilan rasul ini adalah “iman yang kecil”.

Mereka sudah mencoba tetapi tidak punya iman yang cukup untuk menyelesaikan tugas itu. Jadi murid-murid itu bukannya tidak percaya namun mereka tidak mempunyai iman yang cukup berkembang untuk mengatasi permasalahan. Mereka bagaikan mempunyai “iman sekecil biji” dan problema yang “sebesar pohon”.

Yesus lalu mengajarkan bahwa meskipun melalui iman mereka belum berkembang, namun jika mereka menginginkannya untuk bertumbuh seperti biji sesawi, mereka akhirnya akan dapat “berkata kepada gunung ini, pindah dari tempat ini ke sana; maka gunung ini akan pindah, dan tidak akan ada yang mustahil bagimu” (Mat 17:20).

Dengan kata lain, tidak ada yang mustahil bagimu jika anda mempunyai iman yang sudah berkembang, iman yang sudah bertumbuh – yang terus menerus bertumbuh!

Iman yang bertumbuh adalah sebuah konsep Alkitabiah. Di dalam tulisan Rasul Paulus, ia berkata pada kita dalam kiasan : dia berkata bahwa kita diubah “dari kemulian menuju kemuliaan” dan “dari iman menuju ke iman” (2 Kor 3:18; Rm 1:17).

Iman bertumbuh dalam serangkaian tingkatan-tingkatan.

3. Allah Memberikan Iman

Paulus menulis dalam Roma 12:3: “Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku …, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran (biji) iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing”.

Iman bermula ketika Allah memberi kita masing-masing ukuran biji iman. Kata “ukuran” berasal dari bahasa Yunani metron, artinya “proporsi terbatas”. Biji ini (proporsi/ukuran yang terbatas ini) adalah pemberian Tuhan bagi semua orang yang percaya.

Tidak ada seorang Kristen pun yang dapat berkata “Aku tidak mempunyai iman”, karena Alkitab mengatakan bahwa Allah memberi pada setiap orang ukuran/biji iman. Untuk lebih jelasnya dapat kita temukan dalam Efesus 2:8-9: “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah: itu bukan hasil pekerjaanmu, jangan ada yang memegahkan diri.” Jika anda adalah seorang percaya yang lahir baru, maka biji, ukuran dan karunia telah diberikan kepada anda.

4. Dua Macam Iman

Ada dua macam iman dan kita perlu membedakannya.

a. Karunia Iman. “Pemberian/karunia iman” ini disebut dalam 1 Korintus 12:9. Ini adalah pemberian yang berkuasa dari karunia iman dari Allah kepada anda.

b. Iman yang Bertumbuh. Yang lainnya adalah iman yang bertumbuh di dalam anda. Pada iman yang bertumbuh, jika anda memulai dengan iman “5 talenta” dan tumbuh menjadi iman “75 talenta” maka anda dapat menghadapi keadaan apa saja yang memerlukan iman hingga ukuran talenta 75 persen.

Sebaliknya jika iman anda belum bertumbuh dengan cepat, tetapi anda hanya mengenal iman itu sebagai pemberian tiba-tiba atau “pembagian” iman hanya untuk menghadapi satu macam keadaan tertentu saja, maka pertumbuhan iman anda mungkin baru mencapai tingkat iman 5 talenta.

Beberapa orang Kristen masih mengenang saat-saat penting ketika mujizat-mujizat besar karena iman itu terjadi melalui diri mereka, mungkin duapuluh tahun yang lalu, tetapi iman mereka tidak lagi bertumbuh dari hari tersebut sampai sekarang.

Iman yang berkuasa dapat datang kepada anda dalam situasi tertentu dan mujizat yang besar dapat terjadi. Tapi apabila keadaan tersebut berlalu, karunia iman itu pun ikut berlalu dan tidak lagi tinggal di dalam anda. Iman yang bertumbuh adalah iman yang akan tinggal dengan anda dan bekerja untuk anda dalam situasi apapun, yang anda hadapi. Selama masalah itu tidak melampaui tingkat pertumbuhan iman anda, maka anda akan selalu menjadi pemenang.

Tetapi, seperti halnya murid-murid Yesus, jika anda menghadapi masalah yang lebih besar dari tingkat pertumbuhan iman anda, maka anda mungkin mengalami kekalahan.

B. IMAN BERTUMBUH OLEH KETAATAN

Kita sekarang harus mencari tahu bagaimana iman dapat bertumbuh dalam kehidupan orang percaya. Kita menuju (atau tumbuh) dari “iman kepada iman” dan “kemuliaan kepada kemuliaan”.

Sebuah cara rohani untuk mengingatnya adalah : anda akan merasakan kemuliaan Tuhan hanya sebatas proporsi pertumbuhan iman yang ada dalam kehidupan anda. Iman yang berkembang berjalan seiring dengan meningkatnya kemuliaan Allah yang ada dalam kehidupan dan pelayanan anda.

1. Potensi dalam Sebuah Biji

Prinsip dari pertumbuhan iman dapat digambarkan dalam cerita kubur dari Raja Tut.

Raja Tut (singkatan dari Raja Tutank Hamon) adalah Firaun Mesir terkenal yang dikubur sekitar tahun 1351 sebelum Masehi, dalam kubur piramide yang sangat rumit dan mempunyai banyak liku-liku.

Kubur yang belum pernah terjamah itu ditemukan secara lengkap pada tahun 1922 oleh seorang ahli purbakala dari Inggris. Di dalamnya, di antara harta karun, ditemukan madu, gandum dan jagung.

Karena keingintahuan akan apa yang akan terjadi setelah 3.279 tahun, maka arkeologis tersebut menanam gandum dan jagung pada tanah yang subur dekat sungai Nil. Di sana tanaman-tanaman tersebut akan mendapat kelembaban dan makan yang cukup dari tanah.

Dalam jangka waktu pertumbuhan yang normal, panen gandum dan jagung itu tumbuh – panen dari biji yang telah berusia lebih dari 3000 tahun.

Meskipun tanaman-tanaman tersebut telah berada dalam keadaan mati selama tiga ribu lima ratus tahun, dalam biji itu masih ada kekuatan untuk menghasilkan dan menghasilkan lagi panen yang nyata. Apa yang diperlukan hanyalah lingkungan yang layak untuk bertumbuh.

2. Tiga Hal Yang Penting Untuk Pertumbuhan

Hukum alam tentang pertumbuhan mengajar kita hal-hal rohani. Biji gandum yang jatuh dalam lingkungan yang salah tidak akan pernah bertumbuh. Namun, dengan memberikan kondisi-kondisi yang benar, biji itu bukan hanya tumbuh – tetapi melalui penanaman kembali dari suatu panen yang sukses, lama kelamaan akan menghasilkan ribuan biji-biji gandum.

Potensi yang sama hebatnya ini terdapat di dalam biji iman yang sudah Allah berikan pada setiap orang. Apa yang kita lakukan dengan biji itu menentukan apakah iman itu tumbuh atau tetap merupakan satu biji saja.

Agar dapat bertumbuh, biji haruslah mendapat makanan/tanah yang subur, air dan cahaya matahari. Ini adalah tiga elemen yang amat dibutuhkan untuk pertumbuhan alami dan pertumbuhan rohani.

Secara metafora, supaya tumbuh, biji iman harus diberi makan dari dalam tanah Firman Allah (bukan secara hurafiah tapi oleh ilham Roh/Efesus 1:17 atas Firman), diairi dengan ketaatan akan Firman dan bermandikan sinar matahari dari kasih Allah yang bernaung dalam hati-hati kita oleh Roh Kudus (Rm 5:5; Gal 5:6).

a. Tanah – Mendengar Firman Allah. Saat kita berkata-kata mengenai Firman Allah sebagai tanah di mana biji iman itu tumbuh, kita tidak hanya menekankan pada Alkitab saja seperti Roma 10:17 mengatakan : “jadi iman timbul dari pendengaran … oleh Firman (dalam bahasa Yunani = RHEMA) Kristus”.

Pada kitab nabi-nabi dalam Perjanjian Lama, sering kita temukan kata-kata seperti : Firman Tuhan datang kepada …” nabi Yermia atau kepada Iman Yehezkiel atau kepada Hosea dan sebagainya, ini berarti bahwa suara Allah/Firman dikomunikasikan dari sorga kepada manusia di bumi seperti yang ditulis dalam Roma 10:17.

Dalam Yehezkiel 33:7, Allah berkata : “Dan engkau anak manusia, Aku menetapkan engkau menjadi penjaga bagi kaum Israel. Bilamana engkau mendengar sesuatu Firman daripadaKu. Peringatkanlah mereka demi namaKu” Allah tidak memberi sebuah ayat Alkitab, namun Dia memberikan padanya sebuah wahyu, “Firman” untuk diumumkan bagi umatNya.

Dengan cara yang sama, Firman Allah dapat dikomunikasikan kepada anda secara subyektif (di dalam roh, akal dan pikiran anda), dalam cara-cara yang khusus sehingga anda mengerti bahwa Dia berbicara secara khusus dengan anda.

Mungkin Dia melakukanNya melalui Alkitab, dengan membuat beberapa ayat membakar hati anda atau menjadikannya seperti sesuatu yang hidup di dalam anda – penuh dengan pengertian, penghiburan atau pengarahan kepada anda. Atau Dia mungkin melakukanNya seperti yang ditulis dalam Alkitab, yaitu dengan berkomunikasi secara langsung, melalui penglihatan, melalui mimpi atau kunjungan malaikat.

Allah dapat berbicara pada anda dengan suara yang dapat didengar, atau dengan suara yang lembut dan tenang, atau dengan memberikan jaminan yang pasti dalam hati anda.

Allah dapat dan mau berbicara dengan anda melalui salah satu dari cara-cara di atas!.

Kita telah mendapat 3 hal, yaitu :

  • Allah telah memberikan suatu ukuran tertentu dari biji iman kepada setiap orang.
  • Iman datang (ditingkatkan) dari mendengar Firman.
  • Allah dapat mengkomunikasikan FirmanNya kepada kita

.

Bagaimana kita dapat mendengar Firman itu dan menumbuhkan biji tersebut dalam tanah Firman Tuhan?

b. Air – mentaati Firman Allah. Pertama-tama kita harus mengerti apa arti mendengar itu. Paulus berkata dalam Roma 10:17 : “Jadi iman timbul dari pendengaran dan pendengaran oleh Firman Kristus”.

Paulus tidak berbicara mengenai sikap pasif semacam mendengar khotbah dari Alkitab. Dia tidak menganjurkan kita untuk pergi ke gereja 5 kali seminggu supaya iman kita tumbuh. Apa yang Paulus katakan adalah iman datang dari mendengar apa yang dikatakan Allah pada anda.

Mendengar dalam hal ini bukan menunjuk pada presepsi audio (mendengar suara-suara atau perkataan-perkataan) saja. Konsep ini berlanjut menjadi “mendengar dan bertindak sesuai dengan apa yang sudah didengar”.

Iman datang, tumbuh, didemonstrasikan dan diekspresikan dari mendengar dan bertindak sesuai dengan apa yang sudah anda dengar. Dalam bahasa Yunani, secara harafiah berarti : “iman datang dari mendengar dan mentaati (menjadi pelaku) Firman” (Yak 1:22).

Saat Allah berbicara selalu terdapat perintah dalam perkataanNya; sehingga anda dapat memilih, menjadi pelakunya atau tidak mentaatinya.

Contohnya, seorang ayah berkata kepada salah satu dari anak-anaknya : “Anakku, ada sekantong sampah di dapur. Tolong bawa ke luar dan buanglah dalam tong sampah”.

Anak itu tetap melanjutkan permainannya. Lima menit kemudian ia berlari keluar tetap melanjutkan untuk bermain. Kantong berisi sampah itu masih saja ada di dapur.

Apakah dia mendengar perkataan ayahnya tadi? Dia mempunyai presepsi audio (telinganya menangkap suara dan kata-kata) tentang apa yang telah dikatakan. Tetapi dari segi pemikiran Alkitabiah, dia tidak mendengar karena dia tidak bertindak/melakukan atau mentaati apa yang sudah dikatakan kepadanya.

1) Ketidaktaatan Menghalangi Pertumbuhan. Sering kita berlaku sedemikian saat Allah berkata-kata kepada kita. Kita tetap saja melakukan pekerjaan kita dan tidak bertindak menurut Firman Allah. Kemudian kita bertanya-tanya mengapa tidak ada pertumbuhan dalam iman kita.

Iman tidak dapat dilepaskan dan bertumbuh kecuali apabila iman itu kita lakukan.

Setiap kali anda mendengar dan melakukan, anda maju selangkah dalam iman. Disaat anda tidak mentaati Firman Allah, pertumbuhan tingkat iman kita akan terhenti di situ. Allah akan selalu membawa anda kembali dan berurusan dengan anda pada tingkatan tersebut sebelum Dia membawa anda pada perkembangan iman yang lebih lanjut.

Dengan kata lain, Allah selalu meminta anda untuk kembali ke tempat di mana anda meninggalkan kasih anda yang mula-mula dan mengambilnya kembali serta memulai lagi dari sana. Dia berkata, “Dia yang memiliki FirmanKu dan menyimpannya (dan melakukannya), dialah yang mencintai Aku”.

Maka dari itu iman anda tidak dapat bertumbuh tanpa ketaatan anda. Ini adalah hukum iman yang tidak dapat diubah-ubah!

Ingatlah, anda berjalan dari kemuliaan menuju kemuliaan dan dari iman menuju ke iman, jadi anda harus memulai dari tempat anda berada dan dengan apa yang anda punyai sekarang.

2) Mulailah Di Mana Anda Berada. Anda tidak akan dapat mengusir selegion setan sampai anda sudah mengusir satu setan. Dengan kata lain, anda tidak dapat mencapai sesuatu yang diluar jangkauan perkembangan iman anda, dengan mencoba berpindah dari iman sebiji kepada iman yang dewasa dengan satu kali lompatan. Bukan seperti itu caranya.

Iman bertumbuh dari serangkaian langkah-langkah yang progresif. Rasul Paulus memerlukan 14 tahun untuk menumbuhkan imannya, sehingga ia dapat mencapai kuasa iman yang lebih tinggi dan menggenapi panggilan Allah (Gal 2:1).

Perkembangan imannya sudah menjadi seimbang dengan masalah-masalah dan tantangan-tantangan yang harus ia hadapi dalam pelayanan pengutusannya.

Bersamaan dengan tumbuhnya iman anda, kemampuan anda untuk percaya kepada Allah tumbuh pula. Beberapa tahun yang lalu, saya bersama istri mulai hidup “oleh iman” mempercayai Allah untuk uang sebesar 8 dolar (sekitar Rp. 17.000,-) guna kebutuhan-kebutuhan selama seminggu. Iman kami tumbuh setelah bertahun-tahun oleh langkah-langkah yang progresif dan sekarang dalam penyerahan diri kami sebagai misionari pada World MAP, kami mempercayakan jutaan dolar pada Tuhan untuk membiayai pelayanan di seluruh dunia. Kami mulai dengan apa yang ada (saat kami mempunyai kurang dari 10 dolar) dan kami mempercayai Allah. Dari situ iman kami mulai tumbuh yaitu saat kami melakukan FirmanNya.

3) Jangan Meniru-niru Orang Lain. Yang perlu diperhatikan disini adalah : Jangan sekali-kali berbuat/melakukan Firman Allah yang ditujukan pada orang lain. Anda tidak dapat meniru iman orang lain. Beberapa orang sudah mencoba meniru pelayanan penyembuhan yang hebat namun kemudian hasilnya tragis dan tidak menguntungkan. Dan beberapa orang lagi mencoba mengikuti langkah iman orang lain dan mereka menjadi tersandung dan jatuh.

Namun jika Firman Tuhan datang kepada anda dan anda melakukannya, maka hal-hal yang tidak terduga dapat dan pasti terjadi.

Beberapa tahun yang lalu saya berada di Mexico bekerja dengan seorang saudara dari Panama, bernama Noel de Sousa.

Suatu hari dia membawa saya kepada rumah orang yang mundur dari Allah. Saat kami berdoa untuk orang ini, Firman Tuhan datang padaku, “orang ini bertobat atau ia akan mati”.

Benar-benar suatu berita yang keras bagi orang terbaring sakit! Tetapi itulah Firman Tuhan – “bertobat atau mati” – jadi hal itulah yang saya katakan kepada orang tersebut.

Saat itu saya tidak tahu bahwa istrinya telah berdoa bertahun-tahun agar ia bertobat dan kembali kepada Tuhan. Tetapi ketika Tuhan datang kepadanya, ia menjadi hancur hati dan mulai menangis seperti bayi, bertobat dan memohon Tuhan untuk masuk dalam hatinya dan Tuhan melakukannya.

Selanjutnya, Firman Tuhan datang kepadaku berkata, “Katakan padanya untuk bangkit dan berjalan dalam nama Yesus”. Saudara de Sousa menerjemahkan kata-kata perintah itu ke bahasa Spanyol. Sewaktu saya menjangkaunya untuk mengangkatnya, dia berdiri dari tempat tidurnya, mengangkat kedua tangannya dan menari-nari di dalam ruangan – bersorak dan memuji Tuhan!

Beberapa saat kemudian baru saya ketahui bahwa kondisi orang ini sebenarnya sangat lemah dan parah, sampai dokternya berkata jika ia miring ke arah lain di atas tempat tidurnya saja, ia akan mati. Andaikan saja saya tahu hal itu sebelumnya, saya mungkin terlalu takut untuk mentaati Tuhan, dan mengangkat dia dari tempat tidurnya. Tapi Firman Tuhan datang dan saya mentaatinya – dan orang itu disembuhkan!.

Andaikan saya menjamah atau mengangkat orang ini hanya dengan perasaan saya saja atau iman orang lain, saya mungkin sudah membunuh orang ini di tempatnya.

Kita dapat melihat bahwa ketaatan adalah kunci yang sangat berharga untuk menumbuhkan iman.

Kita telah mengetahui bahwa iman tidak dapat tumbuh di luar ketaatan. Seperti “iman datang dari mendengar dan mendengar … Firman Allah”, jadi kita tidak dapat menumbuhkan iman sebelum kita mendengar dan melakukan sesuai dengan Firman yang telah Allah katakan pada kita.

Kita telah mengerti bahwa Allah tidak menginginkan ataupun mengharapkan kita membuat satu lompatan raksasa dari iman sebiji menjadi iman yang menggoyangkan gunung, tetapi dalam rangkaian langkah-langkah perkembangan iman. Maka dari itu kita berjalan dari iman menuju ke iman.

Allah memulai pekerjaanNya, di dalam kita dari tempat kita berada dengan ukuran iman yang telah diberikan pada kita secara gratis. Percaya dan bertindaklah sesuai Firman Tuhan dalam roh ketaatan. Kemudian anda akan melihat bahwa iman yang dulunya hanya sebesar biji sesawi akan tumbuh menjadi pohon iman yang indah dan menghasilkan buah-buah yang berharga.

c. Matahari – Mengasihi Allah. Kebutuhan utama lainnya yang sangat diperlukan dalam pertumbuhan iman adalah kasih. Rasul Paulus mengatakan dalam Galatia 5:6 : “Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus, hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh Kasih.

Kita telah menemukan di Roma 10:7 bahwa “iman datang dari mendengar dan mentaati Firman Tuhan”. Jadi kita menyimpulkan bahwa yang diperlukan untuk pertumbuhan iman adalah sebagai berikut : mendengar, ketaatan dan kasih.

1) Ketaatan : Ujian Dari Kasih. Dalam Yohanes 14:21, Yesus menjawab hubungan antara kasih dan ketaatan : “Barangsiapa memegang perintahKu dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku”. Ketaatan adalah ujian dari kasih dan bukti dari kasih.

Yesus melanjutkan : “Ia akan dikasihi oleh BapaKu dan Aku pun akan mengasihi dia dan menyatakan diriKu kepadanya”. Pada ayat 23 dan 24 menyimpulkan : “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti FirmanKu … barang siapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti FirmanKu … “.

Kita mendengar FirmanNya dan karena kita mengasihi Dia kita seharusnya melakukan apa yang telah kita dengar. Kalau tidak, kita tidak mengasihi dan iman kita tidak akan dapat bekerja. Tanpa latihan iman, tidak akan ada pertumbuhan iman. Karena itu, iman tumbuh dari ketaatan, yang mengalir dari kasih kepada Yesus sebagai tanggapan dalam mendengar Firman Tuhan.

C. IMAN TUMBUH DARI MENDENGAR

Ketika Alkitab mengatakan “iman datang dari mendengar Firman Allah”, hal ini menunjuk kepada pangalaman subyektif saat Allah berbicara kepada kita. Baik berasal dari ayat-ayat yang terdapat dalam Alkitab ataupun melalui komunikasi langsung seperti kepada para nabi zaman lalu; karena Dia benar-benar berkata pada manusia.

Tuhan dapat berkomunikasi dengan nabi-nabi baik melalui pendengaran, melalui hati nurani, melalui mimpin, melalui kunjungan malaikat atau melalui hamba Tuhan yang diurapi. Komunikasi semacam itulah yang dikatakan Alkitab sebagai “Firman Tuhan”.

1. Allah Berbicara Saat Itu

a. Melalui Firman Tertulis. Ada Firman Allah yang tertulis dan

b. Firman yang Diucapkan. Firman Tuhan yang hidup. Kita perlu mengetahui perbedaan antara keduanya untuk mengerti lebih lanjut apa yang dimaksud dengan mendengar Firman Tuhan itu.

Paulus tidak hanya berkata-kata mengenai Firman tertulis saat ia mengatakan “iman datang dari mendengar Firman Allah”.

Kisah Rasul 17:11 mendukung pernyataan ini : “Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya … karena mereka menerima Firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki kitab suci untuk mengetahui apakah semuanya itu benar demikian”. Seperti yang digunakan dalam ayat ini “kitab suci” menunjuk pada Perjanjian Lama, dari Kejadian sampai Maleakhi. Mereka belum mempunyai Perjanjian Baru. Perjanjian Baru muncul kira-kira 1 abad kemudian. Jadi “Firman” dan “ayat-ayat Kitab Suci” dalam konteks ini tidak sama. “Firman” adalah pesan yang penuh urapan Roh yang diberikan oleh para Rasul. “Ayat/Kitab Suci” adalah Perjanjian Lama. Mereka “menerima Firman dan menyelidiki Kitab Suci”.

Pada 1 Tesalonika 2:13 kita melihat contoh yang lebih lanjut tentang perbedaan antara Firman Tuhan dan Firman tertulis: ” … saat engkau menerima “Firman Allah” yang kau dengar dari kami, terimalah itu sebagai Firman kebenaran, Firman Allah, bukan perkataan manusia … ”

Di sini, Firman Allah menunjuk pada apa yang sudah dikhotbahkan dan diproklamirkan orang-orang yang diurapi Allah. Dan hal itu diterima sebagai Firman hidup yang berasal langsung dari Allah.

Saat Petrus berkata kepada orang lumpuh di Gerbang Indah pada Kisah Rasul 3:6, “… apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu, demi nama Yesus Kristus orang Nazareth itu berjalanlah!” Dia mengatakan Firman hidup yang memberi kesembuhan bagi orang itu. Bagi orang lumpuh tersebut hal itu menjadi “Firman Tuhan” melalui mulut manusia sebagai alat, yaitu hamba Allah yang diurapi.

2. Allah Berkata-kata Hari Ini

Allah berkata-kata sampai hari ini oleh Roh Kudus melalui Firman tertulisNya, dan melalui pengertian-pengertian supra alami seperti mimpi-mimpi, penglihatan-penglihatan, kemantapan hati, pemeliharaan Ilahi atau melalui keadaan sekeliling kita.

Allah tidak pernah berkata-kata kepada kita dalam pengalaman-pengalaman subyektif yang bertentangan dengan Firman tertulisNya. Segala pengalaman harus dinilai dan disetujui oleh Alkitab.

Kita perlu membuka hati untuk menerima Firman Tuhan bukan hanya dari Alkitab tetapi melalui saluran lain di mana Allah berbicara.

a. Mendengar SuaraNya. Peringatan yang diulangi tujuh kali dalam Wahyu 2 dan 3 bagi kita untuk kita perhatikan pada masa-masa ini: “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat”. Perhatikanlah bentuk kalimat sedang terjadi yang digunakan “dikatakan” berarti “mendengar apa yang sedang dikatakan dan yang terus dikatakan oleh Roh”.

Bentuk kalimat yang sama digunakan oleh Yesus dalam Matius 4:4 : “Manusia tidak dapat hidup dari roti saja, tetapi juga dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah”. (`keluar’ disini dalam bahasa Inggris memakai kata proceedeth yaitu bentuk kalimat sedang terjadi).

Kita hidup bukan hanya dari apa yang dikatakan Allah dalam Firman tertulisNya, tetapi oleh Firman (menggunakan bentuk kalimat sedang terjadi) “keluar dan terus keluar dari mulut Allah”.

Kita hidup dari mendengar dan mentaati setiap Firman apapun juga yang Tuhan inginkan bagi kita.

Saat kita menolak bahwa Allah dapat berbicara pada kita melalui cara lain selain Alkitab, kita mungkin akan memutuskan komunikasi denganNya dan kematian rohani akan mulai dirasakan.

b. Jangan Menolak SuaraNya. Ketika Allah berbicara kepada bangsa Israel, Ibrani 12:19 menunjukkan bahwa “… mereka yang mendengarnya (suara dari perkataan) memohon, supaya jangan lagi berbicara kepada mereka … “ Saat mereka menolak suara Allah, mereka kehilangan iman dan mereka dibungkam oleh hukum.

Maka dari itu Ibrani 12:25 memperingatkan: “Jagalah supaya kamu jangan menolak Dia yang berfirman (menggunakan bentuk kalimat sedang terjadi). Sebab jikalau mereka, yang menolak Dia yang menyampaikan Firman Allah di bumi tidak luput, apalagi kita, jika kita berpaling dari Dia yang berbicara dari Sorga?”

Pada hari-hari ini banyak orang yang menyerempet bahaya dengan menolak “Dia yang menyampaikan (speaketh) Firman Allah” (akhiran “eth” dalam bahasa Inggris `speaketh’ berarti “berkata dan terus berkata-kata”).

Beberapa orang mengajarkan bahwa hari-hari mujizat telah berlalu. Mereka mencoba untuk hidup sesuai dengan apa yang telah dikatakan Allah dulu dan menolak apa yang sedang Dia katakan sekarang, sehingga mereka telah menolak Allah segala Mujizat.

Orang semacam ini akan tetap tinggal pada iman yang tidak bertumbuh karena mereka mencoba untuk membawa Alkitab ke dalam pengalaman mereka daripada membawa pengalaman mereka pada Alkitab.

Jika kita ingin tumbuh dalam iman, hati dan telinga kita harus terbuka untuk Dia. Kita harus percaya bahwa Firman Tuhan dapat datang kepada kita hari ini. Kita harus menerima suara bimbingan Roh Kudus sesuai dengan Alkitab yang mengkomunikasikan kehendakNya pada kita.

Jika kita tidak menolak suaraNya (seperti orang Israel) melainkan mendengar dan mentaatinya, iman dalam kehidupan kita akan meningkat.

c. Bersiap-siap untuk SuaraNya. Sekarang kita tidak perlu tegang dalam mendengar suaraNya. Kita tidak perlu lagi melakukan berbagai macam upacara keagamaan supaya Allah berbicara pada kita. Allah dapat dan sering berbicara pada kita saat kita tidak mengharapkannya.

Salah satu perkataan Tuhan yang amat penting datang pada saya suatu pagi di New Mexico. Saat itu saya sedang di kamar mandi, sedang mencuci tangan di bak cuci tangan untuk makan pagi! Tiba-tiba suara Allah datang padaku.

Pada saat lain saya hendak meninggalkan gereja setelah kebaktian Minggu pagi. Saya sedang memikirkan tentang perjalanan pulang. Dengan tidak saya harapkan, Allah memberi saya Perkataan Hikmat untuk seorang anggota gereja yang sedang mengalami masalah serius dalam hidupnya.

d. Mencari SuaraNya. Allah sanggup berkata-kata langsung pada kita melalui Roh KudusNya dari Sorga, dan kita juga sanggup mendengar apa yang Ia katakan melalui roh kita.

Paulus menunjuk manusia sebagai roh, jiwa dan tubuh (1 Tes 5:23). ROH adalah bagian dalam dari manusia yaitu hati nurani Allah. JIWA (kepandaian, kemauan dan emosi) adalah bagian dalam manusia yaitu hati nurani mereka sendiri. TUBUH (yang memberi respon melalui indra-indra kita) adalah bagian dari kita yang membuat kita mempunyai hati nurani duniawi. Jadi karena kita adalah roh dan Allah adalah Roh pula, kita dapat saling berkomunikasi.

Contohnya, sebuah ruangan dipenuhi dengan ratusan sinyal bunyi yang berbunyi dari stasiun-stasiun radio dan TV. Tapi kita tidak dapat mendengarnya jika kita tidak menyalakan radio/TV.

Setelah kita mencari stasiun gelombang suara itu akan diubah menjadi suatu yang dapat didengar atau dilihat.

Dengan cara yang sama, kita dapat “mencari” Allah dan menerima tanda-tandaNya yang terkadang dapat didengar dan dilihat!

1) Berpuasa Menajamkan Pendengaran Anda. Salah satu cara yang dapat menajamkan kemampuan kita menerima tanda-tanda Allah adalah melalui puasa. Ini seperti menjernihkan suara dalam sebuah radio.

Saat Yesus mengajarkan murid-muridNya tentang kebutuhan mereka untuk menumbuhkan iman, Ia menjelaskan (Mat 17:21) bahwa doa dan puasa seringkali adalah kunci untuk masuk dalam iman yang lebih besar.

Berpuasa adalah suatu pertolongan/bantuan untuk meningkatkan iman bila motivasi kita ingin mendekat kepada Allah sehingga kita dapat mendengar Firman Allah pada kita dengan lebih baik.

2) Berpuasa Dapat Membahayakan. Konsep yang mengatakan bahwa dengan berpuasa seseorang dapat membalik tangan Allah dan memaksa Dia untuk mengerjakan sesuatu yang tidak ingin Ia lakukan adalah suatu kesalahan fatal.

Jika berpuasa adalah untuk keinginan sendiri, dengan motivasi yang meragukan, anda seperti membuka diri anda pada roh-roh lain yang tidak benar. Ingat bahwa saat Yesus berpuasa 40 hari, Ia berjumpa dengan iblis. Jika anda berpuasa dan berdoa untuk suatu kuasa sehingga anda menjadi terkenal atau alasan-alasan lain yang keliru, anda berada pada resiko tertipu setan.

Yesus berada di padang gurun berpuasa selama 40 hari bukan dengan kemauanNya. Ini bukan karena Ia memutuskan untuk memaksa BapaNya agar memberikan kuasa supranatural untuk menunjukkan pada dunia dinamika-dinamikaNya.

Yesus berada di sana karena Ia dipimpin secara jelas oleh Roh untuk pergi ke padang gurun dan berpuasa, Markus 1:13 mengatakan bahwa “malaikat-malaikat melayani Dia”. Anda membutuhkan pelayanan malaikat-malaikat jika berpuasa selama 40 hari.

Saya tahu ada 3 orang meninggal akibat berpuasa selama 40 hari. Tidak ada keraguan lagi bahwa mereka tidak dipimpin oleh Roh Allah, tetapi semata-mata oleh keinginan manusia itu sendiri. Tidak ada puasa untuk waktu yang lama dalam Alkitab yang didorong oleh keinginan manusia tetapi selalu oleh jaminan Ilahi.

Contoh, Musa (Kel 34:28) dan Elisa (1 Raj 19:8) keduanya berpuasa selama 40 hari dan 40 malam tetapi dimotivasi oleh Tuhan bukan oleh mereka sendiri.

Ada beberapa yang bertahan selamat dalam 40 hari berpuasa tapi tidak mempunyai iman lagi pada akhir puasa itu dibandingkan ketika mereka memulainya. Di lain pihak saya juga mengetahui orang-orang yang dipimpin oleh Tuhan dalam menjalani puasa 40 hari. Karena mereka menanggapi motivasi/dorongan Ilahi ini maka mereka bertekun. Mereka bertemu dengan Allah dan masuk dalam pelayanan Roh Kudus yang sejati.

Bahaya yang sangat besar dalam puasa 40 hari, jika puasa itu dimotivasi oleh keinginan sendiri dan pemusatan terhadap diri sendiri adalah dapat menghasilkan kontak hubungan dengan setan. Keinginan akan kekuatan dan urapan untuk kemajuan diri sendiri, membuat orang itu akan membuka dirinya sendiri terhadap kontak dengan segala macam roh dan dilanjutkan pada kuasa setan.

Roh manusia lebih mudah mencari komunikasi dengan Roh Kudus dalam berpuasa. Tapi anda juga sama mudah dan sensitifnya terhadap roh-roh yang tidak benar seperti terhadap Roh Kudus. Namun anda berada pada tempat yang benar jika motivasi puasa anda adalah untuk mendekat pada Allah.

Jika dipimpin oleh Roh, maka seringkali kita dapat merapat kepada Allah dalam puasa-puasa yang singkat. Dengan berdoa dan menunggu Allah selama satu atau dua atau tiga minggu dapat membantu.

Berpantang dalam makanan untuk merasakan hadiratNya tanpa gangguan juga membuka sarana untuk berkomunikasi denganNya.

3) Berpuasa Membutuhkan Motivasi yang Benar. Karena itu motivasi berpuasa harus benar-benar ditimbang. Beberapa orang hanya mengejar kuasa dan pengurapan sebelum waktunya, dan mereka hancur sendiri karenanya. Jalan menuju pelayanan mujizat dapat saja merusak seseorang karena dengan kehendak manusianya mengejar dan memaksa (dengan keinginan sendiri) untuk memperoleh kuasa. Tetapi mereka tidak mempunyai persiapan dalam hati mereka bagaimana menghadapi dan menanganinya setelah kuasa itu datang. Sering berkelanjutan akan menghancurkan mereka sendiri. Urapan merupakan hal yang sangat membahayakan.

Jika kita mempunyai kekuatan yang tidak terbatas, kita akan melakukan banyak hal yang tidak diinginkan Allah, melanggar prinsip-prinsip keIlahian dan melakukan perkara-perkara bodoh yang dapat menghancurkan kita dan pekerjaan Allah yang sedang dalam proses. Setiap kali Allah berbicara tentang sesuatu, maka pastilah hal itu merupakan pernyataan kehendakNya. Saat kita mengetahui apa yang Ia ingin kita lakukan, iman akan datang dari mendengar Firman Allah. Ini adalah iman yang benar dan aman.

D. IMAN BERTUMBUH DARI BERKATA-KATA

Iman yang benar berasal dari mendengar, ketaatan dan kasih. Kita membuka roh kita bagi suara Allah dengan cara mempunyai hati yang terbuka dan tanggap dalam mendengar dan mentaati Firman karena kita mengasihi Dia dan Dia mengasihi kita. Karena kasih ini iman dapat bekerja. Tanpa kasih iman akan berhenti bertumbuh.

Mendengar, mentaati dan mengasihi adalah 3 bahan penting dalam pertumbuhan iman. Dari sini kita sekarang menambah bahan penting yang keempat – ucapan.

1. Iman Allah

Dalam Markus 11:22 dan 23, Yesus mengajar murid-muridNya, “… percaya pada Allah”. Terjemahan kata per kata adalah “milikilah iman Allah … Aku berkata padamu, barangsiapa berkata pada gunung ini …” Yang ingin disampaikan di sini adalah implikasi dari iman Allah adalah iman yang diucapkan.

Dalam Kejadian pasal 1 Allah berkata : “Jadilah terang lalu terang itu jadi”. Allah berkata “Jadilah …” – dan terjadilah! Iman Allah adalah iman yang berkata-kata atau iman yang diucapkan.

Iman yang diucapkan adalah iman yang lebih tinggi dari pada iman yang meminta. Untuk meminta, membutuhkan iman tetapi ada iman yang melebihi permintaan yaitu iman yang berkata-kata, “Aku berkata kepadamu barangsiapa berkata pada gunung ini: beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya”. Dalam bahasa Yunani dikatakan: “Siapa yang percaya apa yang dikatakannya sudah terjadi, maka ia akan mendapatkan apapun yang ia katakan“.

2. Ucapkan Apa yang Dikatakan Allah

Perkembangan dan Pertumbuhan iman berhubungan dengan kata-kata yang keluar dari mulut anda.

Amsal 4:20-22 menuliskan : “Hai anakKu, perhatikanlah perkataanKu, arahkan telingamu kepada ucapanKu; janganlah semuanya itu menjauh dari matamu, simpanlah itu di lubuk hatimu. Karena itulah yang menjadi kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya dan kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka”. Kalau anda mendapat Firman Allah dan mengucapkannya, Firman itu menjadi kehidupan dan kesembuhan bagi anda.

Terjemahan bahasa Spanyol dari Amsal 6:2 menuliskan : “Engkau terjerat dengan perkataan mulutmu!” (dalam terjemahan KJV ditulis “terjerat” atau “terjerumus”).

Salomo menjelaskan bahwa apa yang kita ucapkan dapat mengutuk atau memberkati kita dan hal itu dikatakan langsung dalam Amsal 18:21 : “Hidup dan mati dikuasai lidah … “

Penekanan Salomo dalam Amsal 10:11 bahwa “mulut orang benar adalah sumber kehidupan”, mengatakan bahwa kita dapat terjerat oleh kata-kata kita sendiri dan kita juga bisa diselamatkan/dibebaskan oleh kata-kata yang kita ucapkan.

Iman mulai bertumbuh saat kita berkata: “Inilah apa yang dikatakan Allah”.

Wahyu 12:11 mengatakan tentang sekumpulan orang suci yang “… telah mengalahkan iblis oleh Darah Domba dan oleh Perkataan Kesaksian mereka…” – yaitu ucapan pengakuan mereka. Iblis selalu gentar setiap kali kita meyakinkan apa yang Allah katakan.

Paulus mengetahui kuasa dari ucapan, dan dalam Roma 10:8-10 kita diingatkan “Firman itu dekat kepadamu, yakni dimulutmu dan didalam hatimu; itulah Firman iman yang kami beritakan. Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu bahwa Yesus adalah Tuhan dan percaya dalam hatimu bahwa Allah telah membangunkan Dia dari orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan”.

Kata “diselamatkan” pada ayat 9 dalam bahasa Yunani disebut sozo yang diterjemahkan menjadi “engkau akan disembuhkan” ; pada ayat lain “dosa-dosamu akan diampuni” atau engkau akan dipulihkan/disempurnakan.

Sozo adalah kata yang dipakai oleh Roh Kudus untuk menyatakan segala kegunaan/manfaat penebusan yang berlaku bagi kita, anak-anak Allah. Segala sesuatu yang disediakan di kayu salib itu akan kita dapatkan sesuai dengan pengakuan kita.

3. Percaya Akan Apa yang Anda Katakan

Kita mendapatkan apa yang kita ucapkan. Saat kita menghadapi suatu situasi maka tanggapan hati kita tersalurkan melalui mulut dan kita mengucapkan apa yang kita percayai.

Yesus menegur orang-orang Farisi tentang perkara ini dalam Matius 12:34-37 : “Karena yang diucapkan mulut, meluap dari dalam hati. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum”.

Jika kita merasa gejala suatu penyakit dan bila tanpa ragu-ragu kita mengatakan bahwa kita akan sakit, maka kita akan benar-benar menjadi sakit! Beberapa orang yang kesepian dan sedih menggunakan penyakit menjadi saran

Baca juga:

1 Comment