Siapakah Roh Kudus Itu?

A. SIAPAKAH ROH KUDUS ITU?

Barangkali Roh Kudus adalah anggota dari ketiga Pribadi Allah yang paling tidak dikenal. Sungguh menyedihkan, karena di dalam gereja pun pengetahuan tentang Dia sangat kurang sekali.

Mengapa hal itu seharusnya tidak boleh sampai terjadi demikian, ada tiga alasan yang kuat :

1. Roh Kudus adalah Allah

Sebagai Pribadi ketiga dari Trinitas, Ia setara dengan Allah Bapa dan Allah Anak. Karena itu sesungguhnya bagi Dia pun selayaknya diberikan penghormatan, penghargaan dan kemuliaan yang sama.

Kita tidak seharusnya memperlakukan Dia sebagai Pribadi yang lebih rendah. Kita seharusnya mengenal Dia sebagaimana kita mengenal ke dua pribadi Allah yang lain.

Roh Kudus bukan saja suatu PRIBADI; Ia adalah suatu PRIBADI YANG ILAHI. Dia adalah ALLAH.

a. Alkitab MenyebutNya Allah. ” … mengapa hatimu dikuasai iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus … ? Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah” (Kis 5:3,4).

b. Ia memiliki sifat-sifat Yang Hanya Dimiliki Allah Sendiri.

  1. Ia memiliki keadaan yang kekal (Ibr 9:14)
  2. Ia MAHAHADIR (Mzm 139:7-10). Ia sanggup berada dimana-mana pada satu ketika, saat yang sama.
  3. Ia MAHATAHU (1 Kor 2:10,11). Ia mengetahui SEGALA sesuatu.
  4. Ia MAHAKUASA (Luk 1:35). Ia memiliki kuasa untuk melakukan segala sesuatu.

c. Ia Dihubungkan dengan Bapa dan Anak dengan Status yang Sama. “Baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mat 28:19).

d. Alkitab Seringkali Membicarakan tentang Roh Kudus. Semua kitab dalam Perjanjian Baru menceritakan tentang Roh Kudus kecuali surat Yohanes yang kedua dan ketiga.

e. Ia Terutama Aktif dalam Rencana Penyelamatan Allah. “Ia menginsyafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman” (Yoh 16:8).

Anak-anak sejati Allah yang benar “dilahirkan dari Roh” (Yoh 3:5,6).

2. Roh Kudus adalah Suatu Pribadi

Banyak orang Kristen beranggapan bahwa Roh Kudus itu hanyalah kekuatan tak berwujud/suatu pengaruh dan bukan suatu pribadi. Mereka memerlukan Roh Kudus sepertinya Roh Kudus itu hanya semacam kekuatan listrik atau bentuk kekuatan yang lain, sehingga mereka dapat mematikan dan menyalakannya sesuka mereka.

Konsep ini salah sama sekali. Roh Kudus adalah Pribadi. Ia adalah Satu Pribadi yang memiliki otoritas (wibawa) dan Kuasa yang besar (possesses great), tapi Ia sendiri jauh lebih besar dari kekuatan yang dimilikiNya. Ia jelas layak menerima penghargaan dan hormat yang kita berikan pada Allah Yang Mahakuasa.

a. Kata Ganti Orang Dipakai BagiNya. “IA menyertai kamu selama-lamanya” (Yoh 14: 16). “IA menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu” (Yoh 14:17). “IA akan bersaksi tentang Aku” (Yoh 15:26).

“Tetapi apabila IA datang, yaitu Roh Kebenaran, IA akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diriNYA SENDIRI, tetapi segala sesuatu yang didengarNYA, itulah yang akan dikatakanNYA, dan IA akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang” (Yoh 16:13, 14).

b. Ia Memiliki Sifat-sifat Dasar dari Suatu Kepribadian.

  1. Intelektualitas : kemampuan untuk berpikir dan mencari alasan.
  2. Kepekaan : kemampuan untuk merasa.
  3. Kemampuan : Kapasitas untuk memilih dan memutuskan.

c. Pernyataan-pernyataan Dari KepribadianNya. Suatu kuasa atau pengaruh, tak sanggup untuk merasakan hal-hal yang Roh Kudus dapat rasakan.

Contohnya, kita diperingatkan untuk tidak “mendukacitakan” Roh Kudus (Ef 4:30). Ananias dan Safira “mendustai Roh Kudus” (Kis 5: 3,4).

Suatu kuasa atau kekuatan tidak dapat didukacitakan. Anda tidak dapat mendukacitakan atau menyakiti kekuatan daya listrik misalnya, hal itu tidak mempengaruhi jika menipu ataupun mencobainya. Suatu wujud kuasa/kekuatan bukan merupakan satu pribadi yang dapat merasakan hal-hal seperti itu.

Tetapi seseorang atau satu pribadi dapat didukacitakan, disakiti, didustai dan dicobai.

Perhatikanlah pernyataan-pernyataan tentang kepribadian Roh Kudus i bawah ini :

  1. Ia dapat merasa (Ef 4:30)
  2. Ia dapat menghibur (Kis 9:31)
  3. Ia dapat berpikir (Rm 8:5)
  4. Ia dapat berbicara (Kis 13:2)
  5. Ia dapat berdoa (Rm 8:26)
  6. Ia dapat mengajar (Yoh 14:26)
  7. Ia dapat mengerjakan seperti yang dikehendakiNya (1 Kor 12:11)
  8. Ia dapat melarang (mencegah) (Kis 16:6)
  9. Ia dapat melakukan mujizat-mujizat (Kis 19:6)

d. Ia Bukannya Sesuatu yang Tidak Punya Wujud Pribadi. Semua hal yang disebutkan di atas adalah pernyataan-pernyataan dari suatu kepribadian, yang tidak dimiliki oleh wujud satu kuasa, karena kuasa tidak mempunyai kepribadian.

Satu dari banyak penyebab mengapa banyak orang memandang Dia hanya sebagai sebuah kuasa atau kekuatan belaka, oleh karena nama-nama yang dipakai dalam Alkitab untuk menggambarkan Dia, sebenarnya bermaksud untuk melambangkan pelayananNya. Ia disebut Angin, Hujan, Minyak, Api, Pakaian dll. Semua itu melambangkan bermacam-macam pelayanan yang Ia lakukan; namun Dia sendiri adalah Pribadi yang jauh lebih besar daripada semua pelayanan yang Ia lakukan.

3. Saat Ini Adalah Zaman Dari Roh Kudus

Ia adalah Penolong “yang lain” itu, yang telah mengganti tempat Yesus. Zaman periode sejarah saat ini adalah zaman hujan akhir (Za 10:1) atau saat Roh Kudus berkarya besar-besaran dari yang pernah diketahui oleh Gereja. Karena itu kita harus mengetahui tentang Roh Kudus sebanyak mungkin.

B. PENCURAHAN DARI ROH KUDUS TELAH DINUBUATKAN

Di dalam Perjanjian Lama, kami membaca bahwa Roh Kudus berada di atas ataupun di dalam orang-orang tertentu.

Orang-orang ini tampaknya dianggap merupakan pengecualian lain dari yang lain. Namun, Allah melalui para nabiNya menubuatkan bahwa suatu hari yang baru akan datang.

1. RohNya Akan Berada di Dalam dan di Atas SEMUA bangsanya.

“Kemudian daripada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan RohKu ke atas semua manusia, maka anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan. Juga ke atas hamba-hambamu laki-laki dan perempuan akan kucurahkan RohKu pada hari-hari itu” (Yl 2: 28,29).

“RohKu akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapanKu dan tetap berpegang pada peraturan-peraturanKu dan melakukannya” (Yeh 36:27).

“Sebab Aku akan mencurahkan air ke tanah yang haus dan hujan lebat ke atas tempat yang kering. Aku akan mencurahkan RohKu ke atas turunanmu” (Yes 44:3).

2. Mesias yang Dijanjikan Allah Merupakan Seorang Yang Penuh dengan Roh Kudus dan Diberi Kuasa Berkuasa

“Lihat itu hambaKu yang Kupegang, orang pilihanKu, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh RohKu ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa” (Yes 42:1).

“Roh Tuhan ada padaku, oleh karena Tuhan telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara” (Yes 61: 1). (Ini dipenuhkan dalam Luk 4:18).

3. Beberapa Istilah untuk “Kepenuhan Roh Kudus”

Pengalaman kepenuhan Roh Kudus digambarkan dalam beberapa cara dalam Alkitab. Marilah kita melihat cara-cara tersebut secara singkat.

a. Menerima Roh Kudus. Hadiah atau karunia didefinisikan sebagai “sebuah penawaran dan penerimaan (tindakan untuk menerima) tanpa pamrih”. Sebuah pemberian (karunia/hadiah) belum bisa disebut `hadiah/karunia’ sampai ada seseorang menerima apa yang ditawarkan secara cuma-cuma itu.

Ini adalah ungkapan yang paling sering digunakan di dalam Perjanjian Baru untuk menggambarkan pengalaman yang sedang kita bahas.

“Yang dimaksudkanNya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepadaNya” (Yoh 7:39).

Terimalah Roh Kudus” (Yoh 20:22)

“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu” (Kis 1:8).

“Maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus” (Kis 2:38).

“Setibanya di situ kedua rasul itu berdoa, supaya orang-orang Samaria itu beroleh Roh Kudus” (Kis 8:15).

“Bolehkah orang mencegah untuk membaptis orang-orang ini dengan air, sedangkan mereka telah menerima Roh Kudus sama seperti kita?” (Kis 10:47).

“Katanya kepada mereka, Sudahkah kamu menerima Roh Kudus ketika kamu menjadi percaya?” (Kis 19:2)

b. Diurapi dengan Roh Kudus. “Pengurapan” adalah istilah yang sangat kita kenal, karena pemakaiannya di dalam Perjanjian Lama (Kel 28:41; 29:29; Mzm 2:2; 92:10). Ada tiga macam pengurapan: Pengurapan orang yang sakit kusta; Pengurapan Imam; dan Pengurapan Raja. (Lihat dalam bagian A2.9 untuk keterangan yang lebih terperinci).

Minyak urapan dicurahkan pada orang yang diurapi (1 Sam 10:1). Begitulah Roh Kudus “dicurahkan” pada orang beriman.

Ungkapan yang sama juga digunakan untuk menggambarkan bagaimana Roh Kudus turun atas Yesus Kristus. Kata KRISTUS berarti: YANG DIURAPI (atau Yang di Kristenkan). “Bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai iblis, sebab Allah menyertai Dia” (Kis 10:38).

c. Dipenuhkan dengan Roh Kudus. Ungkapan ini menggambarkan akibat yang ditimbulkan karena Roh Kudus berada di dalam orang-orang yang percaya/beriman. Mereka “dipenuhkan” dengan Roh Kudus! Hal itu terjadi pada hari Pantekosta. “Maka penuhlah mereka semua dengan Roh Kudus lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya” (Kis 2:4).

Proses dipenuhi dengan Roh Kudus dimulai dengan tanda kepenuhan. Kemudian diikuti oleh pengalaman-pengalaman berkesinambungan. Jadi proses itu adalah proses yang terus berlanjut.

Paulus membicarakan tentang hal itu dalam Efesus 5:18, dengan memakai kalimat yang pengertiannya sedang berlangsung: “Hendaklah kamu setiap saat, terus menerus dipenuhkan oleh Roh Kudus” (terjemahan secara harfiah). Untuk memelihara penuhnya Roh Kudus di dalam kita, kita perlu setiap hari minum dari sumbernya.

d. Dibaptiskan dalam Roh Kudus. Ungkapan ini tampaknya bertentangan, namun mempunyai dasar yang kuat dalam Alkitab.

Istilah ini disebutkan empat kali dalam Kitab Injil dan dua kali dalam Buku Kisah Para Rasul (Mat 3:11; Mrk 1:8; Luk 3:16; Yoh 1:33; Kis 1:5; 11:16).

Membaptiskan berarti “memasukkan sama sekali” atau mencelupkan ke dalam. Membaptiskan bahkan mempunyai arti yang lebih dalam lagi, yaitu “Mencelupkan ke dalam sebuah elemen yang mempunyai kuasa untuk mengubah apa yang diliputinya itu”.

Contoh yang baik adalah bagaimana seseorang mewarnai sebuah baju (mewenter), yakni dengan cara mencelupkan seluruh bahan ke dalam elemen yang kemudian secara radikal mengubah warna dari baju tersebut. Karena itu dibaptis dengan Roh Kudus, berarti direndam, dicelup, dikubur, sama sekali dilingkupi, dibungkus seluruhnya oleh Roh Kudus.

e. Pembebasan oleh Roh. Istilah ini sebenarnya tidak secara langsung digunakan dalam Perjanjian Baru, tapi secara tidak langsung berarti demikian. Diterangkan bahwa pembebasan roh manusia terjadi ketika roh manusia itu dihidupkan oleh Roh Kudus: “Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan/pembebasan” (2 Kor 3:17).

Hal ini berarti pembebasan kepribadian seseorang dari perhambaan kepada kemerdekaan dari kekeringan menjadi sungai-sungai dari air kehidupan, dari kemandulan menjadi berbuah-buah. Ini tentu juga menggambarkan pembebasan aliran sungai kehidupan dari dalam roh yang percaya. “Seperti dikatakan oleh Kitab Suci: dari dalam rohnya akan mengalir aliran-aliran air hidup” (Yoh 7:38 tlb).

Hal ini dapat merupakan gambaran yang paling cermat mengenai apa yang sedang terjadi saat ini di antara begitu banyak orang-orang beriman. Apalagi konsep ini ternyata semakin diterima di dalam Gereja.

C. BAPTISAN DI DALAM ROH KUDUS

1. Kejadian atau Tanda-tanda Awal dari Baptisan Roh.

Kita mungkin kini bertanya-tanya : “Apakah yang merupakan tanda awal bahwa seseorang telah menerima kepenuhan dari Roh Kudus?”

Ada tiga hal yang harus kita perhatikan.

a. Tanda Awal. Pada pokok ini kita bahas tentang tanda yang PERTAMA. Memang ada banyak tanda-tanda dan kenyataan-kenyataan lain yang mengikuti kepenuhan Roh Kudus itu.

Namun apa yang kita amati saat ini adalah peristiwa yang merupakan tanda bahwa seseorang telah memasuki dimensi baru dari Kuasa Roh ini.

b. Tanda Alkitabiah. Karena apa yang kita amati adalah tanda yang Alkitabiah, kita tidak akan berpegang pada pengalaman pribadi seseorang ataupun pada tradisi yang ada.

Karena itu kita mencari tanda apa yang dinyatakan Alkitab merupakan petunjuk umum dari mereka yang mengalami baptisan Roh Kudus pada zaman Alkitab.

c. Pengalaman Alkitabiah. Apa yang menarik kita adalah pada PENGALAMAN ALKITABIAH mengenai Baptisan Roh Kudus, dan bukan lagi gagasan manusia mengenai apa sebenarnya baptisan Roh Kudus itu.

Ada banyak pengalaman rohani yang secara sembrono seringkali disebut sebagai `Baptisan dalam Roh’. Didalamnya termasuk apa yang disebut : Berkat Yang Kedua, Penyucian Total, Pengalaman Kekudusan dll.

Mungkin semua itu memang terjadi dan merupakan pengalaman yang Alkitabiah, yang tak seharusnya kita anggap remeh atau tak berharga. Namun apa yang akan kita bicarakan saat ini adalah karya Roh Kudus seperti apa yang diterangkan Alkitab sebagai Baptisan dalam Roh Kudus.

2. Kejadian-kejadian tentang Baptisan Roh Kudus yang Tertulis dalam Alkitab

Sumber Utama mengenai hal ini tertulis dalam Kisah Para Rasul, dimana tercatat ada lima peristiwa saat orang percaya/murid menerima kepenuhan Roh Kudus.

a. Terjadi Pada Hari Raya Pentakosta (Kis 2:1-4). Ini merupakan keterangan terlengkap dalam Alkitab. Tepat limapuluh hari setelah kebangkitan Kristus, janji tentang kedatangan Roh Kudus dipenuhi. Roh Kudus datang untuk para murid yang sedang menunggu di Yerusalem. Saat itu merupakan saat yang pertama/cikal-bakal dari seluruh pekerjaan Roh Kudus dalam cara yang baru seperti yang telah dinubuatkan oleh para nabi. Ada beberapa kejadian yang mengikuti datangnya Roh Kudus pada mereka.

1) Angin dari Sorga : Ada angin dari Sorga, angin yang kuat dan keras. Dalam bahasa Ibrani maupun bahasa Yunani, kata “roh” juga berarti “angin”. Karena itu penting sekali adanya angin keras itu sebagai pendahulu tibanya Roh Kudus. Angin berbicara tentang kehidupan, kekuatan, pergerakan dan kuasa yang semua merupakan ciri/tanda dari Roh Kudus.

2) Lidah-Lidah Api : Simbol api ini juga amat penting. Yohanes Pembaptis telah menubuatkan bahwa Yesus akan membaptis dengan “Roh Kudus dan Api”. Api melambangkan pembersihan, pemurnian, penyucian, pembakaran kotoran dan sekam.

Kedua faktor ini tampak SEBELUM para murid dikatakan penuh dengan Roh Kudus. Sehingga hal-hal itu tak bisa dikatakan sebagai peristiwa dipenuhkan dengan Roh Kudus.

3) Berbicara dalam Bahasa Asing, sebagaimana yang Roh Kudus diberikan kepada mereka untuk diucapkan.

Kejadian yang segera terjadi setelah murid-murid dipenuhkan oleh Roh Kudus adalah : “… lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya” (Kis 2:4 weym).

Saat itu ada 120 murid di kamar loteng itu. Dan dengan jelas tertulis bahwa mereka SEMUA dipenuhkan dengan Roh Kudus dan SEMUA mulai berkata-kata dalam bahasa asing.

Bahwa apa yang terjadi pada murid-murid saat itu jelas adalah kemampuan supraalami untuk berbicara bahasa-bahasa yang belum pernah mereka pelajari sebelumnya.

Dari ketiga manifestasi yang tampak pada hari Pantekosta itu, hanya satu yang selalu tampak terulang pada saat-saat terjadi kepenuhan Roh Kudus, yaitu berbicara dalam bahasa-bahasa asing.

b. Di Rumah Cornelius (Kis 10:44-48). Secara supraalami Petrus diperintahkan untuk mengunjungi rumah seorang asing – bukan Yahudi yaitu Cornelius, seorang perwira Romawi.

Petrus mengatakan, bahwa ia pergi semata karena “Roh Kudus menyuruh saya untuk pergi ….” (Kis 11:12 rsv). Petrus saat itu masih meyakini bahwa berkat-berkat Allah hanyalah untuk orang-orang Yahudi. Namun akhirnya ia harus berhadapan dengan sekelompok orang `asing’ yang sangat berkeinginan untuk mendengar “… semua sudah hadir di sini dihadapan Allah untuk mendengarkan segala sesuatu apa yang telah diperintahkan Allah kepadanya” (Kis 10:33).

Petrus mulai berbicara tentang Tuhan Yesus Kristus kepada mereka (Kis 10:34-43). Ketika ia sedang berbicara, Roh Kudus memenuhi semua yang sedang mendengarkan Firman.

Teman-teman Yahudi Petrus mula-mula tidak mau mempercayai bagaimana hal ini dapat terjadi pada bangsa asing (Kis 10:45).

Tapi mereka semua akhirnya diyakinkan karena “mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah” (ayat 46).

Tanda ini juga mendorong Petrus untuk berkata: “Bolehkah orang mencegah untuk membaptiskan orang-orang ini dengan air, sedangkan mereka telah menerima Roh Kudus sama seperti kita?” (atau dalam “cara dan model yang sama seperti saat kita menerima Dia”) (Kis 10:47).

Ketika Petrus kembali ke Yerusalem, ia dipanggil untuk mempertanggung-jawabkan apa yang telah terjadi di Kaisaria. Para pemimpin sebenarnya marah padanya (Kis 11:2).

Ia kemudian membela diri dengan menerangkan bahwa : “Ketika aku mulai berbicara turunlah Roh Kudus ke atas mereka, sama seperti dahulu ke atas kita” (Kis 11:15).

Ia kemudian menegaskan : “Jadi jika Allah memberikan kepada mereka sama seperti pemberian yang sama, yang Ia berikan pada kita pertama kali” (Kis 11:17).

Alasannya adalah bahwa Allah telah memberkati bangsa kafir dengan karunia Roh lewat cara yang persis sama seperti saat Dia memberkati orang-orang Yahudi yang percaya pada Hari Raya Pentakosta.

Alasan utama dari keyakinan Petrus adalah bahwa orang-orang asing itu juga berbicara dalam bahasa lidah. “Ketika mereka mendengar hal itu, mereka menjadi tenang, lalu memuliakan Allah” (Kis 11:18).

c. Paulus di Efesus (Kis 19:1-7). Di sini kita melihat kejadian ketiga yang sangat jelas. Dalam perjalanannya Paulus tiba di kota Yunani-Efesus dimana ia berjumpa dengan beberapa murid Yohanes Pembaptis.

Menanggapi pertanyaannya : “Sudahkah kamu menerima Roh Kudus ketika kamu menjadi percaya?” Mereka menjawab : “Belum, bahkan kami belum pernah mendengar, bahwa ada Roh Kudus”.

Paulus kemudian menerangkan Injil mengenai Kristus secara lebih jelas pada mereka, sesudah itu mereka dibaptis dengan air, Paulus kemudian meletakkan tangan atas mereka, dan “Roh Kudus turun atas mereka dan mereka mulai berbicara bahasa lidah dan bernubuat”.

Lewat tiga kejadian ini kita dapat melihat bahwa dibaptis dalam Roh Kudus itu terjadi dengan cepat, pasti dan langsung.

Di dalam tiap kejadian itu, satu hal yang selalu terjadi, ialah bahwa SEMUA yang menerima Roh Kudus itu dalam SETIAP kejadian itu selalu dikatakan bahwa mereka berkata-kata dalam bahasa lidah sebagai akibat langsung (tanda) dari dipenuhi dengan Roh Kudus.

Oleh sebab itu kami berpendapat bahwa berbicara dalam bahasa lidah adalah tanda pertama yang murni dan dapat dipercaya pada saat dipenuhi oleh Roh Kudus.

Didalam Kisah Para Rasul dituliskan juga dua kejadian yang lain ketika orang percaya menerima Roh Kudus. Marilah kita memeriksanya juga.

d. Kebangunan Rohani di Samaria (Kis 8). Dalam kejadian ini tidak terperinci dinyatakan bahwa mereka yang dipenuhi dengan Roh Kudus berkata-kata dalam bahasa lidah. Namun dari apa yang terjadi di sekitar cerita ini, menunjukkan bahwa tanda penuhnya mereka dengan Roh Kudus pasti telah juga terjadi.

Pertama-tama, adalah tanggapan yang murni oleh khotbah Filipus, yang mereka tunjukkan secara langsung : “Mereka semua dengan bulat hati menerima apa yang diberitakan Filipus” (8:6) ; “Maka sangatlah besar sukacita dalam kota itu” (8:8) ; “Mereka percaya … dan memberi diri mereka dibaptiskan … “ (8:12); “…. sebab Roh Kudus belum turun ke atas seorangpun di antara mereka” (8:16).

Kedua, ketika Petrus dan Yohanes meletakkan tangan ke atas mereka, mereka menerima Roh Kudus. Simon, seorang tukang sihir melihat sesuatu yang terjadi sebagai akibat langsung pada saat mereka menerima Roh Kudus.

Bagaimanapun kejadiannya, hal itu telah terjadi dengan tiba-tiba, dengan dramatis dan dengan cara yang sangat nyata.

Simon ingin memiliki kemampuan itu terjadi padanya juga. Telah banyak diperkirakan dan dituliskan apa yang sebenarnya telah dilihat oleh Simon.

Tak seorangpun dapat mengatakannya dengan pasti. Tapi bukankah beralasan kalau dikatakan bahwa Simon telah melihat tanda yang sama dengan apa yang pernah terlihat pada Hari Pentakosta? Jika tidak, tentu para rasul Yahudi ini tidak akan begitu menyaksikan untuk percaya bahwa orang-orang Samaria adalah orang-orang yang sungguh beriman.

Kemungkinan besar orang-orang Samaria menerima Roh Kudus adalah dengan cara yang sama seperti semua orang percaya lain, ketika para rasul menerimanya pada zaman Alkitab.

e. Saulus dari Tarsus (Kis 9). Setelah pertobatan Saulus yang dramatis, Tuhan mengirim Ananias untuk mengunjunginya. Ananias berkata : “Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus yang telah menampakkan diri kepadamu … telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus (9:17). Kita tahu bahwa akhirnya ia mendapat kembali penglihatannya. Alkitab mencatat : “Dan seketika itu juga seolah-olah selaput gugur dari matanya, sehingga ia dapat melihat lagi. Ia bangun lalu dibaptis” (9:18).

Kita dapat memastikan bahwa satu lagi janji yang diberikan oleh Ananias juga terpenuhi. Saul juga tentu dipenuhi dengan Roh Kudus.

Tidak diceritakan bahwa Paulus berkata-kata dalam bahasa lidah pada saat Ananias meletakkan tangan ke atasnya, tapi kita tahu kemudian bahwa dia juga berbahasa lidah. Ketika menulis pada sidang di Korintus untuk mengoreksi penyalahgunaan karunia bahasa lidah itu Paulus mengakui : “Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berbahasa roh lebih daripada kamu semua” (1 Kor 14:18).

Di dalam fatsal yang sama itu ia juga menyatakan : “Aku suka supaya kamu semua berkata-kata dalam bahasa roh” (1 Kor 14:5 niv); dan akhirnya: “janganlah melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa roh” (1 Kor 14:39).

Berdasarkan kejadian-kejadian terdahulu yang merupakan pengalaman Alkitabiah itu, dengan rendah hati kami meneguhkan bahwa berbahasa lidah merupakan satu-satunya kenyataan Alkitabiah yang konsisten mengenai kepenuhan Roh Kudus.

Kami juga meneguhkan bahwa selain tanda pertama ini masih terdapat banyak tanda-tanda lain yang mengikutinya, yang merupakan kelengkapan dari peristiwa kepenuhan Roh Kudus ini.

Kesimpulan ini bukan untuk merendahkan atau meragukan pengalaman yang mungkin telah anda dapatkan, itu tidak benar – terutama bila pengalaman itu merupakan akibat dari pernyataan kuasa pertolongan Roh Kudus dalam kehidupan anda. Bahkan saya ingin memberikan dorongan pada anda : “Peganglah apa yang ada padamu …” (Why 3:11).

Bukalah selalu hati anda dan mintalah selalu pada Tuhan karunia bahasa lidah yang indah ini, karena inilah karunia bahasa doa. Karunia ini dapat sangat memperkaya pelayanan anda. Ingatlah :

“… apalagi Bapamu yang di Sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepadaNya” (Luk 11:13).

Baca juga:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *