Seni Membedakan Roh


oleh: Fr. Fiorello Mascarenhas, SJ *
Teologi mengajarkan kepada kita bahwa kata “roh” mengacu pada dua jenis daya motivasi yang berbeda. Roh individu mengacu pada kecondongan dalam diri kepada yang baik atau yang jahat, dan ia menyatakan dirinya secara tetap begitu rupa hingga dianggap sebagai sifat pribadi. Tetapi adalah juga mungkin seorang individu berada di bawah pengaruh roh yang dari luar dirinya – entah dari Allah atau dari setan. Jadi, adalah fungsi “pembedaan roh” (= discernment of spirits) untuk menilai apakah suatu tindakan atau pengulangan tindakan-tindakan tertentu dipengaruhi oleh Roh Kudus, roh jahat atau roh manusia.

 

PEMBEDAAN ROH: YANG DIPELAJARI & YANG DIANUGERAHKAN
Ada dua macam Pembedaan Roh: yang dipelajari dan yang dianugerahkan. Pembedaan Roh yang dipelajari adalah berkat bimbingan rohani biasa dan dapat diusahakan oleh semua orang yang mempergunakan sarana-sarana yang tepat. Pembedaan Roh yang dianugerahkan merupakan suatu karunia karismatik yang dianugerahkan kepada sebagian individu saja.
Pembedaan Roh yang dipelajari adalah mutlak perlu bagi seorang pembimbing rohani atau seorang pemimpin kelompok doa, dan untuk seorang murid juga, sebab pembedaan roh ini membantunya untuk menentukan roh-roh yang menghantar orang berpaling dari Allah, dan sebaliknya mengenali tindakan Roh Kudus yang menghantar orang kepada Allah.
Berbagai sarana dengan mana orang dapat memperoleh seni Pembedaan Roh:
DOA
Ini adalah sarana yang paling penting, yakni memohon rahmat. Yesus bersabda, Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima ….” (Matius 7:7-11).
Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, – yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit – , maka hal itu akan diberikan kepadanya. Hendaklah ia memintanya dalam iman….” (Yakobus 1:5-6)
Kita patut ingat bahwa ketujuh karunia Roh Kudus yang kita terima dalam Sakramen Krisma (diambil dari daftar karunia Mesianik dalam Kitab Nabi Yesaya) meliputi karunia-karunia yang berhubungan dengan pembedaan roh: Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN” (Yesaya 11:2). [`Takut’ di sini berarti `kesalehan, atau hormat, segan, takjub’]. Kita perlu memohon Allah untuk memperbaharui karunia-karunia ini dalam diri kita. Sebagaimana dinasehatkan St Paulus kepada uskup muda Timotius, kita juga harus mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu” (2 Timotius 1:6).
Banyak doa St Paulus dalam surat-suranya menunjukkan perhatiannya atas pembedaan roh yang benar. Sungguh baik jika kita juga mendoakannya sebagai doa permohonan kita sendiri (dengan mengubahnya ke dalam bentuk pertama):
inilah doaku, semoga kasihku makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga aku dapat memilih apa yang baik, supaya aku suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus, penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah” (Filipi 1:9-11).
Aku meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadaku Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar. Dan supaya Ia menjadikan mata hatiku terang, agar aku mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilanku: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya!” (Efesus 1:17-19).
Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, aku meminta supaya aku menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna, sehingga hidupku layak di hadapan-Mu serta berkenan kepada-Mu dalam segala hal, dan aku memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah, supaya aku dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Mu untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar, dan mengucap syukur dengan sukacita kepada-Mu, yang melayakkanku untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang” (Kolose 1:9-12).
Aku sujud kepada-Mu Bapa, yang daripada-Nya semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya. Aku berdoa supaya Engkau, menurut kekayaan kemuliaan-Mu, menguatkan dan meneguhkanku oleh Roh-Mu di dalam batinku, sehingga oleh imanku Kristus diam di dalam hatiku dan aku berakar serta berdasar di dalam kasih. Aku berdoa, supaya aku bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya aku dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah!” (Efesus 3:14-19).
Juga, Mazmur memberikan perhatian atas pembedaan roh:
Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN,
tunjukkanlah itu kepadaku.
Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku,
sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku,
Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari.
TUHAN itu baik dan benar;
sebab itu Ia menunjukkan jalan
kepada orang yang sesat.
Ia membimbing orang-orang yang rendah hati
menurut hukum,
dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati.
Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran
bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya.
TUHAN bergaul karib
dengan orang yang takut akan Dia,
dan perjanjian-Nya
diberitahukan-Nya kepada mereka.
Ketulusan dan kejujuran kiranya mengawal aku,
sebab aku menanti-nantikan Engkau. (Mazmur 25).

 

BELAJAR
Para murid hendaknya mengenal prinsip-prinsip umum teologi rohani yang terdapat dalam Kitab Suci, para bapa kehidupan rohani, dan kehidupan para kudus. Hendaknya orang memiliki pemahaman simpatik akan beragam `sekolah’ rohani: Karmelit, Ignatian, Fransiskan, dll.

 

PENGALAMAN PRIBADI
Meski benar bahwa tiap-tiap orang memiliki sifat dan karakteristik yang unik, namun terdapat juga suatu pola umum yang berlaku bagi semua, dan terkecuali orang memahami dirinya sendiri, akan sangat sulit untuk memahami orang lain. Jika pemimpin itu sendiri tidak mencapai suatu tingkat keutamaan dan penguasaan diri, tidaklah mungkin ia dapat memahami keadaan mereka yang ada dalam bimbingannya.

 

JENIS-JENIS ROH
Sebagaimana kita ketahui, ada tiga kelompok besar: Roh Kudus, roh jahat dan roh manusia. Roh Allah senantiasa mencondongkan kita pada yang baik, dengan bekerja entah langsung atau melalui perantara. Setan senantiasa mencondongkan kita pada yang jahat dengan bekerja melalui kuasanya sendiri atau melalui daya pikat hal-hal duniawi. Roh manusia dapat condong pada yang jahat atau yang baik, tergantung pada apakah individu mengikuti akal sehat atau keinginan-keinginan cinta diri.
Karena keacuhan dasar dari banyak kecondongan kodrat manusiawi, adalah jelas bahwa kecondongan-kecondongan itu dapat diarahkan pada yang baik dan yang jahat, dan sementara rahmat tidak merusakkan kodrat manusiawi melainkan menyempurnakan dan mengilahikannya, setan mempergunakan kelemahan manusia dan dampak-dampak dosa asal untuk melaksanakan tujuan jahatnya. Di samping itu, dapat terjadi bahwa, dalam tindakan yang satu dan sama, bermacam roh bercampur aduk. Bahkan meski Roh Kudus berperan dalam suatu tindakan tertentu, tidak berarti bahwa pergerakan-pergerakan yang mendahului atau selanjutnya adalah adikodrati.
Sebagai misal, pergerakan kodrat manusiawi dapat memunculkan diri, disadari ataupan tanpa disadari, dan menyebabkan tindakan kehilangan sebagian kemurniannya. Demikianlah Roh Allah dapat mengilhamiku untuk berpuasa secara teratur, tetapi rohku kemudian membuatku berpuasa hanya secara lahiriah (sehingga aku tidak memperoleh buah-buah rohani dari berpuasa), atau setan dapat mempengaruhiku untuk berpuasa secara berlebihan atau memperpanjang masa puasaku beberapa lamanya (sehingga pada akhirnya kesehatanku terganggu)!

 

ROH ALLAH
Berikut beberapa pertanda yang umum:
 Kebenaran. Yesus Sendiri menyebut Roh Kudus sebagai “Roh Kebenaran”, dan Ia memuji Natanael sebagai “tak ada kepalsuan di dalamnya”. Dengan demikian, seorang yang dengan teguh berpegang pada kebenaran bahkan meski ia harus membayar untuk itu (“kebenaran di dalam kasih” – Efesus 4:15), dan yang habitusnya berusaha untuk menjadi seorang yang jujur dan transparan, adalah seorang yang digerakkan oleh Roh Allah.
 Ketaatan. Orang yang digerakkan oleh Roh Kudus menerima dengan damai sejati nasehat dan bimbingan dari mereka yang berwenang atas mereka. Ia memperlihatkan kerendahan hati dan tidak menonjolkan diri.
 Kebijaksanaan. Roh Kudus menjadikan orang bijak, hati-hati dan berpikir masak dalam segala tindakannya. Tak ada tergesa-gesa, sembrono, berlebihan ataupun tak sabar; semuanya seimbang dan menuju kesempurnaan.
 Kedamaian. Orang mengalami ketenangan yang mendalam dan stabil dalam kedalaman rohnya.
 Kemurnian niat. Orang dengan tulus mencari hanya kehendak Allah yang terjadi dan bahwa Allah dimuliakan dalam segala yang ia lakukan, tanpa niat ataupun motivasi manusiawi cinta diri.
 Kesabaran dalam penderitaan. Tak peduli apakah penderitaan yang ditanggung pantas diterima atau tidak, orang menanggungnya dengan hati yang tenang.
 Kesahajaan. Bersama dengan kejujuran dan ketulusan, kesahajaan tak pernah absen dalam diri orang yang sungguh digerakkan oleh Roh. Kepura-puraan, kecongkakan, kemunafikan, ataupun kesombongan pasti lebih dihubungkan dengan setan.
 Kebebasan roh. Pertama-tama, tak ada kelekatan pada ciptaan, bahkan pada karunia-karunia yang diterima dari Allah. Kedua, semua diterima dari tangan Allah dengan syukur dan kerendahan hati, entah itu berupa penghiburan ataupun pencobaan. (Hal sebaliknya berlaku dalam perkara mereka yang memiliki kehendak yang keras dan kaku, yang dikuasai oleh cinta diri.)

 

ROH MANUSIA
Ada suatu pergumulan yang terus-menerus antara rahmat, dan roh manusia yang terluka oleh dosa dan dengan demikian condong pada cinta diri. Roh manusia selalu condong pada kepuasan diri; sahabat kenikmatan dan musuh penderitaan apapun bentuknya. Roh manusia dengan mudah condong pada segala yang sesuai dengan wataknya sendiri, cita rasanya sendiri dan perubahan pikirannya yang sekonyong-konyong, atau kepuasan cinta diri. Roh manusia tak hendak mendengar penghinaan, tobat dan penyangkalan diri, melainkan mencari sukses, kehormatan, pujian dan kesenangan.

 

ROH JAHAT
Pada umumnya, pengaruh roh jahat atas manusia terbatas pada pencobaan sederhana, akan tetapi terkadang, setan dapat memusatkan kuasanya atas seseorang dengan melalui obsesi atau bahkan kerasukan. (Lebih jauh mengenai hal ini adalah di luar bahasan artikel ini.)
Beragam pertandanya adalah:
 Roh kepalsuan. Setan adalah bapa dusta, tetapi dengan cerdik ia menyembunyikan dustanya dengan separuh-kebenaran dan fenomena mistik palsu, dengan kemunafikan, kepalsuan dan bermuka dua. Juga, jika orang berpegang pada pendapat-pendapat yang jelas-jelas melawan kebenaran yang diwahyukan, ajaran Gereja yang tak dapat sesat, atau teologi, atau filosofi atau ilmu pengetahuan yang telah terbukti kebenarannya, dapat disimpulkan bahwa ia diperdaya oleh setan atau ia adalah kurban imaginasi yang berlebihan atau pikiran yang sesat.
 Keingintahuan yang tak wajar. Ini adalah karakteristik orang yang dengan antusias mencari aspek-aspek esoteris (= yang hanya dipahami oleh beberapa orang tertentu saja) dari fenomena mistik atau memiliki keterpikatan pada hal-hal gaib atau supranatural.
 Bingung, gelisah dan depresi berat. Juga putus asa, kurang percaya diri, berkecil hati – suatu karakteristik kronis yang berselang-seling dengan kepongahan, kesombongan, dan optimisme tanpa dasar.
 Kedegilan. Terlihat dalam ketidaktaan dan kekerasan hati.
 Kecerobohan yang terus-menerus dan roh yang resah. Mereka yang terus-menerus bertindak ekstrim (dalam praktek matiraga / aktivitas kerasulan), atau melalaikan kewajiban utama mereka guna melakukan pekerjaan pilihan pribadi sendiri.
 Roh kesombongan dan kesia-siaan. Sangat antusias memamerkan karunia-karunia rahmat dan pengalaman-pengalaman mistik.
 Nafsu yang tak terkendali dan kecondongan kuat pada sensualitas. Juga kelekatan yang berlebihan pada penghiburan-penghiburan yang dapat dirasakan, teristimewa dalam doa.
Sebagai kesimpulan, oleh sebab begitu kompleksnya motivasi manusia, Kitab Suci menasehati kita: “Ujilah segala sesuatu” dan “Peganglah yang baik. Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan” (1 Tesalonika 5:21-22). Mereka yang “hidup oleh Roh” wajib belajar untuk “juga dipimpin oleh Roh” (Galatia 5:25). Kita tak boleh lupa bahwa senantiasa mungkin “Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging?” (Galatia 3:3). Karena itu, kita terus-menerus membutuhkan karunia pembedaan roh agar kita jangan hanya “dipenuhi oleh Roh”, melainkan juga “dipimpin oleh Roh”.

Baca juga:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *