Semakin Tua Semakin Berbuah Bagi Tuhan

Mazmur 92:15
“Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar”

Sebuah pohon mangga yang sudah tua tumbuh tidak jauh dari tempat gereja saya. Meski sudah tua tapi pohon itu masih menghasilkan buah yang besar-besar. Jumlah buah yang dihasilkan pun terlihat tidak sedikit. Pohon mangga itu mengingatkan saya pada usia produktif manusia.

Berapa lama sebenarnya kita berada dalam batasan usia yang dianggap produktif?

Jika melihat lowongan pekerjaan di koran batasan usia akan terlihat menjadi semakin singkat. Jika anda berusia 35 tahun saja, itu artinya lowongan pekerjaan yang masih memungkinkan bagi anda sudah berkurang jauh. Malah tidak jarang saya melihat batasan usia yang lebih ketat lagi, maksimal 30 tahun.

Kita tidak bisa menghentikan waktu. Waktu akan terus berjalan dan sehubungan dengan itu kita pun akan terus semakin tua. Saat ini saya hampir memasuki dasawarsa ke lima dari usia saya. Tapi apakah itu artinya saya tidak bisa melakukan apa-apa lagi?

Dunia mungkin memberi batas untuk kita, tetapi tidak bagi Tuhan. Berapapun umur kita, Tuhan tetap menjanjikan kasih dan kesempatan untuk terus berbuah. Tuhan akan tetap bisa memakai anda secara luar biasa tanpa melihat berapapun umur anda sekarang.

Pemazmur menulis seperti ini: “Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon; mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita.” (Mazmur 92:13-14).

Itu janji Tuhan terhadap orang-orang benar. Mereka yang tertanam dan berakar dalam Tuhan akan tetap bertunas dan tumbuh subur. Sampai kapan? Adakah batas usia untuk kita bertunas dan bertumbuh? Alkitab berkata tidak ada.

Lihat ayat selanjutnya, “Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar” (ay 15) Hingga masa tua sekalipun, kata firman Tuhan orang-orang benar ini akan terus bertumbuh subur, malah dikatakan masih berbuah, bertambah gemuk dan segar. Masuk akalkah hal ini?

Tenaga manusia memang akan menurun. Kemampuan secara umum akan menurun. Kita memang tidak bisa melawan hukum alam mengenai kondisi fisik manusia sejalan dengan usia. Namun itu bukan berarti kita harus pula berhenti berbuah. Bagaimana bisa? Ayat berikut menjelaskan bagaimana itu bisa dimungkinkan.

1. “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.” (Yesaya 46:4).

Kekuatan kita terbatas dan akan menurun, tetapi kekuatan Tuhan tidak akan pernah berkurang. Dan Tuhan menyatakan siap menggendong dan memikul serta menyelamatkan kita sampai seluruh rambut kita putih sekalipun. Ini janji Tuhan. Artinya jelas, Tuhan tetap memiliki rencana bahkan ketika kita sudah tua dan lemah, Tuhan tetap mau pakai kita tanpa melihat umur dan kemampuan kita.

Dalam Alkitab kita bisa melihat banyak contoh mengenai orang yang dipakai hingga tua, malah ada pula yang dipakai justru setelah tua. Abraham misalnya. Ia menerima semua janji Tuhan di usia senja, dimana bagi dunia ia mungkin tidak lagi berarti apa-apa. Tapi Alkitab mencatat dengan jelas:

2. “Adapun Abraham telah tua dan lanjut umurnya, serta diberkati TUHAN dalam segala hal.” (Kejadian 24:1).

Dan pada kondisi Abraham yang telah tua inilah ia menerima janji akan keturunan. Kapan ia menuai janji itu? Beberapa puluh tahun kemudian, di usia yang sudah sangat lanjut.

Nuh juga dipakai pada usia lanjutnya. Dia bahkan harus bekerja keras membangun bahtera. Mengeluhkah Nuh? Sama sekali tidak. Ia setia dan terus melakukan tepat seperti apa yang diperintahkan Allah kepadanya. Membangun kapal besar, mengumpulkan seluruh hewan sepasang-sepasang. Itu sama sekali tidak gampang, apalagi harus dilakukan ketika secara fisik kondisi tubuh sudah sangat menurun. Kita yang muda saja rasanya tidak sanggup, tapi Nuh bisa. Dan itu karena Allah yang setia tetap berada besertanya, menggendongnya dan memikulnya, sehingga ia sanggup melakukan hal yang bagi dunia akan terlihat sangat mustahil.

3. Kaleb pun sama. Lihat apa katanya ketika ia hendak menuai janji Tuhan. “Jadi sekarang, sesungguhnya TUHAN telah memelihara hidupku, seperti yang dijanjikan-Nya. Kini sudah empat puluh lima tahun lamanya, sejak diucapkan TUHAN firman itu kepada Musa, dan selama itu orang Israel mengembara di padang gurun. Jadi sekarang, telah berumur delapan puluh lima tahun aku hari ini; pada waktu ini aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa; seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang untuk berperang dan untuk keluar masuk.” (Yosua 14:10-11).

Bagaimana orang berusia 85 tahun masih sanggup berkata seperti itu, siap untuk berperang? Dari ketiga tokoh ini kita bisa melihat betapa luar biasanya ketika kita menjadi orang benar yang tertanam di pelataran Allah. Tidak ada kata layu, tidak ada kata habis, malah semakin gemuk dan segar menghasilkan buah-buah yang matang.

Mengapa Tuhan harus memakai orang-orang tua?

Bukankah lebih gampang memakai anak-anak muda yang jumlahnya pun tidak sedikit? Siapapun kita, berapapun umur kita, Tuhan rindu untuk memakai kita. Ini bukan soal usia, bukan soal tenaga, tetapi soal ketaatan. Apakah kita tunduk dan mengijinkan Tuhan untuk memakai kita atau kita terus mencari dalih untuk menghindar dari panggilan Tuhan kepada kita. Jika kita kembali kepada Mazmur 92 di awal renungan ini, ketika firman Tuhan berkata “pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar” (ay 15), ayat selanjutnya menyatakan alasannya secara jelas. “untuk memberitakan, bahwa TUHAN itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya.” (ay 16) Kuasa Tuhan akan tampak secara nyata di mata dunia ketika orang-orang yang bagi dunia dianggap sudah habis ternyata masih mampu berbuah subur, tetap segar dan bersemangat berbuat yang terbaik dalam hidupnya.

Tuhan sangat mengasihi kita sejak awal hingga akhir, tidak akan pernah berkurang sama sekali kasih setiaNya. Dia tetap Allah yang sama yang selalu mengasihi kita dahulu, sekarang dan kelak bahkan selamanya.

Tuhan menyatakan langsung bahwa pada kenyataannya Dia sudah mendukung kita sejak dari kandungan, sudah menjunjung kita sejak dari rahim ibu (Yesaya 46:3), dan Dia akan tetap menggendong dan mendukung kita hingga masa senja nanti. Dengan penyertaan seperti itu, mengapa kita harus khawatir dan merasa tidak lagi mampu berbuat apa-apa?

4. Pembuka kitab Mazmur sudah menyatakan “Berbahagialah orang yang.. kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” (Mazmur 1:1-3).

5. Yoel 2:28 “Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan.

Ini janji Tuhan terhadap orang-orang benar yang selalu berakar dalam Tuhan. Berapapun umur kita, bagaimanapun tenaga kita, seperti apapun keahlian kita, Tuhan selalu rindu untuk memakai kita. Tuhan selalu ingin kuasa dan kasihNya bisa terlihat nyata oleh orang-orang lewat diri kita. Siapkah kita? Tetaplah semangat dan teruslah bertunas dan berbuah.

==============================================================

“TETAP MENJADI BERKAT DI USIA TUA!”

Lemah Putro, Minggu, 15 Januari 2012
Pdt. Paulus Budiono

Shalom,

Kita akan merenungkan peristiwa yang terjadi di Lukas 2:22-38 tentang perjumpaan dua orang yang sangat tua – Simeon dan Hana – dengan pasang nikah masih muda – Yusuf dan Maria – serta bayi Yesus.

“Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias yaitu Dia yang diurapi Tuhan… ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: “Sekarang Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera sesuai dengan firman-Mu sebab mataku telah melihat keselamatan dari-Mu yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu Israel.”

…Lagi pula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan,… Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan doa. Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem. ”

Simeon dan Hana yang telah berusia lanjut/lansia (80 tahun ke atas) menjadi sorotan kaum keluarga dan masyarakat baik di luar (Yerusalem) maupun di dalam Bait Allah karena kesetiaan mereka dalam beribadah kepada Tuhan.

Introspeksi: apa tujuan anggota jemaat lansia beribadah di gereja? Apakah hanya sekadar berbagi kisah masa lalu/ nostalgia dengan sesama lansia atau karena tidak bisa kemana-mana lagi hingga tidak ada pilihan lain atau hanya untuk menghabiskan waktu karena tidak tahu mau berbuat apa? Hendaknya para lansia setia beribadah seperti Simeon dan Hana karena telah mengalami keselamatan dari Tuhan!

Kenyataan yang memprihatinkan, ada beberapa negara ‘mengondisikan’ terjadinya ibadah yang hanya dihadiri oleh para lansia oleh sebab ‘peraturan-peraturan’ yang memberikan berbagai kesibukan bagi anak-anak muda hingga mereka terhalang untuk beribadah.

Apa sesungguhnya yang membuat Simeon dan Hana menjadi teladan bagi generasi tua, muda dan anak-anak?

1. Menantikan penghiburan/keselamatan

Simeon dan Hana tetap setia menantikan penghiburan dan kelepasan dari Tuhan. Pasti penantian ini dilakukannya sejak masa kecil dan muda mereka sebab kita tahu bahwa orang Yahudi dididik sejak kecil untuk membaca Taurat dan menantikan Mesias – Sang Raja Penyelamat – sesuai nubuat dalam Alkitab PL.

Bagi bangsa Israel, ‘menantikan Mesias’ jauh lebih penting daripada segala yang mereka peroleh. Memang mereka pandai, bekerja keras hingga berhasil dan kaya serta diberkati namun semua itu dianggap ‘nomor dua’ dibandingkan dengan penantian datangnya Mesias.

Bagaimana mungkin Simeon dan Hana mampu menantikan keselamatan dari Tuhan dengan tekun? Karena mereka dipenuhi Roh Kudus.

Jelas, seorang lansia yang dipenuhi oleh Roh Kudus pasti rajin ke gereja untuk ‘’bertunas dan tumbuh subur’ serta suka berpikir dan berbicara tentang keselamatan dari Tuhan (bndg. Mzm.92:13-16); bukan sebaliknya yang terjadi, makin tua makin cerewet, ingin selalu diperhatikan hingga menyusahkan anak cucu, terlebih lagi jika pikun.

Mereka tekun berada di Bait Allah karena ada yang diharapkan, itulah: Mesias, Sang penyelamat.

Hendaknya hal ini juga mendorong kita untuk tekun dan setia beribadah menantikan pengharapan yang tak terlihat (Rom. 8:24-25) bukan sekadar mengharapkan berkat-berkat jasmani (kesehatan, kekayaan, dll.) yang memungkinkan kita ‘kendur’ beribadah dan bahkan mengatur waktu ibadah bila kita telah memperolehnya karena kita lebih mengutamakan berkat-berkat Tuhan ketimbang si Pemberi berkat.

Ingat, penantian akan keselamatan tidak seharusnya dipengaruhi oleh situasi dan kondisi, seperti Simeon dan Hana yang begitu tekun menantikan janji/penghiburan Tuhan hingga masa tua mereka walaupun saat itu, kondisi politik di negara Israel berubah-ubah – dari bangsa bebas menjadi bangsa jajahan orang Romawi hingga mereka mengalami tekanan, penderitaan dsb.

Intropeksi: bagaimana sikap kita menantikan Tuhan di dalam ibadah kita? Hanya Tuhan yang dapat menilai apakah ibadah kita dalam sikap ‘tekun menantikan Dia’ atau hanya sekadar ‘main-main’.

2. Tidak jemu menjalani rutinitas ibadah

Biasanya dalam melakukan kegiatan apa saja yang menjurus pada kebiasaan/kerutinan akan membuat seseorang menjadi bosan dan tidak bergairah lagi, termasuk pergi ke Bait Allah/gereja mendengarkan dan membaca Firman Allah hingga akhirnya kegiatan yang dilakukan hanya bersifat liturgi agamawi atau sekadar memenuhi syarat agama.

Berdasarkan hitungan kalender, orang Yahudi diwajibkan datang ke Bait Suci setiap hari Sabat untuk beribadah kepada Allah dan mendengarkan serta membaca kitab Taurat Musa. Bila umur Simeon dan Hana minimal 80 tahun, berarti mereka telah mendengarkan dan membaca kitab Taurat di Bait Allah 4160 kali (80 x 52/setahun).

Terbukti rutinitas ibadah yang dilakukan Simeon dan Hana berpuluh-puluh tahun tidak membuatnya jemu atau bosan. Apa yang menyebabkan mereka dapat bertahan tanpa mengalami kejenuhan?

a. Tetap yakin apa yang tertulis dan dinubuatkan dalam Alkitab (PL) adalah Firman Allah yang hidup dan berwibawa serta berpengharapan kelak pasti digenapi. (bndg. Roma 8:24-25 – menantikannya dengan tekun → menantikan kedatangan-Nya kembali).

b. Menaati (=melakukan) berdasarkan apa yang tertulis/diperintahkan Firman Allah.

c. Erat berhubungan dengan Allah melalui sarana Bait Suci-Nya. (bndg. kita adalah Bait Suci-Nya dan Roh Kudus berdiam di dalam kita – 1 Kor. 3:16,17). Orang Kristen yang dipenuhi Roh Kudus, secara lahiriah pasti setia dalam ibadah persekutuan (Bndg. Ibr. 10:25).

Penantian Simeon dan Hana tidak sia-sia, mereka berjumpa/melihat Mesias yang dirindukannya; bahkan mendapat anugerah ‘menjamah’ bayi Yesus.

Apa yang dikatakan oleh Simeon selanjutnya? “biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera.” Simeon benar-benar mengalami ketenangan/ kedamaian.

Ternyata perjuangan mengalami keselamatan oleh Tuhan Yesus memberikan kebebasan dari segala hal yang dapat menggelisahkan hati. Roh Kuduslah yang sanggup memberikan kedamaian, membuat seseorang tidak suka bertengkar dengan yang lain hingga tidak terjadi kekacauan. Alangkah menderitanya jika seseorang tidak pernah mengalami ketenangan sejak masa muda hingga hari tuanya.

Introspeksi: apakah para lansia mengalami ketenangan/kedamaian karena telah mengenal Tuhan Yesus, Pemberi damai sejati, atau karena acara-acara refreshing buat fisik dan mental yang mana ketenangan yang diperoleh hanya bersifat sesaat? Dan apakah kita masih menanti-nantikan “keselamatan” dari Tuhan melalui Yesus yang telah lahir atau kita sudah hidup dalam ‘keselamatan-Nya’?

Apa maksud keselamatan yang (masih) dinanti-nantikan dengan keselamatan yang sudah dimiliki?

1. Keselamatan yang (masih) dinanti-nantikan

Bagi mereka yang belum yakin akan keselamatan hidupnya dan belum menerima Tuhan Yesus sebagai Juru selamat seyogianya tetap setia (menanti) di dalam ibadah mendengarkan Firman Allah sampai suatu saat Roh Kudus meyakinkan dia akan janji-janji Tuhan untuk kemudian bertindak, atas kehendak Tuhan, mengaku dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamat pribadinya.

Saran: percayalah dan yakinlah apa yang tertulis dalam Alkitab adalah ‘Ya’ dan ‘Amin’, terimalah Yesus sekarang juga maka Anda pasti selamat beserta seisi rumah tangga Anda!

2. Keselamatan yang sudah dimiliki

Kisah Simeon dan Hana serta pernyataan mereka tentang bayi Yesus membuktikan bahwa mereka sudah ‘melihat’ dan yakin ‘keselamatan’ dari Allah sudah datang dalam diri mereka juga bagi semua orang yang mendengarkannya di Bait Allah saat itu.

Introspeksi: kita pun sudah diselamatkan namun tindakan apa yang harus diperbuat setelah itu? Apakah hanya setia mendengarkan atau menyampaikan Firman Allah dengan kontinu di dalam gereja?

Pernahkah kita berpikir berapa banyak jiwa bangsa Indonesia yang sudah diselamatkan? Atau terbebankah kita terhadap berapa puluh juta bangsa Indonesia yang masih sedang “menantikan keselamatan” tanpa bimbingan dan arahan yang pasti dan juga tanpa pengharapan karena hanya menurut keyakinan masing-masing ‘ajaran’ yang dianutnya?

Siapkah kita meneruskan nubuat Simeon setelah perjumpaannya dengan Sang Juru selamat?

Apa nubuat Simeon setelah ia mengalami perjumpaan dengan Sang Juru Selamat?

1. Yesus datang sebagai “TERANG” bagi bangsa-bangsa lain (ay. 32a)

Simeon sangat yakin akan terwujudnya nubuat keselamatan bagi bangsa-bangsa lain walaupun waktu itu dia belum melihat ‘karya’ dari bayi Yesus yang digendongnya. Terbukti nubuat di kitab Yesaya 8:23; 9:1,5-6 tentang ‘kelahiran Raja damai dan bangsa yang berjalan di dalam kegelapan melihat terang besar’ digenapi di Yohanes 1:4, Yesuslah TERANG sejati.

Demikian pula nubuat tentang kemuliaan Sion yang akan datang di mana bangsa-bangsa datang berduyun-duyun kepada terang (Yes. 60:1-3) digenapi di Kisah Rasul 13:47, 44-49; 26:15-23, 28-29 (menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah dan membawa keselamatan sampai ke ujung bumi).

Bila Yesus adalah Terang sejati, nubuat di Matius 5:14-16, “kamulah terang dunia…” harus pula digenapi.

Hendaknya terang kita tidak sebatas di dalam gereja tetapi memancar keluar karena masih banyak orang di luar gereja hidup dalam kegelapan dosa dan belum menerima cahaya Terang Tuhan. Namun perlu diperhatikan terang kebaikan yang kita bagikan bukan sekadar menyangkut perkara jasmani yang bersifat sementara melainkan kebaikan yang membawa manusia berjumpa dengan Terang yang sejati.

Logikanya, jangkauan kekuatan seberkas cahaya yang dipancarkan ada batasnya, semakin jauh semakin lemah dan redup cahaya terangnya. Namun tidak demikian dengan Terang Surgawi – Terang ini Allah sendiri, bagi Dia tidak ada pertukaran bayangan (Yak. 1:16-18 bndg. Kis. 26:13-15).

Aplikasi: jangan membatasi posisi, status, kedudukan kita sebagai ‘orang biasa’ – bukan hamba Tuhan atau penginjil, dsb. – hingga kita enggan menyampaikan berita Terang dari Tuhan. Sebaliknya, kita harus mengestafetkan Terang Allah yang telah kita terima dan menyuarakan ‘keselamatan dari Allah’ bagi mereka yang belum mengenal Tuhan.

2. Yesus datang sebagai “kemuliaan” Israel yang dipulihkan (ay. 32b)

Di awal Tabernakel didirikan, kemuliaan TUHAN memenuhi Kemah Suci (Kel 40:34). Namun sejarah menulis bahwa Tabut Perjanjian telah hilang sejak pembuangan bangsa Israel ke Babel selama 70 tahun dan tidak diketemukan hingga hari ini.

Ada kisah nyata dan memilukan yang pernah dialami bangsa Israel saat mereka harus kehilangan ‘kemuliaan’ sebab Tabut Perjanjian telah dirampas oleh bangsa Filistin.

Dampaknya, menantu perempuan imam Eli yang hamil tua shocked mendengar Tabut Allah dirampas dan mertua serta suaminya, Pinehas, mati lalu ia bersalin dan sebelum meninggal ia sempat menamai bayi yang dilahirkannya “Ikabod” yang artinya “telah lenyap kemuliaan dari Israel” (1 Sam. 4:20-22, baca 1 Sam. 3 – 4).

Pinehas, seorang imam, mati karena hidup sembrono terhadap persembahan kurban sembelihan (1 Sam 2: 13-17) dan jatuh dalam dosa perselingkuhan dengan perempuan-perempuan yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan (1 Sam 2:22).

Ia tidak menghargai kekudusan hadirat Tuhan di dalam Tabernakel padahal Tabernakel merupakan satu keutuhan yang mana semua peralatan perabotnya saling terkait. Sikapnya yang tidak menghargai Mazbah Kurban Bakaran berdampak buruk bagi Tabut Perjanjian.

Demikian pula dengan imam Eli sebagai orang tua tidak menjadi contoh yang baik, ia tidak bertindak tegas di dalam pelayanan dan membiarkan – tidak menegur – anak-anaknya yang hidup tidak benar.

Apa makna kisah ini bagi kehidupan kita, gereja Tuhan? Apa penyebab hilangnya kemuliaan Tuhan dari gereja? Janganlah kita berpikir dapat menyuap Tuhan dengan hal-hal jasmani dan berpikir bahwa kita dapat ‘memaksa’ Dia hadir dalam kemuliaan-Nya di dalam hidup kita yang sembrono – tidak menghargai kesucian hidup nikah.

Namun kita patut bersyukur bahwa Allah dengan kasih-Nya telah mengirimkan Yesus Kristus – Putra tunggal-Nya – sebagai Juru selamat untuk memulihkan kondisi bangsa Israel dari kehancuran dan juga kondisi kita sebagai ‘Israel-israel rohani’ (bndg. Yoh. 1:14; 2 Kor. 4:4-6; Ibr. 1:1-4).

Jujur, berulang kali kita mengalami kehilangan kemuliaan Allah oleh sebab perbuatan kita yang sembrono. Sekarang, hargailah usaha pemulihan dari Tuhan bukan dengan kekuatan sendiri tetapi oleh kuasa pekerjaan pengurbanan Tuhan Yesus Kristus! Pastikan bahwa di dalam gereja (rumah Allah) masih ada kemuliaan dari Allah dan di luar gereja kita memberitakan ‘Terang Kristus’ bagi bangsa-bangsa yang tinggal di dalam kegelapan dosa.

Bagaimana dengan pengalaman Hana setelah perjumpaannya dengan Yesus, sang Juru selamat dan Terang dunia?

Nabiah Hana mengucapkan perkataan-perkataan nubuat dari Tuhan: kata-kata yang menghibur, menguatkan dan meneguhkan orang-orang Yahudi yang merindukan kelepasan bagi Yerusalem (bndg. 1 Kor. 14:3).

Kitab Kisah Para Rasul 21:8-9 mencatat tentang seorang bernama Filipus, pemberita Injil, yang memiliki empat anak dara yang beroleh karunia untuk bernubuat.

Bagaimanapun juga Rasul Paulus mengingatkan bila seorang bernubuat, yang lain menanggapi apa yang dikatakan (cross-check) apakah nubuatannya sesuai dengan kehendak Tuhan agar tidak ‘one man show’, (1 Kor.14:29-33).

Alangkah harmonisnya bila empat dara tersebut bernubuat (tidak selalu di tempat yang sama dan bersama, bisa di tempat yang berbeda dan waktu beda pula), dengan isi (kalimat) berbeda tetapi inti tujuannya sama. Namun betapa ngerinya jika ‘isi’ nubuat mereka saling bertolak belakang, terlebih lagi bila karunia bernubuat dijadikan ajang persaingan.

Mustahil Tuhan melalui Roh Kudus-Nya memberikan nubuat berbeda-beda yang membingungkan umat-Nya!

Jelas, nubuat harus sesuai dengan Firman Tuhan. Jika terbukti melenceng atau tidak sesuai Firman Tuhan, pribadi yang bernubuat harus bersedia dikoreksi oleh saudara seiman.

Apa yang dinubuatkan oleh Hana pasti tidak bertentangan dengan apa yang diucapkan oleh Simeon. Artinya, walau ‘ucapan’ mereka berbeda, makna dan tujuannya sama yaitu tentang keselamatan bagi bangsa Israel melalui bayi Yesus.

Introspeksi: mungkinkah sepasang suami-istri yang mengaku dipenuhi Roh Kudus berbicara/berpendapat bertolak belakang tentang keselamatan di dalam Yesus Kristus? Bukankah Roh Kudus hanya satu?

Secara ringkas di dalam Bait Suci Allah (kini gereja Tuhan) harus ada dua macam ‘berita’:

1. Penginjilan – MISI (keluar) membawa ‘Terang’ kepada bangsa-bangsa lain.

2. Penggembalaan/penyucian (ke dalam) agar kemuliaan Allah (Tabut Perjanjian) – Mempelai Pria Surga dan Tubuh-Nya (gereja-Nya) – menjadi nyata.

Yang perlu diperhatikan kedua ‘berita’ tersebut di atas tidak bertentangan namun saling menopang dan melengkapi bagaikan dua paket menjadi satu (two in one) yang tak dapat dipisahkan.
Ingat, berita (nubuat) harus sinkron antara satu (pembicara) dengan (pembicara) lainnya sehingga “Yesus” yang diserahkan kepada Tuhan mengalami ‘pertumbuhan’ yang sehat dan kuat luar biasa demi pengembangan VISI-MISI Surga.

Marilah orang-orang berusia lanjut (lansia) tetap setia beribadah kepada Tuhan dan menjadi berkat bagi generasi muda. Sementara itu suami istri dan pemuda pemudi juga jangan ketinggalan menjadi berkat bagi sesama. Terimalah berkat dari Tuhan melalui pemberitaan Firman-Nya dan kuasa Roh Kudus kemudian bagikan sinar Terang Tuhan ke luar gereja di mana masih banyak orang tinggal di dalam kegelapan!

Jika Anda masih ragu-ragu dan belum diselamatkan, terimalah segera Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat Anda. Bagi Anda yang sudah diselamatkan, jangan ragu-ragu untuk dipakai menjadi alat-Nya demi kepentingan semua bangsa.

Amin.

Baca juga:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *