Selalu Penuh Roh

Kepenuhan: Diisi oleh Roh Allah

Kehidupan Kristen adalah kehidupan dalam kepenuhan. Allah telah memanggil kita untuk diisi dengan kepenuhanNya.

Pertanyaannya adalah, bagaimana kita memperoleh kepenuhan itu? Apa caranya untuk memperoleh kepenuhan tersebut? Menurut Alkitab, kepenuhan itu diperoleh saat kita diisi. Tanpa pengisian, Anda tidak akan menjadi penuh. Hal inilah yang akan kita bahas di pesan ini yang merupakan khotbah yang ke-14 dan pokok terakhir dari 12 pokok keselamatan.

Doa Paulus

Untuk menjadi penuh, kita perlu diisi oleh Roh.

Di Efesus 3:14-19, rasul Paulus berdoa, Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa – artinya, dia berlutut untuk mendoakan jemaat. Hal apakah yang dia doakan? Dia secara khusus mendoakan empat hal.

(1).  Supaya Allah menguatkan kita di dalam manusia batin kita

Di ayat 16, dia berdoa, “Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu (bagaimana?) oleh Roh-Nya di dalam batinmu.” Apa itu batin (inner man) ? Batin adalah lawan dari lahir (outer man). Apakah itu lahir (outer man)? Menurut, Alkitab, lahir (outer man) adalah tubuh kita ini. Tubuh jasmani yang bisa kita lihat inilah yang disebut sebagai lahir (outer man). Batin (inner man) adalah sosok yang tidak bisa Anda lihat, yang sering kita sebut sebagai jiwa atau roh. Itulah yang disebut batin (inner man). Kiranya Allah menguatkan Anda! Di sini, ayat ini tidak mengatakan hal menguatkan tubuh jasmani Anda, tetapi menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu.

Kita punya tubuh dan juga memiliki jiwa. Jika saya berkata, “Saya bahagia,” maka Anda tidak akan mengartikan bahwa yang berbahagia adalah tubuh saya. Siapakah ‘saya’ yang sedang berbahagia itu? Apakah yang dimaksudkan itu adalah otak saya sedang berbahagia? Atau lengan saya berbahagia? Tidak, yang dimaksudkan adalah batin saya. Kalimat, “Saya bahagia,” menunjuk pada batin saya, ada sukacita di dalam hati. Di sini, Paulus berkata kiranya Allah menguatkan dan meneguhkan batin Anda. Mengapa kita perlu dikuatkan? Karena kita ini sangat lemah!

Bagaimana kita bisa bertahan sebagai seorang Kristen? Bagaimana kita bisa melanjutkan perjalanan ini? Kita ini sangat lemah! Kita memerlukan kuasaNya. Kita butuh kekuatanNya untuk menopang kita. Dari mana kita bisa mendapatkan kekuatan ini? Supaya Ia (Allah) menguatkanmu. Dia menguatkan dan meneguhkan! Ada kata ganda di sini. Dia bukan sekadar menguatkan Anda, tetapi juga meneguhkan. Paulus tak pernah menggunakan kata-kata yang maknanya kabur. Dia tidak sekadar berbicara tentang kelimpahan, dia berbicara tentang kelimpahan yang luar biasa, yang meluap-luap! Allah tidak sekadar menguatkan Anda, Dia menguatkan dan meneguhkan … batin Anda.

Bagaimana caranya? Dengan RohNya! Hal ini jelas menunjukkan bahwa jika kita tidak memiliki Roh, maka kita akan menjadi sangat lemah; kita tidak akan pernah bisa bertahan dalam kehidupan Kristen ini. Kita tidak memiliki kekuatan. Itulah langkah yang pertama.

(2).  Supaya Kristus diam di dalam kita melalui iman

Lalu dia melanjutkan dengan berkata, “sehingga oleh imanmu Kristus diam (hidup) di dalam hatimu.” Kalimat ini membangkitkan pertanyaan berikut: Bagaimana Kristus hidup di dalam hati saya? Kembali lagi, jawabannya sama seperti yang pertama – oleh Roh yang telah diberikan kepada kita. Rasul Yohanes di 1 Yoh 3:24 berkata, “Dan demikianlah kita ketahui, bahwa dia ada di dalam kita, … (dengan cara bagaimana?) … yaitu Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita.” Yesus hidup di dalam diri kita oleh Roh Allah.

(3).  Supaya kita memiliki kuasa untuk memahami perkara-perkara rohani

Hasil dari berdiamnya Kristus di dalam kita adalah, kamu berakar serta berdasar di dalam kasih… supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus mempunyai kuasa memahami (Efe 3.17b-18). Anda membutuhkan kuasa untuk bisa memahami perkara-perkara rohani. Dari manakah Anda bisa memperoleh kuasa untuk memahami perkara-perkara rohani? Dari Roh Allah.

Dalam hal memahami perkara rohani ini bukanlah masalah seberapa cerdas atau seberapa terdidik Anda. Seseorang dengan tiga macam gelar S3 juga belum tentu bisa memahami perkara rohani; dia bisa saja menjadi sangat bodoh dalam memandang perkara rohani. Orang yang tidak memiliki gelar akademis apa-apa, bisa saja memiliki pemahaman yang sangat mendalam tentang perkara rohani.

Lalu bagaimana seseorang bisa memiliki pemahaman ini? Karena Roh Allah memberinya kuasa untuk memahaminya. Perkara-perkara rohani itu dipahami melalui Roh Allah. Roh Allah-lah yang menolong kita untuk mengerti tentang perkara-perkara rohani. Jika Anda membaca Alkitab dan Anda tidak bisa memahami isinya, maka yang Anda butuhkan adalah Roh Allah. Jika ada masalah rohani yang tidak bisa Anda pahami, maka yang Anda perlukan adalah Roh Allah untuk menolong Anda.

Saat saya berbicara tentang perkara rohani dengan berbagai orang, terutama orang non-Kristen, mereka tidak bisa memahaminya. Tak peduli seberapa terdidik dan terpelajarnya mereka. Mereka tidak mengerti karena perkara rohani harus dipahami secara rohani. Saya teringat pada seorang pemuda yang saya temui di London. Saya berbincang-bincang tentang perkara-perkara yang dari Allah dengannya. Dia tidak bisa memahami hal-hal tersebut. Dan karena tidak bisa mengerti, maka dia mengajukan banyak sekali pertanyaan. Dia kebingungan namun dia berusaha untuk memahami.

Akhirnya, saya berkata kepadanya, “Apakah semua pertanyaan yang diajukan itu hanya untuk berdebat atau karena Anda memang ingin mencari kebenaran?”

Dia berkata, “Bukan, aku memang benar-benar ingin mengenal kebenaran.”

“Masalah Anda adalah Anda tidak punya Roh Allah yang membimbing Anda untuk memahami perkara-perkara rohani. Anda adalah orang yang sangat pandai, sangat cerdas, akan tetapi Anda tidak bisa memahami perkara rohani karena Anda belum memiliki Roh Allah.”

“Apa yang harus aku lakukan untuk bisa mengerti perkara rohani?”

Saya katakan, “Pertama-tama, Anda harus datang kepada Allah dalam kerendahan hati. Anda tidak boleh datang dalam keangkuhan! Anda tidak boleh datang dengan sikap angkuh, ‘Lihat gelarku!’ Allah tidak terkesan pada gelarmu. Datanglah kepada Allah dengan kerendahan hati.”

Lalu dia bertanya, “Apa yang harus aku lakukan?”

“Berlututlah di sini. Berlututlah di hadapan Allah dan berkata, “Tuhan, aku tidak bisa memahami perkara rohani. Secara rohani, aku ini buta, tuli dan bodoh.”

“Lalu, apa lagi yang harus aku lakukan?”

Karena dia tidak tahu apa-apa tentang Roh, jadi saya juga tidak berbicara tentang Roh kepadanya. Yang saya katakan hanyalah, “Datanglah kepada Allah dalam kerendahan hati, bukalah hati Anda kepada Allah dan biarkan Allah berbicara kepada Anda!”

Pemuda ini adalah mahasiswa yang punya paham Komunisme, jadi dia berkata, “Tetapi aku tidak percaya kepada Allah.”

Saya jawab, “Benar! Kamu tidak percaya kepada Allah. Akan tetapi kamu ingin mengenal Allah atau tidak? Aku tidak akan melakukan diskusi akademis tentang Allah denganmu. Aku tidak punya waktu dan minat untuk hal itu. Apakah kamu ingin bertemu dengan Allah?”

Dia katakan, “Ya.”

“Anda tidak akan pernah tahu apakah Allah itu ada kecuali jika Anda bertemu denganNya. Berlututlah di sini, dan saya juga akan berlutut bersamamu. Berbicaralah kepada Allah. Katakan:

‘Tuhan, saya tidak tahu apakah Engkau ada di sini. Saya bahkan tidak tahu apakah Engkau benar-benar ada karena saya ini buta dan bodoh secara rohani. Jika Engkau memang ada, berbicaralah kepada saya. Nyatakanlah diriMu!’

Apakah Anda bersedia melakukan hal ini?”

Dia berkata, “Iya! Saya benar-benar ingin bertemu dengan Allah.”

“Baiklah, mari kita berlutut di sini.” Demikianlah, kami lalu berlutut dan saya berkata, “Bersikap jujurlah! Anda tidak tahu apakah Allah itu ada atau tidak ada. Akui dengan jujur. Datang saja sejujurnya kepada Allah dan katakan dengan tulus, ‘Saya tidak tahu apakah Engkau ada.’ Bicaralah sejujurnya. Kita ingin mencari kebenaran. Jika Allah tidak ada, maka doamu tidak akan terjawab, bukankah begitu? Hal ini sangat sederhana!”

Dia berlutut bersama saya dan hidupnya mengalami perubahan, transformasi sepenuhnya! Ketika dia bangkit dari sujudnya, 10 menit kemudian, wajahnya bersinar cerah! Dia berkata, “Sesuatu telah terjadi padaku!”

Saya berkata, “Aku tahu. Itulah sebabnya aku memberitakan Injil karena aku tahu bahwa Allah itu hidup. Apakah kamu pikir aku akan berusaha meyakinkan kamu dengan argumen? Apakah menurutmu aku akan berdebat denganmu dan berusaha meyakinkanmu untuk mempercayai Allah dengan membuat argumen-argumen filosofis? Tidak. Hal itu tidak akan memberikan keyakinan. Apakah kamu pikir aku meninggalkan hidup dan karirku untuk memberitakan Injil karena aku mempercayai mitos dan khayalan? Apakah menurutmu akal sehatku sudah hilang? Apakah menurutmmu aku tidak bisa mengejar penghasilan yang besar? Aku memberitakan Injil karena aku tahu bahwa itu nyata. ”

Dia berkata, “Sekarang aku mengerti! Sesuatu telah terjadi pada diriku!”

Malahan, sedemikian berubahnya kehidupan dia sampai-sampai dia melepaskan karirnya di bidang kedokteran untuk belajar teologi dan memberitakan Injil. Dalam waktu 10 menit saat berlutut, dia telah bertemu dengan Allah.

Allah-lah yang memberi kita kuasa untuk memahami [perkara rohani] lewat RohNya. Allah-lah yang memampukan kita untuk berakar serta berdasar di dalam kasih supaya kita mengenal kasih Kristus. Apa arti kata ‘tahu’ itu? Kata ‘tahu’ di dalam Alkitab tidak pernah dipahami sebagai perkara pemahaman intelektual. Kata ini berarti mengalami, mengenal Allah.

Jika saya berkata, “Saya kenal Anda,” maka saya tidak bermaksud mengatakan bahwa saya telah mempelajari riwayat hidup Anda. Ucapan itu berarti bahwa saya telah bertemu dengan Anda; bercakap-cakap dengan Anda. Bisa saja saya tidak tahu apa-apa tentang latar belakang Anda. Saya tidak tahu di mana Anda dilahirkan. Saya tidak tahu apa-apa tentang riwayat Anda. Akan tetapi saya tahu Anda dalam pengertian bahwa saya telah berkenalan dengan Anda. Mengenal Kristus bukanlah perkara mengetahui fakta-fakta yang berkaitan dengannya. Kata ini berarti pertemuan dengannya!

Demikianlah, pokok yang ketiga ini adalah supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami (mengalami), betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Karena hal ini melampaui segala pengetahuan, maka ia berada di luar jangkauan pengetahuan manusia. Roh Allah-lah yang memampukan Anda untuk mengetahui hal itu dengan mengalaminya.

Ada begitu banyak hal yang tidak bisa kita pahami, akan tetapi bisa kita alami. Saya tidak mengerti tentang listrik. Tahukah Anda apa itu listrik? Bisakah Anda menganalisanya? Akan tetapi saya tahu bagaimana menyalakan lampu. Saya tidak perlu mengerti tentang listrik untuk bisa menyalakan lampu. Tahukah Anda apa itu kehidupan? Tak ada orang yang tahu apa itu kehidupan, apa definisi keidupan itu. Akan tetapi saya tahu bagaimana menjalani kehidupan, sekalipun saya tidak tahu apa itu kehidupan. Saya mungkin tidak mengerti tentang kasih Kristus, akan tetapi saya bisa mengalaminya.

(4).  Supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah

Dengan demikian, sebagai kelanjutannya, kita sampai pada kata ‘that (supaya)’ yang keempat (atau ketiga di dalam terjemahan LAI) pada bagian akhir dari ayat 19, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. Kita telah melihat bahwa di dalam kata ‘supaya’ yang sebelumnya, semua kalimatnya merujuk kepada Roh Allah di dalam diri kita. Selanjutnya, di dalam kata ‘supaya’ yang kali ini: Kita dipenuhi oleh kepenuhan Allah.

Apakah kepenuhan Allah yang perlu ada di dalam diri kita? Apakah arti kepenuhan dari Allah ini? Kita bisa memahaminya dalam satu kata saja. Kepenuhan Allah itu adalah Roh Allah! Satu-satunya jalan bagi kita untuk bisa dipenuhi oleh kepenuhan Allah adalah dengan dipenuhi oleh Roh Allah, dan terus dipenuhi oleh Roh Allah, sampai kita mencapai segenap kepenuhan Kristus.

Kita harus memiliki Roh Kudus dari Allah

Bagi yang ingin dibaptis, ini pesan saya: menjadi orang Kristen dan berusaha menjalani kehidupan Kristen berdasarkan kekuatan Anda sendiri, bukan saja hal yang sukar, namun itu suatu hal yang sangat mustahil! Tidak bisa Anda jalankaan kehidupan Kristen seperti itu. Standarnya Tuhan sangatlah tinggi sehingga mustahil untuk dicapai. Anda tidak akan bisa menjalani kehidupan tersebut. Lalu bagaimana supaya kita bisa menjadi orang Kristen? Allah tidak pernah bermaksud menyuruh Anda memanjat tangga ke surga dengan kekuatan Anda sendiri. Tidak begitu, Dia tidak pernah menyuruh Anda melakukan dengan cara itu. Dia memberi kita RohNya! Itulah sebabnya mengapa Roh Kudus datang.

Namun sekarang ini, Anda tidak membutuhkan Roh Allah untuk menjadi seorang Kristen. Yang Anda perlukan adalah keputusan [untuk percaya kepada Yesus] dan Anda selamat. Itulah hal yang diajarkan kepada kita. Jika Anda membuat keputusan yang benar, maka Anda diselamatkan – dan Anda akan tetap selamat! Jika memang demikian halnya, saya ingin bertanya, untuk apa Anda membutuhkan Roh Kudus? Apakah Anda melihat bahwa ajaran yang semacam ini telah mendorong Roh Kudus keluar dari gereja? Ajaran semacam ‘sekali selamat tetap selamat’ telah menyangkal Roh Allah. Ajaran ini telah menyangkal kasih karunia. Dengan sekali saja menerima kasih karunia, Anda telah menyingkirkan kasih karunia untuk selamanya. Dengan satu pengalaman awal tersebut, Anda tidak lagi membutuhkan Roh Allah karena Anda sudah selamat. Untuk apa lagi Anda membutuhkan Roh Allah? Demikianlah, kita mendapati situasi yang tragis sekarang ini di mana Roh Allah telah disangkal. Kita tidak membutuhkannya lagi karena ajaran sekali selamat kita akan tetap selamat.

Sekarang kita mendapati gerakan kharismatik dan gerakan Pentekosta, yang coba membawa kembali Roh Allah ke dalam gereja. Sayangnya, mereka membuat suatu kesalahan yang sangat serius dalam pemahaman atau eksposisi mereka. Mereka mematok hal kepenuhan Roh itu dengan bahasa lidah, nyaris menjadikannya sebagai pagar yang ekslusif, mematok bahwa bukti Anda dipenuhi oleh Roh atau tidak adalah apakah Anda berbahasa lidah atau tidak. Itulah kesalahan mereka. Sungguh kekeliruan yang tragis! Mereka sebenarnya berada di jalur yang tepat sampai akhirnya mereka membuat kesalahan itu. Akibatnya, mereka ditolak oleh mayoritas gereja-gereja. Malahan, pada saat-saat awal gerakan ini masuk ke gereja kami di London, saya mempelajarinya, dan akhirnya terpaksa menolaknya juga. Saya menyatakan bahwa ajarannya salah. Setelah meneliti Kitab Suci secara teliti, saya harus katakan bahwa ini bukan ajaran yang benar. Anda tidak bisa secara eksegetik menegakkan bahwa bukti kepenuhan Roh adalah berbahasa lidah. Ini jelas keliru. Demikianlah, sungguh sangat disayangkan, gerakan ini memiliki kekeliruan di titik itu. Namun, mereka menyadari akan satu hal – dan mereka memang sangat benar di dalam pokok tersebut – bahwa tanpa Roh Allah, Anda tidak akan pernah masuk ke dalam kepenuhan dalam kehidupan Kristen. Dan dalam hal ini, mereka sepenuhnya benar.

Namun saya tahu bahwa banyak dari kalangan Pentekosta dan Karismatik sekarang ini tidak lagi menekankan bahasa lidah. Mereka juga akhirnya menyadari kekeliruan mereka dan tidak lagi begitu menekankan bahasa lidah. Dan itu adalah hal yang bagus. Dengan demikian, gerakan ini telah membawa koreksi yang dibutuhkan di dalam gereja. Gereja sekarang telah menolak kekudusan sebagai hal yang penting dan mendasar bagi keselamatan. Gereja-gereja telah menolak Roh Allah. Mereka hanya memuliakan Allah di mulut saja. Hal yang paling buruk yang bisa Anda lakukan adalah jika Anda memuji Allah dengan mulut Anda namun menyangkal Dia di dalam kehidupan sehari-hari Anda.

Allah memuaskan mereka yang lapar akan hal-hal yang baik: mintalah kepadaNya!

Tahukah Anda apa artinya hidup dalam kepenuhan Roh, apa artinya dipenuhi oleh Roh? Jika Anda tidak dipenuhi oleh Roh, maka Anda tidak akan bisa bertahan. Anda tidak akan bisa bertahan sebagai orang Kristen. Roh Kudus itu sangatlah mendasar bagi keselamatan. Tanpa Roh Allah, Anda tidak akan bisa bertahan. Saya mau menggaris-bawahi hal ini. Allah tidak menginginkan kita untuk bertahan dengan mengandalkan kekuatan kita sendiri. Jadi Dia memberi kita Roh. Dia memberi kita hal-hal yang baik. Dia ingin agar kita hidup di dalam kepenuhan.

Di Mazmur 107:9, dikatakan: dan jiwa yang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan. Perhatikanlah kata ‘dikenyangkan (fill, dipenuhi, dikenyangkan)’. Jiwa yang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan. Dia tidak sekadar memberikan sedikit hidangan pembuka, dan selanjutnya, Anda justru merasa jadi lebih lapar lagi. Sebagian orang merasa bahwa Allah hanya memberi hidangan pembuka saja bagi mereka. Hanya mencicipi sedikit saja, lalu mereka menjadi lebih lapar lagi dan ini membuat mereka menjadi putus asa. Tidak demikian, Allah mengenyangkan kita dengan hal-hal yang baik!

Kata ‘good things’ ini juga disampaikan oleh Yesus di Matius 7:11. “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” Perhatikanlah kata ‘meminta kepada-Nya‘. Langkah pertama adalah meminta – uraian yang sangat gamblang! Meminta kepadanya. Pernahkah Anda meminta dia untuk memenuhi Anda?

Banyak orang Kristen yang tidak berani meminta untuk dipenuhi. Mengapa? Karena tampaknya mereka takut jika Allah memenuhi mereka. Hal pertama yang perlu Anda tuntaskan di dalam benak Anda adalah: Apakah Anda ingin dipenuhi oleh Allah? Apakah Anda ingin memiliki kepenuhan kehidupan Kristen? Jika ya, maka Anda harus meminta kepadaNya. Seperti yang dikatakan oleh Yakobus, “Kamu tidak memperolehnya karena kamu tidak meminta.” (Yak 4:2). Kadang kala, kita membuat kekeliruan yang sangat sederhana, bukankah begitu? Ini adalah hal yang sangat sederhana, namun kita tidak pernah mengerjakannya. Anda cukup berdiam di hadapan Allah dan berkata, “Tuhan, aku lapar! Aku merasa hampa! Penuhilah aku dengan yang baik!”

Allah memberikan AnakNya kepada kita, apalagi yang tidak akan Dia berikan?

Bagaimana Allah mengenyangkan kita dengan yang baik? Lukas 11:13, ayat yang sejajar dengan Matius 7:11, memberitahu kita apa itu pemberian baik yang Allah penuhkan di dalam diri kita. Dari Lukas 11:13, kita melihat bahwa kebaikan-kebaikan itu dirangkum dalam Roh Kudus. Semua anugerah yang baik dan sempurna yang ingin diberikan oleh Allah itu terdapat di dalam Roh Allah. Dengan kata lain, jika Anda belum memiliki Roh Allah, berarti Anda belum memperoleh satupun dari anugerah yang baik dan sempurna yang ingin Allah berikan kepada Anda.

Apakah Allah bersedia memberikan semua yang baik itu kepada Anda? Tentu saja Dia bersedia! Di Roma 8:32, rasul Paulus berkata, “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua (AnakNya sendiri tidak dipertahankanNya; Dia memberikan AnakNya), bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” Jika Anda bersedia memberikan anak Anda kepada seseorang, saya yakin bahwa Anda tidak akan ragu memberikan TV atau mobil Anda kepadanya, kecuali jika anak Anda itu kalah berharga dibandingkan TV atau mobil Anda. Bagi sebagian orang, itu bisa terjadi. Anak Anda mungkin kurang berharga dibandingkan mobil Anda, jadi Anda mungkin lebih bersedia memberikan anak Anda ketimbang mobil Anda. Akan tetapi Allah mengasihi AnakNya lebih dari segalanya! Jika Dia memberikan AnakNya kepada Anda, maka hal apa lagi yang tidak akan Dia berikan kepada Anda? Itulah yang disebut anugerah! Allah memberikan segala-galanya. Pertama-tama, Dia memberikan AnakNya, kemudian Dia memberi kita Roh KudusNya. Dan di dalam memberikan Roh KudusNya, sebenarnya Dia sedang memberikan diriNya kepada kita. Itulah hal yang disebut sebagai ‘kasih karunia demi kasih karunia’ oleh rasul Yohanes. Satu kasih karunia, ditambah lagi dengan kasih karunia yang lain, semuanya itu bertimbun-timbun – “kasih karunia demi kasih karunia.”

Allah telah memberi kita segala-galanya, lalu apa yang diberikan oleh orang-orang Kristen sebagai balasannya? Orang merasa sudah memberi terlalu banyak, padahal sebenarnya dia memberi terlalu sedikit. Sungguh menyedihkan, bukankah demikian? Ketika Anda memberikan persembahan sebesar 5 dolar, pernahkah Anda merasakan seperti ini, “Wah! Seharusnya aku memberi 4 dolar saja! Mungkin 3 dolar saja. Atau malah 2 dolar saja. Atau bahkan mungkin 25 sen saja! Hmm, mungkin akau tidak perlu memberikan apa-apa sama sekali!”? Anda lihat, 5 dolar saja sudah dirasakan terlalu banyak, lalu bagaimana mau memberikan yang lainnya? Segala sesuatunya terasa terlalu berlebihan jika diberikan kepada Allah, bukankah begitu? Kita memberikan waktu yang lowong saja kepadaNya; hanya sisa-sisa saja yang kita berikan kepadaNya. Hanya itu jenis-jenis barang yang bisa Anda berikan kepada panti asuhan. Kaus kaki yang sudah bolong, sepatu bekas, celana yang sudah hampir bolong – itulah yang Anda berikan. Itulah hal yang Anda berikan kepada Tuhan. Yang baik untuk diri saya. Jika Allah memperlakukan kita seperti itu, akan menjadi apa pada kita ini?

Kasih karunia demi kasih karunia, semua sudah Allah lakukan bagi kita, namun kita hanya memberikan waktu luang yang tersisa kepadanya. Allah telah memberikan segalanya, Dia juga mengharapkan segalanya! Mazmur 84:12 berkata, Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela. Bagi mereka yang melangkah bersama Dia, tak ada kebaikan yang ditahanNya. Sudahkah Anda mengalaminya?

Kita tidak punya alasan untuk hidup dalam kekalahan!

Dia telah memberi kita Roh. Dia memberi kita Roh untuk mengisi kita sampai penuh. Tahukah Anda apa arti dipenuhi oleh Roh? Sanggupkah Anda berkata, “Ya! Aku tahu apa arti dipenuhi oleh Roh! Aku sedang menjalani hidup yang dipenuhi oleh Roh itu sekarang ini.” Tahukah Anda apa artinya? Atau kehidupan Kristen Anda adalah jenis yang selalu dalam pergumulan? Jenis yang selalu dalam kekalahan? Oh, saudara-saudari, saya sangat lelah mengurusi orang-orang Kristen yang kalah ini. Mereka ini membuat orang lain menjadi letih. Orang-orang Kristen yang kalah. Mereka tidak tahu apa itu dipenuhi oleh Roh. Tahukah Anda apa itu kepenuhan? Apakah Anda mengalaminya? Saya tidak bermaksud menanyakan, “Apakah Anda memahaminya?” tapi, “Apakah Anda memilikinya?”

Menjadi seorang Kristen itu berarti membiarkan Allah hidup di dalam diri Anda melalui Kristus. Kecuali jika Kristus hidup di dalam diri Anda, maka Anda bukanlah seorang Kristen. Di Galatia 2:19b-20, Paulus berkata, “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Berapa banyak orang Kristen yang berani berkata seperti ini? Apakah Anda tahu bahwa Kristus yang hidup itu ada di dalam diri Anda, atau apakah Anda termasuk orang-orang Kristen yang selalu saja dalam kekalahan? Dipenuhi oleh Roh bukan sekadar berarti memiliki sesuatu yang menyenangkan. Jika Anda tidak mengalami apa yang tertulis di dalam Galatia 2:19b-20, berarti Anda belum tahu apa arti menjadi seorang Kristen.

Paulus berkata di Filipi 2:12, “Tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar.” Khotbah saya tidak akan lengkap kecuali jika saya sampaikan juga ayat yang berikutnya: Karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Bagaimana Allah bisa melakukan pekerjaanNya di dalam diri kita? Melalui Roh yang Dia berikan kepada kita. Saat ini Allah sedang bekerja di dalam diri kita melalui Roh KudusNya. Dia memotivasi kehendak kita dan juga mengaktifkan kita. Dia memberi kita kuasa untuk mengerjakan apa yang perlu dikerjakan.

Hal ini tidak berarti bahwa kita lantas menjadi kehilangan kepribadian. Yang terjadi adalah kehendak Allah sekarang ini bekerja bersama dengan kehendak kita, memotivasinya ke arah yang benar. Karena daging itu lemah, kita membutuhkan Allah untuk menggerakkan kita. Kita tahu apa yang benar, akan tetapi kita tidak memiliki kekuatan untuk mengerjakannya. Jadi, kita perlu memiliki kuasaNya untuk memampukan kita mengerjakannya. Allah hadir untuk memenuhi semua yang kita butuhkan. Dia tidak menelantarkan kita. Dia tidak membiarkan kita bergumul sendirian di dalam kehidupan Kristen ini. Artinya, saudara-saudari, tak ada seorang Kristen pun di sini yang punya alasan untuk tidak dapat menjalankan kehidupan Kristen. Allah tidak mengizinkan kita beralasan, “Lihat, hidupku ini berantakan! Bukankah berbuat salah itu manusiawi?” Allah tidak memperkenankan orang Kristen untuk mengajukan alasan semacam itu. Kita tidak punya dalih untuk kegagalan kita karena Allah telah menyediakan semua yang diperlukan untuk berkemenangan. Di 1 Korintus 15:57, rasul Paulus berkata, “Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” Selalu! Kita tidak punya alasan untuk gagal.

Apakah menurut Anda kasih karunia Allah itu tidak mencukupi bagi Anda? Jika Anda gagal, itu karena Anda tidak menarik kekuatan dari kasih karunia itu! Tak ada alasan bagi seorang Kristen untuk hidup dalam kekalahan. Tak ada orang Kristen yang boleh memiliki alasan untuk selalu jatuh dalam dosa, dan berkata, “Aku tidak sanggup menolaknya.” Anda bisa menolaknya. Dan Allah akan memberi kekuatan yang memadai bagi Anda untuk menang. Orang Kristen bukanlah orang yang selalu saja kalah. Dia tidak mengenal apa itu kekalahan. Seorang Kristen adalah orang yang selalu menang; dia tak terkalahkan. Dia bisa saja dijatuhkan, akan tetapi dia tidak bisa dikalahkan. Itulah ungkapan yang dipakai oleh rasul Paulus, “Dijatuhkan tetapi tidak dikalahkan.” Iya, kadang kala kita salah melangkah dan terjerembab. Akan tetapi Allah telah memastikan bahwa kita tidak akan dikalahkan. Kita akan bangkit lagi, sekiranya kita tetap bergantung kepada Roh Allah.

Jadi, Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya (Filipi 2:13), bukan untuk kesenangan Anda. Betapa sering, saat kita berdoa, seolah-olah Allah hadir untuk melakukan apa yang kita kehendaki. Kemudian, ketika Allah tidak memberi kita apa yang kita inginkan, kita mulai menyalahkan Allah, dan berkata, “Mengapa Engkau tidak memberikan apa yang kuinginkan?” Allah hadir bukan untuk memenuhi kesenangan kita. Dia bukanlah budak kita, kita inilah para budakNya. Camkan hal itu. Saya sangat lelah dengan orang-orang Kristen yang datang kepada saya dan mengeluh tentang Allah: “Allah tidak melakukan ini buatku, Dia membiarkan masalah ini menimpaku,” dan banyak lagi keluhan lainnya. Mereka menghendaki agar segala sesuatunya berjalan lancar dan menyenangkan, dan ketika mereka berhadapan dengan masalah, mereka menyalahkan Allah. Orang-orang Kristen tersebut masih belum mengerti apa artinya menjadi seorang Kristen.

Tanpa Roh Allah, tidak ada keselamatan!

Pertama-tama, Roh Kudus itu bukanlah sekadar pilihan tambahan, semacam bonus yang disediakan oleh Allah bagi kita. Kitab Suci dengan tegas memberitahu kita bahwa jika Anda tidak memiliki Roh Allah, maka Anda bahkan belum memiliki keselamatan. Setiap orang yang benar-benar menyerahkan hidup kepada Allah mendapatkan Roh Allah.

Allah hidup di dalam diri Anda, namun Anda bisa saja melumpuhkan gaya kerjaNya. Anda bisa saja menekan pekerjaanNya. Anda mungkin tidak membiarkan Dia bekerja dengan leluasa di dalam hidup Anda. Itulah sebabnya mengapa Anda dikalahkan. Inilah poin dari Kitab Suci, tanpa Roh Kudus Anda tidak bisa memiliki keselamatan.

1).  Tanpa Roh Kudus, Anda bukan milik Kristus

Di Roma 8:9, “Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.” Jika Anda belum memiliki Roh Kudus, maka Anda bukan milik Kristus! Allah memberi kita Roh Kudus sebagai meterai – meterai Roh Kudus (2 Kor 1:22). Apakah artinya itu? Untuk apa kita dimeteraikan? Meterai adalah tanda kepemilikan. Fakta bahwa kita memiliki Roh Kudus adalah tanda bahwa kita ini milikNya.

Di wilayah barat Kanada atau Amerika Serikat, para koboi terkenal dengan keahlian mereka menjerat hewan-hewan. Setelah berhasil menjerat hewan-hewan itu, apakah yang mereka lakukan? Mereka membuat cap dari besi panas untuk menandai hewan tersebut. Cap itu menjadi meterai yang besar. Mereka memeteraikan hewan-hewan tersebut. Tanda tersebut menunjukkan siapa pemilik hewan tersebut. Roh Kudus adalah meterai yang diberikan oleh Allah kepada kita, yang menunjukkan bahwa kita ini milik Kristus. Jika Anda tidak memiliki Roh Kudus, maka Anda bukanlah miliknya.

2).  Tanpa Roh Kudus, Anda tidak dapat menjadi kudus

Poin yang kedua adalah: Ibrani 12:14 berkata bahwa tanpa kekudusan tak seorangpun akan melihat Allah. Kekudusan ini bukanlah kekudusan yang diimputasikan. Ibrani 12:14 berkata, “Berusahalah …dan kejarlah kekudusan.” Ini bukanlah kekudusan yang dijatuhkan ke pangkuan Anda. Berusahalah … dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan.

Bagaimana supaya kita bisa memiliki kekudusan ini? Jelas sangat mustahil! Kodrat kita ini tidak kudus. Lalu bagaimana agar Anda bisa menjadi kudus? Dengan Roh Kudus! Itulah sebabnya mengapa dia disebut Roh Kudus. Mengapa? Karena dia adalah Roh kekudusan, sebagaimana yang tertulis di Roma 1:4. Dia adalah Roh kekudusan; itu berarti bahwa Roh Kudus memampukan saya menjadi kudus. Dia memberi saya kuasa untuk menjadi kudus. Tanpa Roh Kudus, Anda tidak akan bisa menjadi kudus. Saya tidak bisa menjadi kudus; saya akan terus saja berbuat dosa! Saya menjadi orang berdosa yang tanpa harapan. Jika Allah menyuruh saya untuk menjadi kudus, mungkin saya akan berkata, “Aku menyerah,” karena tidak ada jalan bagi saya untuk menjadi kudus. Akan tetapi Dia memberi saya Roh Kudus karena Dia tahu bahwa saya tidak bisa menjadi kudus dengan kekuatan sendiri. Dia memberi saya Roh kekudusan untuk memampukan saya menjadi kudus.

3).  Tanpa Roh Kudus, Anda tidak akan bisa menghasilkan buah

Demikianlah, poin tersebut membawa kita pada pokok yang ketiga. Yohanes 15:2 dengan tegas menyatakan bahwa setiap orang yang tidak menghasilkan buah akan dipotong atau dibuang. Ayat 7 mengatakan bahwa mereka akan dibuang ke dalam api. Akan tetapi bagaimana supaya kita bisa menghasilkan buah? Untuk menghasilkan buah, Anda harus memiliki hidup. Dan dari mana kita bisa memiliki hidup Allah? Dengan Roh Allah yang telah Dia berikan kepada kita. Roh Kuduslah yang memberi kita hidup Allah, dan yang memampukan kita untuk menghasilkan buah.

Di Galatia 5:22-23 disebutkan, Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera. Tapi saya tidak bisa mengasihi; saya tidak memiliki damai sejahtera; saya tidak memiliki sukacita. Hal-hal yang mustahi bagi sayal! Saya bisa bersenang-senang dengan menonton film komedi namun setelah keluar dari bioskop, sukacita saya ikut pergi. Ia tidak bertahan lama karena sukacita itu berasal dari luar, bukan dari dalam. Itu adalah kegembiraan tapi bukanlah sukacita. Roh Allah adalah pribadi yang memampukan Anda menghasilkan buah. Hanya dengan Roh Allah baru kita penuh dengan buah kebenaran, sebagaimana yang disebutkan di Filipi 1:11.

Ada orang yang bertanya, “Apakah buah yang perlu kita hasilkan itu? Apakah berarti kita harus membawa orang lain kepada Kristus? Atau apakah buah itu adalah kualitas hidup yang mencerminkan buah Roh?” Tentu saja, tanpa buah Roh itu, bagaimana Anda bisa membawa orang lain kepada Kristus? Jadi, itu bukanlah dua persoalan yang berbeda; keduanya adalah satu persoalan yang utuh. Kecuali jika Anda memiliki buah Roh di dalam hidup Anda dan keindahan Kristus bersinar di dalam hidup Anda, apakah mungkin orang lain mau menjadi Kristen? Bagaimana Anda bisa membawa orang lain kepada Kristus? Apakah dengan memaksa? Jangan pernah memakai taktik pemasaran dunia yang memaksa orang untuk percaya pada Kristus. Jangan pernah memakai taktik semacam itu! Jangan pernah memaksa orang untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Biarlah Allah melakukan pekerjaanNya. Janganlah memakai cara dunia karena buahnya tidak akan bertahan. Jika Anda ingin membawa orang lain kepada Kristus, pertama-tama biarkanlah Allah memunculkan buah di dalam hidup Anda. Biarlah keindahan Kristus terlihat dulu di dalam hidup Anda. Orang-orang akan tertarik kepada Kristus melalui Anda. Itulah pertobatan yang sejati. Terang Allah memancar melalui Anda ke dalam hati mereka.

4).  Tanpa Roh Kudus, Anda akan dikalahkan oleh Iblis

Alasan yang keempat mengapa tanpa Roh Kudus Anda tidak bisa diselamatkan adalah karena pihak musuh itu terlalu kuat bagi Anda; Anda tidak akan bisa menang. Iblis itu terlalu kuat bagi Anda. Pihak musuh akan mengalahkan Anda. Mereka akan menghancurkan Anda. Anda tidak akan pernah menang. Namun, dengan Roh Kudus, Anda akan menang. Seperti yang dikatakan oleh rasul Yohanes di dalam 1 Yoh 4:4, “Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.” Hanya dengan demikian kita bisa memperoleh kemenangan, karena Roh yang ada di dalam diri Anda lebih besar daripada roh yang ada di dunia! Siapa yang melawan Anda di dunia ini? Iblis itulah yang ada di dunia ini; juga daging; dan juga daya tarik dosa. Kita tidak akan pernah bisa mengalahkan kuasa-kuasa itu. Jika Anda mengeluh karena mendapati bahwa Anda selalu dikalahkan, maka tentunya Anda sudah mulai menyadari bahwa pihak musuh memang terlalu kuat bagi Anda. Anda tidak bisa menang tanpa kepenuhan Roh Allah. Demikianlah, Roh yang ada di dalam diri Anda lebih kuat, lebih besar, lebih berkuasa, daripada dia yang ada di dunia ini.     

Ingatlah Habakuk 3:17-18 – berjuang dengan setia

Kehidupan Kristen itu melibatkan konflik, bukankah demikian? Kehidupan Kristen ini bukanlah hal yang mudah. Anda terlibat dalam peperangan melawan kekuatan-kekuatan yang ingin menghancurkan Anda. Pahamilah bahwa kehidupaan Kristen bukanlah jenis kehidupan yang mudah. Ini adalah kehidupan yang berisi peperangan; peperangan demi kebenaran, peperangan melawan kekuatan-kekuatan jahat yang mendatangi dan menyerang Anda seperti banjir.

Saya tidak pernah mengerti mengapa orang-orang mau menjadi Kristen kalau mereka sudah menyerah sejak serangan pertama. Saat ada masalah dan persoalan, mereka langsung, “Oh, kehidupan Kristen ini terlalu berat!” Tak ada yang berkata kepada Anda bahwa kehidupan Kristen itu mudah. Allah tidak pernah mengatakan bahwa Kekristenan itu gampang. Iman (faith) di dalam Alkitab itu berarti kesetiaan (faithfulness). Kesetiaan berarti mampu bertahan dengan setia, tetap setia di bawah tekanan. Apa artinya kesetiaan jika Anda tidak harus menjadi setia. Tidak perlu kesetiaan jika tidak ada yang menyerang Anda dan tidak ada yang menguji kesetiaan Anda.

Ingatlah selalu kata-kata terakhir di kitab Habakuk yang disampaikan oleh nabi Habakuk adalah: “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang,” – di dalam keadaan yang demikian itu, nabi Habakuk berkata, “Meskipun segala sesuatunya berjalan mengecewakan, namun aku akan tetap setia kepada Allah. Namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku” (Habakuk 3:17-18). Itulah iman! Itulah contoh iman dari Perjanjian Lama. Apakah iman orang-orang Kristen sekarang dapat bersaing dengan iman para nabi Perjanjian Lama? “Sekalipun tak ada makanan untuk dimakan, tak ada ternak di kandang, segala sesuatunya mengecewakan, namun aku tetap bersukacita di dalam Allah atas keselamatanku.” Itulah iman.

Lalu, bagaimana seseorang bisa memiliki iman dan sukacita semacam ini? Iman dan sukacita itu datang dari kuasa Roh Kudus. Dialah yang memampukan kita untuk berkemenangan!

Bukti-bukti dan hasil kepenuhan Roh

1. Dipenuhi oleh kasih

Jika Anda dipenuhi oleh Roh, apa yang akan terjadi? Pertama-tama, Anda akan dipenuhi oleh kasih. Dari situ Anda akan tahu apakah Anda telah dipenuhi oleh Roh. Kasih mengalir dari hati Anda. Ini bukan sekadar persoalan apakah Anda berbahasa lidah atau tidak. Anda bisa saja berbahasa lidah atau mungkin juga tidak. Namun ada satu hal yang mendasar: Anda tahu bahwa kasih mengalir melalui hati Anda, seperti yang dikatakan di dalam Roma 5:5, “Kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.”   

2. Ada kepenuhan

Hal yang kedua adalah adanya kepenuhan. Di Roma 15:13-14, dalam dua ayat itu, tiga kali Paulus memakai kata ‘penuh’ atau ‘dipenuhi’ ini. “Penuh oleh sukacita dan damai sejahtera, oleh kuasa Roh, pengharapan, kebaikan, pengetahuan,” begitu banyak hal yang dia sebutkan. Kita dipenuhi oleh pengetahuan, oleh sukacita. Apakah itu yang Anda alami, atau hanya sesuatu yang Anda dengar saja? Apakah kita ini sedang beromong-kosong? Saat Anda dipenuhi oleh Roh Anda mengalami hal-hal berikut – sukacita, damai sejahtera, kuasa, pengharapan, kebaikan dan pengetahuan. Apakah ini pengalaman Anda?

3. Dipenuhi oleh buah kebenaran

Hal yang ketiga adalah bahwa kita penuh dengan buah kebenaran. Kita bukan sekadar memiliki beberapa buah kebenaran, tetapi kita dipenuhi oleh buah kebenaran, sebagaimana yang tertulis di dalam Filipi 1:11.

Bagaimana supaya dipenuhi oleh Roh?

Akhirnya, kita harus segera sampai pada pertanyaan, bagaimana supaya kita dipenuhi oleh Roh? Bagaimana bisa datang pada Allah dan dipenuhi oleh Roh?

Di Matius 27:48, ada kalimat bahwa seseorang “mengambil bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam, lalu mencucukkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum.”

Renungkanlah hal berikut. Jika sepotong spons terisi dengan anggur asam, bagaimana mungkin ia bisa terisi juga dengan anggur baru dari Kerajaan Allah? Jika spons itu terisi oleh anggur asam dan Anda celupkan dia ke dalam anggur baru, spons itu tidak akan menyerap anggur baru, bukankah demikian? Ia akan tetap dipenuhi dengan anggur asam. Saya mendapati sebuah perumpamaan dari ayat ini. Saat kita belum mengenal Kristus, hidup kita hanya terisi oleh anggur asam, bukankah begitu? Semuanya hal yang mengecewakan. Pandangan kita tentang hidup dan kehidupan ini sangatlah pahit. Segenap karakter kita terisi oleh kepahitan. Lalu bagaimana kita bisa dipenuhi oleh Roh Allah? Anggur baru dari kerajaan itu adalah Roh Allah.

Ketika para murid dipenuhi oleh Roh Kudus saat terjadinya Pentekosta, orang-orang mengira bahwa mereka mabuk anggur (Kisah 2:13). Dipenuhi oleh Roh, kadang kala, bisa menimbulkan dampak yang khusus terhadap diri Anda. Anda merasakan suatu sukacita yang memabukkan! Tahukah Anda seperti apa rasanya – yakni perasaan seperti melayang di udara? Perasaan seperti sedang berada di surga dunia? Ini adalah suatu pengalaman yang sangat menantang. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa Anda harus merasakannya, namun pada pengalaman yang pertama itu, atau mungkin segera setelah itu, bisa muncul efek yang sangat nyata. Itulah sebabnya mengapa Pentekosta sering digambarkan sebagai ‘baptisan Roh’.

Biarlah Allah memenuhi kita dengan Roh KudusNya

Pertama-tama, kita ingin dipenuhi. Namun, sama seperti spons itu, kita ini penuh dengan anggur asam, lalu bagaimana kita bisa dipenuhi? Agar spons itu bisa dipenuhi oleh anggur baru dari Kerajaan Allah, maka Anda harus memeras keluar semua cuka di dalamnya. Anda harus mengizinkan Allah memeras keluar hidup yang lama ini dari diri kita, hidup lama dengan segala keasaman, kecemaran, dan segala dosanya itu. Kita harus dibersihkan. Kita harus menyingkirkan semua itu dari dalam diri kita. Biarlah Allah memeras semua itu keluar dari diri kita. Kadang kala, proses pemerasan itu terasa tidak menyenangkan. Sudahkah Anda mengalaminya? Terasa sangat tidak menyenangkan. Namun sangatlah dibutuhkan jika Anda ingin dipenuhi. Ada banyak orang Kristen yang menjadi Kristen tanpa pernah memahami apa artinya berpaling dari hidup yang lama. Mereka mengira bahwa menjadi seorang Kristen itu seperti menambahkan sesuatu pada apa yang sudah ada, seperti menambal pada kain lama. Hal itu tidak akan berhasil. Dengan kata lain, spons yang sudah penuh terisi oleh sesuatu yang lain tidak akan dapat diisi. Anda tidak akan bisa memenuhinya dengan anggur yang baru, anggur manis dari Roh Kudus Allah tanpa mengeluarkan terlebih dahulu anggur yang asam.

Demikianlah, prinsipnya adalah sebagai berikut. Kita mendapati bahwa, menurut Kitab Suci, Allah memberikan Roh Kudus kepada mereka yang taat kepadaNya. Jadi, ketika kita membiarkan Allah memeras keluar hidup yang lama dari diri kita, maka kita siap untuk menyerap dan dipenuhi oleh hidup yang baru. Ini adalah hal yang penting untuk dipahami; Allah akan memenuhi Anda, namun pertama-tama, janganlah berpaut pada hal-hal yang lama itu.

Itulah sebabnya mengapa pada awal khotbah ini saya bertanya, “Apakah Anda ingin dipenuhi?” Mungkin Anda bahkan tidak bersedia dipenuhi karena Anda ingin berpegang pada dosa-dosa Anda; pada hidup lama nda. Tak heran jika Anda tidak bisa dipenuhi! Anda harus melepaskan semua itu supaya Allah bisa memenuhi Anda dengan kepenuhanNya. Dan satu-satunya jalan adalah dengan ketaatan yang total serta penyerahan diri ke dalam tanganNya dan Dia akan melakukan pekerjaanNya di dalam Anda.

Tanpa Roh Kudus, kehidupan sangat melelahkan

Saya ingin menyampaikan kesaksian saya. Ketika saya masih baru menjadi Kristen, tidak ada orang yang membimbing saya dan membertahu saya tentang hal dipenuhi oleh Roh. Saat itu saya berpikir bahwa yang perlu saya lakukan adalah percaya kepada Yesus, dan segala sesuatunya akan menjadi lancar. Ternyata segala sesuatunya tidak berjalan lancar dalam kehidupan rohani saya, hal yang juga dialami oleh kebanyakan orang Kristen yang mengambil keputusan untuk percaya Yesus dalam berbagai KKR. Saat itu saya baru tiga tahun menjadi Kristen, dan saya hidup cukup akrab dengan Tuhan. Namun suatu hari saya merasa hampir menyerah. Saya merasa tidak sanggup melanjutkan kehidupan Kristen. Pernahkah Anda merasakan hal tersebut? Anda akan merasakan hal tersebut jika Anda belum tahu apa artinya dipenuhi oleh Roh. Saya saat itu ingin menyerah walaupun selama tiga tahun saya mengalami begitu banyak hal dari Allah. Saya bukan orang Kristen KTP. Saya adalah seorang Kristen yang penuh pengabdian, akan tetapi saya tidak pernah diberitahu akan hal dipenuhi oleh Roh. Jadi, saya bergumul dengan kekuatan saya sendiri, mencoba untuk menjadi orang Kristen yang baik, berusaha dengan sangat keras. Dan setelah masa tiga tahun itu, saya lelah dengan usaha saya.

Saat itu saya tinggal di Hong Kong. Dan saya ingat rasa putus asa dan kehampaan itu, perasaan yang seolah-olah berkata, “Percuma saja. Saya tidak bisa melanjutkannya lagi.” Saya pergi ke gereja pagi itu, dan saya tidak mendengar ucapan pendeta saat itu karena tak satupun hal yang dia sampaikan itu menyentuh persoalan saya. Kemudian, saya pulang. Saya kembali  ke pemondokan saya di Granville Road dengan rasa tertolak yang amat sangat.

Dan saat itu saya berkata kepada Tuhan, “Tuhan, aku tidak bisa menjalaninya! Kehidupan Kristen ini begitu mustahil! Aku harus berhenti. Aku tidak mau mempermalukan namaMu. Aku tahu bahwa orang lain mengira aku ini orang Kristen yang baik. Mereka tahu bahwa aku memiliki pengabdian dan sebagainya. Namun aku tidak sanggup menjalankannya, Tuhan. Aku lelah dengan semua upaya ini.” Demikianlah, saya bergumul saat itu, dan saya nyaris berkata, “Baiklah, aku akan berhenti! Mulai saat ini, aku tidak akan menyebut diri sebagi orang Kristen lagi karena aku gagal.”

Kalau saya beritahukan kepada rekan-rekan saya saat itu, mereka pasti akan sangat terkejut karena, bagi mereka saya adalah orang Kristen yang sangat baik. Sekalipun saya berusaha dan benar-benar berjuang mencapai standar yang Tuhan tentukan, namun saya gagal. Perasaan hampa menghantui saya. Saya benar-benar sangat mengasihi Allah, akan tetapi saya tidak memiliki kepenuhan itu. Tanpa Roh Kudus, ketika ada pencobaan, Anda selalu terjatuh karena Anda tidak memiliki kekuatan. Saat dunia menekan Anda, Anda tahu bahwa Anda akan segera menyerah karena Anda tidak mampu bertahan. Saya kembali ke tempat saya saat itu, dan saya ingin memutuskan untuk menyerah.

Kemudian Allah menunjukkan kepada saya, “Kamu belum dipenuhi oleh Roh! Kamu tidak hidup di dalam kepenuhan Roh Allah. Selama ini kamu berusaha menjalani semuanya dengan kekuatanmu sendiri. Apakah kamu akan memulai dengan Roh tetapi mengakhirinya di dalam daging? (Inilah kesalahan besar jemaat di Galatia – lihat Galatia 3:3. Paulus memperingatkan jemaat di Galatia, ‘Apakah kamu akan memulai dengan Roh tetapi mengakhirinya dalam daging?’) Kamu tidak akan bisa melakukan yang seperti itu, sobat.”

Lalu saya bertanya, “Tuhan, apa yang harus kukerjakan?” Dia menjawab, “Bukalah dirimu sepenuhnya kepadaKu. Bukalah hatimu padaKu. Lepaskanlah semua hal yang masih kamu kasihi dan pegang kuat-kuat.” Dan saya mulai menyadari, “Ya. Aku memang masih mempertahankan banyak hal.”

Dan Tuhan berkata, “Lepaskanlah semua itu. Biar Aku yang  mengerjakan sisanya. Serahkan saja dirimu sepenuhnya kepadaKu.”

Tiba-tiba saya menyadari bahwa selama ini saya belum berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan! Saya belum berkomitmen total kepadaNya.

Ada sangat banyak orang Kristen yang belum pernah melakukan hal itu. Ada sebagian orang di sekolah Alkitab yang tak pernah menyerahkan hidup sepenuhnya kepada Kristus. Tahukah Anda akan hal itu? Saya pernah bercakap-cakap dengan seorang teman saya, yang tadinya adalah seorang dokter, dan saat itu sedang menjalani pendidikan di sekolah Alkitab untuk melayani Tuhan, akan tetapi dia dibebani oleh banyak persoalan rohani. Dia berkata, “Kau tahu, kehidupan Kristen itu sangat sukar, mendekati mustahil.”

Saya berkata, “Betul sekali, memang demikianlah halnya. Izinkan aku tanyakan sesuatu padamu. Pernahkah kamu serahkan segenap hidupmu kepada Allah supaya Dia bisa memenuhimu?”

Dia berkata, “Kalau kupikir-pikir, memang belum pernah.” Tahukah Anda sudah berapa lama dia menjadi orang Kristen? Dia dibesarkan di tengah keluarga Kristen. Dia beribadah ke gereja di sepanjang hidupnya – mulai dari Sekolah Minggu sampai dengan masuk ke dalam pelayanan. Seluruh keluarganya adalah orang-orang Kristen yang aktif. Saat itu dia sedang belajar di sekolah Alkitab. Dia telah melepaskan profesinya, masuk ke sekolah Alkitab  untuk melayani Tuhan. Anda tentu berpikir bahwa orang semacam ini pastilah dipenuhi oleh Roh, ternyata dia tidak.

Saya katakan, “Nah, apakah kamu mau dipenuhi oleh Roh?”

Dia menjawab, “Tentu saja.”

Dan saya berkata, “Kalau begitu, mari kita berlutut bersama.”

Lalu dia berlutut bersama saya. Dia sudah masuk di tahun kedua di sekolah Alkitab itu, dan untuk pertama kalinya, dia menyerahkan dirinya untuk menerima kepenuhan Roh.

Teman saja juga berkata pada saya, “Tak seorangpun yang pernah memberitahu saya akan hal ini. Akibatnya, saya menjalani kehidupan Kristen yang selalu kalah.”

Kita harus selalu dipenuhi oleh Roh!

Jangan mengira bahwa sekali Anda telah dipenuhi oleh Roh, lantas Anda tidak memerlukannya lagi. Efesus 5:18 mengatakan hal ini kepada kita, “Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, (perhatikan lagi kontras antara anggur dan Roh)…, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh.” Ungkapan tersebut [dalam bahasa sumbernya] berbunyi ‘selalu penuh dengan Roh‘. Tidaklah cukup untuk dipenuhi sekali saja; Anda harus selalu dipenuhi.

Kita ini tidak sama dengan baterai yang diisi ulang. Namun kita memperlakukan diri seperti baterai yang diisi ulang. Setelah terisi, kita memisahkan diri lagi. Kemudian, baterai itu semakin terkuras isinya, dan akhirnya kehabisan daya! Dan seperti itulah cara kebanyakan orang Kristen menjalani hidupnya. Mereka mencari pengisian baterai. Mereka menyambungkan diri ke tancapan lisrik. Lalu setelah terisi mereka pergi lagi. Mereka tidak merasa memerlukan Roh Allah lagi. Setidaknya, sampai mereka kehabisan daya, melemah dan mereka akan datang kembali untuk memperoleh pengisian ulang. Jangan begitu, teruslah dipenuhi oleh Roh Allah!

Namun dengan penuh penyesalan, saudara yang terkasih ini, setelah melepaskan segalanya untuk melayani Tuhan, dia tidak terus dipenuhi. Dia kembali lagi ke dalam cara hidupnya yang lama! Dia memisahkan dirinya. Dan di manakah dia sekarang ini berada? Dia terjerumus jauh. Jauh sekali! Dia tidak berada di dalam pelayanan Tuhan dan dia juga tidak membuka praktek dokter. Sekarang ini, dia tidak mengerjakan apa-apa. Dia begitu kebingungan dan kehilangan arah hidup karena dia tidak menjaga agar terus menerus dipenuhi oleh Roh. Saya berdoa kiranya Allah berkenan memulihkan dia. Camkanlah hal ini! Jagalah agar Anda terus menerus dipenuhi oleh Roh. Namun mulailah dengan memperoleh pengisian itu.

Penuhilah dengan Roh dan kuasanya!

Lalu, apa yang saya perbuat ketikaa saya merasa sangat putus asa dahulu? Saya kembali ke kamar saya dan saya berlutut di hadapan Tuhan. Dipenuhi oleh Roh itu sangatlah sederhana. Sangat sederhana! Allah tidak menyuruh kita untuk melakukan hal-hal yang rumit. Urusannya ternyata sangat sederhana! Apakah yang saya kerjakan saat itu? Saya berlutut di hadapan Tuhan dan berkata, “Tuhan, inilah hidupku. Kuserahkan hidupku sepenuhnya, seutuhnya, kepadaMu. Mulai saat ini, bukan aku lagi yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Pagi berikutnya, saya bangun dan berkata, “Tuhan, inilah hidupku. Bukan aku lagi yang menjalankan hidup ini. Engkaulah yang menjalankannyaa! Inilah diriku! Inilah kemudinya. Engkaulah yang mengemudikan sekarang ini! Aku akan duduk di kursi penumpang.”

Kemudian, saya melangkah keluar dari pintu kamar. Sungguh ajaib! Ini merupakan kehidupan Kristen yang jauh berbeda! Ada kuasa. Ada kuasa di dalamnya! Untuk pertama kalinya, saya mengerti arti kuasa karena hidup saya ini sekarang berada di tanganNya. Dia yang memegang kemudi dan Dia juga yang menginjak pedal gas, dan hidup ini berjalan! Sungguh hebat! Mulai saat itu, saya mulai mengalami kuasa. Bukan berarti bahwa saya tidak pernah gagal. Saya tidak bermaksud berkata demikian, karena dari waktu ke waktu, saya juga memutuskan aliran itu. Itulah yang menjadi persoalannya. Namun selama saya masih dalam persekutuan dengan Roh Allah, di sana ada kuasa! Saat saya memberitakan Injil, kuasa itu mengalir dari diri saya! Kuasa dari kehidupan Kristen ada di sana. Saya mengalami hadiratNya dalam cara yang baru. Saya berdoa kiranya Anda juga bisa mengalami hadirat tersebut.

Jangan mendukakan dan memadamkan Roh Kudus!

Satu catatan peringatan sebelum kita tutup. Saya telah menceritakan kepada Anda tentang dokter yang gagal ini. Dan saya harap dia akan dipulihkan lagi. Yang terjadi padanya adalah, sebagaimana yang diperingatkan oleh Paulus di Efesus 4:30, Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah (yang ada di dalam dirimu). Anda bisa mendukakan Roh Allah. Ingatlah kata ‘duka’ ini. Kata ‘duka’ di sana berarti disakiti, dibuat sedih, dibuat tertekan. Anda tidak akan bisa mendukakan orang yang tidak mengasihi Anda. Ingatlah bahwa Roh Allah sangat mengasihi Anda. Karena ada kasih, maka kita akan merasa disakiti. Karena kita saling mengasihi, maka ketika ada perpisahan, kita berduka. Tidak boleh ada perpisahan dengan Roh Allah. Kita tidak boleh melakukannya. Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah (yang ada di dalam dirimu).

Namun ada hal yang lebih buruk daripada mendukakan Roh. Di 1 Tesalonika 5:19 dikatakan, “Janganlah padamkan Roh (yang ada di dalam dirimu).” Yang ini bahkan lebih buruk dari mendukakan Roh. Kata ‘memadamkan’ berarti mematikan api. Di dalam Alkitab, Roh Kudus itu sering dibandingkan dengan api. Ingatlah betapa di hari Pentekosta, Roh Kudus turun dalam bentuk lidah-lidah api ke atas para murid. Janganlah padamkan Roh. Kata Yunani yang juga dipakai dalam arti ‘memadamkan’ terdapat di dalam Ibrani 11:34, yang berkata, “… memadamkan api yang dahsyat.” Jika Anda memadamkan api Allah, apakah yang terjadi? Api itu akan padam! Jika apinya telah padam, berarti, sejauh berkenaan dengan keselamatan Anda, tamatlah riwayat Anda.

Jika api Roh itu mustahil dipadamkan, maka tidak ada gunanya peringatan ini diberikan. Jangan mau mendengarkan hal yang berbeda dari yang ini. Anda harus selalu berpaut kepada Tuhan. Berpeganglah kepadaNya! Nikmati persekutuan dengan Roh Kudus yang telah diberikan kepada kita. 2 Korintus 13:13 menyebutkan tentang: persekutuan Roh Kudus. Allah tidak menyuruh Anda untuk menjalani hidup ini dengan kekuatan Anda sendiri. Dia ada bersama kita, dan Dia memberi kita kuasa lewat persekutuan denganNya.

Keselamatan itu berdasarkan kasih karunia karena kita bergantung kepada Roh setiap hari

Rangkuman: keselamatan sepenuhnya berdasarkan kasih karunia. Kita bergantung pada kehadiran Roh Kudus setiap hari, setiap saat, untuk bisa menjalani kehidupan Kristen. Tidak ada jalan lain.

Ada orang yang mengira bahwa dengan menolak ajaran ‘sekali selamat tetap selamat’ maka dia telah menolak ajaran tentang kasih karunia. Itu adalah kesalahan yang terbesar! Justru mereka yang mengajarkan ‘sekali selamat selamanya selamat’ yang telah menolak kasih karunia, karena jika kita telah selamat maka kita tidak lagi membutuhkan kasih karunia. Anda tidak lagi membutuhkan Roh. Ajaran yang alkitabiah sangatlah berbeda. Ajaran yang alkitabiah memperingatkan kita untuk tidak memadamkan Roh, melainkan untuk selalu berada dalam persekutuan denganNya setiap hari, setiap saat – hidup berdasarkan kasih karuniaNya setiap saat.

Keselamatan itu bukan sekadar satu tindakan kasih karunia di tahap awal saja, melainkan ketergantungan pada kasih karunia yang berkelanjutan, hari demi hari, setiap saat, sampai nanti kita bertemu denganNya berhadapan muka. Lalu kita akan masuk ke dalam kepenuhan sukacitaNya.

Tahukah Anda apa arti dipenuhi oleh Roh? Saya berdoa kiranya setiap orang dari Anda bisa mengetahuinya lewat pengalaman Anda.

-Selesai-

 

Baca juga:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *