Pentingnya Komunikasi yang Baik Antara Suami Istri

JamesSumber: Hikmat Pembaharuan.

Pemulihan Komunikasi Keluarga

Berbagai masalah bisa muncul dalam keluarga jika mereka bermasalah dalam aspek komunikasi mereka. Untuk itu kita perlu memperbaiki dan memulihkan apa yang sudah rusak dalam kebiasaan keluarga berkomunikasi.

Pemulihan komunikasi keluarga adalah salah satu aspek yang perlu dibenahi agar keluarga semakin menjadi seperti yang dikehendaki Allah.

A. Dimulai dengan pemulihan pemahaman akan tujuan & komitmen

1. Banyak pasangan yang memasuki pernikahan dengan cara dan tujuan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Suami istri perlu mengambil waktu untuk meluruskan kembali apa yang menjadi tujuan dan harapan mereka dalam pernikahan.

2. Suami dan istri juga perlu memperbaharui komitmen dalam pernikahan. Perlu ada waktu-waktu tertentu untuk merenungkan ulang dan memperbaharui komitmen ini dalam konteks dan suasana yang berbeda, misalnya: ulang tahun pernikahan, setelah mengatasi konflik yang cukup besar dll.

3. Kembali kepada Kristus sebagai kepala keluarga Kristus sebagai kepala keluarga yang memampukan kita melalui hidup ini dengan cara pandang dan keputusan-keputusan ilahi

B. Belajar memahami satu sama lain

1. Memahami perbedaan laki-laki dan perempuan: Suami istri perlu saling memahami dan menghargai perbedaan antara laki-laki dan perempuan, demikian juga orang tua perlu memahami perbedaan antara anak laki-laki dan anak perempuan.

2. Memahami perbedaan orang dewasa dan anak-anak

3. Memahami kebutuhan:

i. Orang perlu belajar untuk menjadi lebih peka dan mengetahui kebutuhan orang lain.

Kebutuhan itu belum tentu sesuatu yang ia nyatakan, dan bisa jadi merupakan sesuatu hal yang tersembunyi. Kita perlu belajar untuk memahami kebutuhan orang-orang yang kita kasihi

ii. Pada saat yang sama, orang juga perlu belajar untuk menyatakan apa kebutuhan mereka dengan cara yang baik.

Tidak semua orang memiliki kepekaan untuk tahu kebutuhan orang lain, dan tidak ada satu orang pun yang bisa dengan benar menerka kebutuhan orang lain.

iii. Cara yang aman untuk mendapatkan apa yang kita butuhkan adalah dengan menyatakannya dengan cara yang bijak.

4. Belajar mendengarkan dan berempati

5. Belajar tampil terbuka dan apa adanya

C. Memperluas keterampilan dan cara berkomunikasi.

Komunikasi adalah salah satu pernyataan kasih kita kepada orang lain. Dengan berkomunikasi yang baik, kita telah menyatakan kasih kita kepada orang lain dengan cara yang baik pula. Karenanya kita perlu belajar untuk menjadi lebih kreatif dalam berkomunikasi kita sebagai ungkapan kasih kepada anggota keluarga yang lain.

Pada umumnya kita menginginkan suasana damai,ceria dalam kehidupan keluarga. Suasana demikian perlu diupayakan oleh orangtua sebagai motivator terhadap perilaku anggota keluarga dan anak-anak.

Kebiasaan komunikasi yang tdk sehat dapat mengakibatkan kedamaian tdk akan pernah dicapai seperti mengeluarkan nada suara yang kasar,mata melotot dan jawaban kasar yg tdk pantas.

1. Kebiasaan-kebiasaan positif untuk melancarkan komunikasi.

Untuk mencapai kehidupan keluarga yang damai,ceria, maka kebiasaan2 sbb perlu dilakukan.

1). Setiap anggota keluarga berupaya menciptakan suasana gembira ketika memasuki rumah/ruangan.(menyanyi,bersiul dll)

2). Setiap anggota keluarga baik tua ataupun muda harus mengucapkan salam bila memasuki rumah atau permisi bila meninggalkan rumah.

3). Anak-anak dibiasakan mencium pipi ibunya bila mau kesekolah atau sepulangnya dari sekolah

4). Biasakan bercerita kepada anggota keluarga tentang pengalaman2 yang diperoleh di sekolah,ditempat kerja dll.

5). Bila anak-anak menanyakan sesuatu, orangtua harus mendengarkan dengan penuh perhatian,jangan pura2 mendengar.

Anak dapat melihat dari sorot mata ,apakah orangtua serius menanggapi atau tdk.Dibutuhkan kejujuran dan kesabaran mendengar cerita anak-anak.Berikan respon sehingga dia akan terus bercerita.

2. Hilangkan kebiasaan negatif yang merusak komunikasi yang sehat

Dibawah adalah contoh kebiasaan keluarga yang menggunakan bentuk2 komunikasi negatif.

1). Keluarga kompetitif.

Anak-anak bersaing mendapatkan perhatian dengan tingkah laku dengan cara2 negatif seperti melempar piring,berteriak,marah2 dll.

2). Keluarga hening.

Disini anggota keluarga jarang berbicara,makan bersama atau berinteraksi dengan cara lain.Anggota keluarga tdk mau membagi pengalaman untuk didiskusikan bersama.Masing2 sibuk dengan masalah2 sendiri.Terkadang mereka marah,muka cemberut,kelihatan lelah tdk semangat dll. Orangtua tdk mengetahui cara mencairkan suasana yang serba hening.

3). Keluarga yang kasar.

Anggota keluarga jenis ini menggunakan rumah sebagai tempat pelampiasan perasaan buruk.Bukan berarti keluarga ini kejam,melainkan karena keluarga ini penuh dengan perasaan marah.Anggota keluarga saling mengucapkan kata2 kasar dan jarang mengucapkan kata2 yang menggembirakan.Ayah dperlakukan dengan dingin oleh anggota keluarga laki2 atau perempuan.Adakalanya salahsatu anggota keluarga menjadi sasaran kemarahan di rumah ini.

4). Keluarga yang tegang.

Bila salah satu anggota keluarga yg lebih dewasa sering mengeluarkan geraman menegangkan atau ekspresi yg tdk menyenangkan,sehingga anggota keluarga yg lain ikut tegang dan menganggapnya penyakit syaraf(gila). Pertanyaan sederhana saja dapat membuatnya geram seperti:”Bagaimana keadaannmu?” dijawab dengan kecurigaan:”Ngapain nanya2 segala?”Setiap orang takut,gerakan keliru sekecil apapun akan memicu ledakan.Keluarga semacam ini disebut juga keluarga berperasaan halus,alias mudah tersinggung dengan hal2 sepele.
Anda memiliki keluarga yang mana?

3. Berlatihlah komunikasi yang baik

1). Berkomunikasi dengan kata-kata yang positif:

a. perbanyak pujian dan dukungan yang tulus, dan mengurangi kritikan atau kecaman

b. Secara berkala menyatakan penghargaan dan kasih kita kepada satu sama lain

2). Berkomunikasi yang baik dengan bahasa tubuh yang baik:

a. Memeriksa bahasa tubuh dan komunikasi non verbal lainnya untuk melihat adakah hal-hal yang menghalangi keintiman

b. Memperbanyak sentuhan, tatapan yang penuh kasih dll.

D. Perluas keterampilan mengelola konflik

1. Mengenali hal-hal yang memicu konflik, dan berusaha untuk membereskannya

2. Keterampilan mengendalikan amarah:Anggota keluarga perlu belajar (dan juga diajar) untuk marah dengan cara yang benar. Bagi suami istri, penting untuk saling berkomitmen akan batasan-batasan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat kita sedang marah. Anak-anak perlu diajar bagaimana mengungkapkan kemarahan mereka dengan cara yang baik dan benar

3. Trampil dalam mengakui kesalahan

4. Berpusat dalam mencari solusi untuk permasalahan yang sedang dihadapi

5. Hidup dalam kasih karunia:

> Pengampunan
> Melepaskan penghakiman
> Menerima satu sama lain

E. Hasil pemulihan komunikasi

1. Keintiman yang semakin erat satu sama lain
2. Kekuatan untuk melewati krisis dengan cara yang sehat
3. Sukacita yang didapatkan lewat hubungan yang diberkati Tuhan
4. Berkat-berkat Allah buat keluarga tidak terhalang, dan tercurah sepenuhnya

=================================================================

Sumber : http://www.f-buzz.com/

Bagaimana Membina Komunikasi Suami Istri

Setelah berkeluarga bukan berarti membina komunikasi yang baik tidak diperlukan lagi. Apalagi setelah hidup bersama, bertemu setiap hari pastilah ada kata-kata yang tidak disenangi. Mungkin karena demikian parahnya komunikasi di antara suami-istri, mereka tidak saling tegur atau bicara kalau ada perlu saja.

Berbeda bila bertemu dengan teman, ia dengan mudahnya berbicara bahkan lebih ceria. Hal ini tentu membuat sakit hati suami/istri, dengan orang yang dekat tidak seceria dengan temannya. Komunikasi yang terputus ini haruslah segera diatasi agar ada kehangatan lagi di rumah Anda.

Kiat-kiat praktis berikut ini semoga dapat menjadi stimulasi awal bagi terjalinnya kembali komunikasi yang penuh kehangatan diantara suami-istri :

1. Lakukanlah introspeksi diri mengenai apa yang telah dilakukan untuk pasangan Anda hari ini.Bila ada kata/tindakan yang dinilai melukai suami/istri, cobalah minta maaf padanya dan berjanjilah tidak akan melakukannya lagi keesokan harinya.

2. Pasti ada pula tindakan pasangan yang Anda sukai, berilah pujian atau terimakasih atas tindakannya tersebut. Penghargaan yang Anda berikan padanya membuatnya gembira dan mengetahui hal-hal yang Anda sukai. Anda akan menemukan bahwa ia akan lebih bersemangat lagi melakukan hal-hal lainnya yang menyenangkan Anda.

3. Berilah senyuman padanya di saat bertemu. Senyuman yang diberikan dengan tulus pastilah akan dibalas. Kalaupun suami/istri belum memberikan tanggapan, janganlah putus asa, lakukan sekali lagi.

4. Pergunakanlah kontak mata di saat berteguran dan ingatlah kembali akan hal-hal di saat pacaran yang menarik perhatian Anda, maka tanpa disadari pandangan mata akan diwarnai kembali oleh kasih.

5. Di saat kontak mata ini, berikanlah sentuhan lembut padanya misalnya memegang bahunya, menyentuh lengannya sehingga Anda berdua merasakan kedekatan emosional satu sama lain. Hilangkanlah sikap gengsi karena sikap tersebut dapat menghambat upaya perbaikan komunikasi di antara Anda.

6. Bila berbicara dengan pasangan ataupun siapa saja yang ada di rumah, upayakan nada suara tidak terlalu tinggi atau melengking karena terkesan Anda sedang marah. Bila Anda memiliki kebiasaan memaki orang, hilangkanlah kebiasaan tersebut.

7. Berhentilah menyalahkan satu sama lain atas suatu peristiwa karena iklim relasi suami-istri merupakan hasil kerjasama keduanya. Tetapi temukanlah hikmah yang dapat diambil dari peristiwa tersebut.

8. Kembangkanlah humor agar dalam menghadapi suatu peristiwa jangan sampai menyita pikiran. Humor membuat pikiran lebih rileks dan terbuka dalam mencari penyelesaian terhadap suatu problem. Apabila suatu masalah yang rumit telah terselesaikan, pergilah menonton atau meminjam film humor agar Anda berdua dapat melupakan peristiwa tersebut.

9. Yakinlah bahwa setiap persoalan pastilah ada jalan keluar yang terbaik. Beribadah minta bantuan dari Yang Maha Kuasa juga dapat memberikan kekuatan bagi Anda berdua dalam menghadapi persoalan.

==================================================================

Sumber : Telaga (Pdt. Dr. Paul Gunadi)

Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen dan kali ini saya bersama Ibu Dientje Laluyan, kami akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang “Pelancar Komunikasi”. Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

GS : Kita setiap hari berkomunikasi bahkan ada orang yang secara khusus mendalami ilmu komunikasi, alat-alat komunikasi begitu canggih akhir-akhir ini tetapi di dalam kehidupan suami istri, Pak Paul, seringkali terjadi masalah justru karena komunikasi. Buat saya itu sesuatu yang ironis, begitu Pak Paul, tidak tahu bagaimana pandangan Pak Paul dalam hal ini ?

TUJUAN HAKIKI KOMUNIKASI

1. Persekutuan – komunitas

PG : Sangat-sangat ironis sudah pasti, kalau kita kembali kepada tujuan hakiki berkomunikasi sebetulnya dari kata komunikasi itu kita bisa memetik satu makna bahwa komunikasi tujuannya adalah untuk mengakrabkan atau menyatukan, sebab kata ‘komunikasi’ dengan kata ‘komunitas’ sama, arti katanya adalah sebuah persekutuan.

2. Hubungan dengan Tuhan

Tuhan juga memberikan kemampuan kepada manusia untuk berkomunikasi agar Tuhan dan manusia juga bisa menyatu, memunyai sebuah persekutuan dan manusia dengan sesamanya memunyai persekutuan jadi itulah yang melatar belakangi mengapa Tuhan memampukan manusia untuk dapat berkomunikasi. Sebagaimana tadi Pak Gunawan sudah katakan ironisnya dalam pernikahan kita yang terjadi bukan berkomunikasi, artinya bukan menjadi sebuah komunitas, sebuah kesatuan tapi justru akhirnya gontok-gontokan dan malah saling menjauh.

GS : Ada orang bahkan di luar, kalau bukan berkomunikasi dengan orang lain, bukan dengan pasangan sangat ahli sekali bahkan dikatakan ini seorang komunikator yang ulung, Pak Paul, tetapi di rumah dia seolah-olah kehilangan kata-kata atau kalau pun berkata-kata menyakitkan pasangannya.

KEBUTUHAN DASAR SUAMI ISTRI

PG : Jadi kalau kita mau menggunakan istilah-istilah semantik yang lebih akurat, orang yang mampu untuk berkata-kata meyakinkan orang itu disebutnya orator, orang yang memang bisa menyampaikan konsep pemikiran dan sebagainya, tetapi kalau kita mau katakan orang itu bisa berkomunikasi, seharusnya orang itu bisa merangkul, mendamaikan sehingga relasinya dengan orang lain menjadi dekat.

Ada beberapa yang mau kita soroti,

1. Yang pertama adalah kita kurang mengenal kebutuhan mendasar dari baik itu pria maupun wanita.

Ini yang ingin saya sampaikan bahwa sebetulnya kendati banyak topik dalam hal-hal yang kita bicarakan di rumah tapi sesungguhnya tema yang umumnya melahirkan topik pembicaraan dalam pernikahan hanyalah dua,

> Pertama, berkaitan dengan suami
> Kedua, berkaitan dengan istri.

Apakah itu ?

> Pada dasarnya tema yang berhubungan dengan suami adalah ketertiban > Sedangkan tema yang berkenaan dengan istri adalah kepastian.

Coba saya jelaskan.

1. Suami

Suami biasanya menginginkan agar segalanya berjalan dengan tertib alias tertata, dapat dikendalikan. Suami umumnya tidak nyaman dengan perubahan yang mendadak, segala sesuatu yang tidak bisa dikendalikan, yang termasuk dalam nalar, itu sesuatu yang tidak bisa diterima oleh suami dengan baik. Oleh sebab itu kebanyakan pria memunyai kebutuhan untuk mengontrol, baik itu orang maupun kondisi, dia mau semuanya dalam kendali sebab dalam kondisi inilah ia baru bisa hidup dengan lega, tertib semuanya. Artinya bila dia tidak mendapatkan ketertiban, dia mudah terjebak dalam perilaku dominan atau bahkan kasar, memaksakan kehendak. Mengapa dia bisa dominan dan kasar ? Karena memang dia berusaha untuk mengendalikan supaya semuanya berjalan dengan teratur, dengan tertib. Dia tidak merasa nyaman kalau ada hal-hal yang terjadi di luar kendalinya.

DL : Tapi ada juga laki-laki yang tidak tertib.

PG : Yang saya maksud adalah di dalam dirinya laki-laki itu mau tenang, tenteram, tidak mau kacau, mungkin dengan dia menolak tanggungjawabnya, dia sedang mencoba membuat dirinya tenteram.

Kalau dia ikut campur, dia berbicara dengan istrinya, dia menegur anaknya, dia pusing. Dia merasa tidak bisa menghadapinya, daripada dia merasa pusing tidak bisa menghadapi, menjadi lepas kendali semuanya, lebih baik dia tidak mau tahu. Ada suami yang seperti itu, seolah-olah dia tidak tertib tapi sebetulnya dia tertib dan dia membuat dirinya tenang tidak pusing, tidak tersangkut dalam urusan-urusan keluarga karena untuk dia urusan-urusan keluarga, dia tidak begitu bisa mengendalikannya. Lebih baik dia tidak mau tahu.

GS : Tapi untuk bisa semuanya berjalan dengan tertib atau di bawah kendalinya, dia harus mengomunikasikan apa sebenarnya yang dia inginkan.

PG : Ada yang memang mengomunikasikannya dengan baik, ada yang tidak baik, jadi yang baik akhirnya bisa membuat si istri mengerti dan istri bisa lebih bisa mengenal inilah suaminya. Tetapi ada yang sudah mencoba berbicara istrinya tidak bisa menerima atau tidak mengerti.

Pria biasanya dua reaksinya,

> pertama dia dominan, dia marah, dia kuasai, dia paksa, dia membentak supaya semua berjalan lagi sesuai dengan keinginannya, tertib kembali jangan sampai kacau.

> Atau yang menarik dirinya, acuh, tidak mau tahu, tidak mau ikut campur, dia lepas tangan. Itu sebetulnya reaksi pria yang sebetulnya merasa tidak bisa lagi mengendalikan situasi dalam kehidupannya.

2. Istri

GS : Kalau di pihak istri bagaimana, Pak Paul ?

PG : Istri lain lagi, istri menginginkan kepastian.

Maksudnya keinginan ini lahir dari kebutuhan akan rasa aman, pada umumnya istri akan meminta suami untuk menciptakan kepastian agar dia tetap merasa aman.

Istri kadang-kadang mengeluh, menuntut, mengapa ? Sebab dia mengharapkan suaminya bisa membuat sebuah situasi yang pasti sehingga dia tidak usah lagi harus cemas dan bertanya-tanya.

Tidak heran dalam kebanyakan kasus, istri jauh lebih sering cemas dibandingkan dengan suami. Itu sebabnya kadang-kadang suami merasa kesal, frustrasi, “Kamu bertanya kepada saya, kamu ingin saya memberi jawaban yang pasti, ya tidak bisa”, tapi itulah yang dibutuhkan oleh seorang istri, sebuah kepastian.

GS : Tapi kepastian dan ketertiban itu ‘kan sangat erat hubungannya, Pak Paul, sebenarnya ini bisa sejalan, artinya bisa saling mengisi.

PG : Bedanya adalah ini, kepastian akhirnya seringkali dituntut oleh istri kepada suaminya untuk menyediakan bagi dia, bahwa hidup itu akan pasti. Dia tidak suka dengan hal-hal yang harus dia tanya dan dia cemaskan, sedangkan suami kebutuhannya mau mengontrol, menguasai supaya semuanya beres.

Kalau wanita tidak, oleh karena itu saya berkata, kalau sampai wanita dominan kebanyakan memang tidak semuanya, wanita dominan karena kondisi, harus, dia tidak bisa bergantung pada pasangannya jadi dia yang harus mengatur semuanya. Secara alamiah atau naluri perempuan tidak terlalu butuh untuk mengontrol semuanya, mengatur, menguasai. Laki-laki lebih perlu menguasai orang dan juga situasi.

DL : Tapi kalau perempuan yang sudah dominan begitu, siapa yang kendalikan, Pak Paul ?

PG : Memang suami mesti melihat peranannya mengapa dia akhirnya lepas tangan, mungkin dia lebih harus berani mengatakan isi hatinya dan tidak membiarkan istrinya mengambil alih, tapi dia harus berperan lebih aktif. Kalau tidak mau istrinya akhirnya terlalu dominan, dia mesti benar-benar terlibat dalam urusan rumah tangga. Dia tidak bisa lepas tangan, lepas tangan kemudian istrinya marah istrinya lebih mengatur, lebih terlibat juga.

DL : Tapi ada suami yang pasif juga, Pak Paul, tidak turun tangan jadi istrinya yang dominan, kelihatannya seperti itu.

PG : Daripada tidak ada, silakan, daripada keluarga itu berantakan, kacau, tidak ada yang memimpin lebih baik ada istri yang memimpin.

DL : Tapi akibat kepada anak, akhirnya anak juga menjadi lemah.

PG : Betul memang itu konsekwensinya, ada akibatnya, waktu anak-anak melihat apalagi anak laki-laki melihat papanya pasif tidak ada inisiatif, otomatis itu akan memberikan pengaruh yang tidak begitu baik kepada anak-anak.

GS : Benturan yang seringkali terjadi dalam komunikasi ini adalah ketika kami sebagai pria, sebagai suami sudah menata segalanya dengan baik dan memberikan jaminan kepastian, “Ini sudahlah tidak usah kuatir”, ini masih dituntut lagi supaya dia itu yakin, nah ini tidak bisa kita lakukan, Pak Paul, untuk memastikan dia, bagaimana kalau kita sudah menganggap ini pasti.

PG : Sudah tentu kalau ini memang dicari-cari, tentu ada faktor X yang kita tidak bisa pastikan, karena kita bukan Tuhan tapi itu seringkali menjadi celah yang dapat digunakan oleh istri untuk berkata kepada kita, “Nah, kamu juga tidak pasti”. Kita bukan Tuhan tidak bisa memberikan kepastian seperti itu, namun kadang-kadang istri tidak mau mengerti, jadi terjadilah konflik.

GS : Konflik terjadi karena suami merasa dituntut terus, sehingga komunikasi menjadi tidak lancar.

PG : Misalnya istri terus meminta suami untuk memastikan dan akhirnya suaminya merasa terdesak, umumnya suami lama kelamaan menjauh, acuh, tidak mau tahu lagi atau bereaksi agresif, kasar, marah dan dia mencoba mengontrol istrinya supaya jangan sampai memberikan dia ketegangan tambahan. Berlatar belakang perbedaan ini sebetulnya kita bisa katakan bahwa percakapan antara suami dan istri merupakan cetusan dari kebutuhan akan ketertiban dan kepastian ini.

Sekali lagi meskipun banyak hal yang dibicarakan tetapi seringkali akarnya dua hal ini, suami mau ketertiban istri mau kepastian. Misalnya waktu istri mengeluh ketika suami pulang malam, sesungguhnya dalam hati istri ia hanya ingin kepastian bahwa suami tetap sayang dan mengutamakan keluarga, cuma seringkali yang keluar dari mulut istri bukanlah itu,” Saya itu sayang kepada kamu, saya ingin kamu mengutamakan keluarga” tapi yang keluar adalah keluhan, “Kamu pulang malam, kamu tidak memikirkan anak” dan lain-lain, akhirnya dimarah-marahi begitu padahal dalam hati istri dia hanya ingin ada kepastian bahwa suaminya tetap menyayanginya dan mengutamakan keluarganya.

Atau kalau kita melihat contoh dari suami, misalnya suami menuntut istri untuk mempercayakan urusan bisnis kepadanya, dia mau memperlebar bisnisnya. Sesungguhnya dia ingin ketertiban, dia tidak ingin terganggu dan dia ingin berkonsentrasi penuh pada urusan bisnisnya itu sebabnya tatkala istri terus mencampuri keputusannya, tanya-tanya, meragukan dll. Besar kemungkinan akan marah karena dia merasa istri ini tidak tertib, membuat kacau kepadanya. Reaksinya bisa kasar atau marah.

GS : Seperti tadi yang suami pulang malam itu sebenarnya kalau saja suami mau memberitahukan kepada istrinya bahwa ia pulang terlambat, itu sudah cukup menenangkan si istri itu, Pak Paul.

PG : Betul, karena sekali lagi yang dibutuhkan adalah kepastian, oleh karena itu pada waktu dia belum pulang, dia telepon dulu dan katakan, “Saya akan pulang malam”, jadi waktu suaminya berkata akan pulang malam jam berapa, istrinya merasa tenang. Ketika terjadi keributan atau apa, istri berkata, “Oke, karena saya tidak mengerti, saya akan mendengarkan kamu, saya tidak akan lagi menggugat-gugat kamu”, suaminya merasa tenang karena dia merasa istrinya tertib, dia bisa mengatur. Sekali lagi banyak konflik berasal dari dua tema ini, satu ingin tertib yang satunya ingin pasti.

GS : Juga ketika istri mau ikut campur di dalam bisnis suaminya, itu bisa mempermalukan suami kalau itu di hadapan teman-teman suaminya, seolah-olah suami ini kehilangan wibawanya sampai harus istrinya yang mengurus bisnisnya.

PG : Di dalam perasaan hilang wibawa sebetulnya ada satu perasaan lagi, Pak Gunawan, yaitu ia malu karena ia berpikir orang menganggap dia tidak bisa menertibkan istrinya. Jadi sekali lagi ada unsur tertibnya, dia merasa sebagai pria harus dapat menertibkan artinya mengendalikan, jangan sampai berjalan sendiri tidak ada aturannya. Pada waktu dia dipermalukan istrinya mengatakan beginilah, ikut campur urusannya. Untuk dia hal itu seperti dilihat oleh orang seperti seorang suami yang lemah yang tidak bisa menertibkan istrinya.

GS : Jadi sebenarnya ada betulnya juga ketika firman Tuhan mengatakan bahwa istri itu tidak boleh bicara di depan umumnya, pada waktu itu. Memang kalau berlebihan akan membuat si suami mau tidak mau merasa tersinggung.

PG : Yang Paulus sebetulnya katakan di situ adalah Paulus ingin ibadah tertib, rupanya saat itu ada istri-istri yang mulai mau dalam ibadah, dalam persekutuan, ikut-ikut memberikan pendapat, akhirnya agak kacau. Mungkin itu dibawa ke rumah juga jadi Paulus berkata, “Tidak, jangan kalau kita mau beribadah, mohon tertib, jangan yang satu berbicara begini yang lain berbicara begitu”. Sekali lagi tema tertib sangat kuat terlihat di situ.

GS : Jadi bagaimana ini, Pak Paul ?

PG : Kalau kita sadar bahwa yang dibutuhkan istri adalah kepastian yang dapat menciptakan rasa aman, sedapatnya kita sebagai suami berikan. Misalnya, kita menggunakan kata-kata yang menyejukkan hati, kita bisa juga menyajikan keterangan atau informasi yang membuat istri tenang. Jadi sering-seringlah suami mengatakan hal-hal seperti itu, “Jangan khawatir, ini semua akan beres, kamu pokoknya yang penting percaya”, sering-seringlah berbicara seperti itu. Sebaliknya dari pihak istri, istri sebaiknya memberi kesempatan kepada suami untuk berpikir tenang dan memutuskan persoalan. Jangan belum apa-apa sudah mau ikut berbicara, beri kesempatan pada suami untuk berpikir kemudian memutuskan suatu masalah, beri bantuan kalau memang dibutuhkan namun sedapatnya berikan ruang yang cukup kepada suami agar dia tidak terganggu. Sudah tentu satu ini penting, usahakan untuk tidak membantahnya secara langsung dan secara segera, jangan, biarkan suami bicara, jelaskan apa yang dia ingin lakukan, jangan dibantah secara langsung dan segera. Sebaliknya dengan tenang dan sabar ajaklah suami untuk melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda sehingga suami tidak merasa istrinya langsung bangkit menyerang dia, tidak setuju atau apa. Reaksi suami biasanya dari dua yang sudah saya sebut, kalau dia tidak mau ribut, dia menarik dirinya, atau dia marah dan mungkin kasar karena dia mau istrinya tertib jangan sampai akhirnya kacau.

GS : Memang perlu bagi suami itu untuk konsekwen dengan apa yang dikatakan seperti tadi mengenai pulang malam, dia mengatakan pulang jam 9 kalau pun tidak bisa selesai pada jam 9 dia harus memberitahu lagi, karena kalau istri berkali-kali merasa dibohongi walaupun itu dengan tidak sengaja, lalu rasa percaya itu hilang, begitu Pak Paul.

PG : Bisa juga kita gunakan rasa kepastian itu berkurang. Pada waktu suami berkata jam berapa dia pulang, ternyata dia tidak pulang ini berulang kali terjadi, lain kali suaminya pulang jam berapa, jam 9 misalnya, istri sudah tidak ada kepastian, dia akan telepon lagi, “Benar atau tidak kamu pulang jam 9 ?” akhirnya suami marah karena merasa terganggu, tidak tertib tapi dia mesti juga bisa bercermin diri, sebab dia tidak menepati janji pada masa yang lalu sehingga istri kehilangan kepercayaan bahwa ini pasti dia pulang jam 9 ya jam 9. Jadi sekali lagi kita melihat, konflik bisa bermacam-macam tapi akarnya sepertinya sama, satu minta tertib, satu minta kepastian.

GS : Pak Paul, selain ada kebutuhan yang perlu kita pelajari, kita bahas, apakah ada hal lain lagi yang penting dalam komunikasi ?

PG : Kita juga menyadari adanya ketakutan dalam berkomunikasi, Pak Gunawan dan Ibu Dientje, setidaknya ada 2 hal yang menciptakan rasa takut dalam berkomunikasi. Yang pertama adalah takut tidak dimengerti, banyak kali kita tidak berkomunikasi karena kita takut bahwa pasangan tidak akan mengerti apa yang disampaikan. Jadi daripada mengatakannya, tidak dimengerti akhirnya kita memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa. Itu sebabnya kita mesti mempersiapkan pasangan sebaik-baiknya agar dapat mengerti apa yang ingin kita sampaikan. Misalnya, kita harus memerhatikan penggunaan yang tepat sebab kata yang tidak tepat dapat mengaburkan makna atau memancing reaksi yang keliru kita pun harus memerhatikan kadar emosi, sebab kadar emosi yang berlebihan dapat membuat pasangan mundur teratur sebelum sempat mendengarkan perkataan kita, jadi sekali lagi mesti kita sadari kita takut tidak dimengerti. Kalau pasangan berbicara dengan kita, lalu kita tidak memberikan reaksi yang pas sehingga dia merasa tidak dimengerti akhirnya dia merasa malas berbicara dengan kita dan relasi kita semakin menjauh.

DL : Tapi ada juga yang memang tidak bisa menyampaikan kata-kata sehingga dia tidak bicara, Pak Paul.

PG : Ada memang, tidak semua orang fasih lidah, ada yang sulit mengutarakan perasaannya lewat perkataan. Kalau itu kondisinya beritahukan kepada pasangannya bahwa “Saya sulit untuk mengutarakan perasaan saya”, kalau begitu silakan tuliskan. Ada juga yang berkata, “Saya juga sulit tuliskan dengan kata-kata semuanya”, kalau begitu tulis saja satu dua kata, “Saya merasa apa, saya mau apa”, setelah itu berikan kepada pasangannya supaya dibaca nanti pasangannya yang menolong dengan cara bertanya sehingga dapat memancing reaksi atau isi hatinya. Yang penting ada komunikasi meskipun tidak bisa terlalu lancar.

GS : Ketakutan itu muncul baik dari pihak suami maupun istri ketika dia berkomunikasi dan ditanggapi keliru, begitu Pak Paul.

PG : Seringkali menjadi masalah karena kita tahu kalau ditanggapi keliru, berarti ada problem lain yang harus kita pecahkan. Mungkin saja kita ada satu problem yang belum selesai lalu ditanggapi keliru berarti itu masalah baru muncul. Nanti juga kita akan repot-repot menyelesaikannya pula. Memang sebaiknya kita pikirkan pasangan kita seperti apa, cara pikirnya, pengertiannya, cobalah gunakan kata-kata atau gunakanlah ‘timing’ yang tepat sehingga akhirnya dia bisa mengerti apa yang kita ingin sampaikan kepadanya.

GS : Bagi suami kesulitannya kadang-kadang adalah menghadapi istri karena kita tidak mengetahui suasana hatinya. Di saat yang lain kita bicara begitu tidak apa-apa, tetapi pada saat tertentu jadi apa-apa.

DL : Karena suka berubah-berubah, begitu.

PG : Ibu Dientje, bagaimana rasanya memang begitu ?

DL : Kadang-kadang wanita suasana hatinya bisa berubah-berubah. Pada saat merasa tidak enak, omongan suaminya yang benar menjadi tidak benar. Harus ada penyelesaian masalah sebelumnya sehingga tidak dibawa terus-menerus.

PG : Kalau kita memang mengetahui istri kita bisa berubah, kita harus pandai-pandai membaca wajahnya, gerak-gerik tubuhnya, nada suaranya, dari situ kita bisa membaca kira-kira perasaannya seperti apa. Jadi kita bisa sesuaikan kapan kita bicaranya dengan cara apa kita membicarakannya. Atau misalnya kita keliru kita katakan kepadanya, “Mohon jangan marah sebab kita pernah bicarakan hal ini sebelumnya dan kamu tidak apa-apa, karena itu kita munculkan lagi sekarang”. Dia diingatkan bahwa dia pernah memberikan reaksi seperti itu juga.

GS : Selain ketakutan untuk tidak dimengerti, Pak Paul, apakah ada ketakutan yang lain ?

PG : Yang kedua adalah rasa takut tidak dihiraukan karena ini lain lagi dengan tidak dimengerti. Kalau dimengerti ya didengarkan tetapi salah, tapi ini tidak dihiraukan sama sekali, kalau kita bicara serius namun pasangan tidak memerhatikan kita atau matanya tidak ditujukan kepada kita atau reaksinya sepotong-sepotong, akhirnya kita merasa tidak dihiraukan, percuma mengungkapkan isi hati kepadanya akhirnya kita malas komunikasi dengan dia. Jadi kita mesti sadar waktu pasangan ingin berkomunikasi dengan kita terutama hal-hal yang pribadi itu tidak mudah, karena itu kita mesti memberikan tanggapan yang sepadan. Lihatlah, jangan sampai kita tidak memandangnya, perhatikan kata-katanya, berikan tanggapan yang menggembirakan barulah komunikasi dapat berjalan kembali. Kalau kita semaunya tidak memerhatikan dia akhirnya lama-lama komunikasi semakin surut dan akhirnya tidak ada lagi komunikasi. Berikanlah usaha terbaik untuk menghiraukan pasangan sewaktu dia sedang bercakap-cakap dengan kita.

GS : Sebenarnya bukan tidak menghiraukan, Pak Paul, tetapi saat itu belum waktunya atau kita tidak merasa sedang memunyai gairah untuk menanggapi hal itu. Jadi kita mau menundanya, ini bagaimana memberitahukannya ?

PG : Kalau kita sedang tidak siap daripada kita mendiamkannya atau tidak menghiraukannya lebih baik kita katakan apa adanya bahwa kita sedang tidak siap untuk membicarakan hal ini dan janjikan kapan kita akan siap, jadi jangan memeti-eskan dan ini yang tadi kita sudah bahas membuat si istri merasa tidak ada kepastian. Dia perlu kepastian kapan mau dibicarakannya, kalau tidak hari ini kapan ? Suami mesti berkata, “Oke, kita bicarakan besok saya akan pikirkan dulu hal ini”, pada waktu istri mengetahui besok dan janji ini ditepati maka dia akan merasa tenang dan dia akan menunggu. Yang membuat istri tidak mau menunggu adalah kita berjanji dan tidak ditepati, sehingga hilanglah kepastian itu.

GS : Biasanya kalau kita sibuk atau kelelahan dan harus mendengarkan laporan-laporan seperti itu dan minta tanggapan. Kalau hanya disuruh mendengarkan masih lumayan tetapi untuk memberikan tanggapan itu sulit.

PG : Jadi kita yakinkan dia bahwa ini tidak terjadi setiap hari. Kebanyakan kita tanggapi tetapi ada saat-saat tidak bisa kita tanggapi kita katakan apa adanya. “Tolong hari ini saya merasa lelah, tidak bisa menanggapi tetapi besok akan saya tanggapi jadi apa yang kamu katakan akan saya pikirkan, besok saya tanggapi”. Biasanya istri kalau mengetahui besok akan dibahas dia akan diam dan menunggunya.

GS : Padahal dia mau bercerita itu sudah disimpan sejak berjam-jam sebelumnya , Pak Paul, kalau disuruh menunda lagi merupakan suatu beban untuk dia, belum tentu besok dia mau bercerita lagi.

PG : Atau kita katakan tidak usah sampai besok, tetapi kita meminta waktu sejam lagi sebab sekali lagi untuk kita laki-laki kalau kita bisa atur, kita bisa rencanakan, hati kita disiapkan maka kita akan lebih siap. Lebih tertib, lebih tenang, mungkin tidak bisa menunda 1 hari, minta 1 jam lagi. “Bisa tidak 1 jam lagi kita bicarakan, saya sedang memikirkannya”.

GS : Memang masalah komunikasi ini adalah suatu masalah yang sangat penting dan perlu kita terus kerjakan dengan baik karena baik tidaknya kita berkomunikasi justru lewat komunikasi ini. Tidak ada cara lain kita belajar komunikasi, Pak Paul.

Pak Paul, kita akan lanjutkan perbincangan ini pada kesempatan yang akan datang, mungkin Pak Paul akan sampaikan ayat firman Tuhan yang sesuai dengan ini ?

PG : Saya akan bacakan dari Efesus 4:31-32, “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan”. Nah kita melihat hampir semua ini kerap muncul dalam komunikasi, kegeraman, kemarahan dan sebagainya. Dan Tuhan menyambungnya, “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu”. Jadi inilah yang harus kita coba kedepankan dalam berkomunikasi, yaitu mengampuni, ramah dan penuh kasih. Yang lain-lain, kegeraman dan kemarahan itu semua yang kita mesti singkirkan.

GS : Terima kasih, Pak Paul untuk perbincangan kali ini dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang “Pelancar Komunikasi” bagian yang pertama, dan kami akan melanjutkan perbincangan ini pada kesempatan yang akan datang. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@telaga.org kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.

Bagian 2

Perbincangan kami kali ini merupakan kelanjutan dari perbincangan kami terdahulu yaitu tentang “Pelancar Komunikasi”, kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

GS : Pak Paul, pada bagian yang pertama yang lalu kita memperbincangkan dua bagian dari pelancar komunikasi, ternyata gampang-gampang susah berkomunikasi dengan pasangan kita, tetapi itu bisa kita perbaiki terus-menerus supaya kehidupan keluarga menjadi lebih harmonis. Supaya pendengar kita bisa mengikuti alur perbincangan kita pada kesempatan ini, Pak Paul, boleh saya meminta kesediaan Pak Paul untuk mengulang sejenak apa yang kita perbincangkan pada kesempatan yang lalu.

PG : Pada dasarnya kita membincangkan tentang kebutuhan mendasar baik suami maupun istri yaitu sebetulnya suami menginginkan ketertiban, jadi dalam percakapan ia seringkali mengusahakan jangan sampai teratur, supaya istri teratur dapat dikendalikan. Kalau ia melihat istrinya tidak tertib, tidak bisa diatur biasanya dia panik, dia bisa kasar, dia bisa dominan atau dia angkat tangan tidak mau tahu lagi menanggapi istrinya. Sedangkan di pihak istri yang biasanya dibutuhkan oleh istri adalah kepastian, jadi istri kadang-kadang cemas, rasa amannya terusik karena membutuhkan kepastian. Kadang-kadang itulah yang dituntut kepada suami, “Kamu harus memberikan saya kepastian”, dari dua ini kalau tidak bisa kita penuhi seringkali terjadilah pertengkaran. Sebagai contoh, suami merasa istri terlalu ikut campur dalam urusan bisnisnya padahal yang istri butuhkan adalah kepastian bahwa bisnis si suami tidak akan ambruk dan bahwa suami akan tetap bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga, kepastian yang dibutuhkan oleh istri. Sedangkan suami juga sama, dia tidak mau istri ikut campur karena dia mau bisa konsentrasi dengan tenang memutuskan persoalannya. Kalau istri banyak bertanya, banyak ikut campur dia merasa terganggu, tidak tertib oleh karena itu ia menolak, bisa marah kepada istrinya. Sekali lagi yang dibutuhkan oleh si istri adalah kepastian sedangkan oleh si suami adalah ketertiban, maka kita harus menyadari inilah kebutuhan pasangan kita dan mencoba untuk memenuhinya. Istri jangan cepat-cepat membantah suami, istri juga berikan kesempatan pada suami untuk berpikir dengan tenang sehingga dia tidak merasa terganggu, suami juga bila berbicara lebih sejuk jangan sampai memarahi tetapi berikanlah ketenangan kepada istri bahwa semuanya akan berjalan dengan baik, bahwa dia tetap mengasihi istrinya, bahwa dia memikirkan keluarganya dan kepastian seperti itu yang ingin didengar oleh istrinya. Yang kita juga bahas selain dari kebutuhan mendasar antara pria dan wanita, kita juga menyadari bahwa ada rasa takut tidak dimengerti dan rasa takut tidak dihiraukan. Dua hal itu adalah dua hal yang membunuh komunikasi, kalau kita berbicara kita menjelaskan tapi pasangan kita tidak mengerti-mengerti atau malah salah mengerti kita akhirnya malas berbicara. Dalam komunikasi perlu yang satu berbicara sejelas mungkin tetapi yang satu perlu belajar untuk bertanya kalau tidak mengerti sehingga bisa saling mengerti dan jangan sampai kita merasa tidak dihiraukan, kita bicara tidak didengarkan, matanya ke mana-mana tidak ada tanggapan. Mesti ada tanggapan, ada perhatian sehingga kita merasa dihiraukan. Kalau kita sudah merasa tidak dihiraukan kita akan merasa malas untuk berkata-kata kepada pasangan kita.

GS : Memang komunikasi di dalam hubungan keluarga perlu terus ditingkatkan, perlu terus dibangun. Masalahnya bagaimana caranya membangun komunikasi ini, Pak Paul ?

PG : Betul sekali kita harus memikirkan bagaimana membangun komunikasi. Kita mengetahui bahwa komunikasi dibangun bukan saja di atas keinginan, artinya saya ingin bisa komunikasi dengan baik, saya ingin rumah tangga saya harmonis. Bukan hanya ingin tetapi mesti ada keterampilan untuk berkomunikasi sebab tanpa keterampilan komunikasi akhirnya kandas. Berikut saya akan coba paparkan beberapa keterampilan praktis untuk membangun komunikasi. Yang pertama adalah kita mesti menciptakan suasana dalam pernikahan yang selalu menyemangati terjadinya komunikasi, dengan kata lain, bukan saja kita harus menyepakati bahwa komunikasi penting, kita pun harus mengambil langkah konkret untuk menyuburkan terjadinya komunikasi. Untuk menyuburkan komunikasi kita harus mendorong terjadinya keterbukaan dan kebebasan untuk mengutarakan isi hati. Makin banyak aturan, apa yang boleh dan tidak boleh dibicarakan, makin tertutup dan terpasung kebebasan berkomunikasi. Langkah pertama untuk membangun komunikasi kita mesti menyuburkan iklim keterbukaan itu, sehingga pasangan dan kita masing-masing mengetahui bahwa kita bebas mengutarakan isi hati. Saya sudah melihat kasus-kasus seperti ini, Pak Gunawan dan Ibu Dientje, ada orang begitu mendengar istrinya berbicara …….. langsung dia marah dan berkata, “Setop jangan bicara itu, saya tidak suka” atau istrinya mendengar suaminya berbicara ……. istrinya marah dan berkata, “Setop jangan bicara itu saya tidak suka bicara itu”, makin banyak aturan-aturan mana yang boleh, mana yang tidak boleh dibicarakan, makin akhirnya membunuh komunikasi. Contoh yang konkret adalah banyak orang tidak siap kalau pasangannya membicarakan tentang urusan keluarga. Misalnya pasangan saya membicarakan tentang orang tua saya, sekali pun halnya itu hal penting, hal yang baik, ada orang yang tidak mau langsung berkata, “Setop jangan bicarakan orang tua saya, ini urusan saya bukan urusan kamu” atau membicarakan tentang adiknya, wah marah, jadi sekali lagi kita mesti menyemangati terjadinya komunikasi dan caranya adalah dengan menyuburkan iklim keterbukaan dan masing-masing mengetahui bahwa kalau saya berbicara ini akan diperhatikan, didengarkan dan tidak akan dibungkamkan. Kalau belum apa-apa kita merasa akan dibungkamkan kita akhirnya malas berbicara lagi.

GS : Kalau kita mau menciptakan suasana dalam pernikahan itu, supaya berkomunikasi dengan baik, itu ‘kan kita harus menghindari konflik. Kalau kita sedang konflik dengan pasangan kita tidak bisa berkomunikasi dengan baik bahkan mungkin putus komunikasi itu untuk sementara waktu, tapi justru konflik itu munculnya ketika kita berkomunikasi. Jadi semacam rangkaian yang saling, kita tidak berani berkomunikasi supaya jangan konflik.

PG : Seperti lingkaran setan jadinya, Pak Gunawan. Betul, maka saran saya adalah jangan berhenti berkomunikasi meskipun komunikasi bisa memancing pertengkaran. Jadi tetap suburkan, yang mesti diubah adalah caranya, mungkin ada kata-kata yang tidak berkenan atau mungkin untuk sementara ada hal-hal yang tidak bisa dibicarakan. Jangan sampai justru kita menemukan solusi yaitu “sudah jangan bicara sama sekali dengan dia”, jangan, sebisa-bisanya kita pertahankan tapi pihak yang satunya memang harus membuka pintu yang lebar untuk terjadinya komunikasi sebab kalau kita sudah mau berkomunikasi jangan sampai mati komunikasi, tetapi pasangan kita sama reaksinya, “Tidak boleh bicara begini, tidak boleh bicara begitu, tutup mulut soal ini tutup mulut soal itu”, jadi sulit. Jadi dari kedua belah pihak mesti ada keterbukaan itu.

GS : Walaupun timbul konflik, kita harus tetap berkomunikasi, Pak Paul ?

PG : Tepat sekali, sebab makin kita tidak komunikasi makin tidak bisa berkomunikasi. Waktu kita makin tidak bisa berkomunikasi berarti setiap kali kita berkomunikasi, tengkar. Makin sering bertengkar kita berkata, “Tutup mulut daripada komunikasi dan tengkar” berarti makin tidak bisa berkomunikasi, jadi terus lingkaran setan itu akan berputar, kita harus patahkan dengan cara belajarlah berkomunikasi.

DL : Tetapi komunikasinya pada ‘timing’ yang tepat, kalau suasana kurang baik lebih baik ditunda, Pak Paul.

PG : Perlu hikmat jangan sampai berbicara seenaknya pokoknya kita sedang merasa apa, kita keluarkan, kita tidak peduli. Dia sedang merasa apa, jadi betul Bu Dientje, kita harus mengetahui ‘timing’nya jangan sembarangan.

GS : Menggunakan pihak lain untuk membangun komunikasi itu dimungkinkan atau tidak, Pak Paul ?

PG : Kadang-kadang kita harus datang ke seorang konselor atau seorang hamba Tuhan untuk menolong kita karena kadang-kadang berhenti, itu harus saya akui, jadi ada orang-orang sudah sampai tidak bisa lagi berkomunikasi. Dalam kasus seperti itu mesti ada orang ketiga yang dapat mengatakan, “Setop dulu jangan diteruskan ini akan menjadi ribut, coba beritahu saya lagi apa yang kamu ingin sampaikan”. Kemudian dicoba untuk dikemas sehingga dengan cara ini pasangannya bisa mendengar apa yang ingin disampaikan. Untuk sementara perlu ada seorang ‘coach’ atau seorang konselor yang menolong mereka untuk dapat berkomunikasi.

GS : Kalau itu memang ahli seperti itu memang dibutuhkan, Pak Paul, tetapi ada pasangan suami istri yang menggunakan anak sebagai sarana mereka untuk berkomunikasi, jadi tidak berani bicara langsung dengan pasangannya tetapi lewat anaknya atau lewat orang tuanya. Ini seringkali menimbulkan masalah juga.

PG : Anaknya akhirnya menjadi jurubicara orang tua, seringkali nanti pertumbuhannya terhambat. Jiwanya agak tertekan dan merasa dihimpit di tengah-tengah. Dia harus bertanggungjawab atas kelanggengan keluarganya atau orang tuanya dan dia harus selalu memikirkan cara apa yang dapat dia gunakan supaya papa tidak marah, supaya mama dapat mendengarkan. Jadi anak harus memikul beban yang terlalu berat di usia yang terlalu muda.

GS : Pak Paul, selain hal menciptakan suasana dalam pernikahan untuk menyemangati terjadinya komunikasi, hal lain lagi yang harus kita perhatikan apa ?

PG : Untuk membangun komunikasi yang sehat kita selalu harus menciptakan komunikasi dua arah, agar terjadi komunikasi dua arah kita harus melakukan dua hal yaitu berbicara dan mendengarkan, sederhana bukan ? Bila kita hanya bersedia berbicara dan tidak banyak mendengarkan maka tidak terjadi komunikasi dua arah, sebaliknya kalau kita hanya bersedia mendengarkan tanpa inisiatif berbicara juga tidak ada komunikasi dua arah. Jadi memang mesti ada dua arah itu, berbicara kepada pasangan harus dilakukan dalam bingkai respek, kita tidak bisa berharap dan menuntut pasangan untuk mendengarkan kita bila kita mengutarakan isi hati kita tanpa rasa hormat terhadap perasaannya. Jangan sampai kita beranggapan, “Dia adalah suami saya, dia mengerti saya” atau “Dia istri saya, dia pasti mengerti saya”. Jangan, sebab sekali lagi kita tidak bisa berbuat semaunya kepada pasangan kita, sebelum mengatakan apa-apa cobalah tempatkan diri pada posisinya terlebih dahulu mungkin ini dapat menolong kita menyeleksi kata yang lebih tepat juga jangan lupa untuk bertanya pendapatnya, memberinya kesempatan untuk memberikan reaksi terhadap apa yang disampaikan dan jangan sampai kita mendominasi percakapan, berbicara terus. Setelah mengutarakan satu point berhenti biarkan pasangan memberikan tanggapan, jangan terus bercakap panjang lebar baru berhenti kemudian memberi pasangan kesempatan untuk menanggapi, bisa jadi pasangan tidak sesabar itu mendengarkan kita panjang lebar baru bicara atau dia sendiri lupa mau berbicara apa tadi. Untuk menyuburkan komunikasi dua arah perlu kita mendengarkan, kita berbicara dan selalu ingat mesti respek satu dengan yang lain, sehingga kita tidak berbicara semaunya dan kita lebih bisa juga memilih kata-kata yang tepat.

GS : Seringkali kita hanya ingin cerita saja, tidak perlu ditanggapi, begitu Pak Paul. Ada istri yang seringkali hanya mau cerita apa yang terjadi sepanjang hari itu, apa yang dia alami, apa yang dia rasakan. Kita sebagai suami diminta hanya untuk mendengarkan. Kalau begitu untuk dua arahnya bagaimana, Pak Paul ?

PG : Sudah tentu itu tidak setiap kali, jadi sekali-sekali sudah tentu ada yang hanya ingin didengarkan. Sekali-sekali yang satunya juga harus siap hanya untuk mendengarkan, tidak apa-apa. Yang banyak menjadi masalah adalah kalau setiap kali begitu, atau seringkali begitu, sebab yang satunya akan berkata, “Kapan saya giliran berbicara, selalu giliran saya hanya mendengarkan”, jadi memang harus ada dua arah. Pada waktu kita mendengarkan penting kita perhatikan hal ini, yaitu kita mesti memberikan sikap mendengarkan, misalnya putar tubuh agar menghadap pasangan, arahkan kepala dan mata kepadanya serta lihat wajahnya. Misalnya kita juga memberikan konfirmasi atau reaksi lainnya lewat anggukan kita, tanggapan singkat atau wajah kita supaya bahasa tubuh membuat dia mengetahui bahwa kita tengah mendengarkannya. Pada waktu kita berkata, “O ya benar ya, saya setuju, kamu pasti tidak enak dibegitukan”, pasangan merasa didengarkan dan dia akan lebih mau berbicara kepada kita, sudah tentu ini baik asalkan jangan sampai searah, terus-menerus dia yang bicara dan kita yang mendengarkan. Ada waktu-waktu kita juga berkata, “Saya mau cerita tolong kamu dengarkan saya”, misalkan ada tanggapan dia yang tidak sesuai dengan hati kita, bicarakan apa adanya, “Eh kamu bisa tidak sebelum saya selesai bicara jangan dipotong dulu” atau “Eh, sebelum kamu mengetahui ceritanya dengan utuh, jangan dulu mengeluarkan reaksi, kesal, marah, sebab kalau begitu saya menjadi malas untuk bercerita”. Kita harus komunikasikan apa yang kita harapkan sebagai tanggapan terhadap apa yang kita sampaikan sebab ini pun penting. Kalau tidak maka kita merasa malas untuk berbicara. Kita harus komunikasikan apa yang kita harapkan sebagai tanggapan apa yang kita sampaikan sebab ini juga penting, kalau tidak kita merasa malas untuk berbicara. Daripada melihat reaksinya kita merasa kesal dan malas bicara, kita harus beritahukan kepada pasangan.

GS : Banyak keluhan dari istri terutama yang mengatakan suaminya mendengarkan dia bercerita sambil membaca koran atau sambil menonton TV, ini saya kira bukan pola komunikasi yang baik, Pak Paul.

PG : Saya masih ingat saya pernah makan di sebuah restoran, saya melihat ada sepasang suami istri umurnya 60-an lebih, suaminya sedang duduk menunggu makanan belum datang, dia mengambil koran dan membaca koran terus kira-kira 20 menit, korannya dibaca dengan serius sehingga wajahnya dan wajah si istri dipisahkan oleh koran ! Bagaimana bisa berbicara dan memang tidak ada yang berbicara, istrinya menengok ke sana ke sini melihat orang yang sedang makan. Itulah hal yang kadang-kadang terjadi dalam pernikahan kita. Kita harus mendengarkan dan waktu kita memberikan telinga kita, kita juga harus memberikan tanggapan kita sehingga kita memberitahu kepada pasangan bahwa kita sungguh-sungguh mendengarkan. Coba misalnya dengan memberikan intisari apa yang dia katakan sehingga oke dia tahu kita jelas mengerti apa yang dia katakan, kalau misalnya keliru intisari kita biarkan dia mengoreksinya. Pada waktu mendengarkan pasangan berbicara, coba intisarikan dan katakan, “Ini bukan yang kamu maksud ?” atau “Ini bukan yang kamu katakan ?” Kalau pasangan kita berkata, “Bukan, bukan itu.” “Oke kalau bukan itu, apa yang kamu maksud ?” Jadi tidak ada lagi kesalahpahaman, jangan sampai kita berasumsi bahwa kita pasti mengerti apa yang dia katakan, ternyata keliru. Sering-seringlah bicara seperti itu, berikan tanggapan dan juga berikan intisari. Satu hal lagi yang penting adalah, sedapatnya tahanlah pencetusan opini atau reaksi negatif dan tanggapan menghakimi. Ini yang sering terjadi, ini yang akan membunuh komunikasi, kalau kita belum apa-apa sudah berkata, “Saya tidak setuju, ini jelek, ini buat apa ?” Wah sudahlah kita malas berbicara lagi, atau tanggapan menghakimi, “Kamu kok bisa begitu, kamu kok bodoh benar…….apa-apa !” Ingat ya, pasangan mesti mengetahui bahwa kita telah mendengarkannya dan mengerti apa yang disampaikannya. Bila kita cepat-cepat memberikan jawaban dan opini apalagi kata-kata menghakimi, sudahlah dia tidak akan merasa tertarik untuk berbicara dengan kita. Jadi cobalah tahan kata-kata seperti itu.

GS : Memang untuk bisa mendengarkan dengan baik, memberikan tanggapan dan sebagainya, ini membutuhkan waktu dan perhatian yang khusus, begitu Pak Paul. Artinya kita tidak bisa sambil lewat berkomunikasi ini.

PG : Memang tadi Pak Gunawan memulai dengan kata-kata yang bagus, “komunikasi ini gampang-gampang susah”. Masalahnya adalah begini, kebanyakan kita beranggapan kita adalah pakar komunikasi dalam keluarga, bisa berbicara, tidak ! Ternyata kebanyakan kita tidak begitu mengerti cara berkomunikasi yang baik, itu sebabnya muncul banyak masalah dalam keluarga. Jangan berasumsi “saya bisa berkomunikasi dengan baik, pakar. Kamulah yang tidak bisa”, jangan sebab kita justru harus mengerti pasangan kita dengan lebih baik sehingga bisa mengatakannya dengan lebih pas juga.

DL : Mengerti dan juga terbuka ya, ada keterbukaan dengan pasangan dan menerima apa dengan hati, jangan ada perasaan negatif terus, Pak Paul.

PG : Kalau belum apa-apa sudah ada perasaan negatif, simpan-simpan, tidak mungkin ada komunikasi yang bebas dan terbuka. Betul sekali, Bu Dientje.

GS : Apakah bisa dijadikan semacam pedoman, Pak Paul, bahwa kalau kita berkomunikasi dan jarang timbul konflik itu berarti ada kemajuan dalam kita berkomunikasi.

PG : Sudah tentu komunikasi mesti makin hari makin mendalam, kita tidak hanya menceritakan apa yang terjadi situasi di luar tapi kita juga mesti mulai mengutarakan pendapat pribadi kita, lama kelamaan kita maju lagi ke level yang lebih dalam yaitu mengutarakan perasaan-perasaan kita, termasuk misalnya ketakutan kita. Apakah kita dapat menceritakan kepada pasangan kita, semakin terbuka, makin kita berani mengutarakan sampai hal-hal yang terdalam menandakan memang relasi kita makin kuat, sehingga komunikasi kita juga makin membaik.

GS : Jadi artinya yang dia tidak bisa utarakan kepada orang lain, itu disampaikan kepada pasangannya, begitu Pak Paul.

PG : Betul sekali memang pasangan akhirnya merasa bahwa dia adalah orang yang paling dekat dengan kita sebab kita tidak bercerita kepada yang lain tetapi kepada dia.

GS : Ada hal lain didalam kita membangun komunikasi, Pak Paul ?

PG : Yang terakhir adalah ini, Pak Gunawan, kita harus jelas dan terbuka dengan motivasi dan perasaan yang melatarbelakangi ucapan kita, kadang dengan sengaja kita menyamarkan motif dan perasaan sesungguhnya yang mencetuskan perkataan kita karena kita tidak ingin mengakui bahwa itulah sebenarnya yang kita rasakan atau inginkan. Masalahnya percakapan seperti ini rawan menciptakan kesalahpahaman, bila pasangan tidak yakin dengan motif dan perasaan kita, besar kemungkinan dia akan menduga-duga. Jika ini yang terjadi bukan saja akan mudah terjadi kesalahpahaman, dia pun mungkin akan menuduh bahwa kita telah berbuat tidak jujur, sudah tentu ini akan merusakkan komunikasi. Misalkan saya berikan contoh seorang istri mulai mengatur suaminya, “Kamu jangan sering-sering bicara dengan si ini, dia orangnya begini begini, kamu jangan ….” jadi kita mulai bertanya-tanya, mengapa istri mulai mengatur kita dan melarang kita berbicara, akhirnya baru kita mengetahui setelah bicara baik-baik secara terbuka, baru kita mengetahui bahwa dia melihat kita atau menganggap kita bukan orang yang kokoh sehingga dia merasa takut kita nanti kita terbawa arus. Dia beranggapan si A atau si B adalah orang-orang yang memang bisa berpengaruh buruk terhadap kita. Lebih baik pasangan bicara langsung, “Saya sebetulnya khawatir kamu nampaknya mudah dipengaruhi dan dia orang-orang yang tidak begitu baik, saya takut kamu nanti terpengaruh oleh mereka”. Jadi berbeda, tadinya suami merasa istrinya mengatur pergaulannya, padahal dia merasa cemas, dia takut suaminya terbawa arus.

DL : Tapi ada kalanya memang wanita sulit untuk menyampaikan apa yang sudah dipendam itu, takut kalau suaminya merasa bahwa dia cemburu.

PG : Jadi memang perlu resiko, saya sadari sebetulnya bukan hanya wanita, pria pun kadang-kadang merasa takut untuk sungguh-sungguh terbuka alasan sesungguhnya mengapa dia berkata-kata seperti itu. Tapi seringkali kalau tidak jelas, bisa terjadi kesalahpahaman jadi ribut seperti contoh tadi, misalnya suami menjadi ribut dengan istri, “Kamu mengatur-atur saya, ini hak saya mau berteman dengan siapa, saya tidak ada apa-apa dengan dia, kamu cemburu ya !” Padahal dia bukan cemburu, karena bukan hanya dengan wanita tapi dengan pria pun istrinya melarang dia berbicara atau bergaul dengan lebih akrab lagi. Suaminya bisa berkata, “Kamu kok cemburu dan bukan hanya cemburu kepada wanita tetapi kamu juga cemburu kepada pria”. Jadi akhirnya ributnya panjang padahal alasannya si istri khawatir suaminya bisa terbawa arus. Kita mesti jelas dengan motivasi kita dan perasaan kita. Alasan lainnya lagi adalah, menciptakan keintiman waktu kita berani terbuka dengan perasaan kita, dengan motivasi kita. Intim kalau tidak ada akhirnya komunikasi hampa, sekali lagi komunikasi bukan hanya tentang penyampaian berita, komunikasi juga tentang penyatuan dua pribadi lewat apa yang disampaikan kepada satu sama lain.

GS : Memang kalau kita mau membangun komunikasi ini, Pak Paul, meningkatkan, menumbuhkan komunikasi, faktor resiko itu saya rasa tidak bisa dihindarkan. Kita harus berani menanggung resiko, kemungkinan salah, kemungkinan disalahmengerti dan sebagainya, itu harus kita hadapi.

PG : Bukankah makin kita hadapi, makin kita coba melihat diri, koreksi diri akhirnya makin dapat kita berkomunikasi. Makin dapat berkomunikasi makin kecil kemungkinan terjadi kesalahpahaman.

GS : Katakan kita salah mengungkapkan itu, jujur saja katakan minta maaf. Di sini peran pasangan kita untuk berani memaafkan kesalahan pasangannya karena sudah salah berkomunikasi.

PG : Kalau misalkan terus dihukum.

GS : Orang menjadi tidak berani, takut dihukum.

DL : Tidak diajak bicara lagi, oleh sebab itu memang harus ada keterbukaan terus satu sama lain, melatih komunikasi akhirnya menjadi lancar, menjadi baik.

GS : Dengan lancarnya komunikasi, dengan kita berani mengungkapkan hal itu dan tidak terjadi konflik, di sana terlihat ada pertumbuhan. Kalau di awal pernikahan seringkali konflik dan lama-lama makin berkurang kita merasa bahwa itu kita yakin ada suatu pertumbuhan.

PG : Betul sekali. Sekali lagi, orang yang menabur akhirnya akan menuai, orang yang dari awal menabur komunikasi usahakan, usahakan meskipun jatuh bangun, nantinya dia akan menuai hasilnya. Beberapa tahun kemudian ia akan menikmati relasi dengan istrinya atau suaminya yang sepertinya akrab.

GS : Saya rasa sampai pasangan itu salah satu meninggal, mereka harus tetap belajar untuk berkomunikasi. Tetap akan ada saat-saat di mana mereka itu salah bicara atau salah diterima dan sebagainya.

PG : Tadi Pak Gunawan sudah tekankan, perlu ada jiwa mengampuni jangan sedikit-sedikit marah dan menyerang. Harus mengampuni bahwa biarlah pasangan sudah mengerti kita, tetapi kadang-kadang masih bisa salah bicara.

DL : Tapi laki-laki itu sulit untuk mengampuni, kadang-kadang saya perhatikan biasanya wanita itu cepat mengampuni, tetapi kalau laki-laki itu biasanya gengsi ya ?

PG : Bisa, mungkin ia perlu waktu lebih lama tapi kita berikanlah dia kesempatan untuk berpikir dan saya kira kalau ia anak Tuhan, dia akan mendengar suara Tuhan menegurnya dan dia lebih bisa menaati Tuhan.

GS : Pak Paul, apakah ada ayat firman Tuhan yang ingin Pak Paul sampaikan ?

PG : Di Efesus 4:29 firman Tuhan menasihati kita untuk saling membangun. Firman Tuhan berkata, “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia”. Nah salah satu cara membangun adalah lewat komunikasi, jadi di tangan Tuhan kita adalah sarana semata untuk membangun satu sama lain menjadi pribadi yang dikehendaki-Nya. Lewat mulut kita mengalirkan kasih karunia Tuhan kepada pasangan kita.

GS : Terima kasih Pak Paul, untuk perbincangan ini dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang “Pelancar Komunikasi”, bagian yang kedua dan yang terakhir. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@telaga.org kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.

Ringkasan

Salah satu masalah yang kerap muncul dalam pernikahan adalah masalah komunikasi. Oleh karena kita dibesarkan dalam latar belakang yang berbeda, sering kali kita menemui kendala dalam berkomunikasi dengan pasangan.

Berikut akan dipaparkan beberapa saran yang dapat menolong kita berkomunikasi.

I. Kebutuhan di Balik Komunikasi

Kita mesti menyadari bahwa kebanyakan pembicaraan yang terjadi dalam pernikahan berkisar seputar tema tertentu. Kendati beragam namun sesungguhnya tema yang umumnya melahirkan topik pembicaraan dalam pernikahan hanyalah dua, satu berkaitan dengan suami dan satunya lagi berkaitan dengan istri. Pada dasarnya tema yang berhubungan dengan suami adalah KETERTIBAN sedang tema yang berkenaan dengan istri adalah KEPASTIAN.

Suami menginginkan agar segalanya berjalan dengan tertib alias tertata dan dapat dikendalikan. Pria berusaha untuk memegang kendali atau menguasai keadaan sebab hanya dalam kondisi ini ia dapat hidup lega dalam ketertiban. Bila ia tidak mendapatkannya, ia mudah terjebak ke dalam perilaku dominan dan bahkan, kasar alias memaksakan kehendak.

Istri menginginkan kepastian dan keinginan ini lahir dari kebutuhan akan rasa aman. Bila tidak diperolehnya, istri cenderung mengeluh dan menuntut, supaya kecemasannya berkurang. Tidak heran, dalam kebanyakan kasus, istri lebih mudah cemas dibandingkan dengan suami.

Sekali lagi, walaupun topik pembicaraan bervariasi, namun kalau kita telusuri dengan saksama, kita akan dapat menemukan dua tema umum ini. Berdasarkan pemahaman ini, sebetulnya dalam berkomunikasi, penting bagi kita untuk menyadari kebutuhan mendasar ini dan memenuhinya. Kadang kita meributkan banyak hal di permukaan, padahal yang memunculkan semua ini adalah kebutuhan akan ketertiban dan kepastian.

Jadi, kalau suami sadar bahwa yang dibutuhkan istri adalah kepastian yang dapat menciptakan rasa aman, sedapatnya berikanlah itu. Gunakan kata-kata yang menyejukkan dan sajikan informasi yang membuat istri tenang. Sebaliknya, istri pun sebaiknya memberi kesempatan kepada suami untuk berpikir tenang dan memutuskan persoalan. Beri bantuan namun sedapatnya berikan ruang yang cukup kepada suami agar ia tidak terganggu. Usahakan untuk tidak membantahnya sebaliknya dengan tenang dan sabar, ajak suami untuk melihat suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda.

II. Ketakutan dalam Berkomunikasi

Setidaknya ada dua hal yang menciptakan rasa takut dalam berkomunikasi.

1. Pertama adalah TAKUT TIDAK DIMENGERTI.

Banyak kali kita tidak berkomunikasi karena kita takut bahwa pasangan tidak akan mengerti apa yang akan disampaikan. Jadi, daripada mengatakannya dan tidak dimengerti, akhirnya kita memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa.

Itu sebabnya kita mesti memersiapkan pasangan sebaik-baiknya agar dapat mengerti apa yang ingin kita sampaikan. Misalnya, kita harus memerhatikan penggunaaan kata yang tepat sebab kata yang tidak tepat dapat mengaburkan makna atau bahkan memancing reaksi keliru. Kita pun harus memerhatikan kadar emosi sebab kadar emosi berlebihan dapat membuat pasangan mundur teratur sebelum sempat mendengarkan perkataan kita.

2. Kedua adalah RASA TAKUT TIDAK DIHIRAUKAN.

Sering kali hal ini terjadi dalam pernikahan. Kita berbicara dengan serius namun pasangan tidak memerhatikan kita. Matanya tidak tertuju pada kita, dan reaksinya juga sepotong-potong. Akhirnya kita merasa percuma mengungkapkan isi hati kepadanya. Inilah yang akhirnya membuat kita enggan berkomunikasi dengannya kembali.

Tidak selalu mudah untuk kita berkomunikasi, terutama bila yang ingin disampaikan adalah hal yang bersifat pribadi. Itu sebabnya kita mengharapkan tanggapan yang sepadan. Ketika pasangan tidak memberikan tanggapan yang menggembirakan, keinginan berkomunikasi surut. Akhirnya kita makin tidak berkeinginan berkomunikasi.

III. Membangun Komunikasi

Komunikasi dibangun bukan saja di atas keinginan, tetapi juga keterampilan untuk berkomunikasi. Jadi, tidak cukup memiliki keinginan untuk berkomunikasi, kita pun mesti memiliki keterampilan yang mendukung sebab tanpa keterampilan, komunikasi cenderung kandas.

Berikut akan dipaparkan beberapa keterampilan praktis untuk membangun komunikasi.

1. PERTAMA, KITA MESTI MENCIPTAKAN SUASANA DALAM PERNIKAHAN YANG SELALU MENYEMANGATI TERJADINYA KOMUNIKASI.

Dengan kata lain, bukan saja kita harus menyepakati bahwa komunikasi penting, kita pun harus mengambil langkah konkret untuk menyuburkan terjadinya komunikasi. Nah, untuk menyuburkan komunikasi kita harus mendorong terjadinya keterbukaan dan kebebasan untuk mengutarakan isi hati.

2. KEDUA, KITA HARUS MENYUBURKAN TERJADINYA KOMUNIKASI YANG SEHAT DAN KOMUNIKASI YANG SEHAT ADALAH KOMUNIKASI DUA ARAH.

Nah, agar terjadi komunikasi dua arah, kita harus bersedia melakukan dua hal: Berbicara dan mendengarkan.

Berbicara kepada pasangan mesti dilakukan dalam bingkai respek. Kita tidak bisa berharap dan menuntut pasangan untuk mendengarkan bila kita mengutarakan isi hati tanpa rasa hormat terhadap perasaannya.

Jangan beranggapan bahwa oleh karena ia adalah suami atau istri, maka seharusnyalah ia menerima dan mengerti kita. Ingat, pernikahan tidak memberi kita alasan untuk berbuat semaunya !

Jadi, sebelum mengatakan apa-apa, cobalah tempatkan diri pada posisinya terlebih dahulu. Mungkin ini akan dapat menolong kita menyeleksi kata dengan lebih tepat.

Juga, jangan lupa untuk bertanya pendapat pasangan dan memberinya kesempatan untuk memberikan reaksi terhadap apa yang disampaikan. Jangan sampai kita mendominasi percakapan.

Setelah mengutarakan satu poin, berhentilah dan biarkan pasangan memberi tanggapan. Bukan saja berbicara, kita harus mendengarkan pasangan agar tercipta komunikasi dua arah.

Jadi, putarlah tubuh menghadapi pasangan, arahkan kepala dan mata kepadanya, serta lihatlah wajahnya.

Berikanlah konfirmasi dan reaksi lainnya lewat mimik wajah dan tanggapan singkat. Bahasa tubuh yang seperti ini membuatnya tahu bahwa kita tengah mendengarkannya.

Secara berkala kita pun mesti memberikan tanggapan yang mengintisarikan apa yang dikatakannya agar ia tahu bahwa bukan saja kita mendengarkan, kita pun memahami dengan jelas apa yang disampaikannya.

Hal ini penting, terutama untuk mencegah kesalahpahaman. Kadang kita berasumsi bahwa kita mengerti jelas apa yang dikatakannya, namun ternyata kita keliru menafsirkan perkataannya.

Selain dari intisari, kita pun dapat mengajukan pertanyaan untuk memperjelas apa yang disampaikannya. Semua ini membuat pasangan tahu bahwa kita mendengarkan dan mengerti apa yang disampaikannya.

Satu hal lagi yang penting dilakukan adalah, sedapatnya tahanlah pencetusan opini, reaksi negatif dan tanggapan menghakimi. Ingat, pasangan mesti tahu bahwa kita telah mendengarkan dan mengerti apa yang disampaikannya.

Bila kita cepat memberi jawaban dan opini, apalagi kata-kata penghakiman, mungkin ia akan merasa bahwa kita tidak tertarik untuk mendengarkannya. Atau, bahwa kita merasa diri benar dan tidak terbuka untuk melihat kekurangan pribadi.

3. TERAKHIR, KITA HARUS JELAS DAN TERBUKA DENGAN MOTIVASI DAN PERASAAN YANG MELATARBELAKANGI UCAPAN KITA.

Kadang dengan sengaja kita menyamarkan motif dan perasaan sesungguhnya yang mencetuskan perkataan kita karena kita tidak ingin mengakui bahwa sebenarnya itulah yang kita rasakan atau inginkan. Masalahnya adalah, percakapan seperti ini rawan menciptakan kesalahpahaman. Bila pasangan tidak yakin dengan motif dan perasaan kita, besar kemungkinan ia akan menduga-duga. Jika ini yang terjadi, bukan saja akan mudah terjadi kesalahpahaman, ia pun mungkin akan menuduh bahwa kita telah berbuat tidak jujur. Sudah tentu ini akan merusakkan komunikasi.

Motif dan perasaan yang dikemukakan juga berkhasiat untuk menciptakan keintiman. Komunikasi yang hampa motif dan perasaan, tidak akan lebih dari penyampaian berita. Komunikasi bukan hanya tentang penyampaian berita; komunikasi adalah juga tentang penyatuan dua pribadi lewat apa yang disampaikan kepada satu sama lain

Firman Tuhan di Efesus 4:29 menasihati kita untuk saling membangun, “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.” Dan, salah satu cara membangun adalah lewat komunikasi. Di tangan Tuhan kita adalah sarana semata untuk membangun satu sama lain menjadi pribadi yang dikehendaki-Nya.

———————————
———————————

Sumber: Hikmat Pembaharuan

Dasar-dasar Komunikasi dalam Keluarga
This entry was posted on March 5, 2009, in Gaya Hidup, Kebiasaan Baik, Komunikasi, Komunitas, Life Skill and tagged Keluarga, Komunikasi, orang tua dan anak, Pemulihan, suami istri. Bookmark the permalink. 3 Comments

Komunikasi adalah proses penyampaian informasi yang dilakukan antar pribadi. Karena manusia adalah mahluk sosial yang memiliki kebutuhan untuk berhubungan, maka komunikasi memegang peranan yang sangat penting dalam interaksi antar manusia. Bisa kita bayangkan bahwa pola komunikasi akan mempengaruhi pola hubungan antar pribadi, yang juga akan mempengaruhi kesejahteraan hidup seseorang. Pola komunikasi antar pribadi yang baik akan meningkatkan rasa nyaman seseorang, dan sebaliknya.

Keluarga sangat membutuhkan pola komunikasi yang baik. Tanpa pola komunikasi yang baik, sulit bagi keluarga untuk mengembangkan hubungan yang membawa kepuasan kepada anggotanya. Namun hal tersebut memang harus diusahakan, karena Firman Tuhan sendiri telah memperlihatkan bahwa sejak manusia diciptakan juga telah terjadi kesenjangan dalam berkomunikasi.

Kegagalan manusia berkomunikasi

Sejak kapan manusia gagal berkomunikasi? Jika kita merujuk kepada Kejadian 3, ketika manusia jatuh dalam dosa, telah terjadi hal-hal yang mengganggu jalannya komunikasi. Yang terutama muncul adalah emosi negatif: rasa takut, rasa malu dan rasa bersalah.

Rasa takut menyebabkan manusia sering bersembunyi dan menolak untuk berkomunikasi dengan benar

Rasa malu menyebabkan manusia juga harus memakai pelindung dan topeng untuk bisa berkomunikasi

Rasa bersalah sering menyebabkan manusia menjadi agresif dan menyerang orang lain dengan berkomunikasi

Fungsi komunikasi dalam keluarga.

1. Memberikan pengertian yang lebih dalam tentang siapa kita sebagai pribadi kepada anggota keluarga lainnya
2. Meningkatkan kasih, kepercayaan dan rasa hormat dalam keluarga
3. Sebagai alat untuk mencapai tujuan, dan membereskan hal-hal yang menghalangi pencapaian tujuan

Bentuk Komunikasi

Pada dasarnya komunikasi digunakan untuk menciptakan atau meningkatkan aktifitas hubungan antara manusia ataukelompok. Jenis komunikasi terdiri dari:

1. Komunikasi verbal dengan kata-kata, yang mencakup kata-kata yang dipilih, cara mengucapkannya

2. Komunikasi non verbal disebut dengan bahasa tubuh, yang mencakup: ekspresi wajah, kontak mata, sentuhan, postur tubuh dan bentuk sikap tubuh lainnya.

Dalam prakteknya kita tidak hanya berkomunikasi dengan kata-kata yang kita ucapkan, namun sering bahasa tubuh kita akan memberikan isyarat yang mungkin akan diterima dengan cara yang berbeda oleh lawan bicara kita. Karenanya penting dalam keluarga untuk juga belajar melihat dan memperlihatkan bahasa tubuh yang memberi dukungan kepada kata-kata yang kita ucapkan.

8 Hukum komunikasi – dari Ayub 31 & 32 – diambil dari renungan ini

1. Jangan cepat mengeluarkan perkataan (6-7).

Lalu berbicaralah Elihu bin Barakheel, orang Bus itu: “Aku masih muda dan kamu sudah berumur tinggi; oleh sebab itu aku malu dan takut mengemukakan pendapatku kepadamu. Pikirku: Biarlah yang sudah lanjut usianya berbicara, dan yang sudah banyak jumlah tahunnya memaparkan hikmat.

2. Pastikan selalu dalam pimpinan Roh Allah (8-9).

Tetapi roh yang di dalam manusia, dan nafas Yang Mahakuasa, itulah yang memberi kepadanya pengertian. Bukan orangyang lanjut umurnya yang mempunyai hikmat, bukan orang yang sudah tua yang mengerti keadilan.

3. Pastikan lawan bicara dalam kondisi siap mendengarkan (33:1-2).

“Akan tetapi sekarang, hai Ayub, dengarkanlah bicaraku, dan bukalah telingamu kepada segala perkataanku. Ketahuilah, mulutku telah kubuka, lidahku di bawah langit-langitku berbicara.

4. Bicara dengan hati yang tulus (33:3-4).

Perkataanku keluar dari hati yang jujur, dan bibirku menyatakan dengan terang apa yang diketahui. Roh Allah telah membuat aku, dan nafas yang Mahakuasa membuat aku hidup.

5. Tidak merendahkan (33:6), tidak menyanjung-nyanjung (32:21).

Sesungguhnya, bagi Allah aku sama dengan engkau, akupun dibentuk dari tanah liat.

Aku tidak memihak kepada siapapun dan tidak akan menyanjung-nyanjung siapapun. (32:21)

6. Berani menegur (33:12).

Sesungguhnya, dalam hal itu engkau tidak benar, demikian sanggahanku kepadamu, karena Allah itu lebih dari pada manusia.

7. Bicara dengan tujuan dan isi yang telah dibentuk oleh firman (33:14-16).

Karena Allah berfirman dengan satu dua cara, tetapi orang tidak memperhatikannya. Dalam mimpi, dalam penglihatan waktu malam, bila orang nyenyak tidur, bila berbaring di atas tempat tidur, maka Ia membuka telinga manusia dan mengejutkan mereka dengan teguran-teguran.

8. Memberi kesempatan kepada lawan bicara. (33:31-32).

Perhatikanlah, hai Ayub, dengarkanlah aku, diamlah aku yang berbicara. Jikalau ada yang hendak kaukatakan, jawablah aku; berkatalah, karena aku rela membenarkan engkau. Jikalau tidak, hendaklah engkau mendengarkan aku; diamlah, aku hendak mengajarkan hikmat kepadamu.”

Komunikasi Suami dan Istri

Kita telah mempelajari betapa pentingnya komunikasi bagi manusia. Kita juga telah belajar bahwa ada 3 hal yang menghalangi kita untuk memiliki komunikasi yang berkualitas, yang terjadi sejak kejatuhan manusia dalam dosa, yaitu rasa takut, rasa malu dan rasa bersalah. Ketiga hal tersebut menyumbangkan kebiasaan buruk yang sering kita lakukan dalam berhubungan dan berkomunikasi, yaitu:

> Cenderung sering lari dan bersembunyi, dan menolak untuk berkomunikasi dengan benar
> Cenderung menutup diri lewat pola-pola perlindungan yang biasa kita bangun
> Cenderung menjadi agresif dan menyerang orang lain dengan pola komunikasi kita

Keharmonisan sebuah keluarga sangat didukung oleh komunikasi yang baik dari suami istri. Tidak heran bahwa riset dan statistik memperlihatkan bahwa penyebab utama perceraian, ataupun kegagalan sebuah rumah tangga, adalah dikarenakan gagalnya suami istri berkomunikasi dengan baik. Untuk itu kita perlu belajar tips-tips komunikasi yang baik antara suami dan istri.

Beberapa prinsip dasar dalam komunikasi suami istri

Komunikasi adalah kebutuhan, dan alat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan lainnya. Manusia adalah mahluk pribadi dan sekaligus sosial. Baik sebagai pribadi, maupun sebagai dalam hubungan sosial, ada kebutuhan mendasar yang perlu diisi lewat komunikasi. Kebutuhan itu adalah: rasa aman lahir batin, saling menghargai, saling berbagi, kebutuhan akan cinta dan kasih sayang, kebutuhan kenyamanan fisik, dan kebutuhan seksual
.
Komunikasi suami istri adalah sebuah proses menuju keintiman.

Sewaktu berpacaran komunikasi dilakukan ketika kita ingin, namun ketika sudah menikah mau tidak mau, tepat atau tidak tepat kita akan berkomunikasi. Ketika bersatu sebagai suami istri, sebenarnya kita sedang berproses dalam hal-hal berikut:

> Proses memahami satu sama lain
> Proses menciptakan suatu lingkungan yang aman
> Proses menyelesaikan masalah

Komunikasi suami istri adalah bentuk kasih. Tentu saja disini bukan hanya bersifat kata-kata semata, tetapi lebih dalam dari itu:

1. Kehadiran:

2. Mendengar:
Mendengar yang baik adalah bukan sekedar mendengar dengan mata dan telinga tetapi juga mendengar dengan hati. Setiap orang memiliki karakter dalam mendengarkan, ada yang mendengar dengan acuh tak acuh, dan ada juga yang mendengar sampai empati. Yak 1:19 setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;

3. Memberikan dukungan yang positif, bisa lewat kata-kata yang memberi semangat, bisa juga lewat komunikasi non verbal, misalnya dengan memeluk, menepuk pundak dll.

Komunikasi suami istri adalah alat mencapai tujuan dan menyelesaikan masalah

Suami dan istri perlu memiliki tujuan bersama yang jelas. Untuk itu perlu ada waktu untuk berbagi aspirasi dan perasaan, sehingga tujuan bersama itu dapat didiskusikan.

Tidak penah ada dua orang yang benar-benar serupa. Selalu ada perbedaan latar belakang, pandangan, kepribadian atau pekerjaan sekali pun. Tentu saja bukan hal yang mudah untuk menyatukan dua hal yang berbeda dalam hubungan seumur hidup. Pasti akan terjadi konflik dan gesekan, yang bisa terjadi dari suami istri sendiri, ataupun gesekan dari luar, yang memicu ketegangan dalam hubungan suami istri. Untuk itu komunikasi berperan sangat besar untuk membereskan masalah ini.

Beberapa kesalahan yang sering terjadi dalam komunikasi suami istri

1. Tidak terbuka: suami istri perlu terbuka satu sama lain. Seberapa terbuka – seterbuka-terbukanya, walaupun cara dan waktu untuk terbuka perlu digumulkan juga. Dalam hal ini sering suami atau istri mengambil sikap berikut: (i) Takut – terutama takut akan penolakan, (ii) Merasa sungkan/gengsi untuk menyatakan isi hati, (iii) Tidak mau jujur/berbohong

2. Berasumsi: Kita merasa tahu apa yang ada di dalam benak seseorang, dan mengambil keputusan berdasarkan perasaan tersebut. Dalam beberapa kasus, kita juga bukan sekedar berasumsi, namun telah jatuh dalam dosa menghakimi.

3. Merasa paling benar, mencari kambing hitam: Ini adalah kebiasaan mencari penyebab masalah, dan bukannya mencari solusi suatu masalah.

4. Mengungkit masalah lama: Sesuatu yang sudah dianggap selesai, hendaknya jangan diungkit lagi, kecuali kita tahu masih ada hal yang perlu dibereskan tentang hal tersebut.

5. Menggeneralisasi, baik pendapat pribadi menjadi pendapat semua orang “semua orang tahu kamu tukang marah”, atau menggeneralisasi sebuah kelemahan “kamu orang yang selalu gagal”

6. Menggunakan komunikasi yang buruk sebagai alat mencari solusi: misalnya menggunakan marah agar kemauan kita dituruti.

7. Membandingkan: Setiap orang adalah pribadi yang unik, yang akan merasa tidak nyaman jika harus dibandingkan, apalagi dengan cara yang negatif dengan orang lain

8. Membesar-besarkan masalah atau keadaan: Mungkin dengan cara-cara yang dramatis, mungkin juga dengan melihat masalah itu lebih besar dari kenyataannya

9. Menggunakan bahasa negatif: yang cenderung melecehkan atau menghancurkan harga diri seseorang, dan bukannya kata-kata positif yang bisa membuat seseorang merasa dihargai dan didukung.

Baca juga:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *