Pelayanan Roh

Karya Roh Kudus Sehubungan Keselamatan Orang Percaya dan Karunia-karunia yang Diberi-Nya

Oleh :  Ps. Dr. Andi Hannas, Th.M
DAFTAR ISI

BAB I. PENDAHULUAN …………………………………………………………………1
BAB II. KARYA ROH KUDUS SEHUBUNGAN KESELAMATAN
ORANG PERCAYA ……………………………………………………………….2
A. Meyakinkan (convicting, Yoh. 16:8)
B. Melahirkan Kembali (regenerating, Tit. 3:5)
C. Memeteraikan (zealing, 2Kor. 1:22)
D. Membaptiskan (Baptizing, 1Kor. 12:13)
E. Mendiami (indwelling, 1Kor. 3:16)
F. Memenuhkan atau Pemenuhan (filling, Ef. 5:18)

BAB III. KARYA ROH KUDUS SEHUBUNGAN KARUNIA-KARUNIA YANG DIBERI-NYA ………………………………………………………………………7

A. Rasul (1Kor. 12:28; Ef. 4:11)
B. Nabi (Rm. 12:6; 1Kor. 12:10; 14:1-40; Ef. 4:11)
C. Mujizat (1Kor. 12:28) dan Penyembuhan (1Kor. 12:9, 28, 30)
D. Bahasa Lidah dan Penafsiran Bahasa Lidah (1Kor. 12:10)
E. Penginjil (Ef. 4:11)
F. Gembala (Ef. 4:11)
G. Melayani (Rm. 12:7; 1Kor. 12:28; Ef. 4:12)
H. Mengajar (Rm. 12:7; 1Kor. 12:28; Ef. 4:11)
I. Iman
J. Menasehati
K. Membedakan Roh
L. Menunjukkan Kemurahan (Rm. 12:8)
M. Memberi
N. Memimpin (Rm. 12:8; 1Kor. 12:28)
O. Hikmat dan Pengetahuan (1Kor. 12:8)

BAB IV. PENUTUP …………………………………………………………………………………………………12
KEPUSTAKAAN …………………………………………………………………………….13

BAB I
PENDAHULUAN

Latar belakang konsep Roh dipahami secara terminology (arti kata) dalam bahasa Yunani pneuma, Ibrani ruah yang berarti spirit (roh).

Ruah dapat diartikan sebagai napas, hembusan angin.

Ruah memberi kehidupan pada binatang dan manusia (Kej. 7:22),

Ruah juga diartikan sebagai pengaruh Ilahi yang menunjukkan aktivitas Allah, serta menyatakan sifat Allah sendiri (Yes. 31:3): mahahadir (Mzm. 139:7) dan penuh hikmat (Yes. 40:13).

Roh Allah dalam Perjanjian Lama yang diterjemahkan dengan istilah ruah tersebut hadir sebagai roh yang berkuasa (Yes. 31:3), dan memperlengkapi orang-orangNya (Yeh. 36:26-27).

Roh Allah itu kreatif, hidup dan memberi kuasa (Kej. 1:2).

Segala sesuatu berasal dari kedinamisanNya (Kej. 2:7).

Juga melalui Roh, Allah membangkitkan pemimpin-pemimpin karismatik seperti Gideon, Saul dan Daud (Hak. 6:34; 1Sam. 11:6; 16:13).

 

Istilah pneuma secara terminology dalam konsep dunia Yunani mencakup: angin, napas, hidup, jiwa.

Sehubungan dengan pergeseran maknanya kemudian juga menunjuk kepada Roh yang berhembus dalam hubungannya seorang ke seorang.

Sementara konsep pneuma dalam dunia Yunani dan Perjanjian Baru dimengerti sebagai kuasa, dan pneuma tidak sepenuhnya lepas dari zat.

Dan dalam pemikiran Yunani yang teoritis mereka menekankan proses dan sifat pneuma, walaupun hal ini asing bagi pemikiran Perjanjian Baru yang muatannya lebih mengarah pada hal Ilahi dari pneuma.

 

J. L. Ch. Abineno menjelaskan lebih lanjut bahwa:
Sama seperti ungkapan Allah adalah “ruach” dalam Perjanjian Lama, demikian pula ungkapan Allah adalah “pneuma” dalam Perjanjian Baru berarti bahwa Allah adalah Allah yang bernafas, Allah yang hidup, Allah yang bertindak.

Dengan “pneuma”-Nya Ia memberi hidup kepada ciptaan-Nya (Yoh. 6:63; Rm. 8:10: 1Kor. 15:45; 2Kor. 3:6; 5:17),

Ia membebaskan dan membuatnya menjadi ciptaan baru (2Kor. 5:17),

Ia menguatkan (Ef. 3:16) dan memimpinnya pada kebenaran (Yoh. 16:13), dan lain-lain.
Tidak jauh berbeda dalam Septuaginta, pneuma diartikan sebagai angin, nafas kehidupan, pembangkit kehidupan dan dunia.

Sebagai tambahan Septuaginta juga mengartikan pneuma sebagai kuasa yang memberkati dan yang menghukum.

Juga dalam Yesaya 11:4 pneuma dan logos disejajarkan, dan pneuma juga diyakini sebagai karunia yang diberikan pada masa yang akan datang (Eschatological gift) (Yl. 2:28; Yes. 26:18).

Secara keseluruhan Septuaginta memakai pneuma 277 kali untuk ruah, anemas 52 kali dan berbagai variasi dengan kata yang lain.

 

BAB II
KARYA ROH KUDUS SEHUBUNGAN KESELAMATAN ORANG PERCAYA

Roh Kudus adalah pribadi Ilahi yang aktif, sehingga Ia melakukan peran atau berkarya dalam kehidupan orang percaya. Beberapa di antaranya dijelaskan sebagai berikut.
Perjanjian Baru menggunakan lima istilah untuk menyatakan peranan atau karya Roh Kudus sehubungan dengan keselamatan setiap orang percaya. Kelima istilah tersebut, antara lain: meyakinkan (convicting), melahirkan kembali (regenerating), memeteraikan (zealing), membaptiskan (baptizing), dan mendiami (indwelling). Sedangkan untuk proses penyucian selanjutnya dipakai istilah memenuhi (filling).

A.   Meyakinkan (convicting, Yoh. 16:8)
Pengertian meyakinkan dapat dipahami sebagai karya Roh Kudus yang menyadarkan/ menginsafkan (Yn: elenxei = evle,gxei).

NIV memakai istilah convict (KB. Narapidana; KK transitif. memarahi).

The Interlinear Literal Translation of The Greek New Testament memakai istilah will convict .

 

ELENXEI

Elenxei berasal dari kata elegcho¯ (evle,gcw) yang berarti saya meyakinkan atau menempelak.

Elenxei menunjuk verb indicative future active third person singular yang sebaiknya diterjemahkan Ia akan meyakinkan.

Hal ini menunjukkan adanya keterangan waktu masa depan yang menyatakan bahwa seseorang menjadi sadar/ insaf bila diawali oleh pemberitaan Firman Allah (Rm. 10:17).
Saat mendengar Firman Allah, iman timbul sehingga manusia tidak dapat berdalih lagi kecuali mengambil keputusan. Tidak ada sikap netral sebab itu berarti penolakan.

 

Tiga hal yang disadarkan oleh Roh Kudus kepada manusia (Yoh. 16:8-11):

1.  Pertama, keberdosaan (Rm. 3:23; 6:23 ? setiap orang telah berdosa dan berakibat neraka, tetapi karunia Allah membawa hidup yang kekal).

2.  Kedua, kebenaran/ Yesus bangkit dan kembali kepada Bapa menunjukkan maut/ neraka telah dikalahkan bahkan Yesus menyediakan tempat bagi orang-orang percaya.

3.  Ketiga, penghakiman yang akan datang, maksudnya akan terjadi kedatangan Kristus kedua kali untuk menjemput orang percaya, dan selanjutnya menghakimi orang-orang yang tidak percaya.

B. Melahirkan Kembali (regenerating, Tit. 3:5)
Istilah yang dipergunakan Yn: palingenesias (paliggenesi,aj), berasal dari kata paliggenesia (paliggenesi,a) yang berarti regeneration (melahirkan kembali). Palingenesias mengambil bentuk verb indikatif aorist aktif orang ketiga tunggal yang sebaiknya diterjemahkan Ia telah melahirkan kembali.
Kelahiran kembali adalah kegiatan Allah untuk menuangkan hidup kekal. Waktu terjadinya kelahiran kembali saat seseorang terima Yesus. Penyebab terjadinya, karena pekerjaan Roh Kudus, bukan suatu perbuatan baik dari manusia (Ef. 2:8-9).

Pekerjaan Roh Kudus yang melahirkan kembali adalah anugerah Bapa melalui Yesus Kristus (Yoh. 3:16). Jelaslah bahwa keselamatan terealisasi atas kerjasama Allah Tunggal Tri. Kelahiran kembali yang terjadi saat menerima Yesus tidak berarti menjadikan kita manusia yang tidak dapat berbuat dosa atau sempurna seperti Yesus, melainkan kita masih mempunyai potensi untuk jatuh dalam dosa, dibutuhkan komitmen dan penyerahan yang total untuk hidup yang memuliakan Allah. Contoh kelahiran baru dalam Yohanes 3:1-21 menjelaskan bahwa kelahiran baru bukanlah berhubungan dengan fisik tetapi perihal rohani. Seseorang harus menerima ataupun menyetujui Firman Allah yang menyatakan Yesus adalah Juruselamat dan hal ini adalah pekerjaan Roh Kudus.

C. Memeteraikan (zealing, 2Kor. 1:22)
Beberapa nats yang berhubungan dengan pemeteraian, antara lain: Efesus 1:13; 4:30; Yohanes 5:24; I Yohanes 5:11-13.

Istilah Yunani yang digunakan dalam II Korintus 1:22 ialah Yn: sphragisamenos (sfragisa,menoj) yang mengambil bentuk verb participle aorist middle nominative masculine singular yang sebaiknya diterjemahkan sesudah memeteraikan.

Sphragisamenos berasal dari kata sphragizo¯ (sfragi,zw) yang berarti saya memeteraikan atau tanda/ cap.

Benny Hinn menjelaskan bahwa meterai menjamin tiga hal, antara lain:

1.  Pertama, kepemilikan: Ia memeteraikan kita dan membuat kita menjadi milikNya.

2.  Kedua, keaslian: Ia memeteraikan kita untuk menunjukkan bahwa kita adalah milikNya.

3.  Ketiga, penyelesaian: Ia memeteraikan kita untuk menjamin bahwa kita akan menjadi milikNya sepenuhnya, bersama Dia dan seperti Dia.
Pengertian dimeteraikan oleh Roh Kudus adalah dimilikinya kepastian keselamatan bagi orang yang sudah percaya, di mana Allah akan memelihara hal tersebut hingga hari penebusan (Ef. 1:13-14).

Suatu jaminan yang aman bagi setiap orang yang telah menerima Yesus secara pribadi. Saat seseorang menerima Yesus secara pribadi saat itulah ia resmi/ sah memiliki kepastian keselamatan dan tidak seorangpun serta apapun yang dapat mengakibatkan kehilangan keselamatan (1Yoh. 5:11-13; Yoh. 10:28).

Dampak pemeteraian memberikan jaminan yang baik terhadap totalitas hidup, yakni: secara jasmani (sehat, kebutuhan sehari-hari tercukupi), secara jiwani (rumah tangga bahagia, rasa tenang), secara rohani (adanya kepastian keselamatan, hidup yang bertumbuh, berakar dan berbuah hingga mencapai kedewasaan penuh di dalam Kristus).
Roh Kudus yang memeteraikan orang-orang percaya dapat didukakan apabila seseorang melakukan dosa. Konteks yang paling dekat terdapat dalam Efesus 4:29-31, dosa melalui perkataan adalah hal yang amat menonjol dalam kehidupan sehari-hari, olehnya berhati-hatilah dalam berkata-kata. Pepatah berkata “lidah tidak bertulang”, Alkitab menyatakan tak seorangpun dapat menjinakkan lidah (Yak. 3:8a), namun barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang yang sempurna (Yak. 3:2).

D. Membaptiskan (Baptizing, 1Kor. 12:13)
Baptisan Roh Kudus tidak pernah disebutkan dalam Perjanjian Lama, itulah sebabnya tidak pernah terjadi sebelum hari Pentakosta (Kis. 1:5).

Baptisan Roh Kudus sangatlah khusus sebab mempunyai tujuan yang khusus pula, yakni: menjadikan orang-orang percaya anggota tubuh Kristus.

Tidak satupun ayat dalam Alkitab yang merupakan nasehat atau perintah supaya seseorang dibaptis dengan Roh Kudus [setelah peristiwa Pentakosta].

Baptisan Roh Kudus sekali untuk selama-lamanya.

Istilah yang dipergunakan ialah Yn: ebaptisthemen (evbapti,sqhmen) yang mengambil bentuk verb indicative aorist passive first person plural yang sebaiknya diterjemahkan kita telah dibaptis.

Perlu diperhatikan bahwa aorist tense menyatakan telah terjadi atau lebih jelas lagi menunjukkan suatu peristiwa yang terjadi sekali untuk selama-lamanya.

Baptisan Roh Kudus bagi kalangan Pantekosta merupakan karya karunia yang kedua, sebagaimana ditulis oleh Charles C. Ryrie: Tidak diragukan lagi aliran Pantekosta … Aliran ini menekankan baptisan Roh Kudus sebagai karya karunia yang kedua untuk memperoleh kuasa, dan mengutamakan kembalinya pengalaman semua karunia yang telah diberikan dan digunakan dalam Perjanjian Baru.
Akibat dari baptisan Roh Kudus adalah:

 

1.  Pertama, menjadikan orang percaya anggota tubuh Kristus.

Anggota tubuh Kristus dapat diartikan bahwa seseorang akan dibangkitkan bersama Dia dalam kehidupan baru (Rm. 6:4) dan wajib menggunakan karunia-karunia yang diterima guna memfungsikan tubuh Kristus sebagaimana mestinya (1Kor. 12:13).

Mengalami baptisan Roh Kudus merupakan dasar dan dorongan untuk memelihara persatuan tubuh Kristus (Ef. 4:5).

 

2.  Kedua, menyatakan penyaliban bersama Kristus.

Menjadi satu dengan Kristus dalam kematian, penguburan dan kebangkitanNya yang menjadi dasar kokoh untuk menyadari adanya perpisahan dari kuasa dosa dan berkomitmen untuk hidup baru (Rm. 6:1-10; Kol. 2:12).
Ryrie membedakan antara Baptisan Roh Kudus dan Kepenuhan Roh Kudus, sebagai berikut:
Baptisan – Terjadi hanya sekali seumur hidup orang percaya, sedangkan  Kepenuhan – Merupakan suatu pengalaman yang berulang-ulang

Babtisan – Tidak pernah terjadi sebelum hari Pentakosta, sedangkan Kepenuhan  – Terjadi dalam masa Perjanjian Lama

Babtisan – Berlaku bagi semua orang percaya, sedangkan Kepenuhan – Tidak perlu dialami oleh semua orang

Babtisan – Tidak bisa dibatalkan, sedangkan Kepenuhan – Dapat hilang

Babtisan – Menghasilkan Posisi, sedangkan Kepenuhan – Menghasilkan kuasa

Babtisan – Terjadi ketika kita percaya kepada Kristus, sedangkan Kepenuhan – Terjadi di sepanjang kehidupan orang Kristen

Babtisan – Tak ada prasyarat (kecuali iman di dalam Kristus), sedangkan Kepenuhan – Tergantung pada penyerahan

Selanjutnya Alex Abraham Tanusaputra sebagai pendiri Gereja Bethany Indonesia memberi komentar bahwa:
Baptisan Roh Kudus hanya satu kali dalam hidup orang percaya, tapi kepenuhan dan urapan Roh Kudus berulang-ulang kali untuk kehidupan dan pelayanan kita.

Contoh: Paulus dalam Kisah 9:17 dipenuhi lagi dalam Kisah 13:9, Petrus dalam Kisah 2:4 dipenuhi lagi dalam Kisah 4:8, 31, Efesus 5:18 (kata kerja present imperative) berulang-ulang kali, terus menerus dipenuhi Roh.

Orang yang telah dibaptis dengan Roh Kudus tidak otomatis dipenuhi Roh Kudus secara kontinyu. Ia bisa saja mengalami kemunduran seperti jemaat Korintus (1Kor. 1:4-9; 3:1).
Tokoh kharismatik seperti Tanusaputrapun mengakui bahwa baptisan Roh Kudus terjadi sekali sedangkan kepenuhan Roh Kudus terjadi berulang-ulang kali.
E. Mendiami (indwelling, 1Kor. 3:16)
Nats lain yang menjelaskan hal ini terdapat dalam Roma 8:9; I Korintus 6:19.

Istilah yang dipergunakan dalam bahasa Yn: oikei (???e?) yang berarti dwell (tinggal, mendiami).

Oikei mengambil bentuk verb indicative present active third person singular yang sebaiknya diterjemahkan Ia sedang mendiami.

Pendiaman Roh Kudus adalah karunia Allah (Rm. 5:5).

Bila Roh Kudus tidak berdiam pada seseorang, hal ini berarti keselamatan orang tersebut tidak terjamin (belum menerima Yesus secara pribadi).

Roh Kudus yang mendiami orang percaya menunjukkan adanya jaminan keselamatan.

Orang percaya mungkin saja “kehilangan” pemenuhan Roh Kudus tetapi bukan pendiaman Roh Kudus (Yoh. 14:6).
Pendiaman dan pengurapan Roh Kudus biasanya berjalan bersama-sama.

Pendiaman merupakan fungsi Roh dalam membawa hadirat Allah. Pengurapan memampukan orang percaya menerima pengajaran (1Yoh. 2:20, 27).

Pengurapan Roh Kudus hanya ditulis satu kali yakni dalam I Yohanes 2:20, tujuannya untuk mengetahui kebenaran Firman Allah.

F.  Memenuhkan atau Pemenuhan (filling, Ef. 5:18)
Istilah Yn. yang dipergunakan ialah plerousthe (plhrou/sqe) yang mengambil bentuk verb imperative present passive second person plural.

Bila imperative yang dimaksudkan imperative kohortatip maka lebih baik diterjemahkan teruslah kami sekalian dipenuhi.

Istilah plerousthe berasal dari kata ple¯roo¯ (plhro,w) yang berarti fulfill, fill (mengisi penuh).

Ini adalah proses penyucian yang dikerjakan Roh Kudus dalam diri manusia. Hal ini juga berhubungan dengan penguasaan Roh Kudus dalam diri manusia. Efesus 5:18 … hendaklah kamu penuh dengan Roh Kudus, hal ini menekankan pada kehidupan sehari-hari.

Ada kontras antara anggur dan Roh.

Kata plerousthe yang merupakan passive menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan tindakan Allah saja (semata-mata).

Hal lain yang menarik adalah mengambil bentuk imperative (suatu perintah) yang berarti tidak ada pilihan lain atau harus dilakukan.

Bentuk present yang dimaksud di sini hampir sama dengan bentuk present continuously yang berarti harus berlaku/ terjadi terus-menerus, berlaku berkali-laki agar dapat berbuah.

Kisah Para Rasul 2:4 menggunakan istilah “dipenuhi”, 4:31 menyatakan “dipenuhi lagi.”

Syarat dipenuhi Roh Kudus ialah:

 

1. Pertama, hidup menyerah mutlak dalam pengendalian Roh Kudus

Artinya jangan mendukakan Roh Kudus, hal ini dapat dilakukan dengan terus-menerus berserah diri dan peka terhadap pimpinanNya secara terus-menerus (Rm. 8:14).

2.  Kedua, hidup tak terkalahkan oleh dosa, hal ini dapat dilakukan dengan mengalahkan atau menang atas dosa dari hari kehari (Ef. 4:30), Menanggapi terang Ilahi atau Firman Allah (1Yoh. 1:7), Hidup bergantung total terhadap Roh Kudus (Gal. 5:16).

Orang yang melakukan kedua hal tersebut hasilnya nampak pada: karakter (Gal. 22-23), Ibadah (Ef. 5:18-20), ketaatan (Ef. 5:21), dan pelayanan (Rm. 1:9).

BAB III
KARYA ROH KUDUS  SEHUBUNGAN KARUNIA-KARUNIA YANG DIBERI-NYA

Ada beberapa karunia yang diberikan kepada orang percaya sebagai Gereja yang merupakan tubuh Kristus, antara lain :

A. Rasul (1Kor. 12:28; Ef. 4:11)
Dalam pengertian umum, istilah ini berarti orang yang diutus (seperti yang digunakan untuk Epafroditus dalam Flp. 2:25). Tapi dalam pengertian teknis, kerasulan menunjuk pada dua belas orang rasul, dan mungkin juga beberapa orang lainnya seperti Paulus dan Barnabas (Kis. 14:4). Karunia ini diberikan untuk mendirikan jemaat dan diteguhkan dengan tanda-tanda khusus (2Kor. 12:12; Ef. 2:20). Karunia ini tidak diberikan Allah pada masa sekarang dalam pengertian rasul bagi orang Yahudi atau penulisan Alkitab yang menungkinkan “open book.” Rasul (Yn: avpo,stoloj apostolos) artinya delegate, envoy, messenger. Dalam Perjanjian Baru, berarti seorang yang dipilih oleh Tuhan Yesus dan menjadi utusanNya untuk memberitakan Injil; mendirikan, menumbuhkan dan meneguhkan jemaat. Contoh: “Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah.” (Rm. 1:1)

B. Nabi (Rm. 12:6; 1Kor. 12:10; 14:1-40; Ef. 4:11)
Seperti halnya karunia sebagai rasul, karunia sebagai nabi juga digunakan dalam pengertian yang umum maupun teknis. Dalam arti yang umum, istilah itu menunjukkan tentang pernyataan, dan dengan demikian berarti pemberitaan. Tetapi secara teknis, seorang nabi tidak hanya mampu menyatakan pesan Allah, namun dia juga dapat menubuatkan atau meramalkan hal-hal yang akan datang. Semua pesan yang dimilikinya, baik berupa pemberitaan atau nubuatan, berasal dari Allah secara langsung melalui penyataan yang khusus. Nabi (Yn: profh,thj prophetes) artinya prophet. Nabi adalah orang yang diurapi Allah untuk menyampaikan peristiwa atau keadaan yang akan datang dan mengingatkan umat untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi masa yang akan datang itu. Contoh: Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!“ (Mat. 3:1-2)
Karunia tersebut tentu telah diberikan secara agak luas dalam masa Perjanjian Baru, meskipun hanya ada beberapa orang nabi saja yang disebut secara khusus (Agabus, Kis. 11:27-28; para nabi yang ada dalam jemaat di Antiokhia, Kis. 13:1; keempat orang saudara perempuan Filipus, Kis. 21:9; dan para nabi di jemaat Korintus, 1 Kor. 14). Ini juga merupakan suatu karunia untuk pendirian jemaat yang selanjutnya beberapa peristiwa sehubungan dengan hal tersebut dikanon untuk dijadikan firman Allah, yang tidak diperlukan setelah masa itu dan setelah kitab Wahyu ditulis dalam Perjanjian Baru (Close book).

C. Mujizat (1Kor. 12:28) dan Penyembuhan (1Kor. 12:9, 28, 30)
Karunia ini merupakan kemampuan untuk mengadakan tanda-tanda khusus, termasuk penyembuhan secara fisik. Paulus menggunakan karunia ini di Efesus (Kis. 19:11-12); namun demikian, dia tidak atau tidak dapat menggunakan karunia tersebut untuk penyembuhan Epafroditus (Flp. 2:27), Timotius (1Tim. 5:23), dianggap sebagai suatu golongan dalam karunia untuk mengadakan mujizat-mujizat yang lebih besar. Sebagai contoh, dampratan Paulus yang menjadikan Elimas, si tukang sihir, buta (Kis. 13:11) merupakan penggunaan karunia untuk mengadakan mujizat yang dimiliki Paulus. Namun, penggunaan karunia tersebut dalam peristiwa ini tentu saja bukan untuk menyembuhkan. Kita menyadari bahwa suatu mujizat atau penyembuhan bisa dilakukan Allah tanpa menggunakan suatu karunia rohani yang dimiliki seseorang (seperti tanda secara fisik yang terjadi ketika orang-orang percaya penuh dengan Roh Kudus dalam Kis. 4:31).
Seorang percaya pada masa sekarang ini perlu selalu berharap untuk disembuhkan (secara mujizat), sebab adalah kehendak Allah untuk memberikan kesehatan yang baik kepada setiap orang. Meskipun Paulus berdoa dengan bersungguh-sungguh dan berkali-kali, dan meskipun dia sendiri memiliki karunia untuk menyembuhkan, namun Allah tidak berkehendak untuk menyembuhkan Paulus dari duri yang berada dalam dagingnya (2Kor. 12:8-9).
Mengabaikan cara-cara manusiawi yang ada untuk penyembuhan dan hanya berdoa saja merupakan hal yang keliru, namun terkadang ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan, di mana kesembuhan hanya bisa terjadi melalui mujizat, hal ini juga harus diimani.

D. Bahasa Lidah dan Penafsiran Bahasa Lidah (1Kor. 12:10)
Bahasa lidah merupakan kemampuan yang diberikan Allah untuk berbicara dalam suatu bahasa dunia yang tidak dikenal oleh orang yang berbicara. Penafsiran bahasa lidah merupakan kemampuan untuk menafsirkan pesan tersebut dalam suatu bahasa yang dimengerti oleh para pendengar. Tak dapat disangkal lagi, bahasa lidah yang terjadi pertama kalinya dalam Kis. 2 merupakan bahasa-bahasa (perhatikan kata “bahasa-bahasa” dalam ayat 7-8 dipergunakan istilah le,gei yang merupakan bentuk verb indicative present active 3rd person singular from le,gw yang artinya dia sedang sungguh-sungguh say, speak). Anggapannya adalah bahwa bahasa lidah dalam jemaat Korintus tidak berbeda.
Melalui “Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan” diketahui ada bahasa roh yang benar dan yang palsu. Bahasa roh yang benar memiliki tiga kriteria:

(1) Bahasa roh sebagai penyataan Roh Kudus. Berkata-kata dalam bahasa roh merupakan perwujudan adikodrati Roh Kudus, yaitu suatu ucapan yang diilhami Roh melalui mana seorang percaya berkata-kata dalam suatu bahasa (Yun. glossa) yang belum pernah dipelajari (Kis. 2:4; 1Kor. 14:14-15).

(2) Bahasa roh sebagai bukti fisik yang awal mengenai baptisan dalam Roh Kudus. Berkata-kata dalam bahasa roh adalah ucapan yang diilhami di mana roh orang percaya dan Roh Kudus bergabung dalam suatu pujian dan/ atau nubuat.

(3) Bahasa roh sebagai karunia. Berkata-kata dalam bahasa roh juga dinyatakan sebagai karunia Roh Kudus bagi orang percaya (1Kor. 12:4-10). Karunia ini mempunyai dua tujuan utama:

(a) Bahasa roh disertai penafsiran dipakai dalam kebaktian umum untuk menyampaikan isi ucapan itu kepada jemaat supaya semua dapat ikut serta dalam penyembahan, pemujaan atau nubuat yang dipimpin Roh (1Kor. 14:5-6; 13-17).

(b) Berbicara dengan bahasa Roh dipakai oleh orang percaya untuk berbicara kepada Allah dalam ibadah pribadi dan demikian meningkatkan kehidupan rohaninya (1Kor. 14:4).
Selanjutnya Donald C. Stamps juga memberikan tanggapan terhadap bahasa roh palsu, sebagai berikut:
(1) Untuk menjadi sah, bahasa roh harus “seperti yang diberikan oleh Roh” (Kis. 2:4). Untuk mengikuti norma kitab Kisah Para Rasul, berbicara dengan bahasa roh harus menjadi akibat spontan dari pemenuhan pertama Roh Kudus. Pengalaman ini bukan sesuatu yang dipelajari, bahkan tidak dapat diajarkan dengan menginstruksikan orang percaya untuk mengucapkan bunyi-bunyi yang tidak karuan.
(2) Roh Kudus dengan tegas mengingatkan bahwa pada hari-hari terakhir akan ada kemunafikan dalam gereja (1Tim. 4:1-2), tanda dan mujizat dari kuasa-kuasa Iblis (Mat. 7:22-23; bd 2Tes. 2:9) serta pekerja-pekerja penipu yang menyamar sebagai hamba-hamba Allah (2Kor. 11:13-15). Kita harus memperhatikan peringatan-peringatan ini tentang berbagai penyataan dan tanda rohani tiruan ini (Mat. 7:22-23; 2Tes. 2:8-10).
(3) Agar dapat menilai apakah bahasa roh kita sejati, yaitu sungguh-sungguh dari Roh Kudus, kita harus menemukan apa yang diajarkan Alkitab sebagai hasil dari baptisan dalam Roh. Apabila seseorang yang mengatakan bahwa ia berbicara dalam bahasa roh tetapi tidak mengabdikan diri kepada Yesus Kristus dan kekuasaan Alkitab, dan tidak berusaha mentaati Firman Allah, maka penyataan orang itu tidaklah dari Roh Kudus (1Yoh. 3:6-10; 4:1-3; bd. Mat. 24:11, 24; Yoh. 8:31).
Dengan demikian setiap orang dapat menguji dirinya sendiri, apakah bahasa roh yang diucapkan benar atau palsu, namun tindakan yang terlalu cepat menghakimi juga tidaklah terpuji. Orang yang berbahasa roh dengan benar tidak boleh dilarang, namun orang yang tidak memiliki karunia bahasa roh juga tidak dapat dipaksakan untuk mengucapkannya.
Tujuan bahasa lidah yang ditafsirkan ada dua: untuk menyampaikan kebenaran dari Allah, dan untuk membuktikan kebenaran berita Kristen, terutama sekali kepada orang-orang Yahudi (1Kor. 14:5, 21-22). Karena jemaat Korintus sedang menyalahgunakan karunia tersebut, maka Paulus menetapkan peraturan-peraturan yang keras untuk penggunaannya: hanya dua atau tiga orang saja yang harus berbicara dalam setiap perhimpunan jemaat; tak seorang pun boleh berbicara dalam bahasa lidah , kecuali jika pesan yang disampaikan itu dapat ditafsirkan; nubuat selalu lebih disenangi; dan kaum wanita harus tetap berdiam diri (ay. 27-34).
Bahasa lidah yang tidak ditafsirkan, khususnya suatu bahasa untuk doa pribadi, tidak berfaedah (ay. 14) semata-mata karena orang yang sedang berdoa pun juga tidak mengetahui apa yang sedang dia minta. Oleh karena itu, lebih baik berdoa dengan pengertian yang berarti menggunakan suatu bahasa yang bisa dimengerti manusia. Aliran Pantekosta menyatakan bahwa bahasa lidah merupakan tanda yang diperlukan untuk orang percaya yang telah dibaptis dengan Roh Kudus adalah keliru. Paulus mengatakan bahwa semua orang percaya di Korintus telah dibaptis (1Kor. 12:13), tetapi tidak semua orang berbicara dalam bahasa lidah (ay. 30)???

E. Penginjil (Ef. 4:11)
Kemampuan ini digunakan untuk mengabarkan berita Injil dengan kejelasan yang luar biasa, hal ini juga mencakup pengertian bahwa pelayanan seorang penginjil adalah berpindah-pindah tempat. Penginjilan bisa juga dilakukan di depan umum atau secara pribadi. Tak peduli apakah seseorang mempunyai karunia untuk memberitakan Injil atau tidak, semua orang percaya harus menjadi saksi-saksi Kristus.
Pemberita Injil (Yn: euvaggelisth,j euanggelistes) artinya preacher of the gospel, evangelist. Penginjil dalam PB adalah seorang yang dipanggil oleh Tuhan untuk memberitakan Injil (kabar baik) tentang kematian Kristus karena dosa manusia dan kebangkitanNya untuk kepastian memperoleh hidup kekal/ sorga.
F. Gembala (Ef. 4:11)
Ini kemampuan untuk menggembalakan, mengurus, memelihara, dan melindungi umat Allah. Dalam ayat 11 mengajar dihubungkan dengan menggembalakan, dan dalam Kis. 20:28 mengatur dihubungkan dengan menggembalakan. Gembala (Yn: poimh,n poimen) artinya shepherd. Gembala dalam PB adalah seorang diurapi Allah untuk memelihara jemaat, memenuhi kebutuhan dalam pertumbuhan iman, dengan cara memberi makan firman Tuhan dan melindungi jemaat dari ancaman penyesatan. Contoh: Petrus adalah rasul dan gembala. “Kata Yesus kepadanya: ‘Gembalakanlah domba-domba-Ku.’” (Yoh. 21:15)

G. Melayani (Rm. 12:7; 1Kor. 12:28; Ef. 4:12)
Hal ini merupakan kemampuan untuk menolong atau melayani dalam arti kata yang paling luas.
H. Mengajar (Rm. 12:7; 1Kor. 12:28; Ef. 4:11)
Hal ini merupakan kemampuan untuk menjelaskan kebenaran Allah kepada jemaat. Pengajar (Yn: dida,skaloj didaskalos) artinya teacher. Pengajar dalam PB adalah seorang yang diurapi oleh Tuhan untuk mengajar jemaat tentang kebenaran firman Tuhan, sehingga jemaat bertumbuh dan menjadi dewasa dalam iman. Struktur kata dalam kalimat Yunani, secara tata bahasa dengan penggunaan satu kata sandang untuk dua kata benda, menunjukkan bahwa yang disebut “gembala” adalah “pengajar” itu juga.

I. Iman
Paul Yonggi Cho memberi pernyataan bahwa iman yang diberikan sebagai karunia itu sendiri adalah pekerjaan langsung dan dekat dari Roh Kudus, dan itu berarti bahwa iman ilahi disimpan dalam hati orang percaya. Iman merupakan kemampuan untuk mempercayai bahwa Allah dapat menyediakan kebutuhan-kebutuhan yang khusus. Setiap orang percaya harus hidup dengan iman dan masing-masing mempunyai ukuran iman yang tidak sama, namun tidak semua orang percaya memiliki karunia iman.

J. Menasehati
Hal ini meliputi kemampuan untuk membesarkan hati, menghibur, dan menegur jemaat.
K. Membedakan Roh
Cho memberikan penjelasan tentang karunia membedakan roh:
Karunia ini bertugas tepat seperti namanya: karunia yang sanggup membedakan roh. Sederhananya ialah, di jagat raya ini ada roh-roh kepunyaan Allah dan roh-roh kepunyaan iblis; manusia yang dibedakan dari Roh Kudus atau roh setan. Kita membedakan roh oleh manifestasi Roh Kudus, dengan menilai apakah roh itu berasal dari Allah ataukah seseorang berbicara dengan roh manusia atau roh setan.
Kemampuan untuk membedakan antara sumber-sumber penyataan supranatural yang benar atau yang palsu ketika karunia tersebut diberikan secara lisan sebelum peraturan-peraturan itu dilengkapi sangatlah dibutuhkan.
L. Menunjukkan Kemurahan (Rm. 12:8)
Seperti karunia untuk melayani, karunia ini mencakup pemberian pertolongan secara khusus kepada orang-orang yang sedang sakit dan menderita.

M. Memberi
Tampaknya hal ini merupakan kemampuan untuk menjadi orang yang sangat bemurah hati atau dermawan dengan segala harta/ kekayaan yang dimiliki orang tersebut. Karunia ini harus digunakan dengan kesederhanaan, maksudnya ialah tanpa memikirkan untuk memperoleh kembalinya atau keuntungan bagi diri sendiri.

N. Memimpin (Rm. 12:8; 1Kor. 12:28)
Hal ini merupakan kemampuan untuk mengatur/memerintah dalam jemaat.
O. Hikmat dan Pengetahuan (1Kor. 12:8)
Seperti karunia-karunia lainnya yang terdapat dalam jemaat mula-mula, karunia-karunia ini meliputi kemampuan untuk memahami dan menyampaikan kebenaran Allah kepada umatNya. Daftar di atas berjumlah delapan belas karunia yang berbeda-beda (walaupun saya telah menghubungkan beberapa macam karunia secara bersama-sama). Apakah hal tersebut merupakan seluruh karunia yang diberikan Allah? Tak ada satu ayat pun yang menyatakan bahwa ada karunia-karunia rohani yang lain, dan semua karunia rohani yang terdaftar tampaknya memang sudah cukup bagi pembangunan tubuh Kristus. Karunia-karunia tersebut diberikan oleh Roh Kudus bertujuan untuk melengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan dan pembangunan tubuh Kristus (Ef. 4:12).

BAB IV
PENUTUP

Setelah memperhatikan kajian di atas perihal KARYA ROH KUDUS SEHUBUNGAN KESELAMATAN ORANG PERCAYA DAN KARUNIA-KARUNIA YANG DIBERI-NYA, maka dapat diberi kesimpulan bahwa adalah benar Roh Kudus bekerja untuk membuat setiap orang percaya menerimaNya. Istilah Perjanjian Baru yang digunakan sehubungan karya Roh Kudus untuk keselamatan orang percaya meliputi lima, yakni meyakinkan (convicting), melahirkan kembali (regenerating), memeteraikan (zealing), membaptiskan (baptizing), dan mendiami (indwelling). Sedangkan untuk proses penyucian selanjutnya dipakai istilah memenuhi (filling). Pekerjaan Roh Kudus untuk meyakinkan (convicting), melahirkan kembali (regenerating), memeteraikan (zealing), membaptiskan (baptizing) oleh komunitas Injili dipahami terjadi secara bersamaan sekalipun memiliki fungsi yang berbeda-beda. Khusus untuk komunitas Pentakosta/ kharismatik istilah membaptiskan (baptizing) terjadi setelah seseorang menerima Yesus secara pribadi. Dibaptis oleh Roh Kudus dipahami sebagai peristiwa luar biasa yang dapat mengakibatkan seseorang menjadi semakin mengasihi Tuhan dan efektif dalam pelayanan. Dibaptis oleh Roh Kudus ditandai dengan bahasa lidah (roh).
Karya Roh Kudus sehubungan dengan karunia-karunia yang diberi-Nya dalam pemahaman komunitas Injili tidak ada karunia yang menghasilkan wahyu baru “Open Book.” Karunia seperti: rasul, nabi, mujizat, bahasa lidah dan penafsiran bahasa lidah, penginjil, gembala, melayani, mengajar, iman, menasihati, membedakan roh, menunjukkan kemurahan, memberi, memimpin, hikmat dan pengetahuan bertujuan untuk membangun tubuh Kristus. Secara khusus komunitas Pentakosta/ kharismatik mengakui adanya karunia “mimpi,” “penglihatan,” “nubuatan,” dan “bahasa roh” sebagai kuasa supranatural untuk mendewasakan kehidupan rohani jemaat. Hal ini tidak perlu diperdebatkan karena hal tersebut dipahami sebagai ephignosis (pengetahuan di atas segala pengetahuan) yang diperoleh sebagai akibat keintiman dengan Tuhan. Namun baik komunitas Injili maupun Pentakosta/ kharismatik mengakui dan menerima bahwa apapun karunia roh dan baptisan Roh Kudus tidak menghasilkan wahyu baru (Open Book).
Saran dari penulis baik untuk komunitas Injili maupun Pentakosta/ kharismatik adalah berusaha untuk selalu hidup dipenuhi Roh Kudus yang terlihat melalui hidup yang mentaati firman Tuhan dan manifestasi dari pekerjaan Roh Kudus akan memberikan terobosan dalam pelayanan bagi kemuliaanNya.

http://kharismatik-indonesia.blogspot.com/

============

 

Pelayanan Modern dan Pelayanan Batiniah

Didalam tulisan ini, kita akan membandingkan pelayanan modern dan pelayanan batiniah. Yang dimaksud dengan pelayanan modern adalah suatu pelayanan yang telah dipengaruhi oleh modernisasi, sedangkan pelayanan batiniah adalah suatu pelayanan yang diuraikan dalam PB, terutama dalam surat II Korintus.

Modernisasi itu sendiri adalah suatu proses menuju tatanan masyarakat yang modern, yaitu suatu sistem sosial dan pemahaman moral yang secara bertahap bergerak kearah yang berlawanan dengan nilai-nilai yang berbau tradisional.

Modernisasi bukan hanya kemajuan ilmu dan teknologi yang membuat hidup menjadi lebih mudah, tetapi dibalik semua perkembangan itu terdapat paham-paham seperti

–  humanisme ( berfokus kepada manusia, bukan Tuhan ),

–  sekularisme ( doktrin yang menegaskan bahwa pendidikan dan moralitas tidak harus didasarkan atas nilai-nilai rohani ),

–  materialisme ( kecenderungan untuk menganggap hal-hal materi seperti kesehatan, kekayaan, kenikmatan tubuh dst, lebih berharga dari pada hal-hal rohani ).

Tetapi, masyarakat modern bukan berarti tidak memiliki semacam spiritualitas tertentu. Karena New Age Movement dapat dipandang sebagai penggambaran dari “agama” dan moralitas masyarakat modern.

Selain pengaruh yg diberikan oleh paham-paham seperti humanisme, sekularisme, materialisme, ajaran-ajaran New Age, maka pelayanan modern juga telah dipengaruhi oleh nilai-nilai seperti:

–  efisiensi,

–  calculability ( dapat dihitung ),

–  predictability ( dapat diperkirakan ),

–  dan juga control, yang memang merupakan nilai-nilai yang berlaku didalam masyarakat modern.

Orang Kristen yang telah dipengaruhi oleh modernisasi hampir tidak dapat berbicara tentang gereja, tanpa melibatkan angka-angka (jumlah jemaat), target, management dsb.

Sebagai akibatnya, sukses atau tidaknya suatu pelayanan modern akan ditentukan oleh angka2 (jumlah jemaat), banyaknya fasilitas, uang, pendeknya segala sesuatu yang dapat diukur. Diharapkan, kita akan lebih dapat memahami pelayanan modern sementara kita menguraikan apa itu pelayanan batiniah.

Seperti yang telah disebutkan diatas, maka kita akan memahami pelayanan batiniah terutama melalui surat Paulus yang kedua kepada jemaat di Korintus. Disepanjang surat ini, Paulus menjelaskan tentang dirinya dan pelayanannya. Paulus melakukan hal ini, karena jemaat di Korintus telah dipengaruhi oleh beberapa guru palsu yang bukan saja memberitakan injil yg lain seperti yg diberitakan Paulus, namun juga menghasut jemaat Korintus untuk mengkritik Paulus serta meragukan otoritas kerasulannya.

Paulus menggunakan beberapa istilah untuk menjelaskan pelayanannya, yang diterimanya berdasarkan kemurahan Allah ( 3:6-9 ). Kita akan melihat beberapa diantaranya.

 

1.  Pertama, pelayanan perjanjian baru.

Paulus menjelaskan perbedaan perjanjian lama dengan perjanjian baru. Ditegaskan bahwa perjanjian baru tidak terdiri dari hukum yang tertulis, tetapi dari Roh. Hukum yang tertulis itu mematikan, tetapi Roh memberi hidup.

Pelayanan perjanjian baru ini adalah pelayanan batiniah, karena pelayanan ini tidak terfokus pada hal-hal lahiriah dan luaran. Pelayanan ini terfokus kepada bagaimana batin seseorang diperbaharui hari lepas hari melalui pekerjaan Roh yang memberi hidup. Berbeda dengan pelayanan modern yang terfokus kepada sukses yang dapat diukur, dan yang dapat terlihat dengan mata jasmani, pelayanan batiniah tidaklah mudah diukur. Siapa yang dapat mengukur berapa banyak hidup Kristus dalam batin seseorang ? Hanya Tuhan yang tahu berapa banyak dan dalam pekerjaanNya didalam batin si A atau si B.

2.  Kedua, Paulus menggunakan istilah pelayanan Roh ( 3:8 ).

Pelayanan Roh ini dibandingkan dengan pelayanan perjanjian lama yang memimpin kepada kematian. Pelayanan yang memimpin kepada kematian ini disertai kemuliaan Tuhan, yang tercermin pada wajah pelayannya, yaitu Musa, sedemikian sehingga Umat Israel tidak tahan menatapnya. Paulus menegaskan bahwa jika pelayanan yang memimpin kepada kematian ini disertai kemuliaan Tuhan yang sedemikian, apalagi kemuliaan Tuhan yang menyertai pelayanan Roh. Jadi, pelayanan Roh adalah suatu pelayanan yang disertai kemuliaan Tuhan, yang jauh melampaui kemuliaan pelayanan Musa.

Tetapi kemuliaan Tuhan yang menyertai pelayanan Roh, tidaklah tercermin di wajah Paulus dalam arti sedemikian sehingga jemaat Korintus tidak tahan menatap wajah Paulus. Mengapa kemuliaan Tuhan tercermin di wajah Musa sehingga umat Israel tidak tahan menatap wajah Musa? Ini disebabkan pelayanan Roh adalah pelayanan batiniah, sedangkan pelayanan Musa adalah pelayanan lahiriah. Kemuliaan Tuhan yang menyertai pelayanan Roh terdapat didalam batin pelayannya. Tentu ada orang2 yang dapat melihat kemuliaan Tuhan yang terpancar di batin Paulus. Tetapi mereka yang melihatnya, tentulah mereka yang juga mempunyai kemuliaan Tuhan di batin mereka.

Jadi, kemuliaan Tuhan yang menyertai pelayanan batiniah tidaklah mudah terlihat mata jasmani. Hal ini berbeda dengan pelayanan modern yang kemuliaannya mudah terlihat oleh mata jasmani. Bukankah mudah melihat berapa jumlah jemaat seseorang, dan gedung apa yang digunakannya untuk kebaktian? Apakah jemaatnya terdiri dari orang yang sederhana atau tidak, dan seterusnya. Demikianlah kita melihat perbedaan antara pelayanan modern dan pelayanan batiniah.

3.  Paulus membuktikan pelayanannya dengan menunjukkan penderitaan yang dia alami

Sebagai penutup, ada baiknya kita melihat bagaimana Paulus membela dirinya ketika orang meragukan apakah ia pelayan Kristus atau tidak. Ketika membela dirinya, Paulus tidak membuktikan bagaimana Tuhan memberkatinya sehingga ia tidak terlihat sebagai orang yang memiliki banyak masalah dan penderitaan. Malahan sebaliknya, ketika ia membuktikan bahwa ia pelayan Kristus, ia mengungkapkan bagaimana persoalan dan penderitaan yang dialaminya ( 11:23-28 ).

Paulus mengatakan bahwa ia banyak berjerih lelah, sering didalam penjara, sering dalam bahaya maut, lima kali disesah orang Yahudi, tiga kali didera, dilempari batu dan seterusnya.

Pelayanan batiniah memang terfokus kepada perkara2 didalam batin.

Pelayanan batiniah memang tidak memperhatikan yang kelihatan melainkan hal yang tidak kelihatan ( 4:18 ).

Pelayanan batiniah bermegah dalam hal2 batiniah, dan bukan hal2 lahiriah ( 5:12 ).

Pelayanan batiniah bermegah didalam Tuhan ( 10:17 ). Amin.

http://webcache.googleusercontent.com/

============

ELAYANAN ROH YANG MEMIMPIN KEPADA PEMBENARAN

Bacaan Alkitab : 2 Korintus 3:7-9Pengantar

Kalau mendengar kata roh, kebanyakan orang langsung menghubungkannya dengan fenomena mistik atau kuasa supranatural. Dalam hal ini saya tertarik untuk menggali dan mengobservasi, serta menganalisis apa itu yang disebut Pelayanan Roh yang dimaksud oleh Rasul Paulus yang terdapat dalam teks 2 Korintus 3:8.

Pertanyaan Pembimbing

Untuk mengerti makna kata Pelayanan Roh dalam teks 2 Korintus 3:8, maka dimunculkan pertanyaan yang mendasari gagasan pemilihan kata (Pelayanan Roh) yang dibahas. Pertanyaan-pertanyaan pembimbing sebagai berikut:
1. Bagaimanakah latar belakang pelayanan yang dilakukan Paulus?
2. Apakah maknanya Pelayanan Roh itu dan apa hubungannya dengan fenomena supranatural?
3. Apakah dampak dari Pelayanan Roh itu?

Kemungkinan jawaban

Menurut Hilyerr mengatakan bahwa Pelayanan Roh merupakan pelayanan yang dilakukan oleh pelayan-pelayan dari suatu perjanjian yang baru yang dikerjakan oleh Allah sendiri, yakni pekerjaan Roh Kudus yang telah diberikan dan berdiam di dalam hati orang yang percaya kepada Tuhan Yesus. Karunia Roh Kudus tersebut merupakan jaminan bahwa Ia telah memateraikan orang-orang percaya sebagai tanda milik-Nya. (Hillyer, Norman. dalam Tafsiran Alkitab Masa Kini Jilid 3: Matius-Wahyu (Jakarta: OMF, 1986) hal 543-544).
Dengan jalan percaya kepada Yesus yang telah mati dan bangkit dari antara orang mati, Allah memberikan secara cuma-cuma dengan memperkenankan manusia berkedudukan benar “dibenarkan” di hadapan Allah. Pembenaran Allah tidak dapat dicapai dengan usaha manusia, melainkan hanya dengan jalan percaya pada Yesus.
Pelayanan Roh merupakan pelayanan yang memimpin kepada pembenaran, maksudnya adalah bahwa buah dari pelayanan Paulus oleh pemberitaan Injil Kristus yang dikerjakan oleh Allah sendiri. Melalui pelayanan Paulus orang menjadi percaya kepada Kristus. Orang-orang yang menjadi percaya kepada Yesus Kristus merupakan orang-orang yang diperdamaikan dengan Allah, sehingga orang yang sudah percaya dilayakkan dan dibenarkan di hadapan Allah.

Latar belakang: Pelayanan yang dikerjakan Paulus sebagai pelayanan Perjanjian Baru

Untuk memahami apa itu Pelayanan Roh yang dimaksud oleh Paulus, maka perlu menyimak dan memperhatikan pelayanan yang sudah dan sedang dikerjakan oleh Paulus.
Pelayanan yang dikerjakan Paulus merupakan kesaksian hidup Paulus sendiri yang didasarkan atas kekuatan kasih karunia Allah (2 Korintus 1:12), dan atas keyakinannya pada Kristus (2 Korintus 3:4). Yang menjadi kesanggupan Paulus merupakan pekerjaan Allah semata-mata, yakni menjadi pelayan-pelayan dari suatu Perjanjian Baru (2 Korintus 3:5,6) dan Paulus menyebut dirinya sebagai pelayan Allah (2 Korintus 6:4).
Pelayanan Paulus merupakan pemberitaan tentang Yesus Kristus, Anak Allah di tengah-tengah orang-orang Korintus, supaya melalui pemberitaannya itu orang Korintus menjadi percaya pada Kristus dan memperoleh jaminan sebagai milik kepunyaan Allah melalui karunia Roh Kudus (2 Korintus 1: 19-22), “semakin banyaknya orang yang menjadi percaya” (2 Korintus 6:3,4).
Pekerjaan Pelayanan Paulus dalam memberitakan Injil di Troas (2 Korintus 2:12), dimana pekerjaan pelayanannya “pelayan Allah” sebagai gambaran penundukan diri pada Allah yang dikuasai oleh kasih Kristus (2 Korintus 5:13,14). Kemudian Paulus menyebut pelayanan pemberitaan Injil Kristus dengan sebutan pelayanan pendamaiaan.
Pelayanan pendamaian dipandang sebagai tugas yang harus dikerjakan oleh Paulus untuk memberitakan berita pendamaian di dalam Kristus. Kristus yang telah mati untuk semua orang, untuk mendamaikan manusia berdosa dengan Allah (2 Korintus 5:15-19). Hal ini menunjukkan bahwa pelayanan yang dilakukan oleh Paulus adalah sebagai pelayan Allah (2 Korintus 6:3,4).
Pemberitaan Injil Kristus disejajarkan dengan pemberitaan kebenaran dan kedaulatan Allah. Kristus yang diberitakan oleh Paulus merupakan sebagai kebenaran yang hakiki dari Allah (2 Korintus 6:7). Pelayanan yang menyatakan kebenaran sebagaimana dalam pemberitaan Injil yang dilakukan oleh Paulus adalah bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Kemuliaan Kristus merupakan gambaran Allah yang sejati, yakni kemulian Allah yang nampak pada wajah Kristus (2 Korintus 4:1-6).

Studi Kata: Pelayanan Roh

Menurut Susanto kata pelayanan (Yun: diakonia) muncul dalam Perjanjian baru sebanyak 34 kali dan dalam surat 2 Korintus sebanyak 12 kali. (Sutanto, Hasan. PBIK Jilid II. (Jakarta: LAI, 2003) hal 196-197). Sementara dalam Alkitab Terjemahan Baru (LAI) muncul sebanyak 16 kali (2 Korintus 3:3,7,8,9; 4:1; 5:13,18; 6:3; 8:4,6,7,19,20; 9:1,12,13).
Kata pelayanan memiliki arti persiapan hidangan, pemberian bantuan, sumbangan, tugas atau jabatan pelayanan, jabatan diaken (Sutanto, 2003:196). Sedangkan makna kata pelayanan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah n 1 perihal atau cara melayani; 2 usaha melayani kebutuhan orang lain dengan memperoleh; jasa; 3 kemudahan yang diberikan sehubungan dengan jual beli barang atau jasa (KBBI, 2002:646).
Pelayanan Roh (2 Korintus 3:8) dalam terjemahan NIV Study Bible adalah the ministry of the spirit.( Zondervan NIV Study Bible: Fully Revised. (Grand rapids, Michigan: Zondervan, 2002) hal 1807). The ministry of the spirit merupakan pemberian hidup dari kematian. Pernyataan dan penggenapan janji Allah kepada bangsa Israel dan gereja di mana kebajikan dan kebenaran Allah dinyatakan dalam Kristus Yesus. Pernyataan Allah antara Hukum Taurat dan anugerah. Pernyataan janji Allah kepada bangsa Israel adalah janji keselamatan dan kelepasan “pembebasan”, serta memandang umat Israel itu agung di hadapan-Nya “berharga” (bdk. Yesaya 46:13). Pernyataan janji Allah dalam Yesaya 46:13 itu bermakna ganda: Pertama, keselamatan dan kelepasan bangsa Israel dari penjajahan bangsa yang tidak mengenal Allah. Kedua, keselamatan dan kelepasan dari perbudakan dosa (Hukum Taurat) di dalam Kristus Yesus (anugerah). Janji Allah itu digenapi oleh kematian Kristus di kayu salib.
Dalam The New Testament of The Jerusalem Bible: Reider’s Edition pelayanan Roh (TB) diterjemahkan dengan the administering of the Spirit yang berarti perihal atau cara melayani yang diatur dan dikendalikan Roh. Dalam Resined Standard Version: the dispensation of the Spirit: dispensasi Roh merupakan cara yang diijinkan dan dikehendaki oleh Roh. Dalam Authorised Version: the ministration of the spirit: pekerjaan dengan bantuan (campur tangan atau intervensi) roh.( 2Co 3:8).
Susanto dalam PBIK Jilid I ditulis dengan  untuk Pelayanan Roh, yang dalam hal ini memiliki arti sikap dalam menjalankan tugas pelayanan atau bisa juga sebagai pekerjaan yang dilakukan oleh Paulus dalam pemberitaan injil Kristus.

Kesimpulan dari berbagai sumber di atas, Pelayanan Roh merupakan perihal yang berhubungan dengan cara melayani dan persiapannya serta sikap dalam menjalankan tugas pelayanan (pekerjaan atau aktifitas) dengan berbagai kemudahan (tanpa ada imbal jasa) (bdk. 2 Korintus 1:12) . Pelayanan yang bertujuan guna membawa orang pada keselamatan (hidup) di mana pelayanan Roh merupakan ketetapan dan pekerjaan Allah. Suatu pelayanan yang dikehendaki, diijinkan, diatur dan dikontrol, dan dengan bantuan intervensi dari Roh Allah.
Pelayanan Roh merupakan pelayanan perjanjian yang baru merupakan pelayanan yang digerakkan oleh Roh Kudus, karena Roh Kuduslah yang memberikan kehidupan dan kuasa kepada mereka yang menerima perjanjian Allah (2 Korintus 3:1-6).
Jadi, dalam hal ini Pelayanan Roh tidak ada hubungannya dengan fenomena mistik atau supranatural, melainkan suatu tugas pelayanan yang dikerjakan oleh Paulus dalam pemberitaan Injil Kristus.

Makna: Pelayanan Roh merupakan pelayanan yang memimpin pada pembenaran

Pelayanan yang memimpin kepada kematian terukir dengan huruf pada loh-loh batu. Namun demikian kemulian Allah menyertainya waktu ia diberikan. Sebab sekalipun pudar juga, cahaya muka Musa begitu cemerlang, sehingga mata orang-orang Israel tidak tahan menatapnya. Jika pelayanan itu datang dengan kemuliaan yang demikian, betapa lebih besarnya lagi kemuliaan yang menyertai pelayanan Roh! Sebab, jika pelayanan yang memimpin kepada penghukuman itu mulia, betapa lebih mulianya lagi pelayanan yang memimpin kepada pembenaran. (2 Korintus 3:7-9)

Kata pembenaran (2 Korintus 3:9) dalam PBIK jilid I dan II (Sutanto, Hasan. PBIK jilid I dan II (Jakarta: LAI, 2003) hal 964 dan 204) ditulis dengan kata  yang mempunyai makna pembenaran dari Allah, yang berasal dari kata muncul dalam Perjanjian Baru sebanyak 92 kali (Sutanto, 2003:204). artinya adalah sebagai perbuatan benar; keadilan; kewajiban agama; status atau identitas hubungan yang benar; perbuatan benar sebagai ketentuan Allah atau bisa diartikan pendermaan, yakni pemberian yang diberikan kepada orang yang tidak layak menerimanya.
Pembenaran merupakan suatu status yang diberikan, bukan dari hasil usaha sendiri. Pembenaran yang berasal dari Allah yang dikerjakan oleh Allah melalui karya Kristus di kayu salib, “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa karena kita, supaya di dalam dia kita dibenarkan oleh Allah” (2 Korintus 5:21). Pembenaran adalah pemberian cuma-cuma oleh tindakan kekuatan kasih karunia Allah semata, “supaya kamu boleh menerima kasih karunia” (2 korintus 1:15).
Manusia yang menerima pembenaran dari Allah di dalam Kristus telah dilayakkan untuk menghampiri Allah, karena padanya telah dikenakan status yang baru “ciptaan baru” oleh karena Kristus (2 Korintus 5:17). Inilah peralihan dan perubahan status dari hidup yang lama “dalam dosa” ke dalam hidup yang baru “manusia baru” dalam ketaatan pada Kristus (bdk. Yohanes 5:24). Pembenaran Allah mutlak diperlukan manusia, karena jika manusia terlepas dari Yesus, maka semua orang dengan keberdosaannya tidak ada kemungkinan untuk taat kepada Allah (1 Kor 2:14).

Dampak dari Pelayanan Roh: Penyingkapan selubung

Orang-orang Perjanjian Lama menerima Taurat untuk mencapai standar moral dan memperbaiki kelakuan supaya manusia berkelakuan baik. Manusia berusaha untuk berbuat baik untuk dapat menghampiri Allah, namun manusia tidak ada daya untuk itu. Manusia tidak mengerti kehendak Allah (di dalam Kristus) melalui Hukum Taurat, bagi mereka maknanya masih rahasia “terselubung” (2 Korintus 3;15. mereka masih dalam kebodohan, “pikiran mereka telah menjadi tumpul” (2 Kor 3:13; bd. 1 Kor 2:14).
Kristus sebagai kegenapan Hukum Taurat dan satu-satunya cara yang dikehendaki Allah tidak mereka terima. Mereka berusaha dengan kebenarannya sendiri (melakukan Hukum Taurat untuk menghampiri Allah). Mereka menolak jalan dan cara yang diberikan Allah dalam dan melalui Yesus.
Paulus menegaskan bahwa untuk mengerti kebenaran Kitab Suci itu hanya dapat disingkapkan oleh Kristus saja (2 Kor 3:14-17). Kristus adalah penggenap Hukum Taurat. Jika orang berbalik pada Allah dalam arti percaya pada Yesus yang telah mati untuk mendamaikan manusia dengan Allah, maka ia akan mengerti kebenaran Kitab Suci, karena ia telah dimerdekakan oleh Roh Allah. Yesus telah menyingkapkan dan mengambil selubung itu.
Orang yang percaya pada Yesus dapat mengerti kebenaran Kitab Suci, bahwa Allah mendamaikan diri-Nya dengan manusia melalui Kristus. “Dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan” (2 Kor 3;17). “Kemerdekaan yang datang melalui Kristus pertama-tama dan terutama merupakan pembebasan dari hukuman dan perbudakan dosa” (2 Kor 3:7-9).

Kesimpulan

Pelayanan Roh (2 Korintus 3:8) merupakan palayanan yang memimpin kepada pembenaran dalam konteks 2 Korintus 3:8-9, yakni: merujuk pada pelayanan Paulus dalam memberitakan Injil Kristus. Pelayanan Roh merupakan suatu sikap dan prilaku dalam melakukan tugas pemberitaan injil Kristus. Dalam hal ini, Paulus menyebutnya dengan pelayanan dari perjanjian yang baru (Pelayanan Roh) oleh dan dalam gereja.
Pelayanan Roh berdampak pada transisi status, dari manusia lama kepada manusia baru atau ciptaan baru di dalam Kristus, yakni penyingkapan selubung. Melalui iman kepada Yesus Kristus seseorang menerima karunia Roh Kudus sebagai tanda ia mengalami kelahiran kembali dan sebagai milik Allah. Pelayanan Roh merupakan pelayanan yang membawa seseorang pada pertobatan, pertobatan yang membawa keselamatan (bdk. 2 Korintus 7:8-10).. Penerimaan dan percaya akan karya keselamatan yang sudah dikerjakan Kristus di kayu salib, sehingga orang tersebut memperoleh pembenaran di hadapan Allah melalui Kristus (2 Korintus 1:19-22).
Pelayanan Roh membawa orang pada kemerdekaan dari perbudakan dosa, di mana orang yang sudah dimerdekakan memperoleh penyingkapan atas kebenaran firman Allah oleh kuasa Roh Kudus (2 Korintus 3:14-17). Menerima cara Allah dalam mendamaikan manusia dengan Dia di dalam Kristus (2 Korintus 5:15-18).

Pelayanan Roh merupakan pelayanan pendamaian (2 korintus 5:18), yakni tugas pelayanan yang dipercayakan Allah kepada setiap orang percaya untuk memberitakan berita pendamaian antara Allah dengan manusia “dunia” melalui kematian Kristus di kayu salib dan yang bangkit dari antara orang mati. Pelayanan pendamaian adalah pelayanan suatu perjanjian yang baru “gereja” yang bersifat kekal di mana Allah sendiri yang mengerjakannya untuk membawa pada pembenaran-Nya.
Pelayanan roh merupakan karya Roh Kudus yang memungkinkan orang menjadi kudus, suci dan membawa kepada seluruh kebenaran Allah yang bekerja dalam gereja sebagai tubuh Kristus (1 Korintus 6:19; 2:9-16; 12:13; 3:16).Jadi, pelayanan yang dilakukan oleh rasul Paulus dan kita jaman ini adalah pelayanan Perjanjian Baru; pelayanan yang membawa seseorang kepada pembenaran Allah di dalam Kristus Yesus.

Kepemimpinan Kristen merupakan kepemimpinan yang berorientasi kepada jiwa-jiwa; membawa orang untuk memperoleh keselamatan dan mengembangkan hidupnya untuk mencapai potensi yang maksimal dan membawa pengaruh terhadap lingkungan sekitarnya.
http://bungursolution.blogspot.com/
==================

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Artikel

Bagaimana Menerima Pimpinan Roh Kudus

Penulis : Rev. Paul Y Chun

Bagaimana kita memelihara pimpinan Roh Kudus? Supaya bisa dipimpin oleh Roh Kudus kita harus menyerahkan apa saja yang menghalangi pimpinan Roh Kudus, juga harus membayar harga untuk hal itu dan mau mengambil keputusan untuk berkorban. Orang yang tidak dipimpin oleh Roh Kudus akan melakukan sesuatu dengan hawa nafsu.

Walaupun sesuatu hal yang hendak dilakukan itu penting sekali, tetapi jika Roh Kudus tidak memimpin, hal itu harus diserahkan kemudian mengikuti pimpinan Roh Kudus. Jika orang seperti itu menjadi pemimpin, maka kelompok tersebut dapat mempunyai gerakan dan kehidupan yang penuh semangat. Pada awalnya, gerakan pekerjaan Tuhan tidak diwujudkan oleh seorang pemimpin yang istimewa. Jika setiap pemimpin kelompok dipimpin dan diubah oleh Roh Kudus, maka pekerjaan Tuhan digenapi. Pada saat menerima pimpinan Roh Kudus pelayanan kita dibaharui dan dipenuhi sukacita setiap hari dan mengucap syukur atas kekuatan untuk melakukan kegiatan yang baru dalam kehidupan kita. Selain itu saya berharap dan percaya bahwa pekerjaan Tuhan di dalam kita dilakukan dengan k uasa dan kekuatan yang Tuhan berikan dalam pimpinan Roh Kudus.

Bagaimanakah Pimpinan Roh Kudus Itu?

Jika demikian, bagaimana mengetahui seseorang menerima Roh Kudus atau tidak? Siapapun mempunyai masalah dalam kehidupan tetapi pada saat masalah itu datang, bagaimana cara menyelesaikannya? Melalui hal ini kita dapat mengetahui apakah seseorang benar-benar dipimpin oleh Roh Kudus atau tidak. Ada orang yang walaupun sudah pergi ke gereja tetapi ketika mendapat masalah masih tetap menyelesaikannya dengan cara, rencana, pikiran, tindakan, dan pengetahuannya sendiri dan apa saja yang dilakukannya. Orang seperti itu belum dipimpin oleh Roh Kudus yang belum sempurna, pada saat timbul masalah walaupun dia mempunyai pikiran, pengetahuan cara sendiri namun dia hanya memakai cara Tuhan. Jika terjadi masalah apakah penyelesaiannya menggunakan cara Tuhan ata u dengan cara sendiri? Cara apa yang akan Anda ikuti sekarang? Saya harap Anda akan mengikuti cara Tuhan dan menjadi orang yang dipimpin oleh Roh Kudus.

Contoh Pimpinan Roh Kudus di Dalam Alkitab

Untuk dapat mengetahui cara Tuhan. mari kita menyelidikinya dalam Alkitab. Kita bisa mendapatkan ajaran yang baik dari kitab Keluaran. Dalam pasal 33 muncul banyak peristiwa yang dialami oleh orang Israel sehingga berdosa di hadapan Tuhan. Mereka mengeluh terus-menerus kepada Musa dan Tuhan, kemudian mulai menentang Musa. Tuhan berbicara kepada Musa seperti dulu Dia berjanji kepada Israel, yaitu Tuhan akan memimpin mereka ke Kanaan yang berlimpah susu dan madu.

Berfirmanlah Tuhan kepada Musa: “Pergilah, berjalanlah dari sini, engkau dan bangsa itu yang telah Kupimpin keluar dari tanah Mesir, ke negeri yang telah Kujanjikan dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub, demikian: kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri ituAku akan mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu dan akan menghalau orang Kanaan, orang Hamori, orang Het, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebusyakni ke suatu negeri yang berlimpah susu dan madu. Sebab Aku tidak akan berjalan di tengah-tengahmu, karena engkau ini bangsa yang tegar tengkuk, supaya Aku jangan membinasakan engkau di jalan (Kel. 33:1-3)

Setelah memperoleh hal yang baik dari hasil tanah, hidup berkelimpahan dan mendapat jawaban doa dari Tuhan, mereka harus tetap berada dalam hadirat Tuhan dan Tuhan harus ada di tempat tersebut. Jika tidak seperti itu maka mereka dapat menderita walaupun mempunyai harta benda yang bisa dipakai untuk memuliakan Tuhan. Jika mereka pergi menghadap Tuhan di tanah yang sudah diberkati, maka mereka akan mempunyai banyak harta benda dan kebudayaan berkembang secara alamiah.

Tetapi kenyataannya mereka semakin menderita di dalam hatinya. Tuhan hadir di berbagai kejadian dan kita dapat menikmati hal itu, tetapi umat Israel tidak mengetahuinya. Tujuan mereka hanya ingin masuk ke tanah Kanaan tetapi Musa tetap bergantung kepada Tuhan. “Tuhan, walaupun tanah Kanaan diberkati dengan berlimpah susu dan madu, tanpa Tuhan kami tidak bisa masuk. Saya menjadi puas di dunia ini, jika Tuhan tidak hanya memimpin kami di tanah Kanaan, tetapi sepanjang hidup kami. Tuhan ampunilah dosa kami dan tetaplah bersama kami.

Musa mulai berdoa di hadapan Tuhan. Ketika Musa turun dari Gunung Sinai, Tuhan menyuruhnya meninggalkan semua perhiasan orang Israel yang mereka pakai untuk membuat anak lembu emas. Mereka membuat patung dengan perhiasan mereka, karena mereka berbeban berat dan tidak melihat pimpinan Tuhan. Oleh sebab itu mereka menyembah patung yang mereka pikir akan menyelamatkan mereka dari tanah Mesir. Jikalau mereka masih mempunyai perhiasan, maka kemungkinan masih dapat dipakai untuk membuat patung lagi. Oleh karena itu Tuhan memerintahkan membuang perhiasan itu.

Sekarang Musa bertemu dengan Tuhan, bukan di tempat kemah tetapi di luar perkemahan. Di luar perkemahan adalah tempat orang yang mempunyai dosa. Musa bertemu dengan Tuhan di luar perkemahan orang Israel, bukan di tempat kemah pertemuan. Ketika Musa bertemu dengan Tuhan di luar perkemahan, hadirat Tuhan penuh. Pada saat itu Musa berdoa di hadapan Tuhan “Tuhan, apakah Engkau memanggil saya? Orang Israel adalah umat pilihanMu. Tuhan memilih saya bukan? Maka sekarang jika kiranya saya mendapat kasih karunia di hadapan-Mu beritahukanlah kiranya jalan-Mu kepadaku, sehingga saya dan orang Israel mengenal Engkau, supaya saya tetap mendapat kasih karunia di hadapan-Mu. Tentang doa itu Tuhan menjawab, “Aku sendiri akan memimpin engkau.

Tuhan hadir dalam setiap masalah, itulah pekerjaan yang Tuhan lakukan.

Mengapa Kita Menerima Pimpinan Roh Kudus?

Kelompok doa tidak boleh menjadi kumpulan doa semata. Di dalam doa Tuhan hadir dan menjawab pokok-pokok doa dan melakukan pembaharuan. Tuhan beserta dengan Anda dan saya, hal itu dapat terlihat pada saat Tuhan memberikan kekuatan yang baru, memperbaharui iman dan memberikan kekuatan. Tuhan menyatakan kehendak-Nya melalui kita. Doa syafaat bukan tujuan kita, melainkan hadirat Tuhanlah yang menjadi tujuan utama di dalam doa syafaat. Tuhan menyertai dan setelah doa itu dijawab tempat itu juga diberkati oleh Tuhan.

Setelah menerima jawaban dan pimpinan Tuhan, pekerjaan dan pemeliharaan Tuhan akan menyertai kita selama-lamanya. Begitu pula dengan peperangan rohani, bukan kita yang berperang dalam peperangan rohani. Yang memimpin peperangan rohani adalah Yesus Kristus yang telah menang di kayu salib. Dia yang telah menghancurkan semua kuasa Setan untuk kemuliaan Bapa dan pada saat kita taat di hadapan Tuhan kita dapat maju dan memproklamirkan kemenangan dalam nama Yesus. Saya harap Anda dapat mempercayai bahwa Tuhan telah memberikan kemenangan di atas kayu salib; kebahagiaan, damai sejahtera dan sukacita.

Semua hal rohani itu dipuaskan di dalam hati, sehingga pada saat melakukan peperangan rohani, kita tidak menjadi lelah dan tertekan. Semakin kita berperang, maka semakin besar kebahagiaan dan mujizat iman yang terjadi di dalam kehidupan kita. Juga hati kita megakui pekerjaan Tuhan bahwa Dialah yang melakukan peperangan rohani itu. Tuhan sudah memberikan kemenangan melalui Yesus di kayu salib kepada kita sehingga jika kita menaati Tuhan, maka kita dapat menikmati kebahagiaan dan kagum atas kemenangan itu.

Kekalahan dalam peperangan rohani disebabkan gagal dalam kehidupan iman dan ketaatan di hadapan Tuhan. Jika tidak taat di hadapan Tuhan dan tidak mengetahui kehendak-Nya maka kita kalah dalam peperangan rohani. Oleh karena itu menerima pimpinan Roh Kudus sangatlah perlu.

Pimpinan Roh Kudus yang Paling Kuat Adalah Hadirat Tuhan.

Sekarang kita melihat bagaimana Musa menyelesaikan masalah dengan cara Tuhan. Musa membuang perhiasan dan berdoa dengan mempertaruhkan hidup di hadapan Tuhan. Dia mulai berdoa dengan memegang janji Tuhan dan berkat Tuhan supaya Tuhan memberikan hidup kepadanya. Dia mau menaati jalan Tuhan.

Isi doa Musa singkat, “Tuhan bagaimana Engkau memimpin jalanku? Aku ingin mengetahui jalan-Mu lebih dari pada rencanaku dan keinginanku. Aku juga ingin mengetahui bagaimana Tuhan menuntun bangsa Israel masuk ke tanah yang diberkati oleh karena orang Israel. Apa yang harus kami lakukan supaya Tuhan menyertai kami?

Zaman ini lebih mengejar sesuatu yang bisa dipegang tangan kita secara nyata daripada hadirat Tuhan yang menyertai kita. Ketika orang lian melihat hal seperti itu mereka kagum dan berkata: Hebat! Tetapi justru sesuatu yang sangat hebat adalah jika Tuhan menyertai kita selama-lamanya. Sesuatu yang dapat dipegang oleh tangan dapat habis. Akan tetapi Tuhan menyertai kita, Tuhan mendukung kita dan terus-menerus memimpin jalan kita dan Jehovah Jireh menyertai kita.

Pada saat kita memerlukan kesehatan akan diberi kesehatan, memerlukan harta benda akan diberi harta benda, memerlukan kebijkasanaan akan diberi kebijaksanaan, memerlukan mujizat akan diberikan mujizat. Jika ingin melihat pekerjaan-Nya, Tuhan akan melakukan pekerjaan-Nya kepada kita melalui iman. Yang paling penting adalah Tuhan menyertai kita.

Walaupun keadaan sulit jika Tuhan menyertai, maka kita sudah menang. Meskipun keadaan baik jika hadirat Tuhan tidak ada, maka pekerjaan Tuhan tidak nyata karena Tuhan tidak menyertai kita sehingga kita dapat jatuh. Apa yang dilakukan tergantung waktu-Nya. Tuhan menjawab doa Musa, “Saya akan menyertai engkau. Alangkah hebat jawaban-Nya. Itulah pimpinan Roh Kudus.

Bagaimana kehidupan Anda sehari-hari saat dipimpin oleh Roh Kudus? Berapa lama kehidupan iman Anda dipimpin oleh Roh Kudus? Kehidupan iman yang dewasa penting tetapi Alkitab berkata bahwa tidak ada kehidupan iman yang berhasil kalau hidup keagamaan kita tidak benar. Berapa lama kita berada di dalam hadirat Tuhan, itulah yang menjadi fokus Tuhan. Orang Israel yang menjadi tawanan perang menderita dan menghadapi kesulitan. Tapi cobalah berpikir, Tuhan menghitung waktu orang Israel dengan apa? Tuhan tidak menghitung kehidupan orang Israel selama di padang gurun selama 40 tahun, tetapi berapa lama Tuhan menyertai mereka.

Pengalaman kehidupan iman dihargai pada waktu berapa lama Tuhan menyertai kita. Jika kita tidak mempunyai saat-saat di mana Tuhan menyertai kita, sebenarnya kita tidak mempunyai arti dalam kehidupan ini. Begitu pula dengan kehidupan berdoa. Coba renungkan berapa lama kita berdoa dalam hadirat Tuhan. Pada saat menyebut “Tuhan dalam berdoa, jika kita benar-benar berdoa dalam hadirat Tuhan, maka akan muncul mujizat yang dahsyat.

Pimipinan Roh Kudus Melalui Pujian

Kita perlu berpikir tentang pujian. Jika kita berdoa dalam hadirat Tuhan dan mulai menerima firman Tuhan, maka pengurapan Roh Kudus akan turun. Sesuai dengan firman kita akan mengalami kehadiran Roh Kudus melalui doa dan pujian. Itulah alasannya kita menaikkan pujian. Roh Kudus hadir pada saat berdoa, dalam puji-pujian dan firman.

Secara pribadi atau kelompok cara yang paling baik untuk dapat masuk lebih dalam di dalam hadirat Roh Kudus adalah melalui pujian. Kitab Mazmur menjelaskan kepada kita tentang hadirat Tuhan di dalam pujian mereka begitu jelas terlihat. Pada saat mengajar di sekolah teologi saya pernah mengajar tentang tafsiran Perjanjian Lama melalui kitab Mazmur. Perasaan dan pengalaman yang dialami oleh Daud saat memuji, mengakui dan merasakan hadirat Tuhan sebagaimana terdapat dalam kitab puisi tersebut, juga saya alami pada saat saya mengajarkan firman dalam kitab Mazmur. Walaupun masih dalam suasana belajar, murid-murid mengalami pertobatan sambil menangis dan berseru dengan segenap hati.

Hati orang yang pernah bertemu dengan Tuhan adalah hati yang seperti itu. Hati orang yang takut akan Tuhan adalah hati yang seperti itu. Hati orang yang memuji Tuhan adalah hati yang seperti itu. Tetapi murid mulai menangis karena tidak mempunyai hati seperti itu pada dirinya sendiri. Mazmur bukan suatu puisi yang dibaca keyika hati senang

Hati orang yang berkenan kepada Tuhan maka pujian, pengakuan, dan renungan orang tersebut juga akan berkenan di hati Tuhan. Di dalam kitab Mazmur dinyatakan pengakuan, renungan, doa dan pujian yang berkenan kepada-Nya.

Kehadiran Roh Kudus Dalam Doa Syafaat

Saat dalam persekutuan doa, hendaklah kita fokus pada kehadiran Roh Kudus ditempat itu lebih dari pada orang yang hadir. Saya percaya walaupun hanya dua atau tiga orang berkumpul di persekutuan doa itu, Roh Kudus akan hadir dan mendukung mereka dan mengizinkan mereka berdoa di tempat itu, sehingga mereka dapat membuka takhta Allah.

Pada saat Anda melakukan kehidupan doa yang dikuasai dan dipimpin oleh Roh Kudus, mujizat yang dahsyat akan terjadi. Sampai sekarang apapun yang belum pernah Anda dengar, belum pernah Anda lihat, belum pernah Anda pikir dan belum pernah timbul dalam hati Anda, jika Anda mempercayai Roh Kudus maka semua hal akan terwujud (1 Kor. 2:9)

Pada saat Roh Kudus memimpin kita menaikkan puji-pujian maka akan terjadi pertobatan, kesembuhan penyakit dalam puji-pujian, bahkan roh-roh jahat akan keluar, sehingga kita dapat mengalami kebebasan dan sukacita yang penuh dari atas oleh karena roh dan jiwa bebas pada saat memuji dengan sukacita. Masuk dalam pujian harus dengan ucapan syukur dan sukacita. Pada saat berdoa syafaat kita harus masuk di dalam hadirat Roh Kudus dengan cara seperti itu.

Pendoa syafaat tidak hanya berkumpul menyusun topik doa, memuji Tuhan, dan kemudian berdoa dengan tekun sesuai urutan. Pada saat persekutuan dimulai, harus dapat berdoa dalam hadirat Tuhan. Pada saat seperti itu mujizat yang dahsyat akan terjadi di tempat itu. Pada saat berdoa Tuhan sendiri yang akan menyertai. Tuhan tetap menyertai walaupun hanya 2 atau 3 orang saja yang berkumpul, yang penting adalah Tuhan menyertai seperti Tuhan menyertai 100 orang yang berkumpul. Jika 100 orang berkumpul tetapi Tuhan tidak menyertai, maka hanya merupakan orang banyak yang berkumpul melakukan sebuah program. Tetapi jika Tuhan hadir, percayalah semua program yang telah ada akan diubah menjadi program Tuhan.

ORANG YANG MEMILIKI VISI

Yang kedua, pemimpin persekutuan adalah orang yang harus memiliki visi. Di dalam Alkitab, pendoa yang dipimpin oleh Tuhan semuanya adalah orang yang memiliki visi. Pendoa dapat memegang visi Tuhan. Berapa lama persekutuan doa dapat berlangsung tergantung pada visi. Walaupun sudah berdoa selama hidup, tetapi jika visinya salah maka visi pun tidak terwujud.

Ada orang mengikuti persekutuan doa supaya bisa berdoa untuk masalah pribadi tetapi setelah mendapat jawaban semangat doanya hilang. Mengapa hal itu terjadi? Memang kita mempunyai masalah pribadi, tetapi yang penting adalah visi. Walaupun ada anggota tim doa syafaat yang meninggal dunia, tetapi jika tim itu masih ada, tim itu harus memegang visi Tuhan yang besar supaya bisa berdoa sampai Tuhan datang.

Harus Berdoa Dengan Visi

Jika orang berdoa dengan visi, masalah tidak menjadi persoalan. Misalnya masalah kesehatan, masalah anak, masalah keluarga, dan masalah materi (harta benda) dan siapapun bisa mempunyai masalah tersebut. Pada saat mendoakan masalah itu, bagaimana jika bertemu dengan pemimpin yang mempunyai visi atau orang yang mempunyai visi dari Tuhan?

Pada awalnya dia akan masuk ke persekutuan doa untuk masalah kesehatannya, tetapi jika dia ikut memegang visi pemimpin tersebut maka kemuliaan Tuhan akan hadir selama dia berada di tempat itu. Pekerjaan Tuhan yang disertai dengan memegang visi selama hidup dapat menyatakan kemuliaan Tuhan. Orang yang tidak mempunyai visi adalah orang yang berpikir visi itu tidak ada hubungan dengannya, sehingga dia tidak tertarik untuk mendoakannya. Dia tidak mempunyai visi tentang doa.

Berapa kuat suatu kelompok doa tergantung dari apakah visi kelompok doa itu berasal dari Tuhan. Pada saat mendoakan pendeta kami, kami berdoa mengenai kesehatannya, roh yang dikuasai oleh Tuhan, kuasa yang dia terima dari Tuhan, dan sebagainya. Tetapi yang lebih penting adalah harus berdoa supaya Tuhan menggenapi visi yang sudah Tuhan berikan kepada pendeta kami. Juga harus berdoa kepada Tuhan mencukupkan semua keperluan.

Umat yang tidak mempunyai visi akan liar. Firman Tuhan berkata, “Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat (Ams. 29:18)

Kunci supaya doa Anda menjadi kuat untuk selamanya adalah harus mempunyai visi. Zaman sekarang adalah zaman yang tidak mempunyai visi. Ada banyak orang hidup tanpa visi. Walaupun sudah percaya kepada Yesus dan menerima keselamtan, masih ada di antara mereka yag hidup tanpa visi. Bukan karena tidak mempunyai visi, tetapi karena mereka tidak mengetahui visi apa yang Tuhan beri.

Saya berharap Anda menerima dan memegang visi Tuhan supaya mempunyai kemampuan untuk melaksanakan tugas pada zaman ini.

Pada saat berdoa dengan memegang teguh visi akan mendapatkan kekuatan untuk berdoa. Mujizat yang Tuhan berikan untuk jawaban doa akan terjadi. Pada saat memilih seorang pemimpin, sama seperti memilih orang yang mempunyai visi yang sama karena jika visinya berbeda maka kelompok tersebut dipimpin ke arah yang berlainan. Pemimpin doa syafaat di gereja harus mempunyai visi yang sama dengan visi gereja. Jadi visi gereja tersebut menjadi visinya sendiri. Orang yang tidak seperti itu tidak dapat menjadi pemimpin doa syafaat, walaupun sudah masuk ke dalam kelompok doa syafaat.

ENAM TAHAP MEMILIH PEMIMPIN YANG SESUAI DENGAN TELADAN TUHAN YESUS

Tahap Memilih

Sekarang kita akan mempelajari bagaimana memilih pemimpin doa syafaat sesuai dengan Alkitab. Kita akan mempelajari melalui tahap-tahap apa saja Tuhan Yesus memilih seorang pemimpin. Dalam hal ini ada enam tahapan.

Tahap pertama adalah Tuhan Yesus memilih. Walaupun pemimpin doa syafaat dikirimkan oleh Roh Kudus, akan tetapi orang tersebut harus diuji apakah benar-benar disertai oleh Roh Kudus. Tuhan Yesus memanggil murid-muridnya di sekitar daerah Galilea. Tuhan Yesus berkata, “Ikutlah Aku, Aku akan menjadikanmu menjadi penjala manusia. Murid yang paling dekat dengan Tuhan Yesus adalah Petrus, Yakobus, Yohanes. Pertama 3 orang kemudian menjadi 12 orang, terus bertambah menjadi 70 orang, 120 orang dan 500 orang. Pada saat Yesus memanggil murid yang pertama dimulai dengan panggilan, kemudian menjadi pilihan. Pilihan dimulai dari panggilan, kemudian akan mendapatkan pelayanan yang sesuai sehingga dapat berbuah dengan baik di dalam pelayanan. Pilihan bukanlah hal yang sepihak.

Jika pendeta memilih Anda sebagai pemimpin doa syafaat untuk disiplin, ikutlah dengan sukarela. Tuhan akan berkenan kepada orang yang mengikuti Dia dengan sukarela. Pada saat Tuhan memilih murid-murid-Nya, mereka bukanlah orang yang hebat tetapi orang yang taat. Walaupun mereka bukan orang yang berpendidikan, tetapi Tuhan melihat kemungkinan bahwa mereka dapat menjadi orang yang mendirikan Kerajaan Surga di mana saja, karena mereka lebih mudah untuk diajari dan disiplin untuk taat melakukan kehendak-Nya.

Tahap Mengajar

Tahap yang kedua adalah mengajar. Tuhan mengajar mereka yang sudah dipilih. Pada saat mengajar mereka Tuhan memberikan kuasa dan memperlihatkan mujizat. Tuhan mengutus mereka dan merasa heran akan mujizat itu dan berkata, “Hal itu tidak hanya Aku saja yang dapat melakukan, kalian juga bisa melakukannya seperti yang Aku lakukan di dalam nama-Ku. Tuhan mengutus mereka untuk memberitakan Injil kerajaan surga dengan memberi kuasa untuk memulihkan orang yang sakit dan yang lemah serta mengusir setan dari orang yang kerasukan. Para murid pergi dan melakukan semuanya di dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan kemudian sesuatu terjadi. Lalu mereka kembali dengan semangat yang tinggi. Mereka yang dulu diam, sekarang berbicara tentang pelayanannya masing-masing dengan semangat yang menggebu-gebu.

Tuhan bertanya kepada mereka, “Apa yang dikatakan orang setelah melihat pelayanan kalian? Menurut kata orang siapa Anak Manusia itu? Murid-murid-Nya menjawab: “Ada yang berkata salah seorang nabi, ada juga yang berkata Elia, yang lain berkata Musa yang dibangkitkan. Tuhan Yesus bertanya lagi kepada mereka, “Tetapi menurut kalian sendiri siapa Aku ini? Pada saat itu Simon Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Tuhan Yesus berkata kepada Petrus, “Sebab bukan manusia yang memberitahukan hal itu kepadamu, melainkan Bapa yang di surga. Alangkah baiknya jawaban Petrus.

Setelah orang-orang didisiplin dan dididik, kemudian mereka dapat mempraktekkan pelayanan yang diberikan kepada mereka. Sama seperti itu dalam disiplin doa syafaat seorang pemimpin tidak boleh membiarkan hanya dengan perkataan, “Berdoalah dengan keras! atau “Hadirlah dalam persekutuan doa syafaat. Hal pertama yang harus dilakukan adalah mengajar. Kedua bagaimana memimpin kelompok doa dengan baik dan mendalam. Tuhan Yesus todak memaksa, juga tidak mencela kalau tidak berdoa. Murid-murid melihat dan melakukan teladan yang ditunjukkan Yesus dalam berdoa. Doa syafaat juga harusa diajarkan. Tidak ada gunanya kalau kita hanya berkata, “Ayo masuk dalam hadirat Roh Kudus. Tetapi kita harus mengalami hadirat Roh Kudus secara langsung. Ketika kita menga jar, “Kita harus masuk ke hadirat Roh Kudus melalui pujian, kita harus menolong murid untuk mengalami hadirat Roh Kudus melalui pujian secara langsung. Yesus tidak memaksa mereka untuk mengikuti Dia, tetapi menunjukkan teladan-Nya.

Tahap Pengabdian

Ketiga adalah tahap pengabdian. Tuhan memilih, mengajar dan memberi teladan kepada para murid. Kenudian Tuhan Yesus meminta pengabdian mereka. Dalam mengabdi yang paling penting adalah mempunyai motivasi mengapa kita berdoa syafaat? Siapa yang dapat berdoa syafaat? Kita semua dapat melakukannya. Kita semua mempunyai kemampuan untuk berdoa syafaat. Memang ada harga yang harus dibayar dalam mengikut Tuhan. Secara manusia hal itu merugikan, tetapi kita harus berserah untuk hal itu. Membayar harga dalam mengikuti kehendak Tuhan adalah sebuah pengabdian. Serahkanlah dirimu. Siapa yang dapat melakukan hal ini? Yaitu orang yang mempunyai visi. Karena dengan mempunyai visi mereka dapat mengikuti jalan Tuhan da n membayar harga. Bagaimana murid-murid dapat mati sahid, mati di kayu salib dengan cara terbalik sambil memuji Tuhan? Karena mereka mempunyai visi yang mulia yang lebih berharga dari pada hidup mereka sendiri. Oleh karena itu mereka berlari menuju visi yang mulia.

Mengapa berdoa syafaat. Saya percaya pekerjaan Tuhan akan terjadi jika ada visi. Pada zaman ini, yang penting adalah visi bagaimana caranya memberi pengharapan untuk masa depan kepada orang yang tersesat. Tuhan Yesus adalah jalan kebenaran dan hidup. Oleh karena itu. Jika kita memegang teguh visi untuk hidup bersama Tuhan Yesus, maka hal itu akan mengubah seluruh kehidupan kita. Tetapi ada orang yang berpikir bahwa jika ia mati pasti masuk surga dan hidup kekal. Oleh karena itu dia hanya memfokuskan pada visi tersebut. Kemudian dia hanya menghadiri kebaktian dengan tekun saja. Jika orang seperti itu mendapat penderitaan, mereka tidak bisa maju.

Selain itu, yang Tuhan inginkan dari saya adalah melakukan pelayanan dengan baik dan memberikan kemuliaan kepada Tuhan, serta melakukan visi kekal yang diberikan Tuhan kepada saya sehingga dapat menyimpan harta di surga selama hidup di dunia ini. Oleh sebab itu, apa yang menjadi visi kita di dunia harus senantiasa dipegang.

Ada visi untuk satu bulan, satu tahun dan juga selama hidup. Saya harap Anda benar-benar memegang visi tersebut. Tuhan akan memberikan visi kepada Anda. Anda harus mempersiapkan diri dan mau membayar harga supaya dapat mengikut Yesus. Jika Anda tidak mempunyai pengabdian untuk taat seperti yang Tuhan inginkan maka Anda tidak dapat melakukan tugas pelayanan dengan baik.

Tahap Mandat

Tahap yang keempat adalah mandat. Tuhan Yesus memberikan mandat kepada pelayan-Nya. Mandat untuk melakukan pekerjaan Tuhan dan Tuhan menyertai. Kemudian Tuhan memberikan kuasa kepada mereka supaya dapat menginjili dengan berani. Tanda-tanda ajaib mengikuti pekerjaan Tuhan itu ketika mereka menggunakan kuasa dan otoritas dalam nama Yesus Kristus sehingga ketika mereka berdoa mujizat Tuhan terjadi. Mandat yang Yesus berikan kepada murid-murid-Nya bukan merupakan mandat yang berisi program latihan yang membutuhkan proses beberapa minggu, melainkan mandate untuk mengikuti kehendak Tuhan dengan kesiapan diri dan mau membayar harga, supaya dapat mewujudkan tugas yang Tuhan berikan.

Visi yang Tuhan berikan selama hidup pada zaman ini harus sesuai dengan panggilan dan mau menerima ajaran melalui firman Tuhan. Mulai saat itu Tuhan memberikan mandat kepada kita. Mandat adalah menerima tugas atau pekerjaan. Tuhan memberikan tanggung jawab kepada orang yang setia dalam pekerjaan yang kecil sampai yang besar. Jika Anda terlatih, maka Anda akan menerima mandat berupa tugas pekerjaan yang Tuhan inginkan untuk diwujudkan. Pada saat seseorang menerima tugas pekerjaan itu, ia akan langsung berkata, “Tuhan, siapakah saya, manusia yang lemah, mengapa Tuhan berikan tanggung jawab itu pada saya.

Begitu pula dengan pendoa syafaat, dapat berbicara seperti ini, “Saya berdoa untuk orang lain dengan tekun dan terus-menerus, sehingga Tuhan memberikan kepercayaan kepada saya untuk memimpin kelompok doa syafaat. Mulai sekarang hal itu membutuhkan dukungan doa dari kelompok doa syafaat dan juga memerlukan doa kesehatian untuk tim doa. Jika kita dapat melakukan tugas yang Tuhan berikan mulai saat itulah kehidupan kita berubah.

Tahap Mengawasi dan Penafsiran

Tahap kelima adalah mengawasi dan penafsiran. Pada saat mengerjakan pekerjaan yang telah diberikan, yang penting adalah mengawasi pendoa syafaat sambil menerima pimpinan dari Tuhan. Pemimpin harus dapat mengajar bagaimana tim doa syafaat melakukan kehidupan iman mereka dan bagaimana mereka dapat dipimpin oleh Tuhan.

“Kemudian kutujuh puluh itu kembali dengan gembira dan berkata: “Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu “ Lalu kata Yesus kepada mereka: “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepadamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu. Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh jahat takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu terdaftar di surga (Luk. 10:17-20).

Jadi, pada saat murid kembali dari penginjilan Yesus mengevaluasi apakah mereka melakukan kesalahan dalam penginjilan dan apakah mereka menginjili dengan cara yang betul atau tidak.

Tahap Pelipatgandaan

Tahap keenam adalah pelipatgandaan. Untuk mengetahui pohon itu baik atau tidak hanya dapat dilihat dari buahnya. Sama halnya dengan pelipatgandaan, bagaimana cara membuat orang lain menjadi seperti kita sendiri. Pemimpin harus mendoakan banyak orang sebagaimana mendoakan diri sendiri supaya dapat mengalami karya Tuhan dan mengabaikan diri. Dan juga harus mendidik orang-orang tersebut dalam kelompok doa syafaat.

Saya harap Anda mempunyai kuasa sehingga dapat berdoa lebih kuat daripada orang lain yang hanya berdoa supaya dapat dilihat orang. Tidak hanya mempunyai keahlian dan menyimpannya untuk diri sendiri, tetapi harus terus-menerus membagikan kepada orang-orang yang mempunyai kemauan untuk hal tersebut sehingga semakin bertambah jumlah orang dalam tim doa syafaat, supaya dapat dipakai untuk zaman ini. Percayalah akan hal itu.

ORANG YANG BERIMAN

Ketiga, dasar sebagai pendoa syafaat adalah orang yang beriman. Di dalam Alkitab ciri-ciri khusus orang yang dipakai Tuhan adalah orang yang memiliki iman. Seperti tertulis dalam kitab Ibrani, “Tetapi tanpa iman, tidak mungkin orang berkenan kepada Allah (Ibrani. 11:6) Jadi, bertindak dengan iman dapat menyenangkan hati Tuhan. Dalam kitab Roma 14:23 tertulis,Tetapi barangsiapa yang bimbang kalau dia makan, ia telah dihukum, karena ia tidak melakukannya berdasarkan iman. Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa. Di ayat tersebut tertulis, Segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa. Ini bukti bahwa jika kita tidak mempunyai iman kita berdosa. Bukti itu dinyatakan setelah manusia jatuh dalam dosa sampai sekarang.

Sesudah Adam dan Hawa jatuh dalam dosa mereka mempunyau keturunan yaitu Kain dan Habel. Sejak kecil mereka sudah beribadah kepada Tuhan. Walaupun Kain dan Habel bersama-sama beribadah kepada Tuhan, tetapi Tuhan lebih senang kepada persembahan Habel dan menolak persembahan Kain. Padahal Kain mempunyai orang tua sama dengan Habel. Mereka sama-sama dilahirkan dari orang tua yang sama dan beribadah kepada Tuhan juga bersama-sama.

Mengapa Tuhan menerima persembahan dari seseorang dan menolak persembahan yang lain? Karena yang satu memberi persembahan hanya menurut adat-istiadat agama dan secara formal dan tidak ada artinya sama sekali. Sedangkan yang lain memberi persembahan dengan iman. Persembahan yang kita berikan harus seperti persembahan Habel, bukan seperti Kain. Persembahan seperti itulah yang diterima oleh Tuhan.

Jika Tuhan menerima persembahan Anda, Tuhan akan memberikan damai sejahtera, kebahagiaan, iman untuk kesembuhan dan penghiburan. Seperti itulah pekerjaan Tuhan akan terjadi sehingga Anda sangat bersukacita jika Tuhan menerima persembahan Anda.

Apabila setelah bertemu Tuhan, memuji dan menyembah-Nya, tetapi hatinya masih berbeban berat dan perasaannya kacau balau, itu berarti masih ada yang salah. Dunia ini memang semakin hari menjadi semakin sulit tetapi kehidupan iman dalam hati kita harus terus maju. Yang penting adalah iman. Jika kita mempunyai iman maka dapat menyenangkan Tuhan. Tuhan melakukan pekerjaan melalui orang yang menyenangkan hati-Nya dan Tuhan akan lebih mengasihi mereka.

Adakalanya kita bertemu dengan seseorang yang membuat kita senang tetapi ada pula orang yang membuat jengkel. Tuhan adalah Pribadi dan menyertai orang yang menyenangkan diri-Nya dan lebih melakukan pekerjaan-Nya melalui orang seperti itu. Alasannya adalah orang yang beriman akan melakukan pekerjaan Tuhan. oleh karena itu orang yang menyenangkan Tuhan harus berada dalam kelompok doa syafaat.

Apakah Menyatakan Kebenaran Tuhan?

Orang yang menyenangkan Tuhan harus mengikuti kebenaran dasar. Jangan sampai menonjolkan kebenarannya sendiri tetapi harus mengutamakan kebenaran Tuhan. Apa saja yang dilakukan harus memancarkan kemuliaan Tuhan. Orang yang berdoa mudah bersalah karena menonjolkan dirinya. Pada saat penyakit seseorang disembuhkan dan sukacita melimpah, kita harus memanjatkan doa syukur kepada Tuhan.

Ketika kelompok doa sudah berkembang menjadi besar, seorang pemimpin jangan berkata seperti ini, “Banyak orang masuk karena saya yang mempimpin kelompok itu dengan baik walaupun dia memang sudah melaksanakan peranannya dengan baik. Seharusnya pemimpin tersebut berkata seperti ini “Siapakah saya, Tuhanlah yang mendatangkan banyak orang supaya kehendak-Nya digenapi. Tuhanlah yang lebih banyak melakukan pekerjaan-Nya. Orang yang beriman tidak memperlihatkan kebenaran dirinya sendiri, tetapi hanya menonjolkan kebenaran Tuhan saja.

Pada zaman ini sulit untuk hidup beriman, karena kebenaran manusia lebih banyak muncul daripada kebenaran Tuhan. Nyatakanlah kebenaran Tuhan, tinggikanlah Tuhan. Meskipun kita memiliki kekurangan dan kelemahan, tetapi Tuhan akan mnyertai kita. Walupun seseorang hebat, pintar dan dipakai secara dahsyat di hadapan Tuhan, tetapi jika menonjolkan dirinya sendiri Tuhan tidak akan menyertai dia. Tuhan akan melakukan pekerjaan-Nya dalam kelompok melalui orang yang beriman. Di dalam kitab Yakobus 5:16 tertulis, “Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya. Doa orang yang sesuai dengan kehendak Al lah akan menyatakan kebenaran Tuhan dan Tuhan akan berkenan kepada orang itu.

“Kamu adalah orang yang benar. Ada orang yang menerima pengampunan dosa melalui kuasa darah Yesus Kristus dan tidak melupakan berkat dan karunia yang telah diterimanya, sehingga ingin memberikan hidup untuk kemuliaan Tuhan dengan sukacita dan haru. Kelompok yang anggotanya adalah orang-orang seperti itu, jika berkumpul bersama untuk berdoa, maka mujizat akan terjadi. Apabila kebenaran Tuhan ditonjolkan maka tidak akan ada pertengkaran, cemburu dan iri hati.

ORANG YANG TEKUN BERDOA

Syarat keempat untuk pemimpin kelompok doa syafaat adalah kehidupan doa pribadi yang kuat. Kehidupan doa pribadi harus dipertahankan. Kita bukan pendoa yang berdoa untuk persekutuan doa syafaat. Secara pribadi kita harus bergaul terus menerus dengan Tuhan melalui doa paling sedikit satu jam sehari.

Di dalam Matius 26:36, ada kejadian bahwa Yesus berdoa di taman Getsemani. Yesus pergi bersama dengan murid-murid-Nya ke taman Getsemani. Yesus pergi sedikit lebih jauh dari mereka lalu tersungkur ke tanah dan berdoa tentang penyaliban-Nya. Setelah berdoa Yesus kembali kepada murid-murid-Nya dan melihat mereka tertidur. Lalu Dia berkata, “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan-Ku? Kemudian Dia berkata lagi, “Berjaga-jagalah dan berdolah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan. Hal ini berarti kita harus berdoa satu jam sehari secara pribadi.

Kita dapat belajar tentang kebenaran yang harus kita doakan setiap saat supaya tidak mengalami pencobaan. Karena jika kehidupan imannya tidak benar maka banyak orang jatuh dalam pencobaan walaupun telah berdoa syafaat dengan tekun. Untuk dapat mencapai tahap melayani Tuhan dengan sukacita kita harus dapat berdoa sebagai anggota kelompok di kelompok doa syafaat. Pemimpin harus seperti itu. Keberadaan seorang pemimpin harus ditentukan dengan iman dan jiwa yang baik begitu pula dengan anggota kelompok.

Dalam kitab 1 Samuel 12:23-24 tertulis, “Mengenai aku, jauhlah dari padaku untuk berdosa kepada Tuhan dengan berhenti mendoakan kamu; aku akan mengajarkan kepadamu jalan yang baik dan lurus. Hanya takut akan Tuhan dan setelah beribadah kepadaNya dengan segenap hatimu, sebab ketahuilah betapa besarnya hal-hal yang dilakukannya di antara kamu. Di sini Samuel berkata, “jauhlah dari padaku untuk berdosa kepada Tuhan dengan berhenti mendoakan kamu Jika orang yang beriman tidak berdosa di hadapan Tuhan dengan berhenti berdoa bagi orang lain; seperti berdoa bagi keselamatan keluarganya, orang yang lemah di dalam keluarganya, tentang iman, maka doanya akan dijawab. Percayalah pada firman Tuhan itu. Meskipun k ita rindu doa-doa kita dijawab tetapi seringkali kita berdosa karena tidak terus-menerus mendoakannya. Pada saat orang yang percaya bangkit dan berdoa terus menerus bagi orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan, maka mereka (orang-orang yang tidak percaya) akan datang kepada Tuhan. Tuhan menjawab doa orang yang berdoa. Orang-orang tersebut mau datang kepada Tuhan dan berubah bukan karena kekuatan manusia tetapi kuasa Tuhanlah yang mengubahkan mereka dan tidak ada seorangpun yang dapat menghalangi.

Doa yang tidak putus-putusnya dinaikkan di hadapan Tuhan bagi keluarga kita, maka Tuhan akan menggenapi pekerjaan-Nya atas keluarga kita. Pada saat terus-menerus berdoa bagi bangsa dan negara supaya kehendak Tuhan digenapi, Tuhan akan menjawab doa kita. Inilah alasan melakukan kehidupan doa pribadi yang tekun di mana doa tersebut akan diwujudkan.

Cara Hidup Dalam Doa

Jika demikian bagaimana seharusnya hidup dalam doa. Kita harus berdoa di dalam hadirat Roh Kudus. Cara yang paling baik adalah masuk di dalam hadirat Roh Kudus kemudian baru berdoa. Mujizat yang hebat akan terjadi pada saat kita masuk lebih dalam di hadirat Tuhan dan bergaul dengan-Nya melalui doa, baik berdoa di dalam hati maupun dengan suara keras, tetapi semua harus berfokus pada Tuhan. Memuji Tuhan juga harus berfokus kepada-Nya, tidak peduli siapa yang datang di sebelah kita. Semuanya, baik hati dan pikiran harus tertuju kepada Tuhan. Pada saat seperti inilah mujizat Tuhan akan dinyatakan.

Pada saat saya mulai memuji dan masuk hadirat Tuhan maka hati, pikiran dan semua yang ada pada saya seperti dikendalikan oleh Tuhan dan saya mulai berdoa kepada-Nya. Hanya di hadirat Tuhanlah tempat bertemu dengan Allah yang hidup. Puji-pujian yang sungguh-sungguh kepada Tuhan juga diperlukan, yaitu saat kita memuji dengan sepenuh hati saat masuk dalam hadirat-Nya. Tuhan juga dapat mengubah kita melalui puji-pujian yang sungguh-sungguh di hadirat Roh Kudus.

Tuhan menyuruh kita untuk memuji dan masuk di dalam doa, kemudian mulai menghancurkan setan yang kuat. Mulai saat itulah peperangan rohani dilakukan. Jika kita masuk dalam hadirat Tuhan melalui puji-pujian dan Roh Kudus hadir, maka Roh Kudus akan melakukan pekerjaan-Nya. Sementara kita berdoa, Roh Kudus juga akan membimbing kita untuk melakukan bagian kita.

Kebahagiaan hidup dan kepuasan jiwa saya dapatkan pada saat berdoa dalam hadirat Roh Kudus. Pekerjaan Roh Kudus yang masuk dalam hati saya dinyatakan di dalam kehidupan doa pribadi. Jika tidak mempunyai kehidupan doa secara pribadi maka akan mendapatkan kesulitan di dalam doa bersama dengan orang lain. Oleh karena itu kita harus mempunyai kehidupan doa pribadi yang baik.

Walaupun kita dapat berdoa bagi diri kita sendiri tetapi kita tetap memerlukan orang lain untuk mendukung kita dalam doa. Tidak ada seorang pun yang selalu dapat mempertahankan dirinya sendiri. Pada saat ada orang yang mendukung seseorang melalui doa maka orang tersebut dikuatkan kembali atau kehidupan rohaninya dipulihkan. Orang tersebut dapat mengalami pemulihan meskipun orang yang berdoa tersembunyi. Oleh karena itu kita harus saling mendoakan.

ORANG YANG SUDAH DEWASA SECARA ROHANI

Kelima. Pemimpin doa haruslah seorang yang sudah dewasa rohani. Orang yang sudah dewasa secara rohani harus berdoa syafaat. Menurut 1 Korintus 2:13-14 dan 1 Korintus 13:11 dapat diketahui siapakah orang yang sudah dewasa secara rohani. Orang yang sudah dewasa adalah orang yang bisa menjaga orang lain. Di dalam 1 Korintus 3:1-3 ada tiga macam orang, yaitu orang yang belum diselamatkan, orang Kristen yang masih hidup menurut keinginan duniawi dan orang Kristen yang dipimpin Roh Allah. Orang yang belum diselamatkan tidak menerima dan mengerti karya Roh Kudus.

Siapakah orang yang masih hidup menurut keinginan duniawi? Orang yang telah menerima keselamatan tetapi masih hidup menurut keinginan duniawi, secara rohani masih seperti anak kecil oleh karena itu tidak bisa makan makanan orang dewasa, hanya bisa makan makanan bayi karena ia belum cukup kuat untuk mencerna makanan orang dewasa. Tetapi orang yang dewasa rohani mempunyai hikmat Tuhan dan dia mengerti pekerjaan Tuhan yang diberikan kepadanya untuk dilakukan. Di dalam Alkitab dikatakan, “Orang yang rohani bisa mengerti hal-hal rohani dan bijaksana dan orang lain mengetahui kerohaniannya.

Apa ciri-ciri anak kecil? Anak kecil (bayi) tidak bisa memikirkan orang lain, dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Pada saat bayi buang air besar atau kencing, dia hanya menangis saja, itu sudah cukup baginya karena orang dewasa yang menggantikan popoknya. Jika lapar dia menangis lagi dan orang dewasa membawa makanan dan menyuapkan makanan. Setelah bayi itu menjadi besar dia dapat makan sendiri.

Bayi memikirkan diri sendiri, begitu pula dengan bayi rohani. Dapat makan sendiri adalah suatu proses perkembangan menjadi dewasa. Orang dewasa dapat makan nasinya sendiri maupun menyuapkan nasi kepada orang lain. Demikian juga dengan doa. Ketika bayi rohani mendoakan saya, dia tidak tahu kalau doanya salah. Tetapi setelah saya ajari tentang firman Tuhan dan membimbingnya secara rohani, maka rohaninya menjadi berkembang sehingga dapat membaca firman Tuhan dan menyadari kesalahan dia dulu. Dia dapat makan nasinya sendiri.

Bukti dari sebuah pemrosesan terjadi pada saat mendengar firman Tuhan ia menerima anugrah, memuji dan bersukacita. Jika hal itu terus menerus terjadi tahap demi tahap, maka ia menuju kedewasaan sehingga dia dapat mengajar orang lain atau memimpin pujian dan doa.

Dan kita semua harus mencapai tahap kedewasaan rohani. Orang yang sudah dewasa secara rohani dapat melakukan pekerjaannya sendiri dan menjaga kehidupan imannya maupun membimbing kehidupan iman orang lain dan menjaga orang lain. Tetapi seorang pemimpin di sebuah kelompok doa yang memiliki anggota yang sudah dewasa dan meminta dirinya terus menerus didoakan maka kelompok doa ini tidak dapat berjalan baik. Apabila orang-orang diminta hanya untuk mendoakan pokok yang sama terus menerus seperti, “Tolong soakan supaya saya mengerti firman Tuhan, jika hal ini dilakukan setiap saat maka kelompok doa tersebut tidak dapat berjalan baik. Oleh sebab itu kita harus mempunyai mata rohani yang dapat melihat hal-hal rohani dan tidak hanya memiliki mata jasmani yang hanya bisa melihat hal-hal yang terlihat.

ORANG YANG BISA MEMBIMBING DAN MEMBENTUK PERSEKUTUAN DOA

Keenam, pemimpin persekutuan doa adalah orang yang dapat membentuk persekutuan doa, menghibur dan membimbing anggota-anggota persekutuan doa itu. Membentuk artinya memimpin mereka bukan dengan membuat aturan sendiri lalu dimasukkan ke dalam kelompok doa untuk dipakai sebagai pedoman untuk memimpin mereka berdoa.

Setan sangat membenci kelompok doa syafaat. Seseorang berkata jika dia adalah setan, dia akan mengikuti orang yang berdoa syafaat tersebut dan menghancurkan kelompok doa syafaat. Karena pendoa syafaat adalah orang-orang yang menghancurkan kerajaan setan dan membangun kerajaan surga. Oleh karena itu kelompok doa syafaat sering menerima serangan setan.

Seseorang yang sedang berdoa dengan sungguh-sungguh di dalam kelompok doa, tiba-tiba suatu hari dia sulit untuk berdoa. Jangan menuduhnya bahwa dia belum dewasa atau tidak memiliki kehidupan doa pribadi, tetapi harus menghibur dia dan terus menerus berdoa untuknya. Pemimpin doa harus sering datang membimbing dan menghiburnya. Jika ada seseorang yang jatuh dalam kelompok doa, kita harus berdoa bersama untuk orang itu. Cara terbaik adalah berdoa secara bersama-sama dan dia berdiri di tengah kelompok dan meminta kepenuhan Allah.

Jika orang diurapi dan berdoa dengan sehati maka pekerjaan Tuhan akan digenapi. Orang yang masuk di dalam kelompok doa syafaat tidak boleh tinggi hati. Ia harus minta dukungan doa terus menerus. Jika ada orang yang hanya berdoa untuk orang lain, dia adalah orang yang bermasalah. Saya selalu meminta dukungan doa untuk anak saya, keluarga saya dan diri saya sendiri. Setiap saat saya bisa mendapat serangan yang keras dari setan, oleh karena itu saya meminta dukungan doa untuk dilindungi dan saya juga terus menerus berdoa.

Kita dapar membentuk persekutuan doa untuk menghibur dan membimbing jika mendapat kebijaksanaan dan kuasa dari Tuhan

ORANG YANG DAPAT DIPERCAYA SECARA ROHANI

Ketujuh, pemimpin harus menjadi orang yang dapat dipercaya. Kepercayaan duniawi diperlukan, tetapi yang terpenting adalah kepercayaan rohani. Orang yang melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh adalah orangnya Kristus. Orang tersebut dapat menjadi korban untuk kemuliaan Tuhan. Itulah kepercayaan rohani, walaupun tubuhnya hancur tetapi pekerjaan Tuhan akan digenapi kepada orang yang melakukan kehendak Tuhan.

Pada saat menginjili saya menjadi apa saja untuk dapat menolong dan menyelamatkan jiwa-jiwa. Jika kita berdoa seperti itu jiwa itu akan menerima keselamatan. Jika suatu benih tidak ditaburkan maka tidak dapat menghasilkan banyak buah. Oleh karena itu milikilah kepercayaan yang berasal Tuhan.

Orang mempunyai banyak kesalahan tetapi tetap dikasihi oleh Tuhan dan dia mengasihi Tuhan, maka Tuhan akan menutup semua kesalahannya. Tuhan memakai kita bukan karena kita sempurna. Jika kita dapat mengetahui orang itu sangat mengasihi Tuhan, maka orang lainpun akan yang mengasihi Tuhan dan mengikuti-Nya. Jika seseorang pada saat menyembah Tuhan di gereja motivasinya hanya mencari kasih Allah dan berkat Tuhan saja, maka Tuhan tidak akan memberikan kepercayaan kepadanya. Pemimpin kelompok doa syafaat haruslah orang yang diakui dan dapat dipercayai Tuhan. Jika demikian mulailah berdiri dalam otoritas rohani.

ORANG YANG BISA MEMBERI WAKTU

Terakhir, yang kedelapan, seorang pemimpin adalah orang yang dapat memberi waktu yang cukup untuk persekutuan doa. Sebagai pemimpin harus dapat memberikan waktu yang cukup. Jika Tuhan telah memberikan berkat harta dan waktu yang dapat dipakai untuk berdoa syafaat di hadapan Tuhan, masuklah ke persekutuan doa. Apabila kita berdoa seperti itu, maka Tuhan akan menggenapi.

Memberi waktu cukup untuk persekutuan doa, .. mempunyai banyak waktu. Walaupun mempunyai banyak . Cuma jika jarang hadir di gereja. Orang yang beriman.. mengasihi Tuhan dan orang yang menghormati Tuhan, menghadiri acara gereja dengan baik. Demikian juga halnya dengan persekutuan doa. Pemimpin haruslah orang yang dapat memberi waktu yang cukup untuk persekutuan. Jika seorang pemimpin terlalu sibuk dan sering merasa khawatir karena ada janji dengan orang lain, maka orang lain juga akan sering melihat jam.

Pada saat Roh Kudus bekerja, jangan dibatasi oleh waktu, tetapi harus memberi waktu dengan sempurna untuk Allah bekerja. Walaupun seseorang sibuk, dia bisa menjadi anggota tim tetapi tidak dapat menjadi seorang pemimpin. Oleh karena itu pada saat mulai menjadi anggota tim, harus dapat mengatur waktu. Pemimpin juga harus dapat menepati janji dengan baik mulai dari awal sampai akhir dan dia harus selalu hadir lebih cepat di tempat persekutuan daripada anggota tim lainnya. Jika seseorang terburu-buru, dia tidak dapat menerima pimpinan Roh Kudus. Jangan lupa, jika kita mempunyai waktu untuk mencari Tuhan dan tidak terburu-buru, maka Tuhan akan memimpin kita.

Baca juga:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *