Panggilan untuk Menang

Meraih Kemenangan dengan Jalan Allah – Bagian 1

oleh : Loren Cunningham

Seandainya aku bertanya, “Apakah Anda percaya ada hal yang terlalu sukar untuk dilakukan oleh Allah?”, maka apa tanggapan Anda? Bila anda seorang Kristen yang tahu isi Alkitab, maka Anda mungkin segera teringat ayat dalam Yeremia 32:27 dan menjawab, “Oh, tidak ada yang mustahil bagi Allah!”

Tetapi bila aku bertanya, “Apakah ada hal yang terlalu sukar dilakukan oleh Allah… melalui ANDA?” maka Anda mungkin menundukkan kepala, menggosok-gosok telinga, memijit-mijit dagu, dan berkata, “Yah… Oh… Eh…”

Bukankah begitu keadaan kita? Selama prinsip-prinsip Firman Allah masih terasa enak, manis dan teoritis, maka kita percaya sepenuhnya. Tetapi bila prinsip-prinsip ini harus kita praktekkan, maka timbullah ketidakpercayaan kita. Seolah-olah Allah makin kecil ketika kita ikut terlibat.

Allah + Anda = Regu Juara

Allah kita adalah Allah yang Mahabesar dan Ia ingin menjadi besar melalui Anda. Ia ingin kita mempelajari kunci memenangkan dunia. Kala kita menyerahkan diri sepenuhnya kepada Yesus, maka kita akan mendapatkan segalanya. Bagaimana mungkin?

 

1.   Pertama, Anda harus mengenal kebesaran Allah.

“Pada mulanya Allah…” sebenarnya merupakan ungkapan yang lebih daripada sekadar ayat pertama Alkitab. Ungkapan ini merupakan kebenaran dalam seluruh alam eksistensi. Satu-satunya cara untuk mengerti kerumitan dan keluasan alam semesta dan kehidupan di planet kita adalah dengan mengungkapkan “Pada mulanya Allah…” Semua teori lain yang merentang nilai-nilai yang lebih luas, sebenarnya merupakan perluasan dari Kejadian 1:1. Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Ia masih mengendalikan segalanya oleh kuasa firman-Nya (Ibrani 1:3).

 

2.   Kedua, kita perlu menyimak Alkitab dan melihat apa yang dikatakan-Nya untuk kita lakukan, serta menyadari bahwa hal itu memang mungkin untuk dilakukan.

Tidak ada yang terlampau sukar untuk dilakukan oleh Allah melalui kita. Ia baik dan adil, dan Ia tidak akan memberikan kepada kita perintah-perintah yang mustahil untuk dilakukan. Jadi menaati Allah bukan hal yang tidak mungkin. Tatkala kita taat kepada Allah, segala sesuatu menjadi mungkin karena Ia yang melakukan hal yang kita tidak bisa lakukan. Kita mengerjakan apa yang bisa, dan Ia mengerjakan apa yang tidak mungkin dapat kita laksanakan.

Allah ingin kita memenangkan dunia ini bagi Dia, seperti yang dikatakan-Nya dalam Matius 28:18-20. Ketika Yesus berkata bahwa Ia telah memberikan kepada kita segala kuasa di surga dan di bumi, maka terjawablah serta bungkamlah segala persoalan dan keraguan. Ia juga berkata kepada kita seperti kepada para murid-Nya, “Pergilah, jadikanlah segala bangsa muridKu… ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu…”

Perintah yang terlalu berat, bukan?

Menjadikan satu orang sebagai murid saja sudah cukup sulit, tetapi di sini Yesus memerintahkan untuk menjadikan “segala bangsa” menjadi murid-Nya.

Apakah Allah cukup besar untuk melakukannya melalui Anda?

Seberapa besarkah Allah Anda? Bukankah Ia cukup besar untuk menjelmakan Yesus tanpa benih seorang pria? Banyak orang skeptik tidak percaya akan kelahiran Yesus dari seorang perawan karena mereka tidak dapat membayangkan bagaimana Allah melakukannya. Tetapi Allah juga menciptakan Adam tanpa ayah, bahkan tanpa ibu! Adam sama sekali tidak mempunyai orang tua.

Allah menciptakan Adam dan Hawa, lalu memerintahkan agar mereka berkembang-biak dan memerintah seluruh bumi (Kejadian 1:28). Umat manusia telah melakukan perintah ini dan memenuhi planet ini dengan sekian milyar manusia. Namun perintah kedua, yakni perintah untuk menaklukkan dan menguasai bumi telah tertunda selama sekian abad.

Mengapa tertunda?

Karena di Taman Eden, Adam dan Hawa menyerahkan kepemimpinan ini kepada Iblis. Alkitab menyebut Iblis sebagai “ilah zaman ini” atau “ilah / dewa dunia ini” (2 Korintus 4:4). Bagaimana Iblis mendapatkan kedudukan itu? Allah tidak pernah memberikan kuasa itu kepada Iblis! Manusialah yang memberikannya ketika ia mau ikut dalam persepakatan Iblis untuk melawan Allah.

Aku menyimpulkan adanya dua golongan ekstrim di antara orang-orang Kristen di zaman ini. Di satu sisi ada orang-orang Kristen yang mengabaikan eksistensi setan. Golongan ini bahkan sampai menganggap tidak ada setan sama sekali, atau setan adalah kiasan untuk kejahatan di dunia. Pada sisi ekstrim lain ada orang-orang Kristen yang menghubungkan segala sesuatu dengan Iblis, seolah-olah Iblis amat berkuasa dan hebat.

Kita harus menghindarkan diri dari kedua jenis ekstrim ini. Kita harus paham siapakah musuh Allah yang sekaligus merupakan musuh jiwa kita ini, serta melihat bagaiman kita bisa menang atasnya.

 

Mendukung Iblis

Dari ayat-ayat seperti Yesaya 14; Lukas 10:18-19; Yehezkiel 28, kita mengetahui bahwa Iblis adalah makhluk yang diciptakan serta memiliki kepandaian dan pengertian yang luas. Pada suatu ketika ia pernah hadir di hadapan tahta Allah. Iblis memutuskan untuk melawan Allah dan membawa sepertiga dari jumlah malaikat dalam pemberontakannya (Daniel 8:10-11; Wahyu 12:4). Iblis dan kelompok malaikat yang ikut memberontak ini kemudian dibuang dari surga, dan sesudah itu (kita tidak diberitahu berapa lama selang waktunya), Iblis muncul di Taman Eden. Di taman inilah, dalam rupa seekor ular, ia menipu makhluk yang baru diciptakan Allah untuk ikut serta dalam pemberontakannya.

Ketika Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, mereka membuat Iblis bebas bergerak secara aktif di dunia ini. Ketika itu Iblis menerima wewenang sebagai penguasa dunia ini dari manusia. Sejak di Taman Eden samapi saat ini, setiap kali seorang manusia berdosa, Iblis yang haus kekuasaan di bumi ini mendapatkan kekuasaannya bertambah sedikit demi sedikit. Kala kita berdosa maka seolah-olah kita berkata kepada setan, “…datanglah kerajaanmu, jadilah kehendakmu di bumi ini…”

Berbuat dosa artinya melakukan kehendak Iblis dan hal ini menyokong atau mendukung Iblis dalam melindungi tahtanya.

Dengan latar belakang itu, mari kita melihat kelemahan Iblis. Iblis benar-benar memiliki kelemahan. Sebenarnya ia sedang mengalami masalah yang serius. Aku suka dengan cara “Holy Hubert” (seorang pengkhotbah jalanan di Barkeley, California) mengungkapkannya. Ketika dikeroyok oleh sekelompok orang-orang fanatik, Holy Hubert mengipaskan halaman-halaman Alkitabnya dan berkata, “Telah kubaca akhir dari buku ini, dan …horeee… kami menang!”

Kita harus sadar bahwa setan hanyalah makhluk ciptaan. Iblis bukan lawan imbangan Allah sama sekali. Ia bukan dewa jahat yang mengimbangi Allah yang baik. Allah adalah Allah Mahakuasa, Mahatahu dan Mahahadir. Iblis sama sekali tidak memiliki sifat tsb.

Memang lucu sekali bahwa kita sering melupakan hal itu. Aku sering bepergian, dan kadang-kadang dalam beberapa minggu aku harus berkeliling di empat benua. Masih saja di tiap tempat ini kudengar orang Kristen berbicara bahwa Iblis mencobainya pada minggu itu. Padahal Iblis tidak bisa berada di berbagai tempat pada saat yang sama. Iblis tidak seperti Allah. Allah Mahahadir. Iblis tidak demikian.

Iblis juga tidak dapat membaca pikiran Anda. Dalam 1 Raja-raja 8:39 dan Mazmur 139 kita mempelajari bahwa hanya Allah yang mengetahui pikiran dan hati kita seutuhnya.

Iblis tidak memiliki semua kuasa. Ia memiliki cara-cara gaib yang ia sering dan suka tunjukkan kepada mereka yang terjun dalam dunia okultisme (kuasa gelap). Namun ia tidak memiliki semua kuasa seperti Allah. Allah adalah Pencipta. Iblis tidak bisa mencipta. Ia hanya bisa berbohong dan menjadi bapa dusta.

Manusialah yang memberi kuasa… ya kuasa yang sebenarnya tidak dimiliki setan. Umat manusia dapat berkembang biak karena manusia bisa melahirkan anak. Iblis tidak bisa. Jumlah roh jahat (malaikat yang berontak) tetap sama dengan jumlahnya pada saat Iblis memberontak terhadap Allah dan kemudian dibuang dari surga, yakni sepertiga jumlah malaikat yang ada.

Bahkan seandainya Iblis menguasai duapertiga jumlah seluruh malaikat dan Allah hanya memiliki sepertiga di pihak-Nya, Iblis tetap tidak masuk hitungan karena dia bukan apa-apa dibandingkan Allah! Firman Allah menyatakan fakta ajaib bahwa kita mempunyai kelebihan atas Iblis karena Kristus yang ada dalam kita lebih besar daripada setan (1 Yohanes 4:4).

Apakah Anda sudah mulai berbesar hati? Yesus yang ada di dalam diri Anda lebih besar daripada pasukan setan dan bahkan semua setan atau roh jahat yang ada di dunia ini (Lukas 10:19). Tidak ada yang tidak bisa dilakukan Allah melalui Anda bila Anda tunduk taat dan menyerah kepada-Nya. Bila Anda menyerahkan semua hak Anda kepada-Nya, bila Anda berdiri di hadapan-Nya dalam kerendahan hati, maka Ia berjanji untuk memberikan “setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kaki Anda” (Yosua 1:3).

 

Allah Melaksanakan Rencana II

Ketika jatuh ke dalam dosa di Taman Eden, manusia tidak menghilangkan tujuan Allah untuk manusia, yakni agar manusia memegang otoritas dan memerintah atas bumi. Manusia hanya menundanya karena manusia kehilangan kekuasaannya atas Iblis. Yesus datang untuk mengambil kembali kuasa yang hilang itu. Yesus lahir sebagai bayi, dan terbaring dalam palungan di sebuah kandang ternak yang kotor. Ia mengambil kedudukan seorang hamba dan melepaskan semua hak-Nya. Sepanjang hidup-Nya Ia memilih jalan penyerahan diri dan mengajar kita bahwa orang yang lembut hati akan mewarisi bumi. Ia menunjukkan kepada kita bagaimana mendapatkan kembali kuasa yang sudah hilang itu.

Yesus tidak mengambil alih kendali atas dunia ini melalui kecongkakan seperti yang Iblis lakukan ketika memberontak terhadap Allah. Yesus tidak menggunakan ancaman, bujukan atau sogokan seperti yang Iblis lakukan terhadap manusia. Ia berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia ini, tetapi ia kehilangan nyawanya?Markus 8:34-36).

 

Domba – 1, Srigala – 0

Dipandang sekilas kelihatannya cara Allah adalah cara yang bodoh. Bagaimana mungkin kita memperoleh kemenangan melalui kehilangan. Namun dengan kematian-Nya di atas kayu salib, Yesus, Domba Allah, justru mengalahkan Iblis, srigala itu. Ia turun ke alam maut selama tiga hari, lalu Allah membangkitkan-Nya. Ia keluar dari alam maut sebagai pemenang dengan sekaligus membebaskan tawanan-tawanan di sana! Lalu Allah memberi-Nya Nama di atas segala nama, “supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di bumi, dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus adalah Tuhan’ bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Filipi 2:10).

Allah sedang membawa “setiap lutut” untuk bertekuk lutut. Allah tidak menunggunya sampai kiamat nanti. Ia juga tidak ingin kita menunggu. Ia sedang memenangkan peperangan: satu demi satu jiwa, satu demi satu kejadian, satu demi satu masyarakat, satu demi satu bangsa. Dan Ia tidak akan berhenti sebelum dunia ini dimenangkan-Nya.

Apakah artinya kita bisa mewujudkan Utopia pada masa ini? (Utopia adalah istilah untuk menyatakan negeri impian dimana kemakmuran dan keadilan terwujud sempurna). Tidak, bukan begitu maksudnya. Secara sempurna, dunia dimenangkan pada waktu Yesus datang kedua kali. Tetapi kita bisa mengembangkan pemerintahan Yesus dengan berbagai bentukdan cara kehidupan kita. Untuk membuat air garam tidak harus mencampur garam sama banyak takarannya dengan air. Kita adalah garam dunia. Kita juga adalah terang dunia. Inilah saatnya untuk mentaati firman-Nya dalam Yesaya 60:1: bangkitlah dan jadilah terang atas generasi yang dikuasai kegelapan ini.

Don Richardson pergi bersama isteri serta bayinya ke Irian, dan hidup di tengah suku Sawi untuk memberitakan Injil. Suku ini merupakan kelompok masyarakat pemburu kepala manusia. Mereka kanibal. Peperangan yang terus-menerus menyebabkan suku ini hampir punah. Beberapa tahun setelah keluarga Richardson tinggal di tengah-tengah mereka, mayoritas suku ini sudah percaya Yesus. Memang tidak semuanya, dan memang bukan segalanya tiba-tiba berubah menjadi taman Firdaus. Yang terjadi juga bukan penguasaan dengan kekerasan, karena di tengah-tengah mereka masih saja ada orang yang tidak mau menyembah Allah yang sejati.

Tetapi pengaruh Injil merembes ke seluruh masyarakat suku Sawi. Kebiasaan memburu kepala manusia dan kanibalisme berhenti. Orang-orang Sawi menjadi tokoh dan pemimpin dalam perdagangan dengan suku-suku lain di daerah itu dalam berbagai bentuk usaha kecil. Orang-orang Sawi mulai mengutus penginjil-penginjil ke suku-suku lainnya di hutan-hutan Irian Jaya. Mereka menjadi garam dan terang dunia di kawasan tanah air mereka. Jika hal ini bisa terjadi dalam sebuah suku bangsa yang kecil, maka tentunya bisa terjadi untuk suatu bangsa.

Yeremia pasal 27 menjanjikan hal yang luar biasa. Tuhan berkata bahwa Dialah yang menciptakan bumi, manusia dan hewan yang ada di muka bumi ini dengan keagungan kuasa-Nya. Lalu Ia berkata, “Aku akan memberikannya kepada orang yang berkenan kepadaKu” (Yeremia 27:5).

Dalam pasal ini selanjutnya Ia berkata bahwa Ia akan memberikan tanah yang dijanjikan-Nya kepada keturunan Abraham ini kepada Nebukadnezar, seorang raja kafir! Bayangkan bagaimana orang Israel menanggapi Yeremia ketika hal ini disampaikannya. Pekik “nabi palsu!” memenuhi udara. Mereka membaca Kitab Suci dan tahu bahwa Allah menjanjikan tanah ini kepada Abraham dalam peristiwa yang dicatat pada Kejadian pasal 13. Meskipun demikian orang Israel memang menduduki Tanah Perjanjian ini sesuai dengan batas-batas tsb hanya dalam kurun waktu yang singkat. Mengapa?

Orang Israel gagal menguasai Tanah Perjanjian karena mereka tidak memenuhi bagian kedua dari perjanjian antara Allah dengan Abraham. Bagian pertama perjanjian itu berbunyi, “Aku akan membuatmu menjadi bangsa yang besar dan memberkatimu…” Bagian kedua dari perjanjian itu menyatakan bahwa melalui mereka (keturunan Abraham ini), segala bangsa di muka bumi akan diberkati (Kejadian 12:2-3).

Seperti halnya orang Kristen masa kini, orang Israel juga hanya memegang bagian pertama dari perjanjian itu. Orang Kristen juga tersenyum sambil berkata, “Allah akan memberkatiku”. Tetapi mereka lupa bahwa bagian kedua dari perjanjian itu adalah “Allah ingin memberkati seluruh bangsa di muka bumi ini melalui aku”.

Tujuan Allah tidak pernah berubah. Ia ingin Adam memegang kekuasaan atas bumi. Ia ingin umat pilihan-Nya memberkati seluruh dunia. Melalui Kristus, kita semua telah menjadi umat pilihan-Nya (Roma 2:29), dan Ia masih menginginkan hal yang sama seperti yang dikehendaki-Nya atas umat Israel. Ia ingin memberkati kita, dan sekaligus melalui kita, Ia ingin memberkati seluruh dunia.

Bila Anda hanya menginginkan bagian pertama dari janji ini, bahkan dengan berjanji membayar perpuluhan, tetap saja tidak cukup. Allah tidak akan memberkati Anda terus kecuali Anda memegang bagian kedua perjanjian-Nya, yakni membawa berkat-Nya untuk seluruh bumi!

Dalam Yeremia 27 Allah berjanji untuk mewariskan bumi kepada orang yang berkenan kepada-Nya. Yesus berkenan kepada Allah sepenuhnya. Karena itu Allah memberikan seluruh dunia ini kepada-Nya. Ia bersabda, “Inilah AnakKu yang Kukasihi, kepada-Nya Aku berkenan” (Matius 3:17). Inilah dasar dari sabda Yesus ketika Ia memberikan amanat-Nya dalam Matius 28:18, “Segala kuasa di sorga dan di bumi telah diberikan kepadaKu.” Itulah juga alasan yang membuat Yesus dapat berkata kepada kita, “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu. (Yohanes 20:21).

Ia mengikutsertakan kita dalam proses merebut dunia bagi Dia. Sekarang ini Yesus ingin mengutus kita ke dalam dunia ini sebagai duta-Nya. Anda bisa menjadi duta / utusan-Nya dalam dunia bisnis, dalam dunia media (surat kabar, televisi, radio, internet), atau mungkin menjadi duta-Nya seperti Daniel, seorang utusan-Nya yang akhirnya menjadi perdana menteri!

Paling sedikit ada lima tempat dalam Alkitab dimana Yesus mengucapkan Amanat Agung-Nya. DalamMarkus 16:15, disebutkan jangkauan dari Amanat Agung ini, yakni kita harus membawa Injil kepada setiap orang di generasi kita. Aku percaya bahwa perintah ini merupakan perintah hurufiah bagi setiap generasi sesudah generasi masa Kristus.

Isi dari Amanat Agung ini diberikan dalam Lukas 24:47. Pertobatan dan pengampunan dosa harus menjadi berita yang kita sampaikan. Dalam Yohanes 20:21 disebutkan bahwa Yesus adalah Yang mengutus kita. Kisah Para Rasul 1:8 menjelaskan bagaimana cara melakukannya, yakni dengan kuasa Roh Kudus.

Akhirnya, ayat-ayat dalam Matius 28:18-20 menunjukkan perluasan dari Amanat Agung. Kita tidak hanya memproklamasikan Kabar Baik bagi segala makhluk. Kita harus menerima kepemimpinan ilahi yang sebelumnya dijanjikan Allah kepada Adam di taman Eden. Segala kuasa telah diberikan kepada Yesus, dan kita harus menjadikan segala bangsa menjadi murid-Nya, serta mengajar mereka melakukan segala yang Yesus perintahkan.

“Tetapi Segalanya Pasti Semakin Buruk”

Konsep kepemimpinan Kristen begini membuat bingung orang-orang tertentu. Mereka berkata, “Tunggu dulu! Bukankah ini akhir zaman. Bukankah segalanya pasti bertambah buruk sampai Yesus datang kembali untuk menyucikan semuanya? Jika kita menegakkan kuasa Allah di dalam dunia saat ini, mungkin kita malahan menentang rencana-Nya dan menentang penggenapan nubuat mengenai akhir zaman!”

Beberapa tahun yang lalu, beberapa orang Kristen di California dikejutkan oleh kemungkinan berlakunya undang-undang yang “memaafkan” praktek homoseks, moral seks yang rendah, serta menerimanya sebagai hak yang sah. Mereka merasa undang-undang ini akan membahayakan masyarakat, khususnya kawula muda dan anak-anak yang masih polos.

Orang-orang Kristen ini memutuskan untuk mencoba berkeliling mengunjungi serta mengajak orang-orang percaya setempat untuk menyatakan suara dan pendapat mereka kepada pihak yang berwenang. Mereka menerima dukungan, namun juga sekaligus dibuat terheran-heran dengan jawaban yang mereka terima dari banyak orang Kristen, “Apakah Anda tidak tahu bahwa ini akhir zaman? Pasti segalanya akan bertambah buruk dan bejat, dan sesudah itu Yesus akan datang untuk kedua kalinya”. Reaksi mereka ini memberi kesan bahwa seolah-olah kemenangan si jahat merupakan kehendak Allah.

Bila tidak waspada, kita malahan bisa jadi menggunakan pengajaran tentang akhir zaman sebagai dalih sehingga kita tidak mengerjakan apa-apa. Mungkin sampai bentuk fatalisme seperti ini: “Kita tidak dapat bertindak apa-apa dalam dunia politik atau media, atau posisi dan kepemimpinan yang berpengaruh atas masyarakat, karena bisa jadi kita melawan kehendak Allah.”

Aku memang bukan ahli dalam hal nubuat akhir zaman. Seperti halnya orang Kristen lain, aku membaca Alkitab dan berusaha memahaminya dengan mengamati kejadian-kejadian yang berlangsung di sekitarku. Tetapi satu hal yang benar-benar aku percaya dengan jelas: Yesus menyuruh kita untuk mengerjakan sesuatu, mengambil bagian dalam kepemimpinan sampai Ia datang kelak (Lukas 19:13). Sesungguhnya kita tidak mengerjakan apapun dalam rangka memenangkan dunia bagi Tuhan, jika kita hanya mengurung diri dalam “sangkar” agama serta membiarkan segala yang di luar gereja menjadi semakin bejat.

Aku percaya bahwa Tuhan ingin kita dengan agresif merebut daerah yang telah diambil Iblis. Mengenai kapan Ia datang dan bagaimana akhir dari sejarah manusia, kita serahkan kepada-Nya. Kita masih saja membuat kesalahan yang sama dengan kesalahan yang ditegur-Nya dalam Kisah Para Rasul 1:6-7, yakni ketika para murid-Nya bertanya apakah saat itu sudah akhir zaman. Yesus berkata, “Engkau tidak perlu tahu…” Kapan saatnya dunia ini berakhir hanya ada dalam penentuan Allah Bapa.

Wahyu 11:15 menyatakan bahwa suatu saat kelak semua kerajaan di muka bumi ni akan menjadi milik Yesus. Kita harus menuju ke sana mulai dari sekarang. Lukas 17:21 menyatakan bahwa Kerajaan Allah ada di dalam kita. Kala Yesus memerintah dalam kehidupan Anda, maka Ia juga memerintah dalam daerah yang ada dalam pengaruh Anda. Karena itu marilah kita memperluas jangkauan pengaruh kita. Dimana Ia memerintah dalam kehidupan seseorang, di sana Ia juga memerintah dalam daerah yang dijangkau atau dipengaruhi kehidupan orang itu (dalam pekerjaan, profesi, pelayanan dll).

Iblis sedang Menciut

Iblis tahu posisinya sedang menciut dan ia pasti amat kuatir. Ia tidak dapat mencipta seperti Allah, ia juga tidak dapat berbiak seperti manusia. Strategi yang dikerjakannya adalah berusaha menghentikan perkembangbiakan manusia melalui pengguguran kandungan, peperangan, penyakit, perselisihan, kekerasan dll. Iblis adalah perusak dan penghancur. Tujuannya adalah membatasi jumlah manusia. Bila tidak, maka ia akan kalah dalam jumlah. Ketika mencobai Adam dan Hawa, bumi hanya dihuni oleh dua orang penghuni dan ia memiliki sepertiga jumlah malaikat yang ada. Setiap hari jumlah umat manusia bertambah, sehingga perbandingan jumlah roh jahat terhadap jumlah manusia semakin menciut. Jadi bagaimana setan bisa mempertahankan kekuasaannya?

Dalam beberapa hal, Iblis lebih pandai daripada kita. Targetnya adalah menguasai daerah-daerah kepemimpinan yang paling berpengaruh sehingga ia menguasai jumlah orang yang lebih sedikit, tetapi orang-orang ini mempengaruhi banyak orang. Iblis tak peduli terhadap pemabuk yang duduk menonton televisi dengan mata nanar. Ia tidak menggunakan orang seperti ini untuk memerintah dunia. Iblis mencari pemimpin-pemimpin dalam sasyarakat dan menggunakan ancaman dan bujukan untuk mengendalikan mereka serta menguasai massa melalui mereka.

Kami memiliki sejumlah utusan Injil dari Youth With A Mission yang bertugas di Mungthai. Di sana ada seorang gembong obat bius yang beroperasi di dekat perbatasan dengan Myanmar yang disebut Segi Tiga Emas. Di daerah pegunungan yang tidak terlalu luas ini ditanam heroin untuk dikirim ke seluruh penjuru dunia. Usaha ini dipimpin oleh satu orang saja. Raja “bawah tanah” ini memiliki seratus orang ajudan yang setia dan mengabdi penuh kepadanya. Sekian milyar uang kontan datang dari seluruh dunia sebagai pembayaran heroin yang dijualnya. Dengan kekuatan senjata, seratus orang ajudan yang mengelola organisasi ini memaksa kawula muda lain untuk bergabung dalam gerombolan mereka. Ya, dengan ancaman mereka menarik banyak orang masuk ke dalam kelompok mereka. Setelah masuk menjadi armada mereka, maka mereka dibayar dengan uang, diberi obat bius dan wanita. Jadi… diberikan sogokan / bujukan.

Melalui seratus orang ajudannya ini, dengan cara menyogok dan mengancam dengan kekerasan, gembong obat bius ini mengendalkan dan menguasai ribuan pemuda yang secara terselubung menjadi tentara-tentaranya yang membelanya, dan lebih dari itu… ia menguasai jutaan orang di jalan-jalan kota New York, Amsterdam, London, Hongkong, Sao Paolo, Jakarta, Bandung, Semarang dan kota-kota lain di dunia.

Gembong ini sendiri juga seorang pecandu obat bius. Setiap hari ia hidup dalam ketakutan. Ia takut dibunuh, atau digeser oleh orang lain yang berambisi terhadap kedudukannya. Iblis mengendalikan dan menguasai jutaan orang melalui satu orang ini, ya… orang yang diperbudak oleh dirinya sendiri.

Contoh ini memperlihatkan bahwa melalui sumber daya yang terbatas, Iblis memegang kekuasaannya sebagai ilah dari dunia ini. Dengan ancaman dan bujukannya pada beberapa titik puncak kekuasaan yang berpengaruh, Iblis menguasai jutaan orang. Tetapi Yesus berkata, “Jangan takut”. Kasih yang sempurna mengusir segala jenis ketakutan. Kita dapat menuntun sesama melalui kasih… dan menang atas si musuh***

Artikel ini merupakan bagian pertama dari artikel yang dicuplik dari buku “Winning God’s Way” karya Loren Cunningham.

Loren Cunningham adalah pendiri dan sekaligus ketua dari Youth With A Mission (YWAM – di Indonesia: Yayasan Wahana Anak Muda), sebuah gerakan misi interdenominasi. Sejak tahun 1960 ratusan ribu orang telah pergi bersama YWAM ke 215 negara. YWAM memiliki hampir 7000 orang staf pada 315 pusat pelayanan dan setiap tahun mengirim lebih dari 25.000 orang tenaga sukarelawan untuk pelayanan jangka pendek.

Beliau sendiri melayani penginjilan di lebih dari 175 negara, sebagai pembicara dalam konferensi, festival Kristen, gereja dan kampus. Beliau seorang misionaris yang memiliki kajian yang luas dan mendalam atas masalah-masalah generasi kita. Loren, isterinya Darlene dan kedua anaknya tinggal di Kailua-Kona, Hawai, dimana YWAM mendirikan sebuah universitas yang berorientasi misi.

Sumber: Cunningham, Loren. 1989. Traktat “The Call to Run” (LD#106) dalam “Winning God’s Way”. Lyndale, Texas: Last Days Ministries.

Bacalah Bagian Kedua artikel ini: “Panggilan untuk Melayani.”

Sumber: http://www.bagimunegeri.com/panggilan1.html

Baca juga:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *