Menghindari Hal-hal yang Berlebihan dalam Kesembuhan

Oleh: Dr. Charles Farah
Bab 1
Teologi yang Salah: Tuan Yang Kejam
Catatan dari editor:Dr. Charles Farah memimpin Sekolah Teologia dari Oral Roberts selama bertahun-tahun. Ia mempunyai kesungguhan yang sangat untuk melatih pendeta-pendeta muda supaya seimbang dalam pelayanan mereka. Ia sendiri telah mengabdi tanpa memikirkan dirinya sendiri dalam hal-hal yang berhubungan dengan pemberitaan Injil di seluruh dunia. Ia adalah seorang ahli dan mempunyai karunia intelektual yang besar.

Pendahuluan

Anak muda ini tampaknya agak lemah. Gerejanya, walaupun mempunyai suasana roh yang baik, tetapi sama saja dengan yang lain. Ada sedikit pujian di kebaktian pagi, dan tidak ada menifestasi dari Roh Kudus.

Karena gereja itu merupakan gereja Pantekosta tua, saya agak kaget juga. Dan sebenarnya adalah lulusan sekolah teologi yang bagus dan telah menunjukkan perhatiannya yang besar terhadap orang lain.

Suatu ketika seorang penginjil kesembuhan mengadakan serentetan kebaktian seri di gerejanya. Beberapa orang telah ditolong dan pengijil ini mengajarkan tanpa terkecuali bahsa “pengakuan adalah selalu pemilikan”.

Seorang profesor yang penuh dengan Roh Kudus di dalam gereja itu diketahui menderita diabetes atau penyakit gula.

Penginjil itu mendorongnya untuk lepas dari insulin pada hari Kamis. Sebelum hari Minggu malam ia hampir mati.

Penginjil kesembuhan yang mendengarkan betapa parah sakitnya, menyerbu masuk ke dalam kamar, dan menemukan istri orang tsb. dalam ketakutan. Dia kemudian menengking setan takut yang dirasanya ada di dalam diri wanita itu, kemudian berkata kepada orang sakit itu: Kamu akan sembuh. Tahan saja”.

Akhirnya, don tidak dapat tahan lagi. Ia memanggil sebuah ambulans. Dirumah sakit dokter berkata kepadanya bahwa orang itu hidupnya tinggal satu jam lagi. Karena kejadian itu, don hampir saja meninggalkan pelajanannya. Gerejanya hampir saja jatuh pecah.

A. TEOLOGI DARI KESEMBUHAN: HINDARILAH KEEKSTRIMAN

1. Hati-hati dengan Teologi yang Salah

Teolohi yang salah mirip dengan tuan yang jahat, dan yang mencambuki anak-anaknya dengan konsekuensi tragis.

Ia melumpuhkan mereka yang menerinanya sama seperti orang-orang yang terluka di Vietnam.

a.Teologi itu Melumpuhkan. Saya berbicara pada seorang laki-laki belum lama berselang yang ibunya telah dilumpuhkan oleh empat kata-kata dari teologi yang salah. Seorang pengabar Indjil telah mengatakan pada ibunya kehidupannya mendjadi hidup yang penuh dengan kesengsaraan, tidak ada kegembiraan, hidup yang membosankan dari seorang wanita yang tua sebelum waktunya.

Empat kata yang melukai dia dan yang telah merampas kegembiraannya dan yang telah memberinya kepahitan itu adalah kata-kata ini: “Anda sedang hidup dalam perzinahan”.

b. Teologi Itu Berlawanan Dengan Roh Kudus. Beberapa waktu yang lalu, seorang laki-laki muda duduk di kursi pada suatu kebaktian doa dan meminta kesembuhan. Tiba-tiba ia menyadari bahwa masalah ini adalah masalah kuasa kegelapan. Setan mulai berbicara melalui suaranya. Orang-orang meneruskan berdoa dengan perasaan kurang senang. Akhirnya roh jahat itu pergi.

Teman saya disembuhkan. Tetapi teologi mereka tidak menerima bahwa teman saya telah dirasuki oleh kuasa kegelapan, karena itu mereka mengatakan apa yang terdjadi itu sebenarnya tidak terjadi. Sekarang teman saya itu dikucilkan dari kelompok itu, sebagian karena teologi mereka mengajarkan bahwa seorang Kristen tidak boleh berada di bawah ikatan roh dari kelemahan.

Teologi yang salah itu benar-benar seorang tuan yang kejam. Selama dua puluh tahun terakhir ini saya telah mempelajari teologi dan saya diyakinkan bahwa tak ada yang lain yang lebih kaku atau lebih menentang kegerahan Roh Kudus selain teologi yang salah.

Saya berpikir mungkin itulah sebabnya mengapa ahli-ahli teologi itu pada umumnya tidak menyukai buku Kisah Rasul. Roh Kudus tetap saja membongkar balik pandangan teologi mereka yang mereka pandang benar.

Teologi yang salah itu mengatakan bahwa mijizat tidak dapat terjadi di abad kita. Teologi yang salah mengatakan bahwa semua orang beriman yang telah dibaptis Roh Kudus harus berkata-kata dalam bahasa lidah. Teologi yang salah mengatakan tak ada seorang Kristenpun yang dapat diganggu oleh setan/roh jahat. Teologi yang salah berkata bahwa alasan satu-satunya mengapa seseorang tak dapat disembuhkan karena ia kurang beriman.

c. Teologi Yang Salah Itu Mengganti Fakta-fakta. Kenyataannya teologi yang salah itu adalah sebagai raksasa yang kejam, yaitu Procustes, rampok jalanan dari Attica.

Apabila pendatang-pendatang tiba di istananya, maka ia akan menarik badan mereka, merentangkan badan mereka diatas tempat tidur besi yang telah disediakan dengan seksama. Apabila tubuh mereka terlalu panjang, maka ia memotong kaki-kaki mereka. Dan apabila mereka terlalu pendek, maka mereka direntangkan supaja pas dengan tempat tidur tersebut.

Seperti itulah yang salah itu. apabila teologi itu tidak cocok dengan kenyataan, maka kenyataan itu yang dipotong. apabila kenyataan berlawanan dengan teologi jenis ini, maka teologi yang salah itu mengatakan gampang saja, rentang-tarik saja fakta-fakta itu.

2. Hati-hati Dengan Teologi Minimal

Di samping itu ada pergerakan Pantekosta Karismatik yang kepayahan akibat penurunan teologi. Di dalam kemerosotan, fokus berada di daerah imam dan melakukan apa yang dapat disetujui oleh Kristen secara umum, setidaknya imam yang telah diteguhkan.

a. Teologi Ini Terlalu Sederhana. Contohnya, seorang itu cukup memuji Tuhan saja dan semuanya pasti akan beres. Cukup dengan mengusir setan-setan saja dan kepribadian seseorang akan menjadi pulih secara total. Seseorang cukup mengatakan bahwa dia sembuh dan kesembuhan itu akan selalu terjadi. Jika seseorang telah dibaptiskan dengan Roh Kudus maka dengan itu semua masalahnya akan terpecahkan.

b. Teologi Minimal Ini Tidak Dapat Menghadapi Konflik. Marilah kita bersikap jujur. Kita ini selalu dihadapkan dengan masalah-masalah. Kita tidak pernah dilepaskan dari masalah-masalah yang ada dalam kehidupan ini. Rasul Paulus sendiripun berkata:“Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan dapat melepaskan aku dari tubuh maut ini?”(Rm 7:24).

Konfik adalah nama sebuah sebuah permainan. Sepanjang hidup, kita tidak pernah lepas dari kesulitan. Itulah sebabnya gambaran Paulus mengenai seorang serdadu itu sangat tepat. Mungkin dalam perang, kita bisa berbaring untuk beristirahatan, tetapi tidak mungkin ada kesempatan seperti itu dalam pertempuran. Tidak ada acara sederhana yang dengan mudah melepaskan kita dari segala masalah.

3. Berusahalah untuk Mendapat Teologi yang Seimbang

a. Hindarilah Ekstrimitas.Sebuah teologi tentang keseimbangan adalah suatu tugas yang sangat sulit. Sepertinya kita harus berjalan meniti sehelai rambut.

Pada satu sisi, kita harus menghindar dari kesalahan akibat keyakinan, bukan iman; pada sisi yang lain, kita harus menghindari sikap sinis orang-orang yang tidak beriman.

b. Lebih baik Terlalu Banyak Daripada Tidak Sama Sekali.Baru-baru ini, saya bercakap-cakap dengan seorang rohaniawan besar yang sudah berusia lanjut bernama Norman Grubb. Dia praktis tidak mampunyai pengalaman dengan orang-orang yang jatuh ke dalam dosa karena mendasarkan hidupnya hanya pada keyakinan saja. Masalahnya justru bagaimana membuat/mendorong jemaatnya untuk memiliki iman.

Apabila dalam masyarakat karismatik orang-orangnya terlalu berkobar-kobar dalam imamn yang tidak selalu sesuai dengan ilmu pengetahuan dan bahkan kadang-kadang merupakan kenekatan saja, maka lebih baik kita mengekang apa-apa yang berlebihan itu, daripada berurusan dengan orang-orang yang tidak cukup percaya untuk ‘bertualang’/mencoba berjalan dalam iman!

Adalah lebih mudah mengendalikan batu yang sedang terguling daripada memindahkan batu yang terpendam.

Apabila kita harus salah, biarlah kesalahan kita buat pada iman yang positif dan penuh keberanian.

Iman yang benar menghadapi problema seperti probelma dari petani, pemabuk, yang bernama Luther. Dia menunggangi kudanya tetapi terdjatuh, pertama-tama jatuh di sisi yang satu,kemudian jatuh disisi yang lain. Jadi, harus ada keseimbangan antara kenekatan dan ketidak-percayaan. Namun bagaimanapun juga, Allah harus memberi teologi yang seimbang tentang kesembuhan.

B. IMAN ATAU KENEKATAN

1. Kenekatan: adalah Senjata Dari Setan

Hanja ada sedikit perbedaan antara iman yang berani dan kenekatan. Iman seseorang kadang-kadang hanya merupakan kenekatan dari orang lain. Ujian itu begitu besar bahkan Tuhan Yesus kita sendiri pernah dicobai tentang hal itu. Marilah kita buka Matius 4:5-7.

a. Kenekatan Seringkali Melawan Orang-oang Kristen yang Sungguh-sungguh. Kenekatan seringkali menggoda terutama orang-orang yang sungguh-sungguh, yang berani, yang rindu untuk melakukan sesuatu bagi Allah. Karena itu didalam semua godaan yang mungkin timbul, satu di antara tiga godaan terkuat tampaknya dapat membawa pada kekuasaan setan yaitu: Kenekatan!

b. Kenekatan Melawan Yesus. Anda tentunya ingat kejadian di dalam Matius tentang Yesus yang dibawa ke puncak dari Bait Suci yang tingginya kira-kira 170 kaki (sekitar 60 meter) di atas dasar lembah Kidrot. Puncak dari Bait Suci itu terletak di atas sederetan gerbang yang disebut dengan Gerbang Somaiman. Di sistulah setan mencobai Yesus dengan kenekatan.

Musim panas yang lalu, saya berada di lembah Kidron, ketika saya menengadah dan memandang tembok yang tinggi itu, dengan mudah dapat saya bayangkan pemandangan pada saat Yesus dicobai. Dengan baju putih berkibar karena tertiup angin dengan latar belakang langit yang biru, orang-orang di bawah dapat dengan jelas melihatNya.

Dan setelah Yesus menarik perhatian orang-orang itu, dan kemudian apabila Ia melompat dan tak cedera/tak apa-apa, tentunya hal itu merupakan suatu jalan pintas menuju keberhasilan. Dia tentunya akan mendapatkan jalan untuk medekati orang-orang yang melihatNya karena mereka tentu mempercayaiNya bahwa Ia adalah orang yang sungguh-sungguh dapat melakukan mujizat yang besar.

2. Firman Tuhan: Senjata Kita

Anda ingat bahwa di dalam ujianNya yang terdahulu, Yesus menjawab setan dengan ayat Alkitab.

Karena itu setan berpikir:”Aha, dasar yang kuat dari Yesus adalah ayat Alkitab, kalau itu adalah senjata yang dipakaiNya, aku akan melakukan hal yang sama”. Karena itu, dia selalu mengembalikan tesisnya yang ‘akitabiah’.

a. Setan Memutar Balik Ayat-ayat. “Yesus, ada suatu cara yang cepat untuk mendatangkan pendukung. Engkau ingin menolong orang-orang, dan ini ada suatu jalan singkat untuk mendapatkan keterangan. Biarlah orang-orang melihat mujizat yang besar ini, bagaimana Allah mengasihiMu, dan Engkau akan memengkan dunia ini.

“Menyimpanlah dari hukum alam dan nantikanlah Allah. Biarlah saya mengutip dari ayat Alkitab dari Mazmur 91:11,12”.

Iblis mengutipnya dengan hampir sempurna. Dia berkata “Jika engkau adalah Anak Allah, jikalau Engkau adalah yang Engkau katakan siapa Engkau itu”, kalimat yang menyudutkan Yesus, jikalau Engkau benar-benar Allah, maka buktikanlah!

Tetapi kutipan setan telah menghilangkan satu anak kalimat yang tersamar, sehingga saya harus membacanya berulang-ulang kali sebelum saya melihat bahwa setan telah membelokkannya.

Ayat Alkitab ini sebetulnya berkata: “Sebab malaikat-malaikatNya akan diperintahkanNya kepadamu mengawal engkau di segala jalanmu”(Mzm 91:11). Dengan kata lain, di dalam pekerjaan/urusan, malaikat-malaikat akan mengawal engkau.

Dengan menghilangkan kutipan yang tepat, setan telah memutar-balikkan janji itu dari suatu janji, dimana kita sebetulnya harus dengan pasif menantikan Allah untuk menjaga kita sehingga menjadi sesuatu yang kedengarannya kita dapat melakukan tindakan aktif untuk melompat dengan nekat dan diselamatkan. Karena itu anda melemparkan diri dan mengharap Allah agar Allah mejaga anda.

Allah tidak pernah melakukan mujizat untuk membuktikan bahwa Ia adalah Allah pada para pemcemooh! Yesus menolak orang-orang Farisi yang mengatakan,“Tunjukkanlah kami suatu tanda mujizat”. Allah melakukan mujizat untuk memenuhi kebutuhan umatNya.

b. Yesus Menggunakan KeutuhanNya. Lalu apa jawab Yesus?“Yesus berkata kepadanya: Ada pula tertulis, ‘Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!”(Mat 4:7).

Inilah fakta Alkitab yang besar bahwa tertulis, bukan hanya dikatakan “ada tertulis” tetapi dikatakan “adapula tertulis”. Artinya, kita tidak mendasarkan pengertian kita tentang Allah itu hanya pada satu ayat saja. Seharusnya tidak hanya mempunyai satu ayat saja, tetapi keseluruhan tuntunan dari Allah.

3. Mencobai atau Membuktikan Allah

Ayat-ayat dalam Alkitab seumpama sebuah giroskop. Giroskop adalah sebuah roda yang besar yang membuat benda-benda yang ada di dalamnya itu seimbang. Giroskop mempunyai kekuatan untuk menyeimbangkan. Yesus berkata: “Ada pula tertulis,’Janganlah engkau mencobai Tuhan Allahmu'”.

Beberapa orang mengira bahwa Yesus berkata: “Aku adalah Tuhan Allahmu, setan, dan engkau tidak mempunyai hal untuk mencobaiKu”. Tetapi bukan ini yang Yesus katakan. Yang Tesus katakan ialah:

“Tak seorangpun mempunyai hak untuk mengatakan sesuatu dengan maksud agar Allah membuktikanNya, untuk mencobai Allah.

Juga tidak seorangpun mempunyai hak dengan kenekatan mencobai Allah, karena Dia adalah Anak Allah. Tak seorangpun mempunyai hak untuk memaksa gerakan tangan Allah”.

a. Bertindak Saat Allah Tidak Berfirman Anda lihat, apabila Allah Bapa itu diam, maka Anak Allah tidak nekad bertindak. Apakah kenekatan itu? Kenekatan adalah: menggunkan Firman Allah yang diberikan pada kita sebagai janji yang berlaku secara umum – luas dan menerapkannya pada situasi khusus, yang sebenarnya untuk hal tersebut Allah tidak berfirman.

Ada perbedaan yang besar antara mencobai Allah dan membuktikan Allah. Israil berjalan melewati laut Kolsom dan bangsa itu telah membuktikan Allah. Orang-orang Mesir melakukan hal yang sama tetapi mereka mati karena kenekatan mereka. Lalu apa perbedaannya?

b. Bertindak Saat Allah Telah Berfirman Israil mendengar sebuah perkataan yang berasal dari Allah sedangkan Mesir tidak. Israil bergerak maju berdasarkan Firman yang telah diucapkan oleh Allah, RHEMA. Allah berbicara dan mereka mentaatinya. Tetapi Allah tidak berbicara kepada orang-orang Mesir dan mereka binasa. Imam orang Israil menjadikan orang Mesir menjadi bertindak nekad. Di seluruh Perjanjian Lama, masih banyak lagi diceritakan tentang dosa-dosa karena kenekatan.

C. FIRMAN YANG UMUM DAN FIRMAN YANG KHUSUS

Kini kita tiba pada pengertian akan perbedaan mengenai Firman Allah yang umum dan Firman Allah yang khusus– yang diucapkan pada saudara secara pribadi.

1. Logos Vs Rhema: Apa Perbedaan Dari Kedua Kata Ini?

Di dalam bahasa Yunani ada dua kata untuk Firman: LOGOS dan RHEMA.

a. LOGOS

1) Pernyataan Dari Pemikiran: Logos mempunyai arti pernyataan dari pikiran-bukan sekedar nama dari suatu obyek/suatu benda, tetapi konsep atau gagasan dari Allah. Istilah ini dipakai untuk Injil, untuk Sepuluh Hukum, untuk pernyataan-pernyataan dari Allah. Merupakan ucapan-ucapan Allah, kata-kata dari Allah.

2) Dipersonifikasikan Oleh Yesus: Arti selanjutnya dari logos adalah penjelmaan dari Firman Allah yaitu Yesus Kristus. Dia adalah Firman, yang menyempurnakan semua perkataan dalam Alkitab. “Yesus Kristus sama kemarin, hari ini dan selamanya”. Yesus adalah Firman yang kekal dari Allah yang kekal.

Disanalah Dia! Yesus adalah Firman terahir Allah pada manusia. “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek mojang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan AnakNya…”(Ibr 1:1-2). Di sanalah – di dalam Yesus – Firman Allah mempunyai bentuk yang terakhir dan yang mutlak.

Siapakah Firman Allah itu? Yesus adalah Firman Allah. Tidak peduli orang mempercayainya atau tidak, tetapi Yesus adalah logos, adalah Firman Allah yang dinyatakan, yang diwujudkan Firman yang dijadikan manusia itu merupakan suatu gelar dari Putra Allah.

Seperti Vine, seorang ilmuwan dari Yunani berkata,”Ia adalah pernyataan dan kesempurnaan manusia di dalam bentuk alamiahnya. PadaNyalah cahaya kemuliaan Sekinah itu dinyatakan secara terbuka. Putra Tunggal yang berada di hati Bapa; Dia telah dinyatakan oleh BapaNya. Sang-Firman, Sang-Logos, adalah pribadi yang dimanifestasikan, bukan sebagai bagian dari alam yang ilahi, tetapi ilahi secara keseluruhan”.

3) Logos Berfirman Ilahi Sejak Permulaan: Merupakan Firman Allah yang disampaikan dengan kekuasaanNya dan dibuat efektif di dalam kuasaNya (Kis 10:36). Kadang-kadang, logos juga menunjukkan suatu dokrin atau pengajaran (Mat 13:20).

Saya tidak dapat menemukan ayat-ayat di dalam Perjanjian Baru yang tidak menghubungkan logos dengan Allah, asal mulanya adalah dari Bapa, atau didalam Anak, yang dibuat nyata didalam Yesus kristus atau dari Roh Kudus.

Oleh karena itu, Logos mempunyai asal mula yang ilahi, dan inilah bentuk yang sering kali dipakai dalam Perjanjian Baru.

b. RHEMATetapi ada kata yang lain, yaitu Rhema. Rhema menunjukkan apa yang diucapkan, apa yang diutarakan didalam pembicaraan atau di dalam tulisan. Kata-kata itu dapat berasal dari Allah, tetapi tidak semalanya begitu. Dan juga tidak perlu harus merupakan sesuatu yang bersifat ilahi (Mat 12:36).

1) Rhema Digunakan Untuk Keadaan Yang Khusus: Rhema diucapkan untuk suatu keadaan yang khusus. Tekanan pada Rhema bukan pada kualitas pemikirannya atau pada kualitas obyektifnya, tetapi pada kata-kata yang diucapkan.

2) Rhema Dapat Didengar Dan Dapat Dilakukan: Seringkali, rhema merupakan suatu kata yang dapat didengar dan dilakukan (Kis13:42) – Suatu kata untuk dilakukan. Kata itu bersifat pribadi,“Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu”(Rm 10:8).

Beberapa banyak daripada anda telah mendengar Injil lebih dari satu kali sebelum anda memberi tanggapan? Bukankah pada waktu anda mendengarkan pertama kali, itu merupakan suatu Logos? Tentu saja. tetapi ketika pada suatu waktu anda mendengarnya kembali, anda mendengar firman itu datang sebagai rhema – suatu perkataan yang ditunjukkan kepadamu secara pribadi.

Hari itu adalah hari anda menerima Kristus, dan tiba-tiba Logos dari Allah, yang kekal dan tanpa kompromi menjadi kata yang begitu indah dari Yesus untuk kebebasan anda. Itulah rhema.

Itulah tepatnya yang dikatakan Roma 10:17

“Jadi iman itu datang dari pendengaran (secara harafiah) ialah Firman dari Allah”. Disini Paulus menggunakan kata rhema, bukan logos. Ini adalah suatu perkataan yang didengar dan dilaksanakan (Rm 10:17). Kata-kata ini didapatkan pada suatu keadaan yang khusus, dan kata-kata yang sangat khusus untuk anda karena kata-kata ini menemukan anda.

3) Rhema Adalah Pedang Dari Roh; Di dalam Efesus 6:17 kita membaca:“…dan pedang Roh, yaitu Firman Allah-Rhema”. Tidak semua ayat-ayat dalam Alkitab dapat digunakan sebagai pedang, tetapi kata-kata tertentu dapat digunakan secara indah/tepat pada keadaan-keadaan yang khusus.

4) Rhema Tidak Selalu Merupakan Sesuatu yang Bersifat Ilahi; Rhema tidak selalu asal-usulnya bersifat ilahi. Rhema sering kali adalah suatu kata yang diucapkan sehingga suatu tindakan tertentu dapat dilakukan.

“Tetapi Aku berkata kepadamu, setiap kata sia-sia (rhema) yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman” (Mat 12:36).

c. Ringkasan. Kata-kata yang sia-sia (rhema) harus di pertanggungjawabkan, inilah Rhema, karena itu kita dapat menyingkatnya sebagai berikut:

1) Ilahi/Manusiawi : Logos adalah Ilahi, sedangkan Rhema mungkin juga merupakan kata-kata dari seseorang.

2) Umum/khusus : Logos bersifat umum, sedangkan rhema sifatnya khusus.

3) Obyektif/Subyektif : Logos bersifat obyektif, sedangkan Rhema sifatnya subyektif subyektif – suatu kata yang diucapkan untuk suatu keadaan yang tertentu.

4) Kekal/Kontemporer : Logos bersifat kekal, sedangkan Rhema seringkali kontemporer, ada masanya.

2. Logos Vs. Rhema : Tidak Selalu Jelas

Sekarang inilah yang dimaksudkan. Apabila kita membaca Alkitab dan melihat apa yang tertulis di dalamnya, kit aharus dengan teliti membedakan antara rhema, yaitu kata-kata yang diucapkan untuk suatu keadaan khusus, dan Logos, yaitu Firman Allah yang kekal.

a. Ayat-ayat dalam Alkitab Memakainya Secara Bergantian. Perbedaan Logos dan Rhema tidak selalu sama dalam bacaan-bacaan Alkitab. Dalam Alkitab, perbedaan pemakaian kedua kata ini sangat besar.

Perbedaan itu bukan hanya terletak pada penggunaannya di dalam Saptuagin dan Perjanjian Baru, tetapi penulis-penulis Perjanjian Baru sendiri memakai kata-kata ini dengan berbagai cara.

Contohnya, Yohanes menggunakan Logos untuk menunjukkan sesuatu yang universal-kekekalan. Tetapi Petrus paling sedikit dalam satu kejadian, memakai Rhema persis seperti cara Yohanes telah memakai kata Logos. Petrus berkata, “Tetapi Firman (Rhema) dari Tuhan kekal selama-lamanya” (1 Ptr 1:25).

Tentu saja kita mengharap Petrus memakai logos, bukan rhema, untuk menyatakan pemikiran ini. Tetapi, kenyataannya ia memakai kata Rhema, bukan Logos.

Oleh karena ayat-ayat Alkitab tidak mengajar suatu perbedaan yang jelas dan tak membingungkan dari kata-kata ini, marilah kita mengunakan perbedaan ini sebagai konstruksi teologis atau susunan teologis.

b. Konstruksi/susunan Teologis. Sebuah konstruksi teologi adalah suatu alat analisa yang memungkinkan kita untuk emlihat kebenaran Allah lebih je,as tanpa perlu adanya pengertian yang dalam dan menyeluruh mengenai isi Alkitab.

Contohnya, sangat dikenal di dalam penginjilan untuk menunjukkan bahwa manusia itu terdiri dari 3 baigan, yaitu tubuh, jiwa dan roh.

Namun seringkali ayat-ayat dalam Alkitab menggunakan istilah untuk jiwa dan roh secara bergantian.

Kadang-kadang memang perlu untuk meyakinkan orang tentang 3 bagian ini, tetapi Alkitab tidak menyatakan perbedaannya secara nyata. Inilah yang disebutkan susunan/konstruksi teologis.

3. Logos Vs. Rhema : Kenalilah suara Tuhan

Di dalam Matius 14:22 dan selanjutnya, kita mempunyai suatu contoh, tentang perbedaan Firman Allah, yaitu Logos, dan Firman Allah untuk anda, yaitu Rhema.

a. Tidak Semua dari Mereka Berjalan Di Atas Air. Tentu anda mengingat kejadian ketika Yesus dengan tiba-tiba menampakkan diriNya di laut dan murid-murid mengatakan bahwa Dia adalah hantu. Petrus, seperti biasanya, adalah yang pertama berbicara.

Yesus memintanya untuk datang. Sekarang inilah Firman itu, yaitu rhema bagi Petrus. Murid-murid yang lain tidak melompat keluar dari kapal dan mulai berlari-lari di atas air. Kata-kata itu diucapkan khusus untuk Petrus.

Sejak kejadian ini, orang Kristen tidak membaca dan mengartikan ‘bakarlah perahumu, kita tidak memerlukannya. Mulai saat ini kita akan berjalan di atas air’. Semua dapat melihat bahwa kata-kata khusus itu, diucapkan pada saat yang khusus – pada orang khusus yaitu Petrus.

b. Jangan Hiraukan Yohanes. Tetapi ada lagi suatu contoh yang lebih jelas terdapat dalam Yohanes 21:18-22. Marilah kita membacanya.

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan kemana saja kau kehendaki; tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak engkau kehendaki”.

“Yesus mengatakan hal ini untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Kemudian Ia berkata kepadanya, Ikutlah Aku!”

“Ketika Petrus berpaling dan melihat bahwa murid yang dikasihi Yesus sedang mengikuti mereka….. Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus. Tuhan apakah yang akan terjadi dengan dia ini?

“Yesus menjawab, Jikalau Aku menghendaki supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang itu bukan urusanmu. Tetapi engkau, ikutlah Aku”.

Adakah anda melihat apakah yang diaktakan oleh Yesus? Ia berkata pada Peterus: “Petrus, saya mempunyai rhema untuk Yohanes. Tetapi rhema yang saya berikan kepada Yohanes itu tidak ada urusannya dengan engkau”.

Kualitas terbaik yang dimiliki oleh seekor domba adalah bahwa ia mengenal suara tuannya. Yesus sedang berkata: “Aku menginginkan agar tiap-tiap dombaKu memiliki hubungan yang begitu dekat denganKu, sehingga mereka bukan saja hanya mendengar Logos, yaitu Firman Allah secara keseluruhan. Aku merindukan, agar mereka juga mendengar Rhema, atau Firman yang khusus diucapkan untuk mereka”. Yesus berkata bahwa domba-domba itu mendengar suara gembalaNya (Yoh 10:27).

D. KESEMBUHAN: SECARA FISIK DAN SECARA SPIRITUAL

Marilah sekarang kita melihat bagaimana hal berhubungan dengan pengajaran tentang kesembuhan. Kamus mendefinisikan, kesehatan adalah keutuhan di dalam tubuh, pikiran atau jiwa terutama kebebasan dari penyakit atau rasa sakit secara tubuh.

1. Kesembuhan Secara Rohani adalah yang Paling Penting

Tetapi, menurut pedapat saya, kamu itu telah menghilangkan bagian yang paling penting dari kesehatan, yaitu: Kesehatan di dalam roh. Apabila roh sakit, maka baik tubuh ataupun jiwa (pemikiran) kedua-duanya akan menderita.

a. Dosa adalah Paling Sukar untuk Disembuhkan. Saya tidak dapat percaya bahwa apabila anda sakit di dalam roh anda dapat dinyatakan sehat. Karena inilah jenis penyakit yang paling sukar untuk menerima kesembuhan yaitu apabila ada penyakit di dalam roh. Penyakit yang oleh Alkitab disebut sebagai dosa.

Dari semuanya, dosa adalah yang paling sukar untuk disembuhkan. Saya dulunya merasa heran, ketika mendengar “kesembuhan rohani adalah yang terutama penyakit yang paling fatal.

b. Roh adalah yang Paling Sukar untuk Disembuhkan. Contohnya, pada saat saya menyiapkan pelajaran ini, saya dipanggil oleh seorang ibu yang sangat menderita. Putranya menghadapi hukuman penjara dari pemerintah selama sepuluh tahun, setelah itu lima tahun lagi di dalam penjara federal. Putranya itu tampaknya begitu menderita, dia tidak dapat tidur, berulang-ulang bermimpi bahwa dia dibunuh.

Dalam pertemuan terakhir dengan ibunya, dia berkata : “ibu, dalam satu-dua tahun terakhir ini, semua mimpiku terjadi”.

Para narapidana dsitu membunuh hanya karena alasan yang sepele saja. Ada yang membunuh karena seseorang mencuri minuman miliknya, ada pula yang karena tawaran baiknya untuk menolong ditolak sehingga akhirnya dia menjadi pembunuh karena seseorang mencuri minuman miliknya, ada pula yang karena tawaran baiknya untuk menolong ditolak sehingga akhirnya dia menjadi pembunuh.

1) Kita Perlu Pengampunan. Tetapi masalah orang muda ini yang sebenarnya bukanlah penjara ataupun mimpinya. Masalah yang sesungguhnya adalah ayahnya. Sejak masih seorang bayi, ayahnya sangat cemburu akan waktu dan perhatian ibunya yang diberikan untuk dia. Sehingga ayahnya tak pernah bisa mengampuninya.

Ya, dia adalah seorang Kristen; tetapi sakit di dalam jiwanya apabila tidak ditangani akan merupakan faktor penyebab pembunuhan. Laki-laki muda itu tidak mungkin akan bebas kecuali jika ayahnya membebaskannya dengan mengampuni dia. Dalam hal ini, kesembuhan sangatlah sukar didapatkan.

2) Kita Perlu Untuk Mengampuni. Seorang wanita di gereja kami yang selalu gagal menerima baptisan dari Roh Kudus, sementara dia bergumul untuk mendapatkannya, tiba-tiba sebuah pikiran melintas dalam kepalanya. Ia harus emngampuni ayahnya! Mengampuni ayahnya? Hal itu sangat sulit untuk dilaksanakan.

Ayahnya telah memperkosanya ketika dia berumur dua belas tahun, dan sejak itu dia harus masuk institusi untuk menangani mentalnya. Hanya oleh karena kemurahan Allah, wanita itu dapat mengampuni ayahnya, dan segera setelah itu dia dibaptiskan di dalam Roh Kudus. Ia merasakan kebebasan dan sukacita yang belum pernah dikenalnya. Saat itu adalah hari Rabu.

Pada hari Jumatnya, saudara perempuannya menelpon dan berkata: “Coba terka apa? Saya mengunjungi ayah pada hari Rabu, dia tampaknya sangat bebas dan gembira dibanding ketika saya melihat beberapa hari yang lalu”. Coba anda lihat, betapa kuasa dari pengampunan itu telah membebaskan kedua-duanya.

2. Penyembuhan Jasmani/Bagian dari Penebusan

Satu dari beberapa pertanyaan yang penting adalah : Apakah kesembuhan merupakan bagian dari penebusan? Apabila demikian, mengapa tidak semuanya yang didoakan itu sembuh? Yesaya 53:4 secara harfiah mengatakan : “Tetapi sesungguhnya penyakit kitalah yang ditanggungNya dan kesengsaraan kita yang dipikulNya. Padahal kita mengira Dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah”.

a. Tujuan yang Ideal dari Allah. Ada pertanyaan kecil mengenai kesembuhan mengapa berada di bawah tanda salib. Karena hal itu merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses penebusan. Seorang ahli teologi bernama Lesli Weatherhead berkata : “Adalah tujuan yang sempurna dari Allah bagi tiap orang untuk menikmati kesehatan yang sempurna dari tubuh, jiwa dan roh”.

Dengan perkataan lain, apabila kesembuhan tidak berada di dalam bagian ini, itu berarti tidak berada di dalam bagian ini, itu berarti tidak ada di manapun juga. Bahkan penebusan tidak pernah terjadi.

Andrew Murray pemimpin gereja yang terkenal dari Afrika Selatan menyatakan bahwa kesembuhan sangat kuat diajarkan di dalam bacaan ini.

b. Iman Bukanlah Faktor Satu-satunya. Iman tentu saja merupakan satu faktor tetapi bukan faktor satu-satunya.

Beberapa kali saya telah melihat orang kudus yang telah berjalan dengna Allah selama bertahun-tahun lamanya, namun tidak menerima kesembuhan. Saya juga melihat beberapa orang tertentu yang jahat dan kasar tidka pernah masuk gerejala selama lima puluh tahun. Tetapi pada suatu baktian kesembuhan orang itu datang hanya untuk mengejek. Orang itu jelas tidak mempunyai iman, tetapi dengan tiba-tiba dan cara mujizat dijamah oleh kasih karunia dan kemurahan Allah.

Betapa penuh cinta kasih Juru Selamat Kita! Seperti Watherhead menyatakan: “Apa yang terjadi pada seseorang, bukanlah terjadi pada seseorang, bukanlah terjadi karena imannya. Iman merupakan kerangka pemikiran kejiwaan seseorang dimana hanya Allah sendiri yang dapat berada sangat dekat dengannya untuk melakukan pekerjaanNya”.

c. Doa Dari Iman. Apakah kehendak Allah menentang/bertentangan dengan kesembuhan? Yesus tidak pernah berdoa : “Apabila itu kehendakMu, sembuhkanlah”. Begitupun kita. kita, tidak seharusnya berdoa demikian. Satu-satunya doa yang menyenangkan Allah adalah doa iman yang positif. Hanya satu macam doa yang ditunjukkan Alkitab yaitu doa iman yang positif.

Di dalam Yakobus 5 tidaklah dikatakan : “Naiklah doa kemungkinan, atau doa barangkali”. Namun ayat itu berkata, “Naiklah doa iman”. Namun ayat itu berkata, “Naikkan doa iman”. Doa itu adalah doa yang dikaitkan – didasarkan pada kehendak Tuhan yang disebutkan di dalam Firman – Logos dari Allah. Allah tidak menyukai penyakit. Ia menyukai kesehatan. Namun Ia mengijinkan adanya penyakit.

d. Jalan Allah Bukanlah Jalan Kita. Kemudian, jika kesembuhan ini terletak di dalam penebusan dan Allah menghendaki kesembhan yang sempurna untuk anak-anakNya dan kita harus berdoa secara positif untuk kesembuhan, mengapa tak semua dari kita disembuhan?

Saya dapat menjawabnya dalam 3 kata yang sangat mudah :

Saya tidak tahu, namun saya tahu satu hal. Kita memasukkan Allah dalam kotak pemahaman kita yang bodoh – terbatas, lalu kita tarik kesimpulannya. Allah tidak akan berdansa seiring dengan nada kita.

1) Allah Itu Maha Kuasa. Apabila ada hal yang telah jelas bagi saya mengenai kesembuhan, maka hal itu adalah bahwa kita harus memproklamirkan “keilahian” Allah. Saya menyadarkan diri pada ke Maha-kuasa-an Allah yang jalanNya bukanlah jalan saya, yang pemikiran-pemikiranNya bukanlah pula pemikiran-pemikiranNya bukanlah pula pemikiran-pemikiran saya, dan yang bekerja secara misterius melalui mujizat-mujizat yang akan dilakukanNya.

Allah tidak akan tunduk pada silogisme kita yang kecil. Anggapan Kita Yang Mayor : Kesembuhan terletak pada perdamaian kita dengan Tuhan – kesembuhan ada dalam penebusan.

Anggapan Yang Minor: Iman adalah kunci kepada kesembuhan. Kesimpulan: Karena itu, siapa yang berdoa untuk kesembuhan di dlaam iman, akan disembuhkan.

Namun tidak semudah itu yang terjadi. Selalu ada faktor x yang tidak diketahui dalam kesembuhan, sesuatu yang tidak diketahui yang tidak selalu Allah nyatakan.

2) Allah Tidak Mengikuti Formula-formula/Rumus-rumus. Saya yakin bahwa misteri bagaimana Allah berhubungan dengan manusia merupakan penyebab uatama mengapa ahli-ahli teologi pada umumnya, menghindari buku Kisah Rasul seperti menghindari suatu malapetaka. Itu disebabkan karena mereka ingin memasukkan Allah kedalam sebuah kotak, dan Allah ternyata memerangkap mereka.

Mereka mulai dari Kisah Rasul 2:38. Inilah yang telah terjadi dan mereka mulai membuat rumusan-rumusan. Pertama-tama engkau bertobat kemudian dibaptiskan dalam nama Tuhan Yesus. Kemudian anda menerima karunia Roh Kudus.

Tapi kemudian ada Kisah Rasul 9:3-6, 17-28. Disitulah letak kesukaran. Di sana dituliskan bagaimana Paulus bertobat dengan cara yang sangat dinamis di jalan menuju Damaskus, kemudian dia disembuhkan dan dipenuhkan dengan Roh Kudus. Baru setelah dipenuhkan dengan Roh Kudus dia dibaptiskan dengan air.

Kemudian ada pula Kisah Rasul 10:44-48 dan ini sungguh-sungguh memusingkan kepala. Coba bayangkan – tanpa ada perintah, tanpa ada panggilan untuk keselamatan, dan bahkan sebelum Petrus menyelesaikan khotbahnya, tiba-tiba ia dihentikan oleh sesuatu yang begitu Ilahi. Tanpa adanya peralatan dari manusia, kecuali berita kerasulan, orang-orang itu dengan begitu ajaib telah diselamatkan dan dibaptiskan dalam Roh Kudus dan mereka berbicara dalam bahasa lidah. Setelah itu barulah mereka dibaptiskan dengan air.

Kemudian Kisah Rasul 19:3-6 di mana pertama-tama baptisanb Yohanes yang menuju pada pertobatan lalu ada yang percaya kepada Yesus dan kemudian ada baptisan yang kedua di dalam nama Yesus.

Setelah itu ada baptisan Roh KUdus lewat penumpangan tangan di atas mereka dan karenanya semua dipenuhi dengan Roh Kudus dan berbicara dengan bahasa lidah dan bernubuat.

Bukanlah hal itu tidak mengherankan apabila ahli-ahli teologi tidak menyukai Kisah Para Rasul ? Mereka tidak mendapatkan bahwa rumus-rumus mereka itu dapat dijalankan. Apakah anda berpikir bahwa mungkin Roh Kudus itu suka bergurau, akan memberikan sentuhan-sentuhan ringan? Saya kira mungkin juga.

Mengapa tidak semua disembuhkan? Mengapa tidak semua diselamatkan? Mengapa, jika begitu banyak yang terpanggil, mengapa hanya sedikit yang terpilih? Pertanyaan-pertanyaan itu sama bagusnya, dan keduanya tidak mempunyai jawaban.

Kata-kata karangan Calvin “bimbingan rahasia dari Allah” bukanlah suatu usaha untuk menghindarkan diri dari pertanyaan-pertanyaan yang sulit ini. Hal itu merupakan fakta yang mendasar dari teologi yang alkitabiah. Ada begitu banyak hal yang kita tidak tahu bagaimana cara menjawabnya.

3. Kesembuhan : Logos vs Rhema

Logos mengajar kita bahwa kesembuhan itu berada dalam perdamaian dengan Allah (penebusan Kristus). Tetapi Logos tidak selalu menjadi suatu rhema, atau Firman Allah yang langsung untuk pribadi anda. Dan mereka yang mengajarkan” pengakuan adalah selalu pemilikan” sesungguhnya mengajarkan kepada kita teologi kenekatan bukannya iman.

a. Pengakuan Tidak Sellau Mendapatkan/Pemilikan. Pemazmur berkata : “… lingungilah hambamu dari dosa kenekatan; janganlah mereka menguasai aku” (Mzm 19:14)

Contohnya, ada seorang pemuda teman saya, yang baru saja mendapat kepenuhan Roh Kudus dan sungguh-sungguh percaya bahwa pengakuan itu sama dengan memiliki.

dia mendengar bahwa seorang anak kecil sedang dalam keadaan sekarat hampir mati karena leukemia dan dengan segera dia mendatanginya. Dia mengucapkan beberapa perkataan yang kemudian disesalinya. Saat itu dia berkata: “Janganlah ragu-ragu, anak ini akan sembuh. Tak ada sesuatpun yang harus dikhawatirkan atau dicemaskan. Allah telah mengatakannya di dalam FirmanNya dan pasti FirmanNya itu benar”.

Maka dia berdoa dan mereka semua bersukacita dan kemudian meninggalkan anak itu. beberapa hari kemudian anak itu meninggal dunia.

Hal ini menyebabkan temanku – Tom, sangat terpukul secara spiritual, secara rohani dia sangat terpulu. Bukankah apa yang telah diucapakan itu adalah Firman Tuhan? Bukankah dikatakan bahwa kesembuhan itu telah diberikan bagi kita? Ya, Firman itu adalah Firman Logos, tetapi belum menjadi Rhema untuknya. Memang Firman itu telah resmi tertulis tetapi belum merupakan sesuatu yang dapat dialami. Ada perbedaan yang besar antara persediaan yang resmi dan penyesuaian dan penyesuaian yang dialami.

b. Tunggulah Firman Rhema. Bukanlah salah untuk berdoa dengan orang-orang di dalam iman. Yang salah adalah untuk memberitahu merkea, mereka akan disembuhkan apabila anda sesungguhnya belum mendapatkan Firman Rhema dari Allah.

Saya tidak akan mengatakan pada siapapun, mereka akan disembuhkan apabila belum ada sesuatu berita dari Allah. Saya tidak akan mengatakan buanglah kacamatamu apabila surat ijin mengemudi mereka menuntut bahwa mereka harus menggunakan kacamata saat mereka mengendara. Saya tidak mengatakan, buanglah insulin itu apabila saya mengetahui mereka menderita penyakit gula.

E. KESIMPULAN

Teologi kesembuhan harus dihubungkan dengan teologi Doa. Alkitab sangat positif menyangkut kesembuhan. Tidak ada doa yang meragukan di dalam Alkitab mengenai kesembuhan.

Jika kita berpindah menuju abad kedua pada saat Allah mencurahkan RohNya secara besar-besaran, marilah kita berdoa, agar Allah memberikan kepada kita kuasa dari Perjanjian Baru dan iman yang mulia untuk memenuhi amanat dari PutraNya.

Marilah kembali menyerahkan diri kita masing-masing pada amanatNya: “Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma” (Mat 10:8).

Sumber:  http://lead.sabda.org/

Baca juga:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *