Mengembangkan Jemaat Menuju Kedewasaan

 Oleh Pdt. Robby Chandra Dmin.

 

Pendahuluan

Setiap pendeta lulusan baru biasanya memasuki jemaat pertamanya  dengan berbagai perasaan.  Dapatkah aku menjadi gembala yang baik? Mungkinkah kelak aku meninggalkan tempat ini dalam keadaan yang lebih berkembang?  Bila situasinya sesulit ini, mungkinkah aku bertahan disini?  Atau apakah yang seharusnya kulakukan?  Demikian juga pertanyaan serupa muncul di tengah benak para penatua baru atau anggota komisi.

Banyak buku membahas pertumbuhan jemaat, baik pertumbuhan kualitatif dan kuantitatif.  Ada ahli-ahli yang berpendapat bahwa tiap jemaat adalah unik sehingga percuma mencari suatu paradigma untuk menumbuhkannya.  Sebaliknya, ada gereja-gereja besar seperti GKI bekerja dengan suatu paradigma dan sistem yang berupaya memonitor kehidupan dan kinerja jemaat-jemaatnya secara seragam.

Di masa lalu, Peter Wagner menawarkan suatu paradigma perkembangan jemaat.  Bagi ahli ini, suatu jemaat akan bertumbuh bila jemaat tadi homogen dalam kelas sosial, etnis, dan terutama kebutuhannya.  Orang menyambut pemikiran ini an berbagai-bagai seminar dan lokakarya serta pelatihan dilaksanakan untuk mengaplikasikannya. Namun, agaknya pemikiran ini menghadapi kesulitan penerapan ketika seseorang yang memimpin atau majelis jemaat berada di dalam konteks yang sangat pluralistis atau di dalam konteks dimana orang Kristen hanyalah minoritas.

Setelah Peter Wagner, muncullah suatu pemikiran yang menarik dan patut dikaji dengan mendalam adalah paradigma Pertumbuhan Jemaat yang Alamiah dari Christian Schwartz.  Bagi ahli yang berasal dari Jeman ini, beberapa hal perlu mendapat perhatian agar jemaat dapat ditumbuhkan secara kualitas dan kuantitas.

 

  1. Perhatian kita seharusnya tidak diletakkan pada buah pertumbuhan kualitatif dan kuantitatif gereja. Sebaliknya perhatian utama kita perlu diletakkan pada pertumbuhan akar dari kedua hal tersebut.
  1. Pertumbuhan yang utuh secara kualitatif dan kuantitatif tidak dapat bertumpu pada upaya, kepandaian, dan berbagai sumber yang dimiliki manusia, sebaik apapun motivasinya.  Manusia menanam, menyiram dan meluku, namun Tuhan yang memberikan hujan serta alam yang membuat tumbuhan tumbuh dengan sendirinya.
  1. Cara melakukan pertumbuhan tidak dapat dipelajari begitu saja dan di”copy” dari jemaat-jemaat yang sukses.  Hal yang harus dilakukan ialah meneliti berbagai gejala pertumbuhan jemaat diberbagai benua lalu mengadakan abstraksi.  Dengan cara ini akan didapatkan akar dari pertumbuhan tadi.  Schwartz meneliti 8000 gereja dan 30 juta responden di 50 negara untuk mendapatkan abstraksi tadi.
  1. Dari risetnya, Schwartz tiba pada suatu kesimpulan bahwa setiap jemaat pada dasarnya sudah memiliki berbagai potensi yang utuh untuk bertumbuh, namun kita tidak cukup mengenalinya serta menggunakannya secara salah
  1. Schwartz juga menemukan kenyataan bahwa ada suatu prinsip pertumbuhan jemaat yang diberinya nama Biotic Principles atau pertumbuhan alamiah. Pertumbuhan secara alamiah, berarti harus melingkupi multiplikasi, simbiosis, interdependensi, transformasi enerji, fungsionalitas, dan penggunaan jamak.  Artinya, suatu jemaat harus bertunbuh dalam jumlah dimana mungkin, kemudian setiap aktifitasnya harus memperkuat aktifitas-aktifitas lainnya, selain itu setiap aktifitas dan keputusan harus saling bergantung dengan keputusan lain.  Lebih lanjut lagi, kesulitan, kelebihan potensi serta krisispun dapat dialirkan menjadi momentum pengembangan.  Lebih lanjut lagi, setiap struktur dan bagiannya perlu dikaji bertahap sehingga bagian yang usang dan tak lagi berfungsi perlu dibuang, demikian juga dengan berbagai kegiatan. Akhirnya,  setiap urusan harus menghasilkan kegunaan yang berbagai-bagai.
  1. Prinsip lain yang Schwartz tekankan ialah prinsip Tritunggal.  Ahli ini mendapatkan bahwa pemahaman suatu jemaat tentang pelayanannya sangat dipengaruhi oleh pemahaman dan penghayatannya tentang Allah Bapa, Putra dan Roh kudus.  Setiap aliran besar Kekristenan terlalu berat sebelah dalam mengembangkan aspek-aspek dari Tritunggal tadi.
  1. Menurut Schwartz, ada gereja-gereja yang sangat menghayati peran Allah Bapa.  Allah Bapa dipahami sebagai Allah yang mencipta, menata, dan berdisiplin. Gereja-gereja yang serupa ini, menekankan kerapihan struktur organisasi, disiplin, bekerja secara sistematis. Gereja lain mungkin lebih menekankan Allah Putra.  Gereja serupa ini menekankan Allah yang menebus dan menyelamatkan.  Juga dihayati peran Allah yang menjelaskan banyak hal dimana sebelumnya tidak jelas di jaman Perjanjian Lama.  Gereja-gereja seperti ini sangat menekankan pengembangkan doktrin yang rapih, keinginan meraih ke dunia sekitarnya, serta diwarnai komitmen individual yang sangat tinggi.  Tipe gereja yang ketiga adalah tipe gereja yang menekankan penghayatan pada Roh Kudus.  Warna dari gereja seperti ini adalah adanya gairah yang besar, sangat responsif terhadap tantangan jaman, dan sangat fleksibel.   Menurut Schwartz, gereja-gereja cenderung berat sebelah dan membawa kelemahan-kelemahan yang serius dalam upaya pertumbuhan kualitas dan kuantitasnya.  Mencegah hal itu, keutuhan penghayatan Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus akan membuat gereja mengenali akar-akar utama yang perlu dikembangkan terlebih dulu untuk menghasilkan kualitas dan kuantitas jemaat yang baik.
  1. Berdasarkan Prinsip Biotik dan Prinsip Tritunggal ini, akhirnya, Schwartz menemukan 8 akar yang harus mendapat perhatian utama dalam pengembangan jemaat.  Bila salah satu akar hanya tumbuh secara minimum, maka ukuranmnya akan menjadi ukuran maksimum pertumbuhan jemaat tersebut.
  1. Ke delapan akar tadi adalah
  • Kepemimpinan yang memberdayakan
  • Ibadah yang menginspirasikan
  • Struktur yang fungsionil
  • Kesaksian/penginjilan berdasarkan kebutuhan “mereka”
  • Pelayanan yang bertumpu pada Karunia tiap-tiap orang
  • Spiritualitas yang bergairah
  • Kelompok kecil yang holistik
  • Hubungan yang penuh kasih.

Analisis

Bila diterapkan di dalam pelayanan dan diukur kemajuan sebuah jemaat dengan menggunakan prinsip pengembangan biotik terhadap salah satu atau seluruh akar tadi, terasa bahwa masih ada hal yang kurang.  Di dalam konteks Indonesia, sebagai satu-satunya negara dengan 5 agama besar, suatu jemaat tidak akan bertumbuh secara alamiah bila melupakan konteksnya atau mengabaikan kehadiran agama-agama yang lain.

Juga Indonesia penuh dengan orang yang berbeda-beda.  Maka sewajarnya dimasukkan ke dalam perhitungan akar-akar tadi sebagai akar yang kesembilan, yaitu “Dialog yang jujur” dengan mereka yang berbeda dengan diri kita.  Dialog ini hanya terjadi bila kita tidak mengabaikan mereka, bahkan berupaya mengenal dan dikenal sebagai tetangga dan sesama.

 

Penutup

Membandingkan paradigma Schwartz dengan hasil studi dari Barna dan berbagai ahli lain, kurang lebih didapatkan kesamaan faktor-faktor yang harus diperhatikan sebagai akar dari pertumbuhan.

Suatu hal yang indah pada paradigma Schwartz adalah pernyataannya bahwa ke delapan akar tadi tidak exhaustive, artinya mungkin masih ada akar lain yang berlaku khusus di dalam konteks yang khas.  Agaknya, Schwartz menggelitik hati kita untuk menggumuli suatu cara sederhana mengembangkan jemaat.

 

Baca juga:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *