MENGATASI KONFLIK DALAM PELAYANAN

MENGATASI KONFLIK DALAM PELAYANAN

Bila kita berhubungan dengan orang lain, cepat atau lambat kita akan bertemu dengan konflik. Tidak berarti bila kita hidup sendirian dan tidak berhubungan dengan orang lain, kita tidak bertemu konflik; karena konflik juga dapat terjadi didalam diri sendiri, yaitu konflik pribadi. Konflik muncul ditengah relasi antar manusia karena tidak ada manusia yang sama persis; sehingga seringkali tiap orang memiliki ‘view-point’ yang berbeda dalam melihat suatu masalah. Bila ada orang yang selalu setuju dengan kita, kemungkinan besar orang tersebut hanya melakukan apa yang kita inginkan bukan apa yang dia percaya.

Apakah yang dimaksud dengan konflik?
Konflik adalah ke-tidak-sepakatan yang mengancam hubungan antar manusia.
Ada banyak cara melihat konflik: dapat dilihat dari sumber, setting, manifestasi dan lainnya. Paling tidak kita dapat melihat konflik muncul dalam beberapa level:

1. Level antar personal
• Level ini bisa terjadi dimana saja: di rumah, di kantor, bahkan di gereja.
• Dapat bersifat latent (tidak terlihat), bisa juga terbuka atau confrontative.

2. Level interest /idea
• suatu perbedaan pandangan yang mengancam goal bersama
• konflik ini belum tentu menyangkut orangnya, walaupun cepat atau lambat akan banyak mempengaruhi.

3. Level intra – personal
• Suatu ketidak-cocokan dalam diri yang menimbulkan inner konflik
• Misalnya pada waktu kita mendengar khotbah, bisa terjadi inner conflict karena apa yang dikhotbahkan tidak sesuai dengan perilaku kita, merasa disalahkan.
• Contoh lain adalah ketika kita diperintahkan untuk melakukan apa yang sebenarnya kita tidak mau lakukan.

Seringkali konflik tidak dapat dihindari. Konflik itu sendiri tidak selalu bersifat buruk; konflik hanya lahir dari suatu perbedaan. Konflik ketika dihadapi dengan baik bisa membangun, sifatnya positif dan memberikan pencerahan baru. Konflik sebenarnya suatu kesempatan untuk mengalami pembaharuan,oleh sebab itu konflik harus dikelola karena bila tidak, dapat menghacurkan komunitas,relasi bahkan diri sendiri

Ada beberapa component yang sangat berperan didalam berkembangnya suatu konflik:
1. Interest (kepentingan , minat)
Setiap orang memiliki motivasi yang dapat bersifat subyektif dan juga ubyektif; dan hal ini yang terlihat hanya manifestasinya. (the silent movers). Kepentingan yang dipertahankan bisa menyangkut posisi, role yang dimainkan, status atau memang sekedar keinginan pribadi. Dalam mempertahankan kepentingan masing-masing inilah sering kali konflik terjadi.

2. Emosi
Konflik sering menjadi semakin buruk ketika melibatkan emosi; apalagi emosi yang tidak terkendali dan sifatnya menguasai seseorang. Dalam tahap seperti ini akan sulit untuk melakukan percakapan dengan logika yang tinggi, bahkan mekanisme introspeksi diri juga berkurang.

3. Value, prinsip, dan nilai-nilai pribadi
Setiap orang punya prinsip-prinsip tertentu yang ia percaya dan telah menjadi mekanisme dalam menghadapi masalah. Nilai-nilai pribadi seseorang juga sangat menentukan apakah yang dilakukannya benar atau salah. Biasanya hal-hal ini paling sulit untuk dikompromikan.

Beberapa metode dalam menyelesaikan konflik:

1. Avoiding (menghindar)
Menghindari konflik dengan harapan akan segera dilupakan, atau, menunda dulu pemecahannya. Menghindar disini bukan berarti tidak menyelesaikannya; tapi melakukannya dengan rahasia untuk menghindari konfrontasi. Atau bila merasa tidak sanggup, maka menyerahkannya kepada orang lain yang memiliki otoritas yang lebih tinggi untuk menangani konflik tersebut.
Kapan metode ini dipilih untuk mengelola konflik?
• biasanya dilakukan bila suasana atau kedua belah pihak terlalu “panas” hingga yang bersangkutan perlu “colling-down” supaya dapat berpikir lebih jernih.
• Ketika kita tidak bisa menyelesaikan masalah tersebut dan orang ketiga dipandang lebih efektif.

2. Kompromi
Usaha untuk mencari solusi yang memuaskan kedua belah pihak dengan cara mengurangi tuntutannya masing-masing. Dalam metode ini kedua pihak saling “menukar” hal-hal yang perlu dilepaskan dan tidak perlu dipertahankan. Biasanya usaha ini dijadikan sebagai back-up bila kolaborasi tidak dapat dilakukan.
Kapan metode ini dilakukan?
• bila kita melihat ada kepentingan yang lebih utama yang dilihat bersama.
• Biasanya bila masalahnya berat dan ini satu-satunya jalan mendapat solusi sementara.

3. Akomodasi
Usaha untuk mengakhiri suatu konflik dengan cara mengalah dan memberi kesempatan kepada pihak lainnya untuk meneruskan apa yang diperjuangkan.
Ada beberapa seseorang memilih akomodasi:
• ketika kita tahu bahwa kita memang yang salah
• ketika kita melihat bahwa kepentingan orang lain lebih penting dari pada kepentingan diri.
• Biasanya kita melakukan ini bila kita melihat bahwa dengan mengalah maka masalah dapat diminimalkan.

4. Kolaborasi
Suatu usaha untuk membandingkan perbedaan dan ide-ide dan informasi yang dimiliki masing-masing pihak. Konflik dilihat sebagai sesuatu yang menantang dan usaha ini dilakukan untuk mencari solusi dan situasi yang win-win.
Konflik dalam hidup orang Kristen.

Ada bebarapa sikap orang Kristen yang sering diambil dalam menyikapi suatu konflik; entah dia sebagai orang yang tersangkut oleh konflik itu sendiri atau sebagai orang yang diminta untuk menengahi suatu konflik.

1. Mengindar.
Konflik menjadi latent karena tidak dihadapi dengan baik; orang Kristenpun melakukanya. Biasanya pemikirannya adalah “orang Kristen tidak boleh bertengkar, jadi lebih baik mengalah”. Sikap mundur sering juga diwarnai pikiran bahwa mempertahankan suatu pendapat dengan keras adalah sesuatu yang selalu tidak baik dan bukanlah kasih. Menjaga perasaan orang lain dan tidak mau menyakit hati orang membuat seseorang lebih baik menghindar dari konflik tersebut. Namun menghindar dari konflik sebenarnya membuat konflik itu tidak menghasilkan apa-apa bagi keduabelah pihak.

2. Memenangkannya.
Konflik sering dianggap suatu “pertarungan” ; anda mau memenangkannya atau dikalahkan. Sikap “saya harus memenangkan pertarungan” membuat konflik menjadi semakin keras dan sulit diselesaikan. Bila konflik semakin ‘alot’ dan berlarut-larut, maka orang-orang yang disekelilingnya akan terpengaruhi; bahkan cepat atau lambat komunitas akan terpecah juga.

Sebagai orang Kristen kita harus meletakkan pandangan kita tentang konflik dalam kerangka teologis yang benar.
1. Melihat konflik dalam pemahaman penciptaan Allah. Manusia dicipta dalam gambar dan rupa Allah dan punya tanggungjawab untuk mengelola dan berkarya; bukan mengeksploitasi dan menghancurkan.

2. Melihat konflik dalam pemahaman dosa. Dosa selalu mengintip dalam setiap konflik, yang membuat konflik menjadi sesuatu yang menghancurkan komunitas Kristen. Sementara konflik itu sendiri bukanlah dosa, tapi konflik memberikan kesempatan kepada pihak-pihak yang terkait menjadi berdosa.

3. Melihat konflik dalam pemahaman penebusan Kristus. Kristus menggunakan “power”nya untuk melakukan rekonsiliasi antara Allah dan manusia. Kematian Kristus sepertinya menunjukkan ketidak-berdayaanNya, seakan-akan Dia tidak memiliki ‘power’. Tapi Kristus tidak memakai kekuatanNya untuk menyelamatkan diri tapi sebagai pengorabanan untuk menyelamatkan orang lain; supaya orang bertobat dan sadar akan Kasih Allah. Orang Kristen harus memikirkan ulang pandangan yang sering dimiliki dalam melihat konflik sebagai “pertarungan” dimana kuasa bermain untuk memenangkannya.

4. Melihat konflik dalam konteks pemahaman komunitas Kristen. Dalam pemahaman teologis tentang komunitas Kristen kita harus melihat konflik sebagai suatu sarana untuk bertumbuh dan dibangun ke-arah kedewasaan didalam Kristus. Dalam konflik orang dapat belajar kembali membentuk sinergi; memadukan keberbedaan menjadi suatu keutuhan yang lebih kuat.

Beberapa sikap yang harus dimiliki dalam menghadapi konflik dalam pelayanan.

1. Sikap yang tegas.
Sikap tegas sering diartikan negative, padahal ketegasan sangat diperlukan dalam menghadapi konlik. Ketegasan tidak harus selalu diartikan “keras” dan “menguasai”. Orang Kristen sering merasa “bersalah” kalau bertindak tegas mempertahankan pendapatnya, seakan-akan dia sudah berbuat jahat dan menyakiti orang lain. Ketegasan orang Kristen tidak lepas dari tindakan kasih. Tindakan kasih itu sendiri sering mengharuskan orang Kristen untuk beritindak tegas.

2. Melakukan pemetaan konflik dengan cermat, teliti dan jujur.
Menganalisa setiap komponen dalam konflik dengan teliti; setiap pihak, deskripsi, manifestasi yang terlihat, dan yang tersembunyi, kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Paulus sangat cermat dalam meneliti suatu kasus perpecahan seperti yang terjadi di Korintus. Dalam keadan jauh, Paulus melakukan investigasi yang

cermat terhadap masalah di korintus. Pengamatan yang cermat dan jujur menghasilkan langkah tepat berikutnya.

3. Konflik dalam pelayanan harus selalu dilihat dalam konteks komunal.
Komunitas memainkan peranan penting dalam mengelola suatu konflik; baik secara komunal dan individual. Komunitas memainkan peranan bukan hanya dalam pengelolaan konflik, tapi juga paska terjadinya konflik sebagai proses penyembuhan dan pemulihan.

Penutup:

Didalam pelayanan, konflik tidak dapat dihindari; konflik menjadi bagian dari dinamika suatu pelayanan. Menghindarinya adalah tindakan tidak cerdas dan kekanak-kanakan. Memperjuangkan untuk sekedar memenangkannya adalah tindakan egois dan tidak membangun apa-apa. Mengelolanya supaya menjadi proses belajar yang membangun hubungan antar pribadi, dan komunitas, itulah yang harus dilakukan terhadap konflik yang terjadi dalam pelayanan kita.

Baca juga:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *