Mengasihi Seperti Yesus Mengasihi (Arti memikul salib)

Yohanes 13:34, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.”

Apa yang baru dari perintah ini? Kita akan melihatnya sesaat lagi. Begitu besar perhatian Yesus agar pada murid-Nya dapat memahami ucapan-Nya dengan jelas sehingga Dia sampai mengulangi lagi perintah ini dua kali di dalam dua pasal berikutnya.

Lihatlah Yohanes 15:12 di mana Dia membuat salah satu perulangan itu. Di sana Dia berkata, “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.” Dan di dalam ayat 17, Dia menyatakannya sekali lagi, “Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain.”

Perhatikan, dalam ayat-ayat tersebut tidak dikatakan, “Kasihilah antara yang satu dengan yang lain.” Yang dikatakan justru adalah “Kasihilah seseorang akan yang lain seperti Aku telah mengasihimu.”: hal yang akan saya tekankan adalah tentang hal “seperti Aku telah mengasihi Kamu.”

Anda mengikut Dia di dalam kasih-Nya; Anda mengasihi seperti Dia telah mengasihi. Artinya, Dia melangkah di depan dan Anda mengikut di belakang. Seperti Dia telah mengasihi Anda, demikian pulalah cara Anda mengasihi orang lain. Dan kasih di sini tidak diartikan sebagai suatu jenis perasaan atau emosi melainkan di dalam makna salib.

Sebagaimana Aku telah mengasihi kamu dan sebagaimana Aku telah pergi ke kayu salib bagimu, maka dengan cara itu pulalah kalian akan saling mengasihi antara satu dengan yang lain, pergi ke kayu salib bagi sesamanya. Sekarang Anda bisa melihat hubungan antara saling mengasihi seperti Yesus telah mengasihi dengan memikul salib.

Mengasihi seperti Yesus telah mengasihi kita berarti: mati bagi sesama

Itulah tepatnya firman yang terdapat di dalam 1 Yohanes 3:16. Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, banyak orang yang tahu Yohanes 3:16 akan tetapi mereka tidak tahu 1 Yohanes 3:16. Dan sangatlah penting bagi orang Kristen untuk mencamkan ayat yang luar biasa ini, “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.” Nah, penginjil yang dengan setulus hati mengutip bagian pertama dari ayat ini: …bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita, dan berhenti di sana, berarti dia tidak menyampaikan kebenaran yang utuh. Karena rasul Yohanes melanjutkan dengan, jadi kitapun wajib; kata ‘wajib’ menyatakan suatu keharusan. Kita berada di bawah suatu kewajiban untuk menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.

Dengan kata lain. Rasul Yohanes sedang menyatakan hal yang persis sama tentang memikul salib dan mengikut Dia. Dia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk para saudara-saudara, jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita. Itulah pemuridan. Namun celaka! Kita nyaris tidak tahu apa arti menyerahkan nyawa untuk saudara-saudara kita itu. Menyerahkan waktu dan uang saja kita sudah keberatan, apa lagi sampai menyerahkan nyawa kita. Inilah yang saya maksudkan dengan kemunafikan.

Yesus berkata, “Pikullah salibmu dan ikutlah Aku,” dan itu berarti “seperti Aku telah mengasihi kamu, begitu pulalah kamu harus saling mengasihi.” Di dalam bahasa Yunani, kata ini berarti ‘mengasihi dengan cara yang sama seperti Aku telah mengasihi,’ bukan sekadar, ‘mengasihi karena Aku telah mengasihi.’

‘Mengasihi karena Aku telah mengasihi,’ tidak memberitahu kita tentang bagaimana atau dengan kasih yang seberapa besar kita harus mengasihi. Akan tetapi ‘mengasihi dengan cara yang sama seperti Aku telah mengasihi, memberi kita pemahaman tentang seberapa besar kasih itu. ‘Kasihilah sesama seperti Aku telah mengasihi, ini berarti bahwa karena Dia telah mati bagi orang lain, maka kita juga akan mati bagi sesama kita.

Ingatlah, tak satupun dari hal ini yang merupakan ucapan pribadi dari saya. Ini adalah apa yang diucapkan oleh Yesus. Dan jika Anda berpikir bahwa yang perlu Anda kerjakan hanyalah menikmati kasih Yesus terhadap Anda dan Anda tidak harus menyerahkan nyawa Anda untuk orang lain, maka Anda tidak tahu apa arti pemuridan itu. Anda tidak tahu apa artinya menjadi orang Kristen. Singkatnya, Anda tidak tahu apa artinya diselamatkan.

“Seperti Aku telah mengasihi kamu, demikian pula kamu harus saling mengasihi,” adalah perintah Tuhan”

Akan tetapi apakah yang kita lihat di tengah gereja-gereja? Yang kita lihat adalah pertengkaran akan hal-hal yang remeh di antara gereja dengan gereja, orang Kristen dengan orang Kristen. Sangat memalukan bagi setiap orang yang mengasihi Allah! Keadaan Gereja sangat menyakitkan hati kita. Buat apa mencari-cari alasan? Setiap orang non-Kristen dapat melihat kita dan berkata, “Kalian hanya sekumpulan orang munafik!

Lihat saja cara kalian memperlakukan sesama kalian!” Dan mereka benar. Kita cukup lihat Yohanes 13:34 dan di dalam ayat 35 Yesus berkata, “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”

Dan mungkin akan ada orang yang berkata kepada saya, “Nah, tak usahlah membahas masalah ini. Anda akan mempermalukan Gereja jika ada orang non-Kristen yang mendengarkan hal ini.” Saya tidak mempermalukan Gereja. Mereka bisa melihat sendiri dan yang saya lihat adalah orang Kristen yang tidak bisa akur dengan orang Kristen lainnya dan mereka saling mengecam. Lalu Anda berkata ingin menyerahkan nyawa bagi sesama? Sungguh munafik! Dengan cara apa Anda menggenapi ajaran dan perintah Yesus? Bagaimana bisa Anda mengaku sebagai seorang murid Kristus? Bagaimana bisa Anda menyandang label yang mulia sebagai orang Kristen tetapi sambil mempermalukan Nama yang mulia itu?

Mari kita perhatikan lebih cermat lagi. “Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi,” adalah perintah Tuhan; bukan merupakan suatu pilihan bagi Anda. Anda boleh memilih apakah ingin menjadi orang Kristen atau tidak, akan tetapi ketika Anda menjadi Kristen, Anda tidak bisa memilih apakah ingin mengasihi atau tidak. Anda berada di dalam kewajiban untuk mengasihi; Anda berada di bawah perintah. Dari sini, itu berarti bahwa setiap kegagalan untuk mengasihi merupakan tindakan ketidaktaatan dan pemberontakan terhadap Tuhan.

Nah, jika kita ingin mengikut Dia dan kasih-Nya, maka kita harus memahami kasih-Nya dengan lebih baik lagi. Bagaimanakah kasih-Nya kepada kita? Apakah makna kasih itu?

1. Mengasihi ‘seperti Aku telah mengasihi kamu’ berarti memiliki belas kasihan

Pertama, kita melihat bahwa kasih bermakna belas kasihan, kepedulian. Kita bisa melihat hal tersebut di berbagai ayat, bahwa Dia memiliki belas kasihan kepada kita. Sebagai contoh, Matius 9:36 atau Matius 14:14 atau 18:27 dan di dalam banyak lagi referensi. Yesus memiliki belas kasihan yang sangat menyolok. Dia sangat peduli kepada orang-orang.

Namun di saat Anda bergaul dengan orang-orang Kristen, apakah memiliki rasa kepedulian? Kapankah Anda peduli kepada saudara seiman? Seringkali Anda bisa melihat dari sikap orang-orang Kristen, bahwa mereka tidak begitu peduli dengan orang lain. Segenap pikiran mereka berkisar pada diri mereka sendiri saja. Bukankah ini merupakan hal yang sangat menyedihkan? Dan yang paling buruk adalah, perilaku ini muncul dalam diri mereka yang menyebut dirinya “murid” atau “orang Kristen”, dua kata yang sebenarnya bermakna sama sebagaimana yang telah kita ketahui dari Perjanjian Baru.

2. Mengasihi ‘seperti Aku telah mengasihi kamu’ berarti melibatkan diri

Kedua, jika kita peduli, maka apa yang terjadi? Yang terjadi bukan sekadar ucapan saja; peduli berarti kita melibatkan diri. Kita lihat di dalam Ibrani 2:11-14, bahwa manusia adalah dari darah dan daging. Yesus melibatkan diri-Nya dengan kita dengan menjadikan diri-Nya darah dan daging. Mengenakan daging berarti mengambil persoalan, kesukaran dan dosa-dosa kita. Melibatkan diri berarti ikut menanggung persoalan mereka juga. Lalu bagaimanakah sikap hati orang Kristen? Jika kita berpikir: Nah, persoalanku sendiri saja sudah banyak. Aku tidak mau terlibat dalam persoalan orang lain, apakah kita sudah lupa akan firman dari Yesus yang mengatakan, “Sama seperti Aku telah mengasihi kamu, maka kamu juga harus saling mengasihi. Sama seperti Aku sudah melibatkan diri dengan kamu, demikian pula kamu harus saling melibatkan diri”?

Kita harus belajar untuk saling menanggung persoalan satu sama lain. Bisa saja itu berupa persoalan keuangan. Artinya, “Kalau aku melibatkan diri dengannya, maka aku juga harus ikut ambil bagian dalam persoalan keuangannya juga.” Berarti, “Jika dia mengalami persoalan kesehatan, maka aku juga harus melibatkan diriku lewat cara-cara yang bisa membantunya.” Semua ini tidak bersifat pilihan. Ingatlah hal ini, kita berada di bawah perintah. Kita tidak bebas memilih. Anda bebas memilih apakah akan menjadi Kristen atau tidak, apakah Anda mau menjadi murid atau tidak. Namun jika Anda sudah menjadi Kristen, maka Anda tidak bebas memilih dnegan cara apa Anda akan menjalani kehidupan Kristen itu.

Semuanya sudah diperintahkan kepada kita. Artinya, jika Anda tidak mau terlibat dengan kehidupan saudara di dekat Anda, maka lupakan saja niat menjadi orang Kristen. Selugas itulah perintahnya. Terlibat dengan kehidupan mereka, seperti yang saya katakan, bisa membawa berbagai macam persoalan buat Anda. Itulah alasan mengapa Anda tidak mau melibatkan diri dengan kehidupan orang lain.

3. Mengasihi ‘sama seperti Aku telah mengasihimu’ berarti menjadi miskin untuk menjadikan orang lain kaya

Ketiga, jika kita melibatkan diri dengan orang lain, maka kita menjadi miskin bagi mereka.

Di dalam 2 Korintus 8:9, rasul Paulus memberitahu kita bahwa Yesus itu kaya tetapi Dia menjadi miskin demi kita karena kita ini secara rohani miskin, lapar, haus, sakit dan buta. Itulah konsekuensi dari melibatkan diri dengan kita. Mengapakah Dia mau menanggung kesukaran dengan melibatkan diri dengan kita? Padahal Dia bisa menikmati hidup-Nya sendiri. Mengapakah Dia mau terlibat dengan kita? Karena kasih dan belas kasihan-Nya tidak mengizinkan Dia untuk duduk diam di sana dan menyaksikan kita berada dalam keadaan seperti ini. Jadi, apa yang Dia lakukan? “Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.”

Dan Dia menjadikan kita kaya supaya kita bisa menjadi miskin lagi, sehingga orang lain menjadi kaya oleh kemiskinan kita. Namun banyak orang Kristen yang berkata, “Yesus menjadi miskin supaya aku bisa menjadi kaya. Sekarang aku bisa menikmati hidupku.” Itulah sebabnya mengapa rasul Paulus berkata, “Sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu” (2 Korintus 6:10).

Dan Yesus menjadi miskin untuk menjadikan orang lain kaya. Itulah pemuridan; itulah makna mengikut Yesus: sama seperti yang sudah Yesus lakukan, demikianlah kita harus melakukannya. Tapi bagaimana dengan Anda? Pernahkah Anda bersedia untuk menjadi miskin supaya orang lain menjadi kaya? Itu hal lain yang saya lihat terdapat di tengah gereja, dan hal ini sangat menyedihkan hati saya. Seringkali yang saya lihat dalam sikap jemaat adalah: “Oh, dia bersedia untuk melayani Tuhan tanpa imbalan apa-apa. Haleluyah! Biar saja dia melayani dengan cuma-cuma.” Hal ini membuat saya sangat sedih.

Saya selalu ingat bagaimana seorang pendeta yang bernama Yu dilatih di Liverpool dan berangkat melayani Tuhan. Ia mengesampingkan gelar Master yang dimilikinya di bidang Teknik Elektronika demi mengambil posisi pendeta pembantu di gereja Liverpool. Sebagai pendeta pembantu yang masih dalam pelatihan, gereja menggaji dia 8 pounds per minggu, sebanding dengan $16 per minggu. Dia tidak mengeluh. Dia mengerjakannya dengan penuh sukacita. Malahan, dia merasa bahwa gereja telah menggajinya terlalu besar. Akan tetapi sikap sebagian orang di dalam gereja adalah ini: “Karena dia bersedia bekerja tanpa digaji, mengapa tidak kita biarkan dia bekerja secara gratis?” Seperti itulah sikap hati kebanyakan orang Kristen sekarang ini. “Orang-orang itu merelakan pekerjaannya untuk berlatih melayani Tuhan, itu urusan mereka. Tak ada hubungannya denganku. Itu pilihan mereka.” Mereka bersedia menjadi miskin untuk membuat orang lain menjadi kaya, akan tetapi orang lain hanya bersedia duduk di pinggir lapangan sambil bertepuk-tepuk tangan, dan itu saja. Saya katakan kepada Anda, kalau seperti itu pikiran Anda, berarti Anda tidak tahu apa artinya menjadi seorang murid. Anda tidak tahu apa arti menjadi seorang Kristen. Kita harus mengikut Yesus dalam memikul salib jika kita ingin menjadi murid. Dia menjadi miskin agar orang lain menjadi kaya. Lalu bagaimana dengan kita? Kita juga harus melakukan hal yang sama.

Saya tidak mau terlalu banyak berbicara mengenai pengalaman-pengalaman saya dalam urusan ini. Yang bisa saya sampaikan adalah ketika saya melayani Tuhan di Inggris, saya mengorbankan harta warisan saya. Saya tadinya kaya, akhirnya menjadi miskin. Akan tetapi saya melihat orang Kristen yang berkata, “Oh, itu bagus.” Kebanyakan orang tidak tahu akan hal itu. Dan sebenarnya tidak jadi masalah. Akan tetapi ketika saya mengamati keadaan di tengah Gereja, hati saya sangat sedih. Yang membuat saya sedih bukanlah karena saya jatuh miskin secara keuangan, melainkan karena saya melihat betapa miskinnya para saudara seiman. Mereka tidak akan sampai ke Kerajaan jika mereka terus berada dalam keadaan ini. Jadi kita harus sangat berhati-hati. esus berkata, “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” Saya ingatkan kepada Anda, itu semua adalah ucapan-Nya, bukan ucapan saya. Dan saya tunjukkan kepada Anda bahwa memang ini maksud-Nya. Makna di dalam kehidupan sehari-hari adalah, “Sama seperti Aku telah mengasihi kamu, dengan cara itu pula kamu akan saling mengasihi.” Sama dengan itu, saya ingin katakan, mari kita satukan hati dan mendukung pekerjaan gereja dan juga mendukung mereka yang sedang dalam pelatihan. Dan jika saya sampai mengajukan contoh dari diri saya sendiri, maka seperti Paulus, saya akan berkata, “Aku berkata seperti orang gila (2 Korintus 11:23), saya tidak memperoleh tambahan uang dari melatih mereka. Saya mendapatkan tambahan pekerjaan tetapi bukan tambahan gaji.” Apakah yang bersedia dilakukan oleh para saudara seiman?

4. Mengasihi ‘seperti Aku telah mengasihi kamu’ berarti melayani

Hal keempat yang kita lihat adalah ini: Seperti Yesus telah mengasihi kita. Bagaimana cara Dia mengasihi kita? Dia melibatkan diri dengan kita, akan tetapi bahkan lebih dari sekadar terlibat, Dia harus merendahkan diri-Nya. Karena di dalam melakukan hal itu, Dia harus menjadi seorang hamba. Pada dasarnya, Dia sedang melayani kita. Anda tahu, di dalam pengertian tersebut, seroang dokter yang sedang merawat pasiennya sebenarnya menjadi hamba si pasien itu. Dia melayani pasien itu. Itu adalah tindakan pelayanan. Akan tetapi, di sini, Yesus harus turun ke tingkatan kita. Jika Anda jatuh ke dalam lubang, maka jalan satu-satunya untuk menolong Anda adalah dengan masuk ke dalam lubang itu. Dia harus merendahkan diri-Nya dan siap untuk mengotori dirinya dalam rangka menolong Anda. Yesus berkata, “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani” (Mar 10:45).

Apakah melayani atau memberi itu adalah kesia-siaan?

Namun apakah sikap yang dimiliki oleh orang-orang Kristen? Saling mengasihi itu berarti saling melayani. Namun kadang kala, kita memandang pelayanan sebagai pemborosan waktu. Kita mulai dari para wanita karir. Mereka memandang kegiatan memasak, mencuci pakaian dan sebagainya itu sebagai pemborosan waktu. Oh, semoga semua urusan ini cepat berlalu. Bagi mereka, hal apakah yang bukan merupakan pemborosan waktu? Hal mengejar pengetahuan, mengejar sesuatu bukanlah hal yang memboroskan waktu. Memberi adalah tindakan pemborosan waktu. Dengan demikian, pemahaman semacam ini terus berkembang, bahwa segala tindakan yang berupa tindakan memberi adalah suatu kerugian – Anda memboroskan waktu, Anda juga memboroskan uang. Akan tetapi, tindakan mengambil bukanlah suatu pemborosan. Kita perlu untuk belajar cara yang berbeda. Saat kita melayani, kita akan menjadi serupa dengan Krsitus. Itu bukanlah pemborosan waktu. Saat Anda melayani orang lain, Anda sedang melangkah di jejak kaki Yesus.

Begitu banyak wanita zaman sekarang yang berpikir sangatlah penting untuk meraih gelar sarjana, bahkan sampai tingkatan yang tertinggi. Saya pernah memberi kesaksian tentang seorang saudari di Inggris yang bergelar Doktor di bidang Kimia, dan sekarang apakah pekerjaannya? Dia menghabiskan segenap waktunya untuk mengurusi ketiga anaknya. Saya bertanya kepada Anda, mana yang merupakan pemborosan waktu buat dia? Menghabiskan enam tahun belajar untuk meraih gelar Doktor merupakan syarat untuk membesarkan tiga anak! Saya yakin Anda akan berkata, “Yah, tetapi dia masih bisa membanggakan gelar Doktornya.” Lantas apa? Saya ingin berbicara tentang perincian praktisnya. Apa itu pemborosan waktu? Apa yang bisa Anda lakukan dengan gelar Doktor di rumah? Akan tetapi seperti itulah mentalitas orang-orang Kristen sekarang ini, yaitu bahwa mereka tetap akan memandang bahwa sekalipun tak ada yang bisa dia kerjakan dengan gelar Doktor di bidang Kimianya itu, setelah membuang sekian tahun, mereka masih memandang hal ini sebagai bukan suatu pemborosan karena, bagaimanapun juga, dia telah memiliki gelar Doktornya itu. Orang bisa memanggilnya dengan sebutan “Dr. Ny. Anu.” Jadi tidak masalah apakah Anda tidak tahu bagaimana cara membesarkan tiga atau empat anak, Anda tidak tahu bagaimana memandikan bayi, Anda tidak tahu bagaimana memasak, semua itu tidak penting, selagi Anda masih memiliki gelar Doktor, walaupun Anda tidak bisa memanfaatkannya. Saya yakin bahwa Anda masih akan berpikir waktu enam tahun yang terbuang untuk gelar Doktor itu tidak sia-sia, sekalipun Anda tidak akan pernah memanfaatkan gelar itu lagi. Karena siapa tahu? Mungkin di masa tuanya nanti dia bisa memanfaatkan gelar itu. Mungkin dia bisa mengajar di suatu sekolah. Bagi kita, yang penting selalu adalah apa yang bisa kita dapatkan. Apapun pengorbanannya, selama kita bisa mendapatkan sesuatu, maka itu bukan pemborosan. Akan tetapi, apapun yang kita beri, itu adalah pemborosan.

Anda paling serupa dengan Kristus di saat Anda merendahkan diri untuk melayani

Dengan demikian, para murid, orang-orang Kristen, harus belajar untuk mengubah cara berpikirnya: saat saya melayani, itulah saat saya paling serupa dengan Kristus. Sangatlah susah untuk mengubah cara berpikir kita, bukankah demikian? Kita sudah diindoktrinasi sejak masa kecil kita bahwa inilah hal yang benar untuk dilakukan. Di dalam Yohanes pasal 13, pasal di mana kita membaca tentang perintah yang baru itu, hal apakah yang Yesus kerjakan di sana? Dia membasuh kaki murid-murid-Nya. Dan Di melanjutkan dengan berkata, “Lakukanlah hal itu bagi sesamamu.” Dia ingin mengajar mereka untuk saling melayani karena yang terbesar di dalam Kerajaan Allah adalah dia yang melayani mereka yang lain, hal yang sudah kita lihat beberapa minggu yang lalu.

Saya sangat terharu ketika berada di London baru-baru ini. Seorang saudara yang terkasih, Dokter Thomas, menelepon saya pada hari keberangkatan saya. Dia berkata, “Oh, engkau masih di sini.” Dia tidak tahu karena dia sedang sibuk menyelenggarakan KKR selama beberapa hari. Saya berkata, “Aku akan berangkat sore ini.” Dia menyahut, “Aku akan datang karena aku tahu bahwa kamu membawa banyak barang bawaan. Kamu membeli begitu banyak buku. Dan kamu harus mengangkat semua itu ke bandara.” Lalu dia datang dan membantu saya mengangkat barang-barang bawaan itu ke bandara tanpa peduli keadaannya sendiri yang sedang kelelahan akibat beberapa hari KKR itu. Dia baru saja pulang tengah malam sebelumnya. Saya berusaha menolak bantuannya dengan menganjurkannya untuk beristirahat saja di rumah, akan tetapi dia berkeras membantu saya dengan mengatakan bahwa melayani adalah suatu kesempatan yang istimewa buatnya. Melayani saudara seiman berarti melayani Tuhan. Inilah makna merendahkan diri, sma seperti Yesus telah merendahkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba (Filipi 2:7-8). Thomas bisa saja berkata, “Aku telah melayani Tuhan selama beberapa hari ini, mengapa aku harus ikut mengangkat koper orang lain?” Akan tetapi dia telah belajar tentang makna pemuridan. Menjadi serupa dengan Kristus berarti melayani, dan untuk melakukan hal itu, Anda perlu merendahkan diri Anda.

Rendahkah hati Anda dalam segala hal

Saya juga ingin mengajukan satu poin praktis: sikap ini juga terlihat dari cara kita berbicara satu dengan yang lain. Saat anak-anak muda berkumpul, mereka senang bercanda satu sama lain. Akan tetapi jika canda Anda sampai menyinggung hati orang lain, maka ingatlah hal ini: Anda sedang merendahkan orang lain dan meninggikan diri Anda. Jika Anda berolok-olok tentang kesalahan orang lain, itu bukanlah jiwa Kristus. Sungguh berat rasanya hati saya melihat bagaimana orang-orang Krsiten, terutama mereka yang muda tertawa bersama-sama atas kekeliruan atau kesalahan orang lain atau mengolok-olok seseorang karena dengan berbuat begitu kita secara tidak langsung sedang merendahkan orang lain dalam rangka meninggikan diri kita sendiri. Saya beritahu Anda, jiwa Kristus tidak seperti itu. Itu adalah dosa. Jika Anda ingin bercanda, tertawailah diri Anda sendiri. Tertawalah pada keadaan Anda sendiri. Biarlah orang lain tertawa melihat Anda. Mengapa harus menjadikan orang lain sebagai sasaran tawa Anda? Ini bukanlah jiwa Kristus dan sama sekali tidak lucu. Marilah kita hidup sebagai seorang murid dalam setiap perinciannya.

5. Mengasihi ‘seperti Aku telah mengasihi kamu’ berarti saling mengampuni

Yang kelima, Anda lihat bahwa saat Yesus mengasihi kita, apakah yang Dia lakukan? Dia mengampuni kita. Dengan cara itu pula, kita harus saling mengampuni. Demikianlah, rasul Paulus kembali memakai kata ‘sama seperti’, sebagaimana yang kita lihat di dalam kalimat “saling mengasihilah kamu sama seperti Aku telah mengasihi kamu,” dia menerjemahkan hal itu ke dalam Kolose 3:13 dengan cara yang sama, yaitu memakai kata ‘sama seperti’: Sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Dapatkah Anda melihat makna memikul salib dan mengikut Yesus di dalam ayat tersebut? Kadang kala perkara mengampuni ini sangatlah sulit, karena setiap kali Anda mengampuni, ada harga yang harus ditanggung dari tindakan itu. Sebagai contoh, ada orang yang datang ke tempat Anda lalu memakai piring Anda, dan piring itu terjatuh lalu pecah. Dengan mengampuni berarti Anda mengorbankan piring Anda. Harga pengampunan itu terletak pada harga piring tersebut. Atau, yang lebih buruk lagi, mungkin melibatkan barang yang lebih mahal. Jika Anda mengijinkan orang lain memakai mobil Anda dan mobil itu bertabrakan, itu bisa berarti Anda harus mengampuni lebih besar lagi. Tapi di sini dikatakan bahwa “Sama seperti Dia telah mengampuni.” Dia telah mengampuni kita jauh lebih besar lagi, jadi kita harus mengampuni juga. Ini bukanlah suatu pilihan. Kitaberada di bawah perintah. Kita harus mengampuni.

6. Mengasihi ‘sama seperti Aku telah mengasihi kamu’ berarti berdamai

Di dalam poin yang keenam, kita akan melihat bahwa jika kita setulus hati mengikut Kristus dan memikul salib, maka kita akan berdamai. Kita diberitahu di dalam Efesus 2:16 dan Kolose 1:21 bahwa Kristus datang untuk mendamaikan kita dengan Bapa, bahwa Kristus mendamaikan kita dengan Allah di dalam tubuh-Nya di kayu salib. Dan jika kita mengasihi sama seperti Kristus mengasihi, maka disebutkan di dalam 2 Korintus 5:18, Allah telah memberi kita pelayanan perdamaian. Demikianlah, pekerjaan yang telah dilakukan oleh Yesus, kita kerjakan juga.

Kembali, saya tidak melihat hal initerjadi di dalam Gereja. Karena begitu sering, saya melihat, orang-orang sangat sembrono di dalam cara mereka berbicara antara satu dengan yang lain. Mereka menggunjingkan saudaraa atau saudari seiman di balik punggung yang bersangkutan. Dan dampak dari tindakan semacam ini adalah tidak adanya perdamaian, yang mendekatkan setiap orang, melainkan pemisahan, memasukkan kesalah-pahaman dan sakit hati di dalam diri orang-orang. Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang membawa damai.” Orang ini mendekatkan para saudara seiman. Pikirkan saja, betapa indahnya jemaat yang terbentuk jika setiap orang bekerja saling mendekatkan satu dengan yang lain. Akan tetapi, ada orang yang selalu saja sembrono atau malah sengaja menimbulkan perpecahan dan kesalah-pahaman di antara saudara-saudara seiman. Ini adalah dosa di hadapan Tuhan. Tugas kita adalah mendamaikan. Paulus berkata bahwa Allah telah memberi kita pelayanan pendamaian, menyatukan para saudara seiman, dan orang-orang non-Kristen dengan Allah.

7. Mengasihi ‘sama seperti Aku telah mengasihi kamu’ berarti menyerahkan nyawa Anda untuk para saudara seiman

Hanya jika kita telah melakukan semua ini baru kita bisa sampai kepada poin yang ketujuh dan yang terakhir di mana kita secara nyata benar-benar menyerahkan nyawa kita untuk saudara dan saudari seperti yang telah Yesus lakukan untuk kita. Hanya dengan cara itu baru kita bisa memenuhi firman Yesus di dalam Yohanes 15:13 di mana Dia berkata, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” Kasih yang terbesar adalah dengan menyerahkan nyawa bagi sahabat-sahabat Anda. Akan tetapi, seperti yang kita lihat di dalam 1 Yohanes 3:16, hal ini adalah suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap orang Kristen kepada orang lain. Akan tetapi, jika Anda bahkan tidak peduli akan hal bagaimana memiliki belas kasihan dan kepedulian pada saudara atau saudari seiman, maka Anda tidak akan mau terlibat di dalam kesulitan orang itu. Anda tidak akan bersedia membantu dia secara keuangan; Anda tidak akan bersedia merendahkan diri Anda untuk melayani saudara-saudara seiman; Anda akan berkata, “Mengapa harus aku?” Kalau begitu, lalu mengapa Yesus harus melayani Anda? Mengapa Yesus harus menyalamatkan Anda? Karena Dia telah melakukan semua ini kepada saya, maka saya berada dalam kewajiban untuk melakukannya juga kepada orang lain.

Dan selanjutnya, Anda tidak akan mau mengampuni saudara seiman. Sungguh mengherankan melihat betapa orang-orang Krsiten masih menyimpan kejengkelannya kepada orang lain sampai bertahun-tahun. Dan mereka sangat sensitif: “Ada orang yang menjelek-jelekkan aku, aku sekarang ini sedang marah besar.” Dan mereka memiliki daya ingat seperti gajah – kita diberitahu bahwa gajar tidak pernah lupa. Yang diperlukan oleh orang Kristen adalah dibuat menjadi tidak sensitif. Sangat mengerikan melihat betapa mudahnya orang Kristen saling tersinggung antara satu dengan yang lain. Kita seperti landak yang berdekatan. Saya selalu bertanya-tanya bagaimana cara landak saling berdekatan. Mereka semua dipenuhi oleh duri, saling menusuk ke sana kemari.

Bagaimana bisa kita ini menjadi murid Kristus? Orang Krsiten macam apakah kita ini? Jika kita tidak bisa mengampuni, bagaimana mungkin kita berbicara tentang perdamaian? Dmikianlah, saat kita sampai pada poin terakhir tentang menyerahkan nyawa, saya nyaris berpikir bahwa hal ini tidak ada gunanya untuk dibicarakan mengingat keadaan Gereja seperti sekarang ini.

Jaminan keselamatan yang alkitabiah: mengasihi saudara seiman sama seperti Aku telah mengasihi kamu

Now that we have gone through these seven meanings of “love as I love have loved you”, we have seen how Christ loved us. How do you measure up to this if you call yourself a Christian? And I have to keep asking myself, “How do I measure up to this?” lest I preach to others and become the biggest hypocrite myself. If you wish to be a disciple, let no-one leave the church today and say, “I didn’t know what it means to take up the cross.” Now you know what it is. So, no-one has an excuse for saying he doesn’t know how to be a disciple. How do we know we are disciples? The true mark of a disciple is in 1John 3:14, the Apostle John says this: Hereby we know that we have passed from death to life because we love the brethren.

Sekarang kita telah melihat ketujuh makna tentang “mengasihi sama seperti Aku telah mengasihi kamu”, kita telah melihat bagaimana Kristus mengasihi kita. Jika Anda menyebut diri Anda Kristen, bisakah Anda mengukur diri Anda berdasarkan ketujuh poin ini? Dan saya juga harus terus bertanya kepada diri saya, “Bisakah saya memenuhi patokan tersebut?” agar jangan sampai saya menyampaikan hal ini kepada orang lain dan selanjutnya malah menjadi orng munafik yang paling besar. Jika Anda ingin menjadi seorang murid, janganlah ada orang yang meninggalkan gereja ini hari ini dan berkata, “Aku tidak tahu apa arti memikul salib itu.” Sekarang Anda sudah tahu artinya. Jadi, tak seorngpun yang punya alasan dengan berkata bahwa dia tidak tahu apa arti menjadi seorang murid.

Bagaimana kita tahu bahwa kita ini murid? Tanda sejati dari seorang murid ada di dalam 1 Yohanes 3:14, rasul Yohanes menyatakan hal ini, “Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita.”

Sungguh menggelikan, bahwa di zaman sekarang ini, kita mendengar begitu banyak orang yang berbicara tentang jaminan. Mengapa orang-orang itu tidak mengutip ayat ini dalam menjelaskan jaminan keselamatan? Yohanes sedang memberitahu Anda tentang bagaimana cara memastikan jaminan itu. Anda akan tahu apakah Anda telah berpindah dari maut ke dalam hidup, apakah Anda selamat atau tidak, dengan cara mengetahui apakah Anda mengasihi saudara seiman atau tidak. Dengan cara itu Anda bisa melihatnya. Namun sekarang ini, kita maunya berbicara tentang jaminan keselamatan yang tidak menimbulkan pengorbanan apa-apa. Saya beritahu Anda, banyak dari antara orng yang menyatakan bahwa mereka memiliki jaminan keselamatan atau mengira bahwa mereka memiliki jaminan tersebut tidak menunjukkan hal-hal yang meneguhkan jaminan itu. Sekilas saja sudah terlihat bahwa mereka tidak memiliki jaminan yang alkitabiah. Banyak dari antara orang-orang ini yang mengira bahwa mereka telah diselamatkan, padahal mereka jauh dari keselamatan itu.

Mengapa hanya orang yang mengasihi saudara-saudara seiman yang memiliki jaminan keselamatan itu? Karena jika Anda mengasihi saudara seiman, maka hal itu menunjukkan bahwa Anda memiliki Roh Kudus. Kasih Allah dicurahkan ke dalam hati kita oleh Roh Kudus. Jika Anda ingin tahu apakah Anda memiliki kepenuhan Roh Kudus, inilah titik awalnya karena buah Roh adalah kasih. Orang yang berkata bahwa dia memiliki Roh Kudus tetapi tidak mengasihi adalah seorang pembohong. Saya berdoa kiranya Allah berbicara ke dalam hati kita.

Hari ini, fokus saya adalah apakah Anda memahami semua hal ini. Atau lebih jauh lagi, yang menjadi pertanyaan adalah apakah Anda mengerjakannya. Dan jika Anda berkata bahwa Anda mengetahuinya tetapi Anda tidak mengerjakannya, maka kesalahan Anda sangatlah besar karena Anda sendiri telah tahu apa yang akan terjadi sebagi akibat dari kesalahan itu. Selanjutnya, mari kita, dengan kasih karunia Allah, menyadari betapa lemahnya diri kita ini dan berkata, “Tuhan, dengan kasih karuniaMu, aku akan memikul salib dan mengikut Engkau. Aku akan mengasihi sama seperti Engkau telah mengasihiku.” Dengan begitu maka segenap jemaat akan ditransformasi, dimulai dari Anda.

Doa penutup

Ya Allah dan Bapa kami, terima kasih karena Engkau telah mengumpulkan kami hari ini untuk mendengarkan FirmanMu yang memimpin kami kepada hidup dan harapan yang kekal. Bapa, kami bersyukur padaMu karena telah memberi kami panggilan yang sangat mulia, bahwa barangsiapa bersedia, dapat menjadi anakMu dan mengenakan keserupaan dengan Kristus sebagai orang Kristen. Terima kasih karena telah memimpin setiap ornag dari antara kami, dan teruskanlah membimbing kami tentang bagaimana cara melangkah di jalan salib dan berkatilah kami.

Ajarlah kami, ya Tuhan, untuk saling mengasihi, agar dengan kaih ini, maka dunia bisa mengetahui bahwa kami adalah murid-muridMu. Bantulah kami karena kami ini lemah. Ajarlah kami cara memikul salib dan mengikut Engkau agar kami boleh menyenangkan hatiMu. Kami bawa setiap orang yang hadir di sini pada hari ini ke dalam tanganMu yang penuh kasih, ubahlah setiap kami dan pakailah kami semua supaya kami dapat menjadi murid yang sejati, orang Krsiten yang sejati, orang Kristen yang berkemenangan, untuk menyenangkan hatiMu.

Sekali lagi, terima kasih kepadaMu karena telah menyuapi kami dengan FirmanMu secara berkelimpahan hari ini. Bantulah kami untuk menjalani FirmanMu I dalam kehidupan kami sehari-hari. Bantulah kami untuk mengenakan Kristus seiring dengan perjalanan kami mengikut Tuhan Yesus. Terimalah ucapan syukur dan doa kami ini, kami memohon di dalam nama Tuhan Yesus, amen.

Sumber: http://www.cahayapengharapan.org/

Baca juga:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *