Membentuk Karakter Anak dari Sekolah Minggu

KARAKTER KRISTEN ANAK SEKOLAH MINGGU
====================================

Pendahuluan
———–
Kita sering mendengar dan memakai kata “karakter”, apakah artinya?
Berikut ini adalah sebagian dari definisi kata “karakter” menurut
beberapa kamus bahasa Inggris:
a. Karakter adalah suatu kualitas yang dimiliki oleh seseorang
yang membedakan dirinya dengan orang lain.
b. Karakter adalah kualitas moral/mental seseorang yang menunjukkan
identitasnya.
c. Karakter juga digunakan untuk menunjukkan orang macam bagaimana
dia.

Dari definisi di atas kita dapat menarik kesimpulan bahwa yang
dimaksud dengan “Karakter Kristen” adalah kualitas yang dimiliki
orang Kristen yang membedakannya dengan orang yang bukan Kristen.
Kualitas ini tidak muncul dengan sendirinya dalam diri orang
Kristen. Lalu darimana dan bagaimana karakter Kristen ini kita
dapatkan/peroleh?

Karakter Umum
————–
Sebelum melanjutkan pembahasan tentang “Karakter Kristen”, ada
baiknya kita membicarakan lebih dahulu faktor-faktor apa yang
membentuk kita menjadi sebagaimana kita adanya sekarang. Faktor-
faktor yang membentuk karakter kita secara umum, antara lain:
– faktor keturunan,
– faktor lingkungan
– faktor kebiasaan.
Tidak ada seorang pun di dunia ini yang sama serupa. Masing-masing
kita adalah unik karena setiap kita lahir dari keturunan yang
berbeda, dibesarkan dari lingkungan yang berbeda dan melakukan
kebiasaan-kebiasaan yang berbeda. Faktor-faktor inilah yang akhirnya
membentuk sebagian besar karakter umum (atau pribadi) kita.

Sebagai contoh, jika seseorang dilahirkan dari keturunan baik-baik,
dibesarkan dalam lingkungan baik-baik dan memiliki kebiasaan yang
baik-baik maka pada umumnya ia akan menjadi orang yang baik,
memiliki karakter sebagai orang yang baik.
Bagaimana dengan Karakter Kristen?

Karakter Kristen
—————-
Mari kita kembali pada pembahasan sebelumnya, yaitu darimana dan
bagaimana kita, sebagai orang Kristen, mendapatkan karakter Kristen?
Sama halnya dengan karakter umum, karakter Kristen juga dipengaruhi
oleh beberapa faktor, namun faktor-faktor tsb. adalah faktor-faktor
yang bersifat rohani.

1. Kelahiran Baru (Yohanes 3:16)

Karakter Kristen didapatkan dari faktor keturunan “rohani”, yaitu
ketika kita dilahirkan dalam Roh sehingga kita memiliki benih
rohani yang siap bertumbuh dalam diri kita. Benih ini adalah
benih dari Allah, di dalamnya terkandung sifat-sifat dan karakter
Allah yang menurun pada kita, anak-anak-Nya.

2. Persekutuan dengan saudara-saudara seiman (Filipi 2:1-5)

Namun benih rohani yang tertanam dalam hati kita tidak akan
bertumbuh dengan baik kalau tidak berada di tanah dan lingkungan
“rohani” yang baik. Oleh karena itu seorang yang sudah dilahirkan
baru harus hidup dalam persekutuan orang-orang beriman agar benih
itu bertumbuh dengan subur dan memancarkan karakter Allah dengan
dengan cemerlang di dunia sekitarnya.

3. Persekutuan pribadi dengan Allah (Kolose 2:6-7)

Lingkungan yang baik saja tidak cukup menolong seorang Kristen
untuk memiliki karakter Kristen, karena ia perlu memiliki
kebiasaan-kebiasan “rohani” yang akan meneguhkan karakter
rohaninya. Kebiasaan-kebiasaan “rohani”nya ini dibentuk dari
persekutuannya yang teratur dan kehidupan yang dekat dan taat
dengan Tuhan.

Sampai di sini kita dapat melihat bahwa karakter Kristen memang
adalah anugerah dari Allah tapi tidak dengan sendirinya akan
bertumbuh, diperlukan lingkungan dan usaha/kerjasama manusia.
Nah… sebagai guru Sekolah Minggu, pertanyaan yang perlu kita
ajukan sekarang adalah: bagaimana kita dapat menolong anak-anak
Sekolah Minggu kita untuk memiliki “karakter Kristen”?

Karakter Kristen Anak Sekolah Minggu
————————————
Seperti yang telah dibahas sebelumnya bahwa karakter Kristen atau
karakter rohani harus lahir dari manusia yang rohani. Oleh karena
itu tugas utama dari seorang guru Sekolah Minggu adalah membawa anak-
anak untuk menerima keselamatan dalam Kristus Yesus. Kecuali anak SM
menerima kelahiran baru dan keselamatan di dalam Yesus maka tidak
mungkin akan ada karakter rohani dalam hidup mereka. Tapi, sangat
mungkin seorang anak SM belajar karakter-karakter Kristen (seperti
kasih, kesucian, kebajikan, keadilan, keberanian, kedisiplinan dan
sebagainya), namun hal ini hanya sebatas perubahan luarnya/tingkah
lakunya (behaviour) saja dan bukan perubahan dari dalam, yaitu
perubahan hatinya.

Pertanyaan yang mungkin timbul adalah, bagaimana guru SM mengetahui
apakah seorang anak SM sudah mengalami lahir baru atau belum? Memang
guru SM mungkin tidak tahu, karena kelahiran baru terjadi di dalam
hati dan kadang tidak dapat dilihat seketika dari luarnya (Yohanes
3:8). Namun bukan berarti bahwa guru SM tidak dapat melakukan apa-
apa. Di tengah keadaan seperti ini sangat penting untuk diingat
bahwa tugas kita sebagai guru SM adalah dua bagian:

Pertama, melayani pemberitaan Injil.

Setiap guru SM harus memegang keyakinan seperti Rasul Paulus:
“Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena
Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang
percaya” (Roma 1:16). Setiap anak yang datang ke SM merupakan
sasaran PI dimana kuasa Injil akan dinyatakan. Tugas pemberitaan
ini tidak dilakukan satu atau dua kali tapi berkali-kali dan
berulang-ulang (tidak akan pernah berhenti) karena tidak setiap
anak akan menerima benih Injil pada saat yang sama. Ada yang
cepat tapi ada juga yang lambat.

Kedua, memelihara benih Injil yang jatuh di tanah yang subur.

Setiap usaha pemberitaan Injil akan menghasilkan dua akibat,
Injil diterima atau Injil ditolak (Yesaya 55:11). Bagi mereka
yang menerima Injil, maka guru SM harus melanjutkan tugasnya
untuk menyirami dan memelihara benih itu agar terus bertumbuh. Di
dalam pertumbuhannya inilah anak akan sedikit demi sedikit
belajar mengembangkan karakter-karakter Kristen agar ia bertumbuh
menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, Yesus Kristus (Roma
8:29).

Sumber Referensi:
1. Cobuild, Collins, English Dictionary, Harper Collins Pulbishers,
London: 1995.
2. Hornby, A.S. Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current
English, Oxford University Press, London: 1974.
Judul buku: Seni Membentuk Karakter Kristen
Pembicara : Pdt. Dr. Stephen Tong
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia (LRII), Jakarta: 1995.

[[Sebagai lanjutan dari pembahasan karakter/pribadi Kristen ini,
maka kami kutipkan di bawah ini satu bagian kecil yang diambil dari
buku ARSITEK JIWA II, catatan seminar yang dibawakan oleh Pdt. Dr.
Stephen Tong:]]

WATAK KRISTEN DAN KEPRIBADIAN YANG SESUAI ALKITAB
————————————————-
Berbicara tentang bagaimana mempunyai watak hidup kekristenan yang
sesuai dengan Alkitab merupakan pembahasan yang sangat luas. Hal ini
merupakan tugas dan fungsi akhir dari pendidikan Kristen. Mengapa
kita mendirikan Sekolah Kristen? Mengapa ada Sekolah Minggu? Mengapa
ada guru-guru agama Kristen dan guru-guru Sekolah Minggu? Justru
kita sebagai seorang Kristen, selain memberikan hidup kepada orang-
orang yang kita didik, selain kita mengharapkan mereka memiliki
hidup di dalam (inward life) yang sudah dilahirkan kembali, mereka
juga membentuk karakter di luar (outward character). Hidup itu
merupakan pekerjaan Roh Kudus melalui Firman yang kita kabarkan,
melalui Injil yang kita tegakkan sebagai pusat iman, kita melahirkan
mereka melalui kuasa Injil dan Firman oleh Roh Kudus di dalam kuasa
Allah. Setelah itu kita mendidik mereka di dalam karakter Kristen.

Mendidik karakter kekristenan merupakan hal yang sangat penting.
Saudara perlu memiliki kasih, perlu memiliki kesucian, kebajikan,
keadilan. Ada beberapa prinsip yang penting di dalam membentuk
karakter seorang murid, yaitu:
1. Kasih
2. Keadilan
3. Bijaksana
4. Kebajikan
5. Keberanian
6. dan beberapa yang lain.

Kasih dan keadilan yang dilakukan secara benar dan seimbang akan
menghasilkan bijaksana. Hasil dari keseimbangan ini akan
mendatangkan kuasa yang sangat luar biasa. Bijaksana adalah satu
rahasia untuk memberikan keseimbangan antara cinta kasih dan
keadilan, dan hasil daripada keseimbangan ini akan memberikan
pengaruh yang luar biasa dalam hidup kita. Kebajikan dan keberanian
menjadi dasar untuk hidup dan berjuang di dalam masyarakat.

Pembentukan karakter Kristen membutuhkan kasih yang sungguh-sungguh,
keadilan yagn tegas, bijaksana untuk mengatur keduanya dan kebajian
serta keberanian untuk meneruskan seluruh kehidupannya.

Bahan ini dikutip dari:
Judul buku: Arsitek Jiwa II
Pembicara : Pdt. Dr. Stephen Tong
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia (LRII), Jakarta: 1993
Halaman : 21 – 22

*********************************************************************
o/ TIPS MENGAJAR

PENGGALIAN DIRI ANAK
====================

Beberapa prinsip penting yang harus guru lakukan untuk menolong anak
mengembangkan penggalian diri yang baik:

1. Penemuan diri (self-discovery)
——————————
Apabila guru dapat membantu muridnya untuk “menemukan” dirinya
sendiri (melihat sifat-sifatnya, melihat apa yang Tuhan tanam
dalam dirinya) maka Ia akan mengagumi apa yang Tuhan kerjakan
di dalam dirinya secara pribadi.

2. Penghargaan diri (self-respect)
——————————-
Sebagai guru, kita harus memupuk anak agar menghormati atau
menghargai dirinya karena Tuhan sendiri yang telah menciptakan
dan membentuk dia dengan memberikan potensi khusus untuk
dikembangkannya. Penghargaan pada diri sendiri akan menjadi
kekuatan untuk memelihara diri dari kehancuran yang dapat
menyerangnya sewaktu-waktu.

3. Pengertian diri (self-understanding)
————————————
Memiliki pengenalan diri adalah sangat penting, dimana seorang
anak dapat mengetahui siapa dirinya, dimana kelebihan dan
kekurangannya. Pengertian diri ini merupakan awal dari
kebijaksanaan. Mengenal diri akan membawa seseorang mengerti
akan keterbatasannya dan memahami ketidakterbatasan Allah.
Inilah kunci bijaksana: dengan iman seorang yang terbatas sedang
berpegang pada yang tidak terbatas.

4. Keyakinan diri (self-confidence)
——————————–
Sebagai guru, kita harus menegakkan murid-murid kita agar dalam
hidup mereka di dunia mereka mempunyai kepercayaan diri, yaitu
keyakinan bahwa mereka bisa melakukan sesuatu. Tapi, di sisi
yang lain, kita hendaknya tidak menuntut anak melampaui apa yang
bisa ia kerjakan, hal ini justru akan meruntuhkan self-confidence
anak. Ketika kemampuan dan keyakinan diri anak seimbang, seorang
anak akan sehat jiwanya.

5. Pertanggungjawaban diri (self-responsibility)
———————————————
Seorang anak dapat bertumbuh menjadi dewasa bila dia belajar
arti tanggung jawab. Bagaimana dalam hidupnya dia belajar untuk
memikirkan orang lain, tidak mementingkan diri sendiri, serta
bersikap murah hati.

6. Pengembangan diri (self-development)
————————————
Dorongan untuk senantiasa mengembangkan diri adalah suatu
dorongan yang sehat bila yang kita kembangkan adalah kemampuan
dan potensi diri yang sesuai dengan pimpinan Tuhan, bukan
menuruti nafsu kedagingan kita sendiri.

7. Penggenapan diri
—————-
Didiklah murid-murid untuk membuat perencanaan hidup berdasarkan
prinsip hidup yang sesuai dengan Alkitab, sehingga mereka
memiliki pagar-pagar sendiri dan dapat berjalan menurut jalur
mereka. Prinsip-prinsip itu akan menjadi disiplin bagi diri
mereka sendiri kelak saat mereka lepas dari asuhan kita.

Bahan ini dirangkum dari:
Judul buku: Seni Membentuk Karakter Kristen
Pembicara : Pdt. Dr. Stephen Tong
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia (LRII)
Halaman : 100 – 114

PERAN SEKOLAH MINGGU DALAM MEMBENTUK KARAKTER ANAK
==================================================

Dalam sebuah acara tanyajawab dengan Dr. Stephen Tong (yang ditulis
dalam bukunya “Seni Membentuk Karakter Kristen”), salah seorang
peserta bertanya: “Apakah peranan Sekolah Minggu dalam membentuk
karakter anak?” Jawaban pertanyaan tsb. kami kutipkan di bawah ini:

“Dalam soal waktu, Sekolah Minggu mempunyai bagian yang paling
kecil dalam hidup seorang anak. Seorang anak mempunyai paling
tidak tiga puluh lima sampai empat puluh sembilan jam per minggu
di sekolah, dan mempunyai lebih dari seratus jam per minggu di
rumah, namun hanya mempunyai waktu dua jam di Sekolah Minggu.
Dalam soal keseimbangan, Sekolah Minggu mempunyai tugas yang
terbesar, karena pembentukan karakter yang gagal di rumah atau
tidak didapat di sekolah akan didapat di Sekolah Minggu.

Guru-guru Sekolah Minggu mempunyai hak yang besar dalam
pembentukan iman, pengharapan, kasih, firman, pengertian, doktrin,
dan pimpinan Roh Kudus dalam diri anak-anak itu. Oleh sebab itu
guru Sekolah Minggu tidak boleh menghina kedudukannya sebagai guru
Sekolah Minggu.

Seringkali sepatah kata mampu mengubah hidup seseorang. Demikian
pula dengan Sekolah Minggu, yang walaupun hanya dua jam per minggu
juga mampu memberikan pengaruh seumur hidup. Oleh karena itu waktu
yang singkat tetap bernilai penting bila dipergunakan sebaik
mungkin. Bila Tuhan bekerja didalamnya. maka sedetik perkataan
akan mengubah masa depan anak didik kita.”

Pendapat beliau di atas menolong kita untuk mengerti bahwa jika
Sekolah Minggu memiliki guru-guru yang mengajar anak-anak didiknya
dengan benar maka peranan SM dapat memiliki peran yang sangat
penting dalam pembentukan karakter anak. Oleh karena itu untuk
menyambung pembahasan ini, kami akan kutipkan pendapat Dr. Stephen
Tong tentang faktor-faktor apa yang berperan dalam pembentukan
karakter yang dituliskan dalam bukunya yang berjudul :”Arsitek
Jiwa”.

Menurut beliau ada 4 faktor yang sangat beperan dalam pembentukan
karakter yaitu: Kebenaran, Agama, Kesulitan (kesengsaraan dan
penganiayaan) dan Pembentukan Roh Kudus. Kami akan memberikan
ringkasan dari masing-masing faktor tsb. sbb.:

1. Kebenaran
———
“Kebenaran bagi orang Kristen adalah dasar dan prinsip, rencana
dan perintah-perintah Alkitab, yang terwujud di dalam diri
Kristus dan pengajaran-Nya. Ini akan membentuk diri kita. Itu
sebabnya, di dalam pendidikan dan pembentukan karakter, jangan
lupa bahwa Firma Tuhan itu penting sekali. Pengajaran tentang
Kristus menjadi sedemikian penting.”

Dr. Stephen Tong juga mengatakan bahwa dia kurang setuju dengan
pemikiran John Locke mengenai “tabula rasa”. Jika kita setuju
dengan prinsip seperti ini, itu berarti kita tidak sesuai dengan
kebenaran Alkitab, karena Alkitab mengatakan bahwa kita tidak
dilahirkan dalam keadaan “kertas puith”. tetapi kita sudah
dilahirkan dengan dosa turunan. Dalam hal ini sebagai guru SM
kita harus mengerti pokok pikiran teologi, supaya kita mengerti
pokok-pokok yang diajarkan dalam Firman Tuhan. Oleh karena itu
kita percaya bahwa hidup seorang anak tidak lagi betul-betul
putih lagi. Disini kita mengerti bahwa “sebagai guru, selain kita
menulis sesuatu kepada diri anak, kita terlebih dahulu juga harus
mencuci dan membersihkan dia dengan darah Kristus. sehingga
kertas itu bisa benar-benar putih dan bersih. Penting kita
melihat pendidikan bekerja sama dengan penginjilan dan
keselamatan.”

2. Agama
—–
Faktor kedua adalah agama.

“Kalau pendidikan mengisi hidup, dan makna hidup dan mengarahkan
jalan yang benar di dalam karakter manusia, maka agama mengontrol
dan menguasai kepribadian. Karena pengotrolan ini, orang selalu
mempunyai perasaan takut di bawah ikatan agama. Di mana agama
berkuasa besar, di situ masyarkat atau manusia dihantui oleh
suatu kekuatan supra-alami dan tidak berani sembarangan hidup.
Hal ini baik untuk menjaga dan menghentikan berkembang dan
merajalelanya kejahatan secara berlebihan itu. Itu berarti
dengan semakin banyaknya agama di dalam dunia ini, lebih banyak
orang tidak berani berbuat dosa.”

Namun, sebaik apa pun ajaran sebuah agama, tidaklah cukup untuk
mampu mengubahkan kepribadian seseorang menjadi sosok pribadi
baru yang mencerminkan kemuliaan Tuhan. Itu sebabnya Yesus
berkata kepada seorang pemimpin agama terkemuka pada masa itu
yang bernama Nikodemus, “Engkau harus dilahirkan kembali”
(Yohanes 3:3).

Oleh karena itu, Sekolah Minggu bukan mengajarkan agama kristen,
melainkan memperkenalkan dan membawa anak-anak kepada Yesus
Kristus yang sanggup mengubah diri mereka menjadi pribadi yang
baru, suatu ciptaan baru, melalui peristiwa “dilahirkan kembali”
/”kelahiran baru”. Penting bagi guru Sekolah Minggu untuk terus
menerus menyampaikan berita keselamatan serta membimbing anak-
anak yang telah siap untuk menerima Kristus sebagai Tuhan dan
Juruselamat mereka pribadi.

3. Kesulitan, Kesengsaraan dan Penganiayaan
—————————————-
Mengenai faktor ini Dr. Sthepen Tong mengatakan bahwa
kesengsaraan-kesengsaraan atau kepahitan-kepahitan, mengukir,
melatih, meneguhkan, tetapi sekaligus membahayakan satu
kepribadian. Kesengsaraan dan kepahitan membentuk pribadi
seseorang dan memberikan akibat kepada keputusan-keputusan
yang akan pribadi ambil bagi pribadi itu sendiri.

Peran Sekolah Minggu dalam hal ini adalah menolong anak-anak
untuk belajar menerima bahwa hidup tidak senantiasa manis, kadang-
kadang juga pahit. Namun guru perlu menolong anak untuk mengerti
bahwa kepahiran tidak selalu mendatangkan malapetaka, adakalanya
justru mendatangkan kebaikan kita. Kalau Tuhan ijinkan kesulitan
dan kesengsaraan datang datang dalam hidup kita, maka kita harus
bisa menggunakannya untuk membentuk karakter kita.

4. Roh Kudus
———
Roh Kudus memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk
kepribadian dan karakter seorang anak, karena Roh Kuduslah yang
akan memimpin, menolong, dan menyertai anak melalui kehidupan
sehari-hari mereka. Roh Kudus dikirimkan Allah untuk menjadi
Penolong bagi anak-anak-Nya.

Mengenai hal ini Sthepen Tong menyarankan pada guru Sekolah
Minggu untuk:
a. Belajar dengan sungguh-sungghu tentang doktrin Roh Kudus.
b. Sungguh-sungguh mau taat kepada Roh Kudus.
c. Dengan penyerahan total menyadarka seluruh pelayanan guru
Sekolah Minggu kepada pimpinan Roh Kudus, agar guru
menikmati sukacita karena Roh Kudus memberikan minyak
pengurapan kepada guru.
d. Menyerahkan setiap pribadi yang diajar dan dididik kepada
Roh Kudus dan mengajar mereka untuk taat kepada Roh Kudus.

Oleh karena itu, Sekolah Minggu perlu mengajarkan kepada anak-
anak bahwa Roh Kudus senantiasa memimpin dan menyertai mereka
dimana pun dan dalam situasi apa pun. Guru Sekolah Minggu juga
perlu mengajarkan pada anak untuk senantiasa taat pada pimpinan
Roh, supaya mereka akhirnya boleh menjalani hidup ini di dalam
kebenaran yang sejati, yaitu hidup di dalam terang Firman Tuhan.

Melalui apa yang sudah kita bahas di atas, kita dapat mengambil
kesimpulan bahwa Sekolah Minggu adalah peluang emas bagi anak untuk
mengenal Kristus. Apabila anda mempunyai kesempatan untuk mengajar
di Sekolah Minggu, maka sebenarnya ini suatu pintu kesempatan indah
yang terbuka di hadapan anda. Usia muda, atau usia anak-anak, adalah
masa yang paling tepat untuk membentuk karakter Kristen anak-anak.

Siapkah anda dipakai Tuhan untuk menolong anak-anak itu memiliki
karakter Kristen?

Tuhan memberkati pelayanan anda!

Sumber referensi yang dipakai:
1. Judul buku: Seni Membentuk Karakter Kristen
Penulis : Dr. Mary Go Setiawani & Pdt. Dr. Stephen Tong
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia
Halaman : 133

2. Judul buku: Arsitek Jiwa
Penulis : Pdt. Dr. Stephen Tong
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia
Halaman : 75-77

*********************************************************************
o/ TIPS MENGAJAR

BAGAIMANA MENGERTI KARAKTER ANAK YANG ABNORMAL
==============================================

Apa yang menyebabkan suatu ketika karakter bisa menjadi tidak
normal? Dalam buku “Arsitek Jiwa”, Dr. Sthepen Tong menuliskan ada
tiga penyebabnya, yaitu:

1. Penerimaan Kasih yang Tidak Normal
———————————-
Inti yang disampaikan oleh Dr. Stephen Tong dalam bukunya tsb.
a.l.: Kurang kasih maupun kasih yang berlebihan akan dapat
merusak perkembangan pribadi seorang anak. Bila seorang anak
kurang mendapatkan kasih, namun malah banyak mendapatkan tekanan
dalam hidupnya, ia akan bertumbuh menjadi seorang yang membenci
orang lain. Sebagaimana dia diperlakukan sewaktu masih kecil
(misal: dihajar, diperlakukan tidak adil, tidak dihargai,
dianaktirikan, dsb.), seperti itu jugalah dia akan memperlakukan
orang lain. Anak semacam ini bukan saja membenci orang lain, tapi
juga membenci dirinya sendiri. Sebaliknya, bila seorang anak
terlalu berlebihan “dikasihi”, akan membuatnya mempermainkan
kasih serta menganggapnya terlalu murah. Hal ini menyebabkan dia
tidak mempunyai pendirian emosi yang pasti.

Oleh karena itu sebagai seorang guru Sekolah Minggu, anda harus
mengajarkan cinta kasih yang murni dari Tuhan Yesus Kristus.
Kasih yang rela berkorban, tapi juga kasih yang adil dan tegas.
Jadilah guru SM yang memberikan cinta kasih yang tulus, cukup dan
adil pada setiap anak di kelas anda.

2. Tidak Memiliki Identitas Diri
—————————–
Menurut Dr. Stephen Tong jika seorang anak mempunyai identitas
diri yang kuat, ia pasti juga akan mempunyai jiwa yang kuat.
Sebaliknya, kalau seseorang kehilangan identitas diri dan
harkatnya dalam masyarakat, tidak mungkin ia mempunyai jiwa yang
sehat. Sebagai contoh, anak dari seorang pemabuk yang keluar
masuk penjara, tentu akan merasa sangat malu bila orang lain
mengenal siapa ayahnya. Dalam hal ini, kedudukan ayahnya menjadi
dasar dari identitas dirinya dalam masyarakat.

Oleh karena itu sebagai seorang Guru Sekolah Minggu, anda harus
dapat menolong anak-anak untuk memiliki identitas di dalam
Kristus. Mereka semua adalah anak-anak terang di dalam Tuhan
Yesus Kristus, dan kewargaan mereka adalah di surga. Tegaskan
bahwa Tuhan Yesus mengasihi setiap mereka tanpa memandang latar
belakang keluarga atau sosial ekonomi mereka, dan bahwa mereka
kini memiliki identitas yang baru sebagai “anak-anak Allah”.

3. Tidak Memiliki Komunikasi yang Baik
———————————–

Dalam hal ini Dr. Stephen Tong berkata bahwa jika seseorang
mempunyai objek komunikasi maka ia tidak akan mudah mengalami
sakit jiwa. Pendapat ini juga sangat benar diterapkan bagi
seorang anak, karena anak pun membutuhkan teman berbicara yang
mau menerima dan mengerti dirinya. Biasanya seorang anak selain
membutuhkan teman sebaya juga menginginkan hubungan yang akrab
dengan orang dewasa yang menghargainya. Sebagai guru Sekolah
Minggu, anda berpeluang besar untuk menjadi sahabat bagi murid-
murid anda. Jadilah sahabat yang baik bagi setiap mereka, sahabat
yang siap menampung segala kesulitan dan keluh kesah mereka.

Dr. Stephen Tong juga memberikan nasehat agar jangan sekali-kali
kita menghina atau menertawakan pendapat seorang anak sekalipun
kadang-kadang pendapat anak kurang wajar. Lebih baik kita
memberikan pengertian pada anak agar komunikasi tetap jalan.
Anak-anak memang masih membutuhkan banyak bimbingan dan waktu
untuk belajar bagaimana harus bersikap, berbicara, dan bertindak
dengan benar. Jadilah “sahabat yang mempunyai telinga tapi tidak
mempunyai mulut”, maksudnya, pandai-pandailah menyimpan rahasia
dari anak yang dipercayakan pada anda, karena guru seringkali
lebih banyak menasehati tapi kurang mendengarkan.

Dalam pembahasan mengenai “Karakter yang Abnormal” ini Dr. Stephen
Tong menyimpulkan dan meminta:
1. Hendaklah kita menjadi guru-guru yang baik agar anak-anak yang
dididik bisa mempunyai jiwa yang normal dan mempunyai identitas
yang jelas di dalam pendidikannya.
2. Agar kita menjadi guru yang memberikan cinta kasih yang sungguh
kepada anak-anak didik agar mereka mendapatkan kepuasan rohani
yang luar biasa.
3. Di dalam mendidik anak, kita harus menjadi guru yang siap
menampung kesulitan murid-murid dan jangan menghina dia.

Sumber:
Judul buku: Arsitek Jiwa
Penulis : Pdt. Dr. Stephen Tong
Penerbit : LRII
Halaman : 71-74

KONTROVERSI TENTANG PERTOBATAN ANAK DALAM 2000 TAHUN SEJARAH GEREJA

Gereja Mula-mula
—————-
Sudah jelas bahwa status rohani seorang anak harus dipikirkan oleh
orang Kristen dalam generasi kedua dan ketiga. Anak-anak yang
dibesarkan dalam keluarga Kristen tidak lagi mengalami kekafiran,
seperti yang dialami oleh orangtua mereka. Mereka dapat dibandingkan
dengan anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga orang Yahudi.
Apabila anak laki-laki Yahudi ditandai dengan sunat pada hari ke
delapan, apakah anak Kristen harus dibaptiskan sewaktu bayi sebagai
tanda “covenant relationship” yang baru?

Dalam abad kedua ada gereja yang mulai membaptiskan anak kecil.
Kemudian, pada abad kelima rupanya baptisan ditetapkan secara umum.

Mengapa terjadi demikian?

Karena dalam abad-abad sesudah masehi lahir beberapa doktrin baru,
misalnya doktrin tentang dosa keturunan yang membuat status rohani
anak tidak aman. Agustinus (354M – 430M), seorang theolog terpandang
pada abad pertengahan mengajarkan, bahwa anak kecil akan binasa jika
ia mati sebelum dibaptis, walaupun hukuman bagi anak kecil di neraka
paling ringan. Doktrin lain mengajarkan mengenai regenerasi atau
kelahiran baru melalui baptisan. Tidak heran bahwa setiap orangtua
rindu supaya anaknya selamat dan aman. Ini berarti mereka harus
dibaptiskan sedini mungkin. Kemudian pada sakramen baptisan ditambah
konfirmasi di mana seorang anak dapat mengaku imannya secara
pribadi.

Anak-anak dalam Gereja Abad Pertengahan
—————————————
Pada abad pertengahan, gereja menjadi gereja negara. Anak-anak
sedini mungkin dilayani dengan sakramen baptisan, kemudian
konfirmasi supaya selamat. Tetapi dalam pelaksanaannya gereja sudah
kehilangan pengertian bahwa anak-anak harus percaya kepada Tuhan
Yesus secara pribadi dan tidak lagi mengajarkan pentingnya respons
terhadap Tuhan Yesus melalui menyerahkan hidup kepada-Nya. Sikap
seperti itu masih kita dapatkan dalam gereja Katolik sampai saat
ini. Isi agama dan konsepsi agama diteruskan kepada anak-anak
melalui sakramen-sakramen.

Anak-anak dalam Masa Reformasi
——————————
Pada masa reformasi, status rohani anak-anak didiskusikan kembali.
Apakah hanya orang yang sudah bertobat dan lahir baru dibaptiskan?
Kebanyakan gereja dalam masa ini meneruskan tradisi pembaptisan
bayi, tetapi memperbaharui arti konfirmasi. Anak-anak menerima
pelajaran katekimus yang teliti, supaya mereka sungguh mengerti iman
Kristen sebelum konfirmasi.

Gereja Mennonite, Baptis, Plymouth Brethren kembali pada baptisan
orang percaya. Tetapi kemudian timbul pertanyaan baru, pada umur
berapa seorang anak dapat bertobat dan lahir kembali? Pada umur
berapa ia layak dibaptis?

Anak-anak dalam Masa Kebangunan Rohani di Amerika
————————————————-
Pada abad ke 17, dalam kebangunan rohani besar-besaran yang terjadi
di New England, Amerika, hal keselamatan anak digumuli secara
serius. Anak dianggap hidup dalam status sangat berdosa dan binasa.
Tetapi Gereja Puritan (Protestan dari Inggris) tidak percaya bahwa
sakramen baptisan dapat menyelamatkan mereka. Sejak dari kecil anak-
anak didesak untuk melarikan diri dari neraka. Anak-anak sangat
menderita ketakutan karenanya.

Pada tahun 1740 Jonathan Edwards menginjili anak-anak. Dia berkata:
“Meskipun anak-anak nampak tak bersalah, tatapi kalau mereka hidup
di luar Kristus mereka tidak ‘tak bersalah’ dalam pandangan Allah,
melainkan seperti ular kecil dan masih jauh lebih jahat dari pada
ular kecil. Mereka dalam keadaan yang sangat menyedihkan.”

Tetapi ada pandangan lain pada zaman yang sama. Misalnya, Horace W.
Bushnel. Ia mengajarkan bahwa pada dasarnya anak-anak tak berdosa.
Hanya kalau seorang anak dengan sadar menolak yang baik ia menjadi
salah secara pribadi.

Zaman kita: Persekutuan Penginjilan Anak-anak Sedunia
—————————————————–
Dalam abad ke 20 didirikan suatu gerakan yang bertujuan menginjili
anak-anak sedunia. Gerakan antar gereja ini dimulai pada tahun
1935 oleh Irvin Overholtzer sesudah ia sungguh-sungguh mendoakan
keberadaan rohani anak-anak sedunia. Keyakinan pendiri dan pelayan-
pelayan dalam gerakan yang bernama “Child Evangelism Fellowship” ini
ialah, bahwa setiap anak sudah hilang atau sebentar lagi akan
hilang. Oleh karena itu harus diinjili sedini mungkin. Kelompok ini
berpendapat, umur delapan tahun ke bawah adalah umur yang terbaik
untuk bertobat. Seorang anak yang baru berumur tiga tahun pun dapat
bertobat.

Keyakinan lain yang dipegang oleh gerakan yang bekerja di banyak
negara di dunia ini ialah, bahwa anak tak bisa mengerti sebelum
bertobat. Alasannya, “manusia duniawi tidak menerima apa yang
berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya suatu kebodohan …”.
(1Korintus 2:14)

Keyakinan ini mendasari pandangan mereka mengenai pentingnya
pengajaran tentang pertobatan pada setiap umur.

Bahan diedit dari sumber:
Judul Buku: Pedoman Pelayanan Anak
Pengarang : Ruth Laufer
Penerbit : Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia,
Departemen Pembinaan Anak dan Pemuda, Malang, 1993
Halaman : 183 – 187

-o- MEMBANGUN KEMANDIRIAN ANAK -o-
==========================

Rasanya kita masih ingat dengan lagu yang berbunyi:
When I was just a little girl I asked my mother what will I be
will I be pretty will I be rich that`s what she said to me.
Queserra, serra what ever will be,
will be the future is not us to see, queserra, serra.

“Terserahlah Nak,” kata kita, “terserah apa jadinya, sebab masa
depan kita tidak di tangan kita.”

Lagu yang berbicara tentang sikap enteng menghadapi hidup ini
nampaknya makin lama makin tidak masuk akal dalam kehidupan kita.
Betapa tidak? Sadar atau tidak sadar, saat ini sebenarnya kita
sedang didorong untuk menyanyikan lagu yang versinya berbanding
terbalik dengan nyanyian tadi. Lagu yang berbicara tentang
pemaksimalan diri agar bisa mengikuti persaingan dan memacu diri
mencapai puncak dalam hidup ini.

Anak-anak kita dipacu untuk menyongsong masa depan yang mapan,
memiliki nilai lebih dan meyakinkan. Beberapa unsur yang sekarang
ini ada di seputar anak-anak kita (secara khusus dampaknya terasa di
kota-kota besar) adalah:
– perkembangan teknologi yang cepat berganti serta canggih,
– jam aktivitas di luar rumah yang panjang antara ayah dan ibu,
– tuntutan yang tinggi untuk mencapai masa depan yang mapan,
– kekerasan yang makin meningkat dan beragam,
– jauhnya jarak kegiatan anggota keluarga satu dengan yang lain.
Semua ini menimbulkan ketegangan dalam diri orangtua. Fungsi anak
sebagai pengejar ilmu pengetahuan murni, membuat ia diperlengkapi
dengan sekian banyak les tambahan. Sebagai akibat kesibukan
tersebut, anak menjadi dibebaskan dari tanggung jawab serta latihan
sosialisasi yang lain.

Jauhnya jarak dan kesempatan berkumpul yang makin terbatas antara
suami dan istri, orangtua dan anak, sementara kekerasan ada di mana-
mana, menimbulkan tingginya tingkat kecemasan di hati orangtua.

Kita cenderung untuk memberikan proteksi lengkap kepada anak-anak —
kalau tidak bisa dikatakan berlebihan. Di pihak lain, anak-anak
sendiri pada akhirnya terbiasa dengan proteksi tersebut. Dengan
dampingan “baby sitter” atau paling tidak para pembantu sebagai
payung rasa aman dari orangtua yang keduanya bekerja.

Anak-anak pada akhirnya mempunyai atau menciptakan banyak “excuse”
dalam hidupnya. Sementara itu orangtua juga cenderung untuk
memberikan banyak toleransi terhadap kelalaian anak di banyak segi
kehidupan (menaruh sepatu tidak pada tempatnya, tidak membantu
mencuci piring, malas membereskan kamar sendiri, dll.)

Untuk menjawab pertanyaan mendasar mengenai sebenarnya apa peran
orangtua/para pendidik dalam membangun kemandirian anak, berikut ini
beberapa hal yang dapat menjadi perenungan kita bersama:

1. Anak yang mandiri adalah anak yang diberi kesempatan untuk
menerima dan menjadi dirinya sendiri. Orangtua yang memperlakukan
anak-anak menurut kekhasan mereka masing-masing adalah orangtua
yang belajar bersikap positif menghadapi berbagai perbedaan
karakter, kepandaian, ataupun penampilan anak. Jangan memberi
pembanding yang tidak adil di antara anak-anak. Ajarkan anak-anak
untuk percaya bahwa dirinya “istimewa” dalam kekhasan mereka
masing-masing. Dalam hal ini latihan melalui setiap peristiwa
dalam hidupnya merupakan persiapan untuk membangun citra diri
anak. Pembanding yang sehat di tengah kompetisi dengan teman-
teman dan anggota keluarga yang lain akan menolong anak menemukan
dirinya. Masa depan anak akan bertumbuh bersama proses
pembentukan kepribadiannya di samping semua bekal fasilitas ilmu.
Bimbingan rohani menjadi sangat penting dalam membekali anak
untuk mampu mengaktualisasikan kemandiriannya.

2. Membangun komunikasi pribadi anak dengan Tuhan. Orangtua yang
mendidik anak dalam kehidupan rohani yang kuat sejak masa kanak-
kanak adalah orangtua yang dengan bijaksana mengantarkan anaknya
pada suatu landasan yang teguh. Sebab di tengah pelbagai situasi
ketika anak jauh dari orangtuanya atau ketika ia harus menjawab
sendiri perubahan-perubahan dalam hidup yang tidak selalu dapat
segera diatasinya, ia akan selalu menemukan rasa aman dalam
hubungan spiritual yang kokoh dengan Tuhan. Kita belajar dari
Samuel dan Timotius, kedua anak yang sejak masa kecil menerima
bimbingan rohani yang kokoh dari ibunya, pada saat menghadapi
perbagai pengaruh lingkungan, mereka dapat berdiri tangguh,
mandiri, mampu menghadapi, dan melewati setiap pengaruh yang ada
di sekitar hidupnya.

3. Latihan ketrampilan praktis, disiplin, dan tangung jawab dalam
berbagai sektor kehidupan akan menolong anak merasa aman dengan
dirinya. Dalam hal ini, orangtua yang pada umumnya lebih banyak
memberi waktu dan perhatian awal kepada anak di masa pertumbuhan,
mempunyai andil yang cukup besar. Misalnya, biarkan anak-anak
mengerjakan hal-hal yang menjadi tanggung jawab di rumah.

4. Melatih anak untuk mengambil keputusan terhadap hal-hal tertentu
dalam hidup dan melatih sikap menghadapi kekecewaan dan penolakan
yang bisa saja terjadi akibat keputusan tersebut.

5. Jangan memindahkan kecemasan dan rasa bersalah orangtua dengan
menutup kesempatan anak untuk bersosialisasi. Kadang-kadang dalam
ketakutan, orangtua menjadi berlebih-lebihan dalam memberi
fasilitas perlindungan kepada anak sehingga membuat anak menjadi
gugup dan resah.

Menutup tulisan ini marilah kita bersama membangun karakter mandiri
anak-anak melalui kesabaran, keteguhan hati, dan iman yang teguh
kepada Tuhan. Biarlah hikmat memperlengkapi setiap kebijakan yang
diambil orangtua untuk anak-anaknya, seperti kata Amsal 22:6,
“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada
masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.”

Bahan diedit dari sumber:
Nama Situs : BPK Penabur
Alamat URL : http://www1.bpkpenabur.or.id/kwiyata/79/pokok1.htm
Judul Artikel Asli: Peran Ibu dalam Mengaktualisasikan
Kemandirian Anak
Penulis Artikel : Ny. Hilda Pelawi, S.Th.

______________________________________________________________________
o/ TIPS ———————————————————-o/

-o- MENDIDIK ANAK AGAR MANDIRI -o-
==========================

Orangtua mana yang tidak mau melihat anaknya tumbuh menjadi anak
yang mandiri. Tampaknya memang itulah salah satu tujuan yang ingin
dicapai orangtua dalam mendidik anak-anaknya.

Sikap mandiri sudah dapat dibiasakan sejak anak masih kecil, seperti
memakai pakaian sendiri, menalikan sepatu, dan bermacam pekerjaan-
pekerjaan kecil sehari-hari lainnya. Kedengarannya mudah, namun
dalam praktiknya pembiasaan ini banyak hambatannya. Tidak jarang
orangtua merasa tidak tega atau justru tidak sabar melihat si kecil
yang berusaha menalikan sepatunya selama beberapa menit, namun belum
juga memperlihatkan keberhasilan. Atau, langsung memberi segudang
nasihat, lengkap dengan cara pemecahan yang harus dilakukan, ketika
anak selesai menceritakan pertengkarannya dengan teman sebangku.
Memang masalah yang dihadapi anak sehari-hari dapat dengan mudah
diatasi dengan adanya campur tangan orangtua. Namun, cara ini
tentunya tidak akan membantu anak untuk menjadi mandiri. Ia akan
terbiasa “lari” kepada orangtua apabila menghadapi persoalan, dengan
perkataan lain ia terbiasa tergantung pada orang lain, untuk hal-hal
yang kecil sekalipun.

Lalu, upaya apa yang dapat dilakukan orangtua untuk membiasakan anak
agar tidak cenderung menggantungkan diri pada seseorang, serta mampu
mengambil keputusan? Di bawah ini ada beberapa hal yang dapat Anda
terapkan untuk melatih anak menjadi mandiri.

1. Beri kesempatan memilih.
————————
Anak yang terbiasa berhadapan dengan situasi atau hal-hal yang
sudah ditentukan oleh orang lain, akan malas untuk melakukan
pilihan sendiri. Sebaliknya, bila ia terbiasa dihadapkan pada
beberapa pilihan, ia akan terlatih untuk membuat keputusan
sendiri bagi dirinya. Misalnya, sebelum menentukan menu di hari
itu, ibu memberi beberapa alternatif masakan yang dapat dipilih
anak untuk makan siangnya. Demikian pula dalam memilih pakaian
yang akan dipakai untuk pergi ke pesta ulang tahun temannya,
misalnya. Kebiasaan untuk membuat keputusan-keputusan sendiri
dalam lingkup kecil sejak dini akan memudahkan untuk kelak
menentukan serta memutuskan sendiri hal-hal dalam kehidupannya.

2. Hargailah usahanya.
——————-
Hargailah sekecil apa pun usaha yang diperlihatkan anak untuk
mengatasi sendiri kesulitan yang ia hadapi. Orangtua biasanya
tidak sabar menghadapi anak yang membutuhkan waktu lama untuk
membuka sendiri kaleng permennya. Terutama bila saat itu ibu
sedang sibuk di dapur, misalnya. Untuk itu sebaiknya orangtua
memberi kesempatan padanya untuk mencoba dan tidak langsung turun
tangan untuk membantu membukakannya. Jelaskan juga padanya bahwa
untuk membuka kaleng akan lebih mudah kalau menggunakan ujung
sendok, misalnya. Kesempatan yang Anda berikan ini akan dirasakan
anak sebagai penghargaan atas usahanya, sehingga akan
mendorongnya untuk melakukan sendiri hal-hal kecil seperti itu.

3. Hindari banyak bertanya.
————————
Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan orangtua, yang sebenarnya
dimaksudkan untuk menunjukkan perhatian pada si anak, dapat
diartikan sebagai sikap yang terlalu banyak mau tahu. Karena itu
hindari kesan cerewet. Misalnya, anak yang baru kembali dari
sekolah akan kesal bila diserang dengan pertanyaan-pertanyaan
seperti, “Belajar apa saja di sekolah?”, dan “Mengapa seragamnya
kotor? Pasti kamu habis berkelahi lagi di sekolah!” dan
seterusnya. Sebaliknya, anak akan senang dan merasa diterima
apabila disambut dengan kalimat pendek, “Halo anak ibu sudah
pulang sekolah!” Sehingga kalaupun ada hal-hal yang ingin ia
ceritakan, dengan sendirinya anak akan menceritakan pada
orangtua, tanpa harus di dorong-dorong.

4. Jangan langsung menjawab pertanyaan.
————————————
Meskipun salah satu tugas orangtua adalah memberi informasi serta
pengetahuan yang benar kepada anak, namun sebaiknya orangtua
tidak langsung menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.
Sebaliknya, berikan kesempatan padanya untuk menjawab pertanyaan
tersebut. Dan tugas Andalah untuk mengkoreksinya apabila salah
menjawab atau memberi penghargaan kalau ia benar. Kesempatan ini
akan melatihnya untuk mencari alternatif-alternatif dari suatu
pemecahan masalah. Misalnya, “Bu, kenapa sih, kita harus mandi
dua kali sehari?” Biarkan anak memberi beberapa jawaban sesuai
dengan apa yang ia ketahui. Dengan demikian, anak terlatih untuk
tidak begitu saja menerima jawaban orangtua, yang akan diterima
mereka sebagai satu jawaban yang baku.

5. Dorong untuk melihat alternatif.
——————————–
Sebaiknya anak pun tahu bahwa untuk mengatasi suatu masalah,
orangtua bukanlah satu-satunya tempat untuk bertanya. Masih
banyak sumber-sumber lain di luar rumah yang dapat membantu untuk
mengatasi masalah yang dihadapi. Untuk itu, cara yang dapat
dilakukan orangtua adalah dengan memberitahu sumber lain yang
tepat untuk dimintai tolong, untuk mengatasi suatu masalah
tertentu. Dengan demikian, anak tidak akan hanya tergantung pada
orangtua, yang bukan tidak mungkin kelak justru akan menyulitkan
dirinya sendiri. Misalnya, ketika si anak datang pada orangtua
dan mengeluh bahwa sepedanya mengeluarkan bunyi bila dikendarai.
Anda dapat memberi jawaban, “Coba ya, nanti kita periksa ke
bengkel sepeda.”

6. Jangan patahkan semangatnya.
—————————-
Tak jarang orangtua ingin menghindarkan anak dari rasa kecewa
dengan mengatakan “mustahil” terhadap apa yang sedang diupayakan
anak. Sebenarnya apabila anak sudah mau memperlihatkan keinginan
untuk mandiri, doronglah ia untuk terus melakukannya. Jangan
sekali-kali Anda membuatnya kehilangan motivasi atau harapannya
mengenai sesuatu yang ingin dicapainya. Jika anak minta izin
kepada Anda, “Bu, Andi pulang sekolah mau ikut mobil antar-
jemput, bolehkan?” Tindakan untuk menjawab, “Wah, kalau Andi mau
naik mobil antar-jemput, kan Andi harus bangun pagi dan sampai di
rumah lebih siang. Lebih baik tidak usah deh, ya.” Jawaban
seperti itu tentunya akan membuat anak kehilangan motivasi untuk
mandiri. Sebaiknya ibu berkata “Andi mau naik mobil antar-jemput?
Wah, kedengarannya menyenangkan, ya. Coba Andi ceritakan pada Ibu
mengapa Andi mau naik mobil antar-jemput.” Dengan cara ini,
paling tidak anak mengetahui bahwa orangtua sebenarnya mendukung
untuk bersikap mandiri. Meskipun akhirnya, dengan alasan-alasan
yang Anda ajukan, keinginannya tersebut belum dapat dipenuhi.

Bahan diedit dari sumber:
Nama Situs : indobulletin
Alamat URL : http://www.indobulletin.com/

MENUMBUHKAN RASA PEDULI AKAN ORANG LAIN -o-
=======================================

Rasa peduli adalah ibarat batu bata untuk bangunan yang bernama
kasih. Tanpa adanya kepedulian tidak mungkin terdapat rasa kasih
pada seseorang.

Apa yang dimaksud dengan kepedulian? Kepedulian adalah kesanggupan
untuk peka terhadap kebutuhan orang lain dan kesanggupan untuk turut
merasakan perasaan orang lain serta menempatkan diri dalam keadaan
orang lain (empati).

Peka yang dibicarakan di sini bukan dalam arti sifat orang yang
perhatiannya tertuju ke dalam, kepada dirinya (self-centered)
sehingga mudah tersinggung perasaannya, melainkan sifat orang yang
perhatiannya tertuju keluar, kepada orang lain, yang mudah merasa
iba kepada orang lain (extra-centered sensitivity).

Kepekaan dan kepedulian membuat orang melihat keluar dari dirinya,
dan menyelami perasaan dan kebutuhan orang lain, lalu menanggapi dan
melakukan perbuatan yang diperlukan untuk orang lain dan dunia di
sekelilingnya.

Kepekaan dan kepedulian adalah nilai yang sangat penting dipunyai
seseorang. Pada nilai ini terkait banyak nilai lainnya, antara lain:
kedisiplinan, kejujuran, kerendahan hati, cinta kasih, keramahan,
kebaikan hati, kebijaksanaan, dan sebagainya. Kebahagiaan yang
dialami seseorang sebagian besar adalah hasil kepekaan dan
kepedulian orang tersebut terhadap perasaan, kesempatan, dan
kebutuhan orang lain dan dunia di sekitarnya.

Untuk dapat bersikap peka dan peduli dibutuhkan tingkat kematangan
kepribadian tertentu. Bagi anak kecil yang masih bersifat
egosentris, yang cenderung melihat persoalan dari sudut pandang
sendiri, memang masih ditemui kesulitan. Namun, bukan berarti bahwa
mereka belum perlu belajar, karena secara perlahan-lahan mereka
dapat mengerti bahwa orang lain mempunyai sudut pandangnya masing-
masing dan kepentingannya masing-masing. Banyak anak sudah mulai
dapat bersikap peka dan peduli terhadap orang lain sejak usia sangat
dini.

Kunci yang paling penting dalam mengajar anak kepekaan dan
kepedulian ialah sikap orangtua, pendidik lainnya, atau guru yang
tidak cepat menyerah, tetapi bertekun dan berusaha terus, serta
tidak mengharapkan hasil dalam waktu singkat. Di samping itu, hal
lain yang perlu disadari adalah, dan ini yang paling sukar, kepekaan
dan kepedulian harus dimulai dari diri kita sendiri. Kalau kita mau
anak bersikap peka dan peduli, kita pun harus bersikap demikian,
jangan hanya kita menuntutnya dari anak. Seringkali sebagai
orangtua, pendidik lainnya atau guru kita tidak bisa atau tidak mau
menempatkan diri di tempat anak-anak kita. Di mata mereka, kita
barangkali orang dewasa yang kadang-kadang tidak peduli, tidak
toleran, kuatir, marah, cerewet, dan menjengkelkan.

GEJALA DAN PENYEBAB

Pada umumnya, banyak gejala penyakit disebabkan karena adanya suatu
benda asing dalam tubuh manusia, misalnya virus atau bakteri. Namun,
dalam banyak masalah anak, penyebabnya ialah justru tidak adanya
sesuatu dalam diri anak-anak tersebut, yaitu tidak adanya kepekaan
dan kepedulian terhadap kebutuhan orang lain. Kalau dalam diri anak
ada kepekaan dan kepedulian, maka gejala egois, memberontak,
menjengkelkan, malas, dan tidak jujur dapat dihindarkan atau
dikurangi. Oleh sebab itu, kepekaan dan kepedulian adalah obat
pencegah dari banyak masalah anak.

KACA CERMIN DAN KACA JENDELA

Banyak masalah yang dihadapi anak dan banyak ketidakbahagiaan yang
dialaminya adalah akibat kecenderungannya untuk melihat pada cermin.
Pada kaca cermin yang dilihatnya adalah dirinya sendiri, dan
bagaimana orang-orang dan keadaan mempengaruhi dirinya. Maka yang
dipikirkannya adalah mengenai dirinya sendiri (terutama hal ini
terdapat pada anak remaja) dan apa yang dapat dilakukannya untuk
melawan keadaan, melawan orangtua, serta memperalat orang untuk
melaksanakan keinginannya.

Tujuan kita adalah untuk mengangkat sebagian dari kaca cermin anak-
anak kita dan menggantinya dengan kaca jendela. Melalui kaca
jendela, yang mereka lihat bukanlah dirinya sendiri, melainkan orang
lain dan kebutuhan orang lain. Setiap orang mempunyai daya untuk
mengubah kaca cerminnya menjadi kaca jendela. Mengubah kaca cermin
menjadi kaca jendela adalah langkah penting untuk dapat bersikap
peka dan peduli.

Orang yang perhatiannya tertuju kepada orang lain (extra centered)
akan bersikap:

1. Lebih sadar akan kepentingan dan kebutuhan orang lain.

2. Berkurang perhatiannya akan kepentingan diri sendiri. Karena
perhatiannya tertuju pada orang lain, ia dapat melihat kebutuhan
orang lain. Tetapi juga, ia bisa membandingkan orang lain dengan
dirinya dan dapat menyadari perbedaannya. Karena ia dapat melihat
dirinya dengan lebih baik, ia lebih menghargai kekhususan
dirinya.

3. Berkurang kecenderungan untuk ikut-ikutan dengan orang lain
dan kurang bergantung pada persetujuan teman sekelompok.

4. Bertambah kesadaran akan keunikan diri sendiri dan karenanya
rasa yakin dirinya berkembang.

Bahan diedit dari sumber:
Judul Buku : Ajarlah Mereka Melakukan
Penulis : Andar Ismail
Penerbit : BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1998
Halaman : 186 – 188

______________________________________________________________________
o/ BAHAN MENGAJAR ————————————————o/

Artikel berikut ini sebenarnya ditujukan untuk anak-anak (pra Remaja
atau Remaja). Oleh karena itu, bahasa yang dipakai cukup sederhana
untuk dipahami oleh mereka. Namun demikian, guru SM dapat juga
menggunakannya untuk mengajar anak atau murid yang lebih kecil
dengan cara menyampaikannya dengan bahasa yang dimengerti anak-anak
dan disertai contoh-contoh praktis. Dalam Bahan Mengajar ini Anda
dapat menemukan cara-cara praktis untuk melatih dan membangun
karakter peduli dalam diri anak. Selamat mengajar!

-o- PEDULI – APAKAH ARTINYA? -o-
========================

Suatu hari, seekor burung dara besar yang bergabung terbang ke
jendela rumah kami. Ia jatuh dan tidak bergerak. Tiba-tiba saja
turun seekor burung dara lainnya ke dekat burung pertama yang jatuh
tadi. Burung dara yang kedua mulai bersuara dan mengangguk-anggukkan
kepalanya. Ia temani burung yang pertama tadi selama kira-kira dua
puluh menit, membujuknya. Lalu, burung dara yang besar itu bangkit
berdiri. Suara burung yang lebih kecil itu berubah nyaring seolah-
olah menegur. Ia melompat-lompat dan terus bersuara nyaring hingga
burung dara yang besar akhirnya mengibaskan sayapnya dan terbang
bersama pasangannya itu. Dengan menemani serta menolong pasangannya,
burung dara yang kedua tampaknya menunjukkan bahwa ia peduli
terhadap pasangannya itu.

Peduli adalah soal bagaimana kita memperlakukan sesama kita.
Menunjukkan kepedulian, bersikap baik hati, mau berbagi, menolong,
dan memberi adalah cara-cara kita untuk menunjukkan bahwa kita
peduli. Kalau kamu membagi cokelatmu dengan adikmu atau menolong
ayahmu membersihkan dapur, kamu menunjukkan bahwa kamu peduli.

Kalau kamu memungut kertas-kertas bekas yang berserakan di lantai
ruang kelasmu, kamu menunjukkan kepada gurumu bahwa kamu peduli.
Kamu tunjukkan kepada nenekmu bahwa kamu peduli kalau kamu pindah
duduk di lantai agar nenekmu bisa duduk di kursimu. Kamu tunjukkan
kepada para tetanggamu bahwa kamu peduli kalau kamu antarkan surat
kabar mereka ke depan pintu atau membersihkan salju dari depan rumah
mereka.

Setiap harinya, ada ratusan cara yang bisa kamu pakai untuk
menunjukkan bahwa kamu peduli. Dan salah satu hal yang paling
menyenangkan soal peduli kepada sesama adalah bahwa kemungkinan
besar mereka pun akan membalasnya dengan kebaikan.

Kamu mungkin berkata, “Tidak juga. Saya meminjamkan sepeda saya
kepada teman saya, tetapi ia malah membengkokkan bempernya, bahkan
tanpa minta maaf!”

Memang benar bahwa orang tidak selalu memperlakukanmu dengan cara
yang sama pedulinya seperti kamu memperlakukan mereka. Tetapi dengan
berjalannya waktu kamu akan menemukan bahwa teman-temanmu,
keluargamu, dan guru-gurumu biasanya akan menghargai perbuatan-
perbuatan baikmu dan membalasnya dengan kebaikan pula.

Umpamakanlah kamu melemparkan sebuah bola pantai ke laut. Bolanya
akan kembali kepadamu, seberapa keras atau jauh pun kamu
melemparkannya. Gelombang akan terus menghempas pantainya, dan tahu-
tahu bolamu pun kembali ke pantai.

Perkataan dan perbuatan baik adalah demikian, kamu melontarkannya,
tiba-tiba seseorang mengucapkan atau melakukan sesuatu untuk
menunjukkan bahwa ia peduli kepadamu. Sikap peduli menjadikan dunia
lebih baik bagi semua orang.

BAGAIMANA KAMU BISA MENUNJUKKAN BAHWA KAMU PEDULI

Ada banyak cara agar kamu bisa menunjukkan bahwa kamu peduli. Empat
cara penting adalah lewat perkataanmu, perbuatanmu, pemikiranmu, dan
pemberianmu.

1. Perkataan yang mengungkapkan bahwa kamu peduli.
———————————————–
Kamu bisa mengucapkan kata-kata yang baik kepada sesama, bahkan
kepada orang-orang yang tidak terlalu kamu sukai. Mungkin kamu
bertanya-tanya, “Untuk apa saya mengucapkan sesuatu yang baik
kepada seseorang yang tidak saya sukai?” Seringkali, kita
menyangka bahwa kita tidak suka kepada seseorang, namun yang
sesungguhnya tidak kita sukai adalah perbuatannya atau sesuatu
tentang dirinya. Kebanyakan orang ingin disukai. Kalau kamu bisa
menemukan kata yang baik untuk diucapkan, mungkin kamu tidak akan
menyangka akibatnya. Mungkin saja, ia membalasnya dengan
perkataan yang baik pula.

Terkadang, perkataan yang paling baik adalah perkataan yang tidak
kamu ucapkan. Janganlah menjelekkan orang di belakang mereka.
Janganlah menyebarkan gosip atau cerita buruk, seandainya pun
kamu anggap itu benar. Renungkanlah bagaimana perasaanmu sendiri
seandainya orang mengatakan hal-hal yang buruk tentangmu.

2. Perbuatan yang mengungkapkan bahwa kamu peduli.
———————————————–
Kamu bisa membantu dan berbagi. Mungkin kamu bisa membereskan
tempat tidur adikmu. Mungkin kamu bisa membantu seseorang yang
bergumul dengan PR-nya. Kalau kamu memberi makan hewan peliharaan
temannya sementara ia berlibur dengan keluarganya, kamu
menunjukkan bahwa kamu peduli terhadap temanmu sekaligus hewan
peliharaannya. Membagi popcorn, mainan, dan waktumu juga
menunjukkan bahwa kamu peduli.

3. Pemikiran yang mengungkapkan bahwa kamu peduli.
———————————————–
Memikirkan hal-hal baik tentang sesama bisa menolong mereka,
sebab mungkin saja mereka merasakan pemikiran-pemikiran baik yang
kamu pikirkan tentang mereka. Dan pemikiran yang mengungkapkan
bahwa kamu peduli bisa menuntun kepada perbuatan yang
mengungkapkan bahwa kamu peduli: Seringkali kamu melakukan apa
yang kamu pikirkan. Pemikiran yang baik tentang orang lain juga
bisa membantumu. Ketika kamu memikirkan hal-hal yang baik tentang
seseorang, itu membantumu merasa lebih senang dan damai dalam
hati.

Cobalah! Mungkin kamu sedikit cemburu karena temanmu mempunyai
banyak mainan, sementara kamu tidak. Janganlah membuat dirimu
lebih cemburu dengan berpikir, “Sungguh tidak adil!” atau “Ia
mujur sekali, mengapa aku tidak ya?” Sebagai gantinya,
pikirkanlah apa yang kamu sukai tentang temanmu itu. Umpamanya,
“Ia seorang teman yang baik sebab ia suka menyediakan tempat
duduk bagiku di bus.” Atau, “Biasanya ia mau berbagi. Sungguh
senang mempunyai teman seperti itu”.

4. Pemberian yang mengungkapkan bahwa kamu peduli.
———————————————–
Kamu bisa membelikan mereka kado, tetapi seringkali kado yang
kamu buat sendiri itulah yang lebih menunjukkan bahwa kamu
peduli. Kamu bisa saja membuatkan kartu untuk saudara sepupumu.
Atau kamu bisa saja memberikan sarung tangan bersih dan hangat
atau jaket yang sudah kekecilan. Mungkin, kamu dengan ibumu bisa
membantu menanamkan pohon di halaman depan tetanggamu — itu akan
menjadi pemberian bagi semua orang yang lewat. Kamu tidak perlu
memberikan kado hanya pada hari ulang tahun atau liburan saja.
Teruslah memberi di saat kamu senang atau pun di saat kamu susah.
Ingatlah, ketika kamu melakukan sesuatu yang baik, itu bisa
membuatmu senang. Suasana hatimu mungkin akan menjadi lebih baik
setelah kamu memberikan sesuatu kepada seseorang.

CARA-CARA LAIN UNTUK MENUNJUKKAN KAMU PEDULI

Berikut adalah beberapa kegiatan yang bisa kamu lakukan untuk
menunjukkan bahwa kamu peduli terhadap seseorang.

1. Di rumah
——–
a. Membuang sampah.
b. Membaca cerita untuk adik.
c. Membiarkan orang lain yang memilih saluran televisi.
d. Membantu kakek menyemir sepatu.
e. Mengatakan kepada adikmu bahwa kamu sayang kepadanya.

2. Di sekolah
———-
a. Tersenyum kepada seseorang yang belum kamu kenal.
b. Duduk dengan seseorang yang tidak terlalu kamu sukai dan
mencoba lebih mengenalnya.
c. Mengatakan “Bagus sekali!” kepada seseorang yang baik
lemparannya, tangkapannya, atau larinya.
d. Membagi pensil atau kertas.
e. Menawarkan diri untuk merapikan buku di rak.

3. Rencanahan dan laksanakanlah suatu pelayanan
——————————————–
Suatu ungkapan kebaikan yang kita perbuat bagi orang lain disebut
pelayanan. Kamu bisa melakukan pelayanan bagi seseorang di
lingkunganmu atau sekolahmu. Renungkanlah seseorang kepada siapa
kamu ingin mengungkapkan kebaikan. Mungkin seorang teman baik
atau seseorang yang tidak terlalu kamu kenal. Kamu bisa
mengumpulkan pakaian bekas dari teman-temanmu dan
menyumbangkannya ke tempat penampungan keluarga. Mungkin kamu
mempunyai tetangga yang ingin dikunjungi secara teratur.
Putuskanlah kepada siapa kamu ingin mengungkapkan kebaikan.
Tanyakanlah kepada ayah atau ibumu untuk memastikan itu pantas.
Lalu laksanakanlah!

4. Peduli lingkungan
—————–
Lingkungan adalah dunia di sekelilingmu. Rumah dimana kamu
tinggal, jalanan yang kamu lewati, dan ruang kelas serta ruang
lain di sekolahmu. Udara yang kamu hirup, danau, atau sungai
dimana kamu berenang, pepohonan yang kamu panjat, dan dataran
tinggi atau gurun yang suka kamu jelajahi.

Bicarakanlah dengan keluarga dan teman-teman tentang cara-cara
kamu bisa mengungkapkan bahwa kamu peduli lingkungan. Bersama-
sama, kamu bisa melakukan banyak hal untuk membantu memelihara
dunia tetap bersih dan aman bagi semua orang. Berikut adalah
beberapa hal yang bisa kamu perbuat:
a. Mengumpulkan kaleng, botol, dan wadah plastik untuk didaur
ulang.
b. Membuat kertas kado dari surat kabar bekas.
c. Memunguti sampah di sepanjang jalan tol atau membersihkan
lahan kosong (Pastikanlah melakukan kegiatan-kegiatan
seperti ini dengan orang dewasa).
d. Menanam atau berkebun.
e. Mencarikan rumah bagi hewan yang membutuhkannya.

Bahan diedit dari sumber:
Judul Buku : Character Building untuk Anak-Anak
Penulis : Barbara A. Lewis
Penerjemah : Lyndon Saputra
Penerbit : Karisma, Batam, 2004
Halaman : 25 – 35

______________________________________________________________________
o/ TIPS ———————————————————-o/

-o- MEMBANGUN KARAKTER PEDULI PADA ANAK -o-
===================================

Agar anak lebih peduli dan sayang kepada orang lain, psikolog
Lawrence E. Saphiro, Ph.D. menganjurkan tips berikut ini:

1. Pujilah mereka saat menunjukkan rasa peduli pada orang lain.
————————————————————
Jika anak menunjukkan sikap peduli kepada orang lain, katakan
bahwa yang ia lakukan benar, dan nyatakan sespesifik mungkin.
“Kamu baik sekali, mau berbagi popcorn dengan Tomi. Tadi Mama
lihat ia tersenyum. Keliatannya ia senang sekali.”

Ajarlah juga anak untuk mengingat ketika orang lain bersikap
peduli pada mereka. Misalnya, “Ingat betapa ramahnya Sarah
kepadamu di hari pertama sekolah, sehingga kamu tidak merasa
kesepian?” Dengan melakukan ini, orangtua menguatkan pemahaman
anak bahwa tindakan orang lain dapat mempengaruhinya secara
emosi.

2. Ajari anak lebih peduli dan bertanggung jawab.
———————————————-
Buatlah peraturan keluarga yang jelas dan konsisten, dan tuntut
anak untuk mematuhi peraturan tersebut. Anak usia 5-6 tahun dapat
diberi tanggung jawab untuk merapikan tempat tidurnya sendiri,
merapikan buku dan meja belajarnya, memberi makan anjing
peliharaan, atau membantu menyiapkan peralatan makan. Jika anak
dapat melakukannya, pujilah dia dan ucapkan terima kasih padanya.
Tapi jangan memberi reward dengan imbalan uang, karena mereka
harus tahu bahwa membantu orang lain semata-mata karena membantu
itu benar dan terpuji.

3. Ajak anak berbuat baik.
———————–
Supaya anak berbuat baik, berilah contoh terlebih dulu perbuatan
konkret. Misalnya, mengajak anak menengok orang sakit, memberi
uang atau makanan kepada peminta-minta, menulis surat ucapan
terima kasih kepada nenek yang sudah memberi hadiah, dan
sebagainya. Selanjutnya orangtua bisa menyarankan anak menengok
temannya yang mungkin sakit. Mengajari anak membukakan pintu
sambil mengucap `silakan`, menolong manula atau orang buta
menyeberang jalan, menyingkirkan batu dari jalan, meski kelihatan
sepele namun bisa mendorong perbuatan yang baik.

4. Libatkan pada kegiatan sosial.
——————————
Melibatkan anak dalam kegiatan sosial juga perlu. Misalnya,
mengikutsertakan anak dalam kegiatan kerja bakti di lingkungan,
mengajak anak mengumpulkan pakaian layak pakai untuk
disumbangkan, membantu tetangga yang sedang hajatan, dan
sebagainya. Melalui berbagai kegiatan itu rasa ingin tahu anak
terusik dan melahirkan serangkaian pertanyaan. Misalnya, “Mengapa
harus mengumpulkan barang-barang bekas?” Orangtua bisa
menjelaskan alasan dan tujuannya. Misalnya, “Ini untuk membantu
korban banjir, korban gempa.” Pertanyaan anak akan terus
berkembang, dan penjelasan dari orangtua akan menumbuhkan sikap
empati dalam diri anak.

Selain pendapat dari Lawrence E. Saphiro, Ph.D. di atas, ada pula
tips untuk membangun karakter peduli pada anak yang tidak kalah
pentingnya untuk disimak:

1. Berikan teladan.
—————-
Anak adalah duplikasi dari orangtuanya. Jika orangtua berbuat
baik, anak biasanya juga akan berbuat baik. Tunjukkan kepedulian
kita terhadap orang-orang yang tak mampu. Komitmen kita yang kuat
dalam membantu meringankan beban dan penderitaan orang lain akan
dapat menular kepada anak-anak.

2. Jangan batasi pergaulan anak.
—————————–
Seringkali teman yang kesusahan menjadi jembatan yang dapat
membukakan mata terhadap hal-hal yang kurang dipedulikan.
Barangkali kita menganggap kemiskinan itu berada di luar “dunia”
kita.

Tak jarang kita tak mengetahui kemiskinan yang sebenarnya sebelum
kita melihat teman kita sendiri mengalaminya. Biarkan anak kita
berteman dengan siapa saja. Jangan batasi pergaulannya agar ia
dapat mengenal temannya dari semua kalangan.

3. Doronglah anak untuk menunjukkan kepeduliannya kepada orang lain.
—————————————————————–
Memberikan uang kepada pengemis atau pengamen adalah salah satu
cara agar anak bisa peduli kepada orang lain.

4. Ajak anak melihat sendiri kehidupan yang lain.
———————————————-
Jika memungkinkan, ajaklah anak melihat sendiri atau mengalami
kehidupan yang sangat berbeda dengan kehidupan yang biasa ia
jalani. Ajaklah anak kita mengunjungi tempat dimana banyak orang
susah yang berkumpul di sana. Dengan begitu, mereka akan melihat
ada sisi lain dari kehidupan manusia.

Kita pun dapat memberi pemahaman kepada mereka dengan menjelaskan
mengapa ada gelandangan yang mengais-ngais sampah, atau makan
makanan yang telah dibuang ke tempat sampah, dan sebagainya.

Bahan diedit dan dirangkum dari sumber:
1. Nama Situs : CyberWOMAN
Alamat URL : http://cyberwoman.cbn.net.id/
Judul Artikel Asli: Ma, Kasihan Sekali Anak itu ….
Penulis Artikel : Esi

2. Nama Situs : Republika Online
Alamat URL : http://www.republika.co.id/
Judul Artikel Asli: Agar Anak Mempunyai Rasa Empati
Penulis Artikel : Kris

KEADILAN -o-
========

Adil adalah sikap tidak memihak dalam hubungannya dengan orang dan
keadaan. Seseorang yang adil mampu melihat sesuatu secara objektif,
tanpa menghiraukan perasaan atau prasangka pribadi; ia tidak
berprasangka. Dia apa adanya, karena dia menerapkan suatu standar
terhadap situasi-situasi yang berada di atas pilihan-pilihan
pribadinya.

Kitab Injil menerangkan bahwa Allah tidak pilih kasih terhadap umat-
Nya. Ia tidak menghakimi berdasarkan apa yang tampak dari luar saja.
Tingkat seseorang, popularitas, atau keadaan tidak mempengaruhi
penghakiman Allah namun sifat dari hati-Nyalah yang mempengaruhi
penghakiman-Nya. Allah adalah hakim dunia. Penghakiman-Nya apa
adanya dan tidak memihak. Masing-masing kita dipanggil untuk menjadi
hakim dalam dunia yang kita kuasai. Kita serupa dengan Kristus apa
adanya dan tidak memihak dalam penghakiman kita.

SEBUAH CONTOH POSITIF DARI ALKITAB

Hukum Musa merupakan suatu wahyu dari sifat Allah. Ia memerintahkan
anak-anak-Nya untuk menjadi serupa dengan Allah (seperti Allah)
“Kuduslah kamu, sebab Aku ini kudus”. Hukum tersebut memberi kita
poin referensi yang absolut tentang hidup serupa dengan Allah.
Keadilan Allah diekspresikan melalui cara kita memperlakukan orang
lain. Tuhan menjelaskan melalui Musa bahwa Dia bersikap adil
terhadap semua orang dan kita pun diharapkan bersikap demikian,
“Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan; janganlah engkau
membela orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau
terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili
orang sesamamu dengan kebenaran.” (Imamat 19:15) Tuhan melarang kita
untuk menghakimi berdasarkan kedudukan sosial.

Tuhan secara khusus memperhatikan bahwa pemimpin-pemimpin umat-Nya
melaksanakan penghakiman yang tidak memihak. Ia bersabda melalui
Musa, “Janganlah memutarbalikkan keadilan, janganlah memandang bulu
dan janganlah menerima suap, sebab suap membuat buta mata orang-
orang bijaksana dan memutarbalikkan perkataan orang-orang yang
benar. Semata-mata keadilan, itulah yang harus kaukejar, ….”
(Ulangan 16:19,20) Tuhan tidak menghendaki anak-anak-Nya menderita
secara tidak adil di tangan para pemimpin yang mencari keuntungan
untuk diri mereka sendiri. Hukum ini sekarang sering dilanggar. Di
tahun-tahun terakhir ini, apa yang telah dilakukan secara
tersembunyi oleh para politikus di beberapa negara (menerima bayaran
untuk tujuan-tujuan tertentu) telah menjadi berita utama. Menurut
Alkitab, seorang pemimpin mendiskualifikasi diri mereka sendiri jika
ia memerintah untuk melawan dan bukan untuk melayani.

Allah harus sering mematahkan pagar prasangka kita untuk mewujudkan
rencana-Nya. Apa yang kita anggap sebagai keyakinan kadang-kadang
hanyalah prasangka yang dirumuskan dengan baik. Petrus, sama seperti
orang-orang Yahudi yang baik lainnya, merasa bahwa orang-orang non-
Yahudi berada satu tingkat di bawah anjing. Ia tidak dapat
membayangkan Tuhan mengirimnya untuk mengabarkan Kabar Baik kepada
para penyembah berhala tersebut. Tuhan merancang suatu situasi yang
tidak biasa yang menyebabkan Petrus berkesimpulan, “Sesungguhnya
aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang
dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan
kebenaran berkenan kepada-Nya.” (Kisah Para Rasul 10:34-35)

Amanat Agung kepada Jemaat di Yerusalem merupakan keinginan Tuhan
agar para penyembah berhala menjadi sama seperti orang Yahudi.
Mereka bukanlah penghuni kerajaan Allah tingkat dua. Mereka memiliki
kedudukan yang sama di hadapan Tuhan sama seperti orang-orang Yahudi
yang merupakan saudara-saudara mereka. Mudah bagi kita untuk
memahami, tetapi Amanat Agung ini hampir saja meretakkan komunitas
Perjanjian Baru! Prasangka tidak bisa dihilangkan dengan mudah,
khususnya prasangka tentang agama!

Petrus mengetahui bahwa Tuhan lebih tertarik sifat yang baik
daripada kebudayaan suatu bangsa. Paulus mengatakan kepada jemaat di
Roma bahwa Tuhan menghakimi dengan objektif dan adil (Roma 2:9-11).
Paulus mengatakan kepada jemaat di Efesus bahwa tingkat sosial
seseorang tidak menentukan penghargaan-Nya, “Kamu tahu, bahwa setiap
orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat
sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan.” (Efesus
6:8) Secara negatif, hukuman juga akan ditentukan dengan dasar yang
adil (Kolose 3:25).

SEBUAH CONTOH NEGATIF DARI ALKITAB

Tidak ada ketidakadilan yang ditunjukkan sejelas penyaliban Yesus.
Kerumunan orang-orang yang berteriak, “Salibkan Dia!” seharusnyalah
yang mati, bukan Dia. Dia menderita dalam melalui lima ejekan dalam
pengadilan yang memalukan. Kematian Anak Allah bukanlah apa-apa
namun itu adil.

Para nabi mengabarkan Firman Allah kepada umat-Nya. Seringkali
firman itu adalah panggilan untuk kembali kepada kebenaran dan
keadilan. Amos marah kepada orang-orang Israel karena mereka tidak
apa adanya dalam menghadapi orang miskin dan derita mereka akan
kebenaran.

Mereka yang tidak bisa apa adanya seringkali sulit mengenali
keadilan. Salah satu penjahat yang ada bersama Yesus ketika disalib,
mengejek dan mencaci maki Yesus karena Yesus tidak menyelamatkan
mereka. Namun penjahat yang lainnya menyadari bahwa Yesus
mendapatkan perlakuan yang tidak adil meskipun mereka menerima hak
dari perbuatan mereka.

Pada zaman Alkitab dahulu, sangatlah umum untuk menunjukkan sikap
memihak kepada orang-orang kaya. Yakobus marah kepada orang-orang
Kristen yang melakukan hal seperti ini karena mereka “telah membuat
pembedaan (di dalam hatimu) dan (bertindak sebagai) hakim dengan
pikiran yang jahat” (Yakobus 2:4). Sekarang ini kita telah
membalikkannya. Masyarakat kita sering menghukum orang kaya dan
memberikan bantuan kepada orang-orang miskin. Contoh ekstrim ini
juga tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.

MEMIKIRKAN KEADILAN DALAM KEHIDUPAN KITA SENDIRI

Ini tidaklah mudah. Kebanyakan dari kita jauh lebih berprasangka
dari yang kita sadari. Kita berpikir bahwa pendapat-pendapat kita
didasarkan pada logika yang dingin. Sebenarnya, emosi kita telah
memainkan peran besar dalam berbagai opini itu. Yesus membuat suatu
kebiasaan yang menantang, yaitu manusia membuat tradisi dan cara
berpikir. Ketika Ia duduk beristirahat di sebuah sumur dan berbicara
dengan seorang wanita Samaria, Dia menentang dua tradisi bahwa
sedikit orang yang religius yang siap berubah: berbicara sendiri
dengan wanita (khususnya dengan orang yang tidak bermoral) dan
berbicara dengan orang Samaria.

Kita menggunakan prasangka kita untuk membenarkan perlakuan yang
tidak baik terhadap orang lain. Kita tidak harus berhubungan secara
pribadi dengan orang lain jika kita dapat meremehkan mereka dengan
risalat yang disusun dengan benar yang mendukung dosa-dosa kita.
Sejarah singkat tersebut seharusnya menunjukkan kepada kita bahwa
kita tidak sedang dihadapkan dengan masalah ras, pernyataan
kepercayaan, dan prasangka sosial yang terlalu dalam untuk
ditelusuri tanpa melalui darah Yesus. Kita harus memeriksa prasangka
kita dalam terang kasih Allah.

Masyarakat kita tidak mengajarkan keadilan. Polisi pun semakin tidak
didukung karena pengadilan akan mendukung mereka untuk melatih
keadilan. Banyak pemimpin pemerintahan yang rakus terhadap
peningkatan.

Kristus memerintah kita untuk memikirkan orang lain sebelum orang
lain memikirkan kita. Hanya mereka yang telah mati terhadap
kepentingan sendiri saja yang dapat melakukannya. Kita harus
menerima keadilan dari Allah pada diri kita sendiri. Untuk mengadili
seperti yang Yesus lakukan — bukan dengan apa yang terlihat di luar
tetapi “dengan pengadilan yang benar” — tentu saja merupakan
kebebasan.

Tak seorang pun lebih bebas dari orang yang emosi, situasi dan
pengetahuannya tidak bisa menjaganya untuk hidup seperti yang Tuhan
kehendaki. Kita dipimpin oleh Roh Kudus, bukan oleh ide-ide
pertimbangan kita atau respon emosional kita. Biarkan Tuhan bergumul
dengan ide-ide kita yang tidak dilahirkan di surga itu. Dia dapat
membebaskan kita untuk berhubungan dengan orang lain dalam
kelemahlembutan yang merefleksikan keadilan dan keagungan-Nya.

Bahan diterjemahkan dan diedit dari sumber:
Judul Buku : Building Christian Character
Judul Artikel Asli: Fairness
Penulis : Paul Anderson
Penerbit : Bethany House Publishers, Minnesota – USA, 1980
Halaman : 37 – 38

______________________________________________________________________
o/ ARTIKEL (2) —————————————————o/

Artikel berikut ini merupakan artikel yang ditulis khusus untuk
anak-anak. Anda dapat memberikan artikel ini sebagai bahan bacaan
untuk murid atau anak Anda. Anda juga dapat membacakannya bagi
mereka yang belum dapat membaca.

-o- BAGAIMANAKAH KAMU BISA ADIL? -o-
============================

Ada banyak cara agar kamu bisa bersikap adil. Kamu bisa berbagi dan
bergantian. Kamu bisa memutuskan untuk tidak cemburu kepada
seseorang. Kamu bisa menunjukkan sikap hormat terhadap orang
seandainya pun mereka lain dari dirimu. Kamu bisa menemukan cara
yang baik untuk bersikap ketika seseorang tidak adil terhadapmu.

1. Berbagi dan bergantian.
———————–
Kamu bisa bergantian main ayunan, main perosotan, atau main
peralatan olahraga ketika istirahat. Kamu bisa bergantian main
komputer. Kamu bisa berbagi kentang atau sekotak spidol. Kamu
bisa antri naik bus atau ke kamar kecil. Orang lain pun antri,
dan ada yang sudah datang duluan. Adillah kalau mereka masuk
lebih dulu.

2. Putuskan untuk tidak cemburu.
—————————–
Terkadang orang mempunyai hal-hal yang tidak kamu punyai. Kamu
mungkin merasa cemburu dan menyesal tidak mempunyai apa yang
mereka punyai atau tidak seperti mereka. Sulit memang untuk tidak
cemburu. Tetapi cemburu membuatmu tidak bahagia. Dan itu bisa
membuat orang lain susah juga. Dalam permainan kasti, mungkin
pukulan temanmu lebih tepat daripada pukulanmu. Bagaimanakah
seandainya kamu berkata kepadanya, “Tidak adil sekali bahwa
pukulanku lebih sering meleset daripada pukulanmu!” Bisa-bisa ia
merasa tidak enak dengan ketrampilan istimewanya itu. Sebagai
gantinya, kamu bisa saja mengatakan, “Hebat betul pukulanmu!
Bagaimana sih caranya?” Maka temanmu akan bangga dan kamu pun
akan senang. Mungkin temanmu bahkan akan menawarkan diri untuk
membantumu melatih ayunan pukulanmu.

Ingatlah, bakat orang lain mungkin berbeda dengan bakatmu, tetapi
kamu pun mempunyai bakat serta ketrampilan. Bagian dari tugasmu
antara lain menemukan kemampuan-kemampuan istimewa dan minat-
minatmu sendiri lalu mengembangkannya. Kalau kamu berbuat
semampumu untuk tidak cemburu, mungkin saja kamu menemukan
seseorang yang bisa membantumu “menumbuhkan” bakatmu. Mungkin
juga kamu temukan bahwa kamu pun bisa membantu yang lain.

3. Hormatilah semua orang.
———————–
Orang itu berbeda satu sama lain dalam banyak hal. Ada orang yang
gelap warna kulitnya, ada juga yang terang. Ada orang yang
berbicara bahasa Inggris, ada yang berbicara bahasa Spanyol, ada
yang berbicara bahasa Vietnam, dan ada yang berbicara bahasa
Perancis. Ada orang yang menjadi umat Kristiani, atau Hindu, atau
Muslim, atau Budha. Ada orang yang pandai membaca atau pandai
matematika. Ada juga yang tidak. Ada yang dapat melompat dan
berlari dengan mudah. Ada juga yang tidak.

Adalah tidak adil mengabaikan atau kejam terhadap seseorang yang
berbeda darimu. Mengapa tidak ramah terhadap orang yang tidak
sama sepertimu? Maka, kamu bisa menemukan cara-cara untuk saling
mempelajari dan menikmati satu sama lain.

KETIKA ORANG LAIN TIDAK ADIL

Ketika seseorang tidak adil terhadapmu, kamu mungkin ingin menangis,
marah, membentak, atau membalas dengan kejam. Tidak satu pun dari
semuanya itu akan membantumu ataupun orang tersebut untuk belajar
lebih adil satu sama lain. Berikut adalah beberapa ide yang dapat
kamu terapkan ketika seseorang tidak adil terhadapmu:

1. Bicarakanlah masalahnya dengan orang itu. Kamu bisa mengatakan,
“Kurasa semua orang seharusnya mendapatkan giliran. Bagaimana
menurutmu?” Atau, “Kurasa kita masing-masing seharusnya
mendapatkan bagian yang sama”.

2. Mintalah tolong kepada orang dewasa, entah guru atau orangtuamu.

3. Abaikanlah apa yang telah terjadi. Kalau toh tidak terlalu
mengganggu, lupakanlah.

4. Tertawakanlah. Ini bisa mengejutkan bermain orang dan membantu
mereka keluar dari suasana yang tegang.

5. Ubahlah kegiatannya. Carilah sesuatu yang lain untuk dilakukan
bersama-sama.

6. Pergilah ke tempat lain untuk bekerja atau bermain.

Bahan diedit dari sumber:
Judul Buku : Character Building untuk Anak-anak
Penulis : Barbara A. Lewis
Penerbit : Karisma, Batam, 2004
Halaman : 73 – 76

______________________________________________________________________
o/ BAHAN MENGAJAR ————————————————o/

-o- KEADILAN: SUNGGUH TIDAK ADIL -o-
============================

Renungan untuk Orangtua dan Guru:
———————————

“Dengan apakah aku akan pergi menghadap TUHAN
dan tunduk menyembah kepada Allah yang di tempat tinggi?
Akan pergikah aku menghadap Dia dengan korban bakaran,
dengan anak lembu berumur setahun?
Berkenankah TUHAN kepada ribuan domba jantan,
kepada puluhan ribu curahan minyak?
Akan kupersembahkankah anak sulungku karena pelanggaranku
dan buah kandunganku karena dosaku sendiri?
Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik
Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu:
selain berlaku adil, mencintai kesetiaan,
dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” (Mikha 6:6-8)

Hidup dengan memperhatikan sesama baik yang dekat maupun yang jauh
adalah hal yang seharusnya kita lakukan. Seperti biasa, Yesus
mengajak kita untuk memahami sebuah pengertian yang baru dan radikal
tentang tanggung jawab kita terhadap keluarga secara global. Lebih
dari sekadar saling memperhatikan; kita dipanggil untuk mengasihi
sesama seperti diri kita sendiri. Kita tidak hanya diminta untuk
sekadar membagikan sup; tetapi juga untuk ikut merasakan apa yang
dirasakan orang lain. Dengan demikian, kita akan lebih
diperhitungkan dalam menyuarakan persamaan hak dan keadilan.

Yesus mengatakan bahwa perintah kedua, yaitu mengasihi sesama,
sebenarnya sama dengan yang pertama. Saling mengasihi adalah salah
satu cara untuk mengasihi Allah. Dalam sudut pandang Allah, kasih
bukanlah sesuatu yang gampang. Kasih Allah terwujud dalam setiap
usaha, keringat, komitmen, penghargaan, kesetiaan, dan juga
penyerahan. Penyerahan yang paling murni berarti meletakkan
kepentingan orang lain di atas kepentingan kita. Bersikap adil dan
jujur satu sama lain, secara sederhana, dapat dimengerti sebagai
tindakan untuk meneruskan kepada orang lain mengenai apa yang telah
diberikan kepada kita masing-masing dengan limpah.

Refleksi untuk Seluruh Anggota Keluarga/Kelas SM:
————————————————-

Setiap kali kamu menunggu giliran untuk memukul bola, mengambil
makanan, atau mandi, ketika kamu harus sabar mengantri, bukankah
waktu rasanya tak kunjung berakhir? Bagaimana rasanya jika tiba-tiba
seseorang yang bertubuh lebih besar darimu menyerobot antrian di
depanmu? Yang segera muncul dalam pikiranmu kemungkinan adalah “Ini
tidak adil!” Memang tidak adil. Dan seperti itulah keadilan.
Keadilan dapat terwujud jika setiap orang sepakat berlaku adil.
Semua orang yang dengan sabar mengantri di belakangmu mengerti bahwa
keadilan berarti menunggu giliran dengan sabar. Jika setiap orang
bertindak adil, maka semua akan puas.

Tetapi keadilan bukan hanya berarti menunggu gilranmu saja. Keadilan
juga memberi kepastian bahwa setiap orang memperoleh gilirannya.
Sebagian orang bertubuh lebih kecil darimu. Sementara yang lain
mengira bahwa karena lebih besar dan lebih kuat, mereka dapat
menyingkirkan orang lain di sekitarnya. Kamu tahu bahwa itu tidak
benar, tetapi untuk menentang hal itu tampaknya cukup berbahaya.
Tetapi bagaimana jika yang lain juga merasakan hal yang sama? Hanya
perlu ada seseorang yang mengatakan, “Hei, mari kita sama-sama
berbicara agar mereka berlaku adil.” Masalahnya mungkin belum tentu
teratasi, tetapi pasti lebih mudah diatasi. Allah senantiasa
bersikap adil terhadap kita. Mungkin inilah saatnya bagi kita untuk
meneruskan sikap itu kepada orang lain.

HARI 1: APA YANG TUHAN TUNTUT
(Ulangan 10:12-22)

Orang asing adalah mereka yang tinggal dalam sebuah komunitas tanpa
memiliki status suku. Secara hukum, mereka tidak berdaya dan terus-
menerus menghadapi bahaya eksploitasi.

1. Dalam kisah di atas, bagaimana Allah menunjukkan keadilan-Nya?

2. Adakah seseorang yang tinggal di antara kita atau di sekitar kita
yang dapat disebut sebagai “orang asing?”

HARI 2: YOSUA BERSIKAP ADIL TERHADAP RAHAB
(Yosua 2:1-24; 6:20-25)

Umat Israel tiba di akhir perjalanan panjangnya menuju ke Tanah
Kanaan, Tanah Perjanjian. Kota Yerikho berada di antara mereka dan
lembah yang menuju ke Kanaan.

1. Apakah janji yang diberikan utusan Yosua kepada Rahab?

2. Apakah janji-janji yang kamu buat dan kamu usahakan sekeras
mungkin agar ditepati?

HARI 3: KEADILAN BAGI ORANG-ORANG YANG DIKASIHI ALLAH
(Matius 5:1-12)

1. Menurut ayat-ayat ini, siapakah yang memiliki Kerajaan Surga?
(Lihat Yesaya 66:2 tentang “orang yang patah semangat”.)

2. Pilihlah ucapan bahagia yang paling sesuai untuk dirimu dan
jelaskan mengapa itu paling sesuai untuk dirimu!

Hari 4: KEADILAN ALLAH ADALAH BAGIAN KITA
(Matius 7:7-12)

1. Bagaimana seharusnya kita memperlakukan orang lain?

2. Ceritakanlah bagaimana kamu ingin diperlakukan. Apakah sukar
bagimu untuk memperlakukan orang lain sebagaimana kamu inginkan
agar orang lain perbuat padamu?

HARI 5: PEKERJA-PEKERJA DI KEBUN ANGGUR
(Matius 20:1-16)

1. Bagaimana sang pemilik kebun anggur membenarkan tindakannya
memberi upah yang sama kepada semua pekerja?

2. Terkadang keadilan sukar diterima ketika kita seolah merasa
dirugikan. Pikirkanlah tentang suatu kejadian ketika sesuatu
yang “adil” justru membuatmu tidak bahagia. Mengapa?

HARI 6: MELIHAT KETIDAKADILAN
(Lukas 23:33-39)

Setelah dituduh secara keji oleh para pemimpin agama Yahudi, Yesus
dihukum mati dengan cara disalib.

1. Mengapa salah seorang dari kedua penjahat yang disalib bersama-
Nya itu merasa bahwa Yesus telah diperlakukan secara tidak adil?

2. Diperlakukan secara tidak adil memang amat menyakitkan. Pernahkah
kamu diperlakukan secara tidak adil? Pernahkah kamu memperlakukan
seseorang secara tidak adil?

Bahan diedit dari sumber:
Judul Buku : Belajar Bersama
Penulis : Janice Y. Cook
Penerjemah : Indawati Marsudi
Penerbit : Yayasan Gloria, Yogyakarta, 1999
Halaman : 150 – 152

KETEKUNAN -o-
=========

DEFINISI KETEKUNAN

Ketekunan adalah terus maju ke satu tujuan walaupun banyak halangan.
Orang yang tekun akan terus berpegang pada komitmennya sampai
terpenuhi meskipun tidak mudah untuk melakukannya.

Banyak tekanan yang akan terus menyerang dan menghalangi kita
mencapai tujuan – tekanan waktu, rasa tidak bersemangat, rasa ingin
mundur yang disebabkan oleh orang lain atau keadaan yang tidak
mendukung. Setiap anak Tuhan yang memutuskan untuk mengikuti Yesus
akan menemui semua halangan ini. Yesus sendiri menghadapi banyak
tekanan. Dia mengetahui bahwa Dia akan disalibkan. Setiap halangan
telah menghadang Dia di tengah jalan, termasuk keluarga-Nya, para
murid-Nya, dan keinginan-Nya sendiri untuk mencari jalan lain yang
mungkin ada. Akan tetapi, Dia tetap bertekun dan akhirnya
memenangkan keselamatan bagi kita.

Alkitab telah menjelaskan bahwa jalan-jalan orang Kristen tidaklah
mudah. Kita masuk ke dalam kerajaan dengan menghadapi berbagai
masalah, dan itu merupakan bagian yang akan terus berlanjut sebagai
anak-anak Allah. “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu
beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita
penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan
dunia” (Yohanes 16:33). Seperti telah diperingatkan oleh Yesus.
Mereka yang mengira hidup ini akan mudah dan lancar pasti akan
terkejut karenanya. Seorang calon murid memiliki visi yang sangat
besar ketika dia mendekati Yesus dengan keinginan menjadi murid yang
cemerlang. Yesus harus memperingatkan dia, sehingga Yesus berkata
kepadanya, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang,
tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-
Nya” (Matius 8:20).

Tuhan tidak meminta kita menjadi orang terkenal. Akan tetapi, Dia
memanggil kita untuk bertekun. Ketika Yohanes menulis surat kepada
tujuh gereja di Asia Kecil, dia merasakan penderitaan mereka, “Aku,
Yohanes, saudara dan sekutumu dalam kesusahan, dalam Kerajaan dan
dalam ketekunan menantikan Yesus, berada di pulau yang bernama
Patmos oleh karena firman Allah dan kesaksian yang diberikan oleh
Yesus” (Wahyu 1:9). Dia memerintahkan agar semua gereja tetap
bertekun dan mendorong mereka untuk tetap percaya sampai mati.

Tuhan meminta kita untuk tetap bertekun dalam permasalahan yang Dia
izinkan untuk kita hadapi.

SEBUAH CONTOH POSITIF DARI ALKITAB

Bayangkanlah bekerja selama seratus tahun untuk membuat sebuah
bahtera karena Tuhan mengatakan akan hujan – dan sebelumnya belum
pernah ada hujan sama sekali! Ini sama saja seperti Tuhan mengatakan
kepada Nuh bahwa buah semangka akan jatuh dari langit. Kejadian 2:6
mengatakan, “Tetapi ada kabut naik ke atas dari bumi dan membasahi
seluruh permukaan bumi itu.” Untuk dapat menyelesaikan tugas yang
diberikan Tuhan Nuh membutuhkan lebih dari sekadar ketekunan seperti
yang dimiliki oleh kebanyakan orang. Nuh membutuhkan kasih karunia
di hadapan Tuhan – dan hasilnya, ia berhasil berlabuh di tanah yang
kering dan tinggi.

Ketekunan merupakan kasih yang berkualitas. “Ia menutupi segala
sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar
menanggung segala sesuatu” (1Korintus 13:7). Yakub bekerja selama
tujuh tahun kepada Laban agar dia dapat memperistri Rahel, akan
tetapi Laban membuat Yakub bekerja tujuh tahun lagi. Kasih tetap
bertekun.

Yesus mengingatkan para muridnya bahwa panggilan untuk mengikut Dia
akan berarti penganiayaan. Mereka akan mengalami siksaan secara
fisik, emosi, rohani, akan tetapi mereka harus bertekun sampai pada
akhirnya.

SEBUAH CONTOH NEGATIF DARI ALKITAB

Kita telah melihat semua orang-orang Kristen baru yang memulai
seperti sebuah kilat. Setiap orang sangat senang dengan komitmen
baru mereka kepada Kristus. Selama kehidupan ini mudah, imannya
akan berkembang, akan tetapi ketika dia keluar dari tempatnya yang
nyaman dan berada di bawah terik matahari yang panas, imannya akan
runtuh. Dia tidak dapat menghadapi tekanan hidup di dunia yang
semuanya mencoba untuk menghancurkannya.

Keputusan yang kita buat untuk mengikut Yesus hanya dapat kita
tanggung ketika kita terus memandang Yesus, sebagaimana Dia
memandang kepada Bapa. “Marilah kita melakukannya dengan mata yang
tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang
membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan
kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi
Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.” (Ibrani
12:2)

MEMIKIRKAN KETEKUNAN DI DALAM KEHIDUPANKU SENDIRI

Ketekunan merupakan suatu kualitas yang penting dalam kehidupan
kita. Paulus memberitahu Timotius bahwa ketika kita mendekati hari
akhir, tekanan-tekanan akan semakin banyak, seperti dua garis yang
menuju pada satu persimpangan. Setan mencoba untuk melemahkan para
orang kudus. Kita didorong untuk tidak menjadi lelah di dalam
melakukan hal baik. Tuhan berjanji bahwa kita akan berbuah jika kita
tidak tawar hati.

Seorang pelatih di sekolah menengah sering memberi tahu saya,
“Ketika kehidupan menjadi semakin sulit, kesulitan itu akan terus
hidup.” Saya kira tidak ada orang yang tidak akan setuju bahwa
kehidupan menjadi semakin sulit. Jika kita pernah membutuhkan visi
yang jelas, maka kita membutuhkannya sekarang. Keputusan yang kita
buat pada tahun baru tidak akan cukup untuk memenuhi kita. Kita
perlu menyangkal diri setiap hari dan membawa salib kita jika kita
ingin menyelesaikan perjalanan kita.

Disiplin Kristen yang keras tidak sesuai. Kebanyakan ini hanya akan
menghasilkan orang-orang yang lemah bukannya tentara. Kita adalah
orang-orang yang telah mendapatkan perlengkapan untuk melawan
keputusasaan, kita senang untuk menghadapi tantangan dengan berani,
jangan menangis. “Legalisme!” Ketika diminta untuk mendisiplinkan
diri mereka sendiri untuk ketuhanan, mereka akan bertekun sampai
pada akhirnya. Mereka memiliki Roh Tuhan Yesus di dalam diri mereka.

“Ketekunan di dalam Alkitab seringkali dipasangkan dengan doa. Dalam
Perjanjian Baru, para murid mencurahkan waktu mereka terus-menerus
berdoa” (Kisah Para Rasul 6:4). Ketika para murid kembali ke
Yerusalem setelah kenaikan Tuhan Yesus, mereka terus-menerus berdoa.
Setelah Pentakosta semua orang percaya melakukan hal yang sama.

Kebutuhan dalam hidup kita yang paling besar dalam hal ketekunan
adalah dalam hal berdoa. Rasul Petrus menyatakan bahwa akhir dari
semua hal sudah dekat. Oleh sebab itu berjaga-jagalah dan waspadalah
dalam doa (1Petrus 4:7).

Halangan yang telah saya hadapi ketika saya mencoba untuk melakukan
doa secara teratur sangatlah ironis – telepon akan selalu berdering,
anak bayi saya akan menangis dan lain-lain. Akan tetapi, tanpa
persekutuan yang teratur dengan Tuhan, kita tidak bisa bertahan.
“Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya:
Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku
dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan
memerdekakan kamu” (Yohanes 8:31,32). Yesus bisa bertahan, Yesus ada
dalam hidup kita. Itu berarti kita dapat pula bertahan.

Bahan diterjemahkan dan diedit dari sumber:
Judul Buku : Building Christian Character
Judul Artikel Asli: Perseverance
Penulis : Paul Anderson
Penerbit : Bethany House Publishers, Minnesota – USA, 1980
Halaman : 8 – 9

______________________________________________________________________
o/ TIPS ———————————————————-o/

-o- MENDIDIK ANAK-ANAK AGAR BERTEKUN -o-
================================

Kalau anak-anak bermain-main, mereka bermain “sampai selesai”. Jadi,
apakah sebabnya mereka merasa sulit kalau harus bertekun terus dalam
melakukan tugas-tugas harian mereka – yaitu yang merupakan kunci
bagi kehidupan yang berhasil? Dan bagaimanakah caranya sehingga
orangtua dapat menolong mereka untuk memiliki kebiasaan yang
positif ini? Bagaimanakah caranya agar Anda dapat menolong anak Anda
untuk belajar bertekun terus sampai akhir? Ingatlah akan prinsip-
prinsip yang dapat memberi motivasi yang berikut ini:

1. Bagi anak pra sekolah, keseimbangan itu penting. Pada usia ini
yang terutama memotivasi anak Anda ialah upah atau hukuman dan ia
tidak dapat mengerti bahwa suatu pekerjaan itu harus diselesaikan
oleh karena itu merupakan hal yang “benar” yang harus dikerjakan.
Jika seorang anak tidak berhasil menyelesaikan apa yang sudah
ditugaskan kepadanya, tindakan yang terbaik yang harus Anda
lakukan ialah turun tangan dan menolongnya. Teladan yang Anda
berikan mengungkapkan bahwa Anda mendukung dia dan bahwa penting
sekali untuk dengan tekun menyelesaikan tugas itu. Tindakan
demikian ini juga dapat menghindari keputusasaan dan
menghilangkan ketegangan yang ditimbulkan oleh omelan-omelan
Anda.

2. Bersikap peka terhadap anak Anda itu sangat penting. Jika apa
yang Anda harapkan dari anak Anda terlalu rendah maka anak itu
tidak mendapat tantangan untuk mengembangkan potensi yang mungkin
dicapainya. Jika apa yang Anda harapkan dari anak Anda terlalu
tinggi maka ia menjadi takut gagal dan ketakutan semacam ini
sangat merusak. Salah satu cara untuk menekankan prinsip yang
benar ialah dengan membaca berbagai cerita anak-anak yang populer
yang menekankan dan menghargai ketekunan seperti dongeng tentang
kelinci yang balap lari dengan kura-kura. Anak-anak yang agak
besar dapat disuruh membaca riwayat hidup tokoh terkenal seperti
Thomas Alva Edison yang karena ketekunannya berhasil menjadi
penemu bola lampu listrik atau Madame Curie yang karena
ketekunannya berhasil menemukan radium.

3. Pada masa anak duduk di Sekolah Dasar, motivasi anak Anda lebih
ditentukan dengan sikap saling mendukung dan saling memberi
pujian. Selama masa ini tingkatkanlah dukungan dan apa yang Anda
harapkan. Perkenalkan kepadanya motto-motto seperti “Kalau pada
mulanya engkau tidak berhasil, cobalah sekali lagi, dan sekali
lagi” dan semangat fabel kura-kura dan kelinci: “Walau lambat
jika tekun, maka perlombaan pun akan dimenangkan.” Tanamkan
pikiran ini dengan suatu percakapan tentang prinsip Alkitab
mengenai kerajinan – perhatikanlah Kolose 3:23; 2Tesalonika
3:11-13; Pengkhotbah 10:18; 11:6; dan Amsal 10:4; 12:24; 13:4 dan
22:29.

4. Limpahkanlah pujian dan berilah hadiah untuk usaha-usaha yang
luar biasa. Ingatkan anak Anda tentang kejadian-kejadian saat ia
berhasil menyelesaikan sesuatu dan menuai kepuasan dari apa yang
berhasil dicapainya. Jika anak Anda tidak berhasil untuk
menyelesaikan suatu tugas, tunjukkanlah dengan jelas kekecewaan
Anda, dukungan Anda, dan kasih Anda kepadanya. Sekali lagi,
menolong anak Anda pada waktu anak Anda benar-benar merasa
frustrasi atau pada saat ia ingin meninggalkan pekerjaannya itu
merupakan cara yang paling baik untuk menunjukkan bahwa Anda
mendukungnya dan dengan demikian Anda dapat memberikan teladan
mengenai disiplin yang diperlukannya. Secara konsisten memberikan
teladan tentang bagaimana Anda sendiri menepati komitmen Anda
merupakan sesuatu yang paling penting.

5. Dalam masa remaja, motivasi anak-anak Anda dalam melaksanakan
tugas harus mulai mencerminkan suatu rasa penghargaan yang lebih
matang dan berdasarkan kesadaran terhadap kebutuhan akan adanya
ketertiban dalam hidup. Tuntutlah anak Anda agar tetap konsisten
dengan tugas-tugas sehari-harinya, pekerjaan rumah, pemeliharaan
benda-benda kepunyaannya, dan dalam menepati janjinya. Jika
seorang remaja gagal, biarkanlah ia menanggung akibat atau
konsekuensi dan tindakannya. Namun demikian tetaplah berikan rasa
pengertian, kasih, dan dukungan Anda kepadanya.

Tentu saja memang ada juga batasnya dalam soal mendisiplin agar
bertekun terus sampai akhir ini. Cepat atau lambat, kita semua pada
suatu saat harus juga menyerah dan menghentikan apa yang sedang kita
lakukan karena kita mendapati bahwa hal itu berada di luar batas
kemampuan kita, terlalu banyak menuntut, atau mungkin karena tidak
menyenangkan sama sekali. Jadi, bagaimanakah caranya supaya seorang
anak dapat meninggalkan atau menghentikan apa yang sedang
dikerjakannya tanpa menjadi orang yang cepat menyerah? Di bawah ini
terdapat beberapa prinsip yang harus dipertimbangkan dalam menyusun
jawabannya.

1. Apakah ada saat yang wajar untuk menghentikan apa yang sedang
dikerjakannya itu? Dapatkah anak Anda bertahan sampai saat itu?
Lebih baik bertahan terus sedapat-dapatnya atau bertahan sampai
secara wajar hal itu memang harus dihentikan daripada
meninggalkan pekerjaan itu pada waktu sedang mengalami stres yang
paling berat, yaitu apabila berbagai kesulitan menyebabkan apa
yang menjadi sasaran terakhir menjadi kabur.

2. Sebenarnya pada mulanya siapa yang mempunyai gagasan untuk
melakukan kegiatan itu? Jika hal itu memang bukan pilihan anak
Anda sendiri, maka izin untuk menghentikan pekerjaan itu harus
diberikan dengan lebih mudah. Jika pada mulanya memang anak Anda
yang memintanya, maka Anda harus bersikap lebih keras.

3. Apakah komitmen itu dilakukan sambil lalu saja? Tolonglah anak
Anda untuk menyadari sepenuhnya apa artinya dengan setia
melaksanakan komitmen atau keputusan itu. Hal ini akan
menyebabkan anak itu tidak mudah untuk dengan begitu saja
menyerah bila kesukaran atau keletihan mulai timbul.

4. Dalam hal ini apakah ada keadaan yang merupakan pengecualian?
Keadaan dapat mengubah haluan utamanya. Bila anak Anda ingin
menyerah dan meninggalkan hal itu, ajukanlah banyak pertanyaan
yang sifatnya tidak mengecam dan perhatikanlah apakah ada
indikasi terselubung tentang faktor-faktor negatif yang
menyebabkannya patah semangat.

5. Ajukanlah pertanyaan berikut terhadap diri Anda sendiri:
“Apakah akan disebut juga meninggalkan pekerjaan atau menyerah
jika yang mengambil langkah itu adalah seorang dewasa?”

6. Apa yang akan terjadi jika anak itu tidak diperkenankan
meninggalkan pekerjaan itu atau menyerah? Anak-anak perlu
diizinkan untuk mundur, jika mereka ternyata memang telah membuat
pilihan yang salah, seperti juga halnya orang dewasa. Bila kita
tidak mengizinkannya, mereka akan melakukan sesuatu yang tidak
diinginkan, seperti “lupa” untuk menanggulangi beban yang
menumpuk. Lebih baik dan lebih terhormat menolong anak-anak untuk
bertingkah laku dengan penuh tanggung jawab selama masih terikat
janji kemudian membuat suatu langkah untuk memutuskan dengan
jelas dan jujur: “Saya tidak menyukainya” atau “Saya angkat
tangan”.

Anak Anda dapat didisiplin untuk bertekun sampai akhir. Karakter ini
sangat penting baginya untuk kelak dapat berhasil sebagai orang
dewasa – itu sebabnya Anda pun patut mempunyai ketekunan untuk terus
mengembangkan sifat ini.

Bahan diedit dari sumber:
Judul Buku : 40 Cara Mengarahkan Anak
Penulis : Paul Lewis
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1993
Halaman : 135 – 139

______________________________________________________________________
o/ BAHAN MENGAJAR ————————————————o/

-o- JANGAN BERHENTI SEKARANG -o-
========================

“Sekarang saya berhenti membaca!” kata Rahmat.

Paman Niko segera berhenti membaca dan memandang kepada Rahmat.
“Kamu baru saja mulai membaca, bukan?” katanya.

“Tetapi saya tidak suka buku ini,” jawab Rahmat. “Saya tidak
mengerti mengapa guru itu menyuruh kami membacanya.”

“Kamu tidak akan pernah selesai membajak sawahmu jika kamu tidak
tekun,” kata Paman Niko.

Rahmat tampak kebingungan. “Apakah maksud Paman?” tanya Rahmat.

Renungan Singkat tentang Ketekunan:
———————————–
1. Kapan terakhir kamu berhenti mengerjakan pekerjaan yang
seharusnya kamu kerjakan terus dengan tekun?

2. Mengapa kamu berhenti mengerjakannya?

3. Menurutmu, apakah salah jika mempunyai kebiasaan menghentikan
pekerjaan itu? Mengapa?

“Pada suatu hari Tuhan yesus berkata tentang hal mengikut Dia,” kata
Paman Niko kepada Rahmat. “Ia berkata bahwa hal mengikut Dia sama
seperti membajak sawah.”

“Bagaimana hal mengikut Tuhan Yesus dapat seperti pekerjaan
membajak?” tanya Rahmat, tampak kebingungan.

Paman Niko tersenyum. “Ketika Paman masih kecil, Paman tinggal di
desa,” katanya. “Bila seorang petani membajak jalur pertama dari
sawahnya, ia harus terus dengan tekun melihat kepada sebuah pohon
atau tiang agar ia dapat membajak dengan lurus. Jika dia tidak tekun
dan tiap sebentar ia menoleh ke belakang, hasil bajakannya akan
berkelok-kelok.”

“Jadi, jika saya terus menoleh ke belakang dan selalu ingin
berhenti, saya tidak akan pernah dapat menyelesaikan bacaan saya
dengan baik?” tanya Rahmat.

“Ya, betul,” kata Paman Niko. “Bila kamu mulai mengerjakan sesuatu
yang berguna untuk dilakukan, maka teruslah memandang ke depan
hingga pekerjaan itu selesai. Itulah yang dikatakan Tuhan Yesus.”

“Kalau begitu, saya kira lebih baik saya mulai membajak lagi,” kata
Rahmat sambil tertawa.

Renungan Singkat tentang Tuhan Yesus dan Kamu:
———————————————-
1. Apakah yang dikatakan Tuhan yesus tentang menghentikan pekerjaan?
Apakah yang akan terjadi jika kamu tidak tekun dan terus
menghentikan pekerjaan? Apakah yang terjadi jika kamu terus
menoleh ke belakang dan bukannya memandang terus ke depan?

2. Adakah sesuatu yang harus kamu kerjakan, tetapi kamu tidak tekun
dan tidak senang mengerjakannya? Menurut kamu, apakah yang
diinginkan Tuhan Yesus agar kamu lakukan sehingga pekerjaan itu
dapat selesai?

Bacaan Alkitab:
—————
Lukas 9:62

Kebenaran Alkitab:
——————
Orang yang memulai pekerjaannya yang baik, harus tetap memandang ke
depan hingga pekerjaan itu selesai (Lukas 9:62).

Doa:
—-
Ya Tuhan Yesus, semoga saya dapat melakukan hal-hal yang Engkau
inginkan agar saya kerjakan. Terima kasih, ya Tuhan, karena Engkau
menolong saya menyelesaikannya. Amin.

Bahan diedit dari sumber:
Judul Buku: 100 Renungan Singkat untuk Anak-anak
Penulis : V. Gilbert Beers
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1986
Halaman : 100 – 101

Baca juga:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *