Membangun Rumah Rohani 2

i

MURID KRISTUS : Tukang Bangunan & Batu Hidup

Tuhan meminta agar supaya seluruh jemaat berfokus untuk membangun rumah-Nya. Mengapa Allah meminta kita untuk melakukan hal itu? Alasannya adalah karena itu merupakan isi hati Tuhan yang terdalam. Allah rindu memiliki sebuah rumah, dimana Ia merasa betah dan dapat mengekspresikan diri-Nya secara penuh. Itulah sebabnya, Kristus telah datang dua ribu tahun yang lalu untuk membangun rumah-Nya. Pekerjaan pembangunan rumah-Nya belum berhenti, tetap masih akan terus berlangsung sampai kedatangan-Nya yang kedua kali, bahkan sampai terwujudnya Yerusalem baru. Jadi, sekarang Kristus sibuk bekerja membangun rumah-Nya.

Lalu, apakah bagian kita sebagai murid-muridNya? Selama bertahun-tahun itu, saya bergumul untuk mencari tahu apakah arti dari pemuridan itu. Apakah pekerjaan yang harus dilakukan oleh setiap murid Kristus? Bukankah murid (mathetes) artinya seseorang pengikut dan pelajar (pemagang)? Murid adalah seseorang yang mengikuti kemanapun gurunya pergi, dan menjadi pemagang yang melakukan apa yang gurunya lakukan. Sebagai murid Kristus, Kristus yang melakukan segala pekerjaan-Nya melalui murid-muridNya. Kita sebagai orang Kristen memiliki guru yang tinggal di dalam dan di antara murid-muridNya. Memang kita melakukan apa yang Kristus lakukan, tetapi kita hanyalah alat ekspresi-Nya.

MURID MEMBANGUN RUMAH

Jadi, pekerjaan apakah yang dilakukan oleh murid Kristus sebagai pemagangNya? Murid selalu melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh gurunya. Ada banyak pola pemuridan untuk mengikuti apa yang dulu Kristus lakukan sebelum Ia bangkit dan duduk di sebelah kanan Allah, Bapa. Itu pola pemuridan yang tidak tepat. Kita harus melakukan apa yang sedang Kristus lakukan sekarang.

Itulah sebabnya, saya kurang setuju jikalau menggunakan pertanyaan WWJD (What Would Jesus Do? = Apa yang dulu akan dilakukan Yesus?). Ketika ada persoalan, banyak orang berefleksi, “Kira-kira dulu apa yang Kristus akan lakukan dalam situasi seperti ini?” Memang tidak salah mempelajari dari sejarah apa yang Yesus dulu akan lakukan dalam situasi-situasi tertentu, tetapi Kristus adalah pribadi yang hidup dan sekarang tinggal di dalam kita. Masalahnya, sekarang Kristus berfokus melakukan sesuatu pekerjaan yang utama. Kristus sedang membangun rumah-Nya. Jadi, menjadi murid Kristus adalah mengikut Kristus dan melakukan apa yang sedang Ia lakukan, yaitu membangun rumah-Nya. Saya menemukan bahwa orang-orang yang berfokus membangun rumah Tuhan adalah orang-orang yang bertumbuh sangat pesat di dalam pemuridan. Mereka melakukan pekerjaan membangun rumah Tuhan, lalu menolong orang lain untuk membangun rumah Tuhan, akan bertumbuh dan mencapai potensi maksimalnya.

TUKANG SEKALIGUS BATU HIDUP

Jadi, murid-murid adalah pembangun rumah Tuhan. Kalau begitu, murid-murid juga adalah tukang-tukang bangunan dan sekaligus batu-batu hidupnya. Pada bulan ini, kita akan belajar bagaimana berfungsi sebagai tukang bangunan yang saling membangun di dalam jemaat dasar, untuk membangun rumah Tuhan sampai mencapai kepenuhannya. Marilah kita bertumbuh sebagai murid-murid Kristus, bertumbuh sebagai tukang bangunan dan batu-batu hidup.

Batu Hidup yang Rohani

Banyak orang Kristen berpikir seperti ini: saya diselamatkan, saya dipulihkan, saya diberkati, mati masuk surga. Inilah Kristen kanak-kanak. Hidupnya masih berfokus pada diri, kesenangan hidup dan menuruti hawa nafsu lebih daripada menuruti Tuhan. Paulus menyebut mereka manusia duniawi (1 Korintus 3:1-5, 2 Timotius 3:1-5): masih mudah tersinggung, iri hati, marah, tidak sabar, menghakimi orang lain, melihat dirinya paling benar, sering konflik dengan orang lain, menyalahkan orang lain kalau salah, tidak bersyukur. Yang berbahaya adalah, ada orang yang merasa rohani karena melakukan hal-hal yang rohani seperti aktif pelayanan, tapi sebenarnya hidupnya tidak rohani. Kalau dibandingkan dengan hari sebelumnya, minggu sebelumnya, bulan sebelumnya, tahun sebelumnya, hidupnya tidak berubah lebih dewasa. Kristus tidak menjadi pusat dalam hidupnya.

Salah satu ciri manusia rohani adalah mengerti dan menghidupi 1 Petrus 2:5, “Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.“

Anda dan saya, Tuhan tentukan menjadi batu yang hidup untuk pembangunan sebuah rumah rohani. Perhatikan kata ‘rumah rohani’ dan ‘mempersembahkan persembahan rohani’. Ini sangat penting, karena hari-hari ini, ada orang-orang yang hidup dalam pencemaran jasmani dan rohani (2 Korintus 7:1) dengan apa yang ia baca, apa yang ia lihat dan apa yang ia lakukan. Akibatnya hidupnya tidak lebih baik karakternya dengan orang sekantornya atau tetangganya yang belum kenal Tuhan.

Apakah anda manusia duniawi atau manusia rohani? Manusia duniawi memikirkan apa yang ia bisa dapatkan dari Tuhan, tetapi manusia rohani memikirkan apa yang bisa ia kontribusikan kepada pembangunan rumah rohani. Jangan tinggalkan persekutuan dalam komsel sebagai rumah rohani Anda. Build My home. Sehingga genaplah nas ini: “Supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib”(1 Petrus 2:9).

PROSES PEMBANGUNAN RUMAH TUHAN

Di sepanjang bulan lalu, kita telah melihat bahwa kita semua adalah tukang-tukang bangunan sekaligus batu-batu hidup. Kita telah belajar bahwa pemuridan adalah mengikuti dan mengekspresikan Kristus. Banyak sekali anggota jemaat yang bergairah menyambut visi pembangunan rumah Tuhan, karena kita semua ingin melakukan apa yang sedang Ia lakukan, yaitu membangun gerejaNya. Namun setelah mereka mulai terlibat di dalam pembangunan rumah Tuhan, ternyata mereka mengalami berbagai kesulitan dalam prosesnya. Proses pembangunan rumah Tuhan ternyata tidak seperti yang mereka bayangkan. Sangat berantakan dan tidak dapat dikendalikan oleh manusia. Bukan hanya itu, tetapi proses ini menimbulkan rasa sakit, bahkan banyak orang sampai “berdarah-darah”. Teman saya Frank Viola menggunakan istilah “Glory & Gory” (penuh kemuliaan dan berdarah-darah) untuk menggambarkan proses ini.

Seorang jemaat yang datang kepada saya bertanya, “Pak Eddy, mengapa setelah saya mempraktekkan pembangunan rumah Tuhan di dalam komunitas sel, ternyata komunitas sel saya bukan jadi lebih baik, tetapi malah lebih berantakan?” Ketika mendengar hal itu, saya tersenyum dan bergirang di hati sambil berkata, “Akhirnya, ia sampai juga kepada proses yang benar.” Lalu saya katakana kepadanya, “Selamat datang ke dalam proses pembangunan rumah Tuhan. Kalau komsel kamu kelihatannya berantakan, kacau dan berdarah-darah, he..he…, itu artinya kamu sedang melakukan proses pembangunan yang benar.”

PASTI BERANTAKAN

Mari kita bayangkan, jika kita berada di proyek pembangunan rumah batu, maka tentu tempatnya berantakan, tidak nyaman, berisik, potongan batunya beterbangan, bahkan debu reruntuhannya beterbangan. Apakah karena melihat dan mengalami situasi seperti itu, lalu para tukangnya mundur dan menyerah? Tentu saja tidak. Mengapa? Sebab hal itu adalah proses yang normal. Justru kalau tidak ada kondisi seperti itu, berarti tidak ada proses pembangunan sama sekali. Jadi, jikalau komunitas sel kita hanya santai-santai saja, tidak ada gesekan dan konflik, maka komunitas sel tersebut tidak mengalami proses pembangunan sama sekali. Salomo berkata, “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya,”(Amsal 27:17).

Dalam pembangunan sebuah bangunan, diperlukan proses pengikisan, pembentukan, penghalusan, dan pemasangan. Mengapa tukang-tukang bangunan tidak pernah menyerah, melainkan justru terus bekerja dalam situasi yang sedemikian berantakan? Ini karena mereka memiliki 2 alasan. Pertama, mereka percaya bahwa itulah proses yang benar yang harus dilakukan. Tidak ada karya yang indah tanpa proses yang sulit dan penuh penderitaan. Mereka yakin bahwa tidak ada cara lain untuk mencapai karya yang indah selain melalui proses yang “gory” (berdarah-darah). Kedua, mereka terus-menerus melihat visi yang berupa hasil akhir yang akan dicapai. Ini artinya mereka melihat bagaimana bentuk sempurna dari bangunan yang sedang dikerjakan itu nantinya. Ketika seorang pematung terkenal ditanya tentang rahasia kesempurnaan karya seninya yang berupa patung malaikat, ia menjawab, “Orang melihat batu, tetapi saya hanya melihat malaikat. Jadi, kuncinya sangat sederhana. Saya membuang semua bagian yang tidak serupa dengan malaikat, sehingga hasilnya seperti malaikat.”

BEKERJA DENGAN IMAN

Kita akan melihat bagaimana agar dalam proses pembangunan rumah Tuhan, kita sebagai tukang-tukang bangunan tidak menyerah, tetapi justru semakin tekun dan bersemangat. Kunci utamanya adalah bekerja dengan iman. Apa maksudnya? Iman adalah melihat visi akhir dari rumah Allah. Paulus berkata, “Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui. Karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu. Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah,” (Ibrani 11:8-10).

Karena imanlah, maka Abraham bersedia berangkat dan menanggung ketidaknyamanan. Abraham rela tinggal di kemah-kemah, karena ia telah melihat visi Yerusalem baru. Bahkan sampai akhir hidupnya pun, Abraham belum pernah melihat kenyataan rumah Tuhan itu (Ibrani 11:12). Hal yang luar biasa adalah Abraham tetap bersemangat menuju penggenapan Maksud Abadi Allah. Mengapa Abraham rela melakukannya? Mengapa Abraham tidak takut pada proses yang penuh dengan penderitaan? Jawabannya adalah: Abraham melakukannya “karena iman”. Itulah yang kita akan teladani. Kita rindu agar melalui perenungan di bulan ini, kita memiliki iman yang sama dengan Abraham untuk pembangunan rumah Tuhan. Iman datang dari pendengaran Firman Tuhan.

SETIA DALAM PROSES

Puji Tuhan, kita merenungkan dan bagaimana untuk membangun tempat kediaman Tuhan. Banyak hal luar biasa yang dialami ketika tempat kediaman Tuhan dibangun. Apakah Anda mengalaminya juga?

Saat  rumah  sedang direnovasi. Sebelum pengerjaan dimulai, tentunya perlu dibuat gambaran besar (big picture) dari rumah yang diinginkan. Dalam proses pengerjaannya, semua menjadi begitu berantakan dan tidak teratur. Tentunya ini adalah proses yang harus dilakukan dan seiring pengerjaan perlahan-lahan keadaannya menjadi semakin baik, yaitu sesuai dengan big picture-nya.

Saya percaya untuk melihat big picture adalah sangat penting, karena jika kita tidak melihatnya terlebih dahulu. Kita akan frustasi ketika proses pengerjaan dilakukan. Apalagi kita sekarang tinggal di dunia yang penuh tekanan yang selalu menuntut hasil secara cepat. Namun seperti kita ketahui bahwa segala sesuatu membutuhkan proses.

Bagaimana dengan setiap kita? Apakah ketika kita mulai membangun tempat kediaman Tuhan – rumah Tuhan, rasanya justru banyak hal yang berantakan dan tidak teratur? Jika ya, berarti proses pembangunan sedang terjadi. Karena itulah kita harus terus melihat big picture dari Tuhan yaitu maksud abadi-Nya dan juga menjalani proses pembangunan dengan bersama-sama, saling menolong, saling bekerja sama dan saling menguatkan. Dan hasilnya kita mengalami hal yang sangat luar biasa, yaitu Tuhan berdiam di tengah-tengah kita. Mari kita terus setia di dalam proses pembangunan tempat kediaman Tuhan.Selamat membangun!

MENJADI BATU YANG HIDUP LEWAT PROSES PEMURIDAN

Ketika pertama kali kita bertobat, percaya kepada Injil dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita, maka kita menjadi manusia baru. Setelah kita menjadi manusia baru, maka rasul Petrus memberikan nasihatnya, “Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah,”(I Petrus 2:5).

Meski sudah menjadi batu-batu hidup, tetapi kita belum bisa dipakai untuk membangun rumah Tuhan. Kita masih berupa bahan-bahan mentah dan kasar, yang belum siap dipasang pada tempatnya. Batu-batu ini harus dibentuk dalam sebuah proses yang disebut PEMURIDAN. Melalui proses pemuridan inilah, kita sebagai batu-batu hidup mulai dibentuk oleh Tuhan. Pembentukan ini akan mematikan keinginan daging kita, sehingga karakter kita akan terbentuk menjadi dewasa. Dengan demikian kita akan dipakai untuk membangun rumah Tuhan atau Tubuh Kristus dengan Kristus sebagai Kepala.

Memang proses pembentukan ini sakit, karena harus terjadi di dalam sebuah komunitas yang sedang belajar untuk bertumbuh bersama-sama sebagai bagian dari rumah Tuhan. Komunitas ini adalah komunitas yang mempraktekkan gaya hidup “saling”. Namun harus diingat bahwa kita tidak akan bisa bertumbuh maksimal bila kita tidak mengikuti proses SALING MEMURIDKAN. Proses inilah yang membuat kita bertumbuh bersama-sama menjadi serupa Kristus dan dipergunakan untuk membangun rumah Tuhan.

Doa dan kerinduan saya adalah agar setiap jemaat bisa memahami dan mengerti pencerahan yang diberikan oleh Tuhan tentang Maksud Abadi Allah. Marilah, kita semua terlibat dalam proses Tuhan ini agar Maksud Abadi Allah tergenapi. Saya berharap agar setiap jemaat ada dalam sebuah komunitas yang diperlengkapi oleh lima jawatan, agar kita benar-benar dibentuk menjadi batu-batu hidup, yang dipakai untuk membangunan rumah Tuhan. Kiranya Tuhan memberkati kita semua.

5 Proses dalam Pembangunan Rumah Tuhan

Membangun rumah Tuhan tidak terjadi secara instan dan mudah. Ada 5 proses yang harus kita praktekkan secara terus-menerus dengan tekun. Proses-proses itu bukan hanya menjadi tanggung jawab para pemimpin komsel atau pemimpin area, tetapi juga tanggung jawab semua orang kudus.

Jika kita semua bersepakat untuk melakukan ke-5 proses ini dengan satu hati, maka kita akan mengalami pertumbuhan rohani yang sangat pesat. Kita akan bertumbuh menjadi dewasa untuk mencapai potensi maksimal kita. Hal ini akan membuat komsel-komsel atau jemaat dasar mencapai kepenuhan Kristus. Ketika komsel-komsel mencapai kepenuhan Kristus, maka Kristus (Kepala) bisa menggerakkan tubuhNya untuk melakukan penjangkauan dan transformasi dalam berbagai bidang (domain) kehidupan. Di samping itu, Kristuspun akan terekspresi sepenuhnya, sehingga orang-orang di sekeliling kita akan melihat Kristus melalui komsel-komsel. Jika Kristus dapat diekspresikan sepenuhnya, maka banyak jiwa akan dimenangkan dan kebangunan rohani yang besar akan terjadi di kota dan bangsa kita.

Oleh karena itu, marilah kita mulai mempraktekkan ke-5 proses tersebut. Sekarang, ke-5 proses ini kita singkat dengan akronim M.A.K.S.I.

1.Maksud Abadi Allah.
Proses #1: Menemukan master plan rumah Tuhan.

2.Akuntabilitas
Proses #2: Saling memuridkan (dalam komunitas inti 2-3 orang).

3.Komunitas Sel
Proses #3: Membangun jemaat dasar kepenuhan Kristus.

4.Sekolah Kehidupan
Proses #4: Berjalan sehari-hari sebagai manusia baru.

5.Impartasi
Proses #5: Diperlengkapi terus-menerus.

Mari kita merenungkan dan mempraktekkannya Firman Tuhan ini, Selamat membangun rumah Tuhan.

Tuhan Yesus memberkati.

Sumber: http://nafiriallah.org/list_details.php?id=789

 

SETIA DALAM PROSES

Puji Tuhan, selama hampir 7 bulan kita secara bersama berbicara, merenungkan dan juga diperlengkapi untuk membangun tempat kediaman Tuhan. Banyak hal  luar biasa yang dialami ketika tempat kediaman Tuhan dibangun. Apakah Anda mengalaminya juga?
Saat ini rumah saya sedang direnovasi. Sebelum pengerjaan dimulai, tentunya perlu dibuat gambaran besar (big picture) dari rumah yang diinginkan. Dalam proses pengerjaannya, semua menjadi begitu berantakan dan tidak teratur. Tentunya ini adalah proses yang harus dilakukan dan seiring pengerjaan perlahan-lahan keadaannya menjadi semakin baik, yaitu sesuai dengan big picture-nya.
Saya percaya untuk melihat big picture adalah sangat penting, karena jika kita tidak melihatnya terlebih dahulu. Kita akan frustasi ketika proses pengerjaan dilakukan. Apalagi kita sekarang tinggal di dunia yang penuh tekanan yang selalu menuntut hasil secara cepat. Namun seperti kita ketahui bahwa segala sesuatu membutuhkan proses.
Bagaimana dengan setiap kita? Apakah ketika kita mulai membangun tempat kediaman Tuhan – rumah Tuhan, rasanya justru banyak hal yang berantakan dan tidak teratur? Jika ya, berarti proses pembangunan sedang terjadi.  Karena itulah kita harus terus melihat big picture dari Tuhan yaitu maksud abadi-Nya dan juga menjalani proses pembangunan dengan bersama-sama, saling menolong, saling bekerja sama dan saling menguatkan. Dan hasilnya kita mengalami hal yang sangat luar biasa, yaitu Tuhan berdiam di tengah-tengah kita. Mari kita terus setia di dalam proses pembangunan tempat kediaman Tuhan.Selamat membangun!
(Seno Widjaja, Penatua Jemaat Abbalove Ministries)

 

PROSES PEMBANGUNAN RUMAH TUHAN

Di sepanjang bulan lalu, kita telah melihat bahwa kita semua adalah tukang-tukang bangunan sekaligus batu-batu hidup. Kita telah belajar bahwa pemuridan adalah mengikuti dan mengekspresikan Kristus. Banyak sekali anggota jemaat yang bergairah menyambut visi pembangunan rumah Tuhan, karena kita semua ingin melakukan apa yang sedang Ia lakukan, yaitu membangun gerejaNya. Namun setelah mereka mulai terlibat di dalam pembangunan rumah Tuhan, ternyata mereka mengalami berbagai kesulitan dalam prosesnya. Prosesn pembangunan rumah Tuhan ternyata tidak seperti yang mereka bayangkan. Sangat berantakan dan tidak dapat dikendalikan oleh manusia. Bukan hanya itu, tetapi proses ini menimbulkan rasa sakit, bahkan banyak orang sampai “berdarah-darah”. Teman saya Frank Viola menggunakan istilah “Glory & Gory” (penuh kemuliaan dan berdarah-darah) untuk menggambarkan proses ini.

Seorang jemaat yang datang kepada saya bertanya, “Pak Eddy, mengapa setelah saya mempraktekkan pembangunan rumah Tuhan di dalam komunitas sel, ternyata komunitas sel saya bukan jadi lebih baik, tetapi malah lebih berantakan?” Ketika mendengar hal itu, saya tersenyum dan bergirang di hati sambil berkata, “Akhirnya, ia sampai juga kepada proses yang benar.” Lalu saya katakana kepadanya, “Selamat datang ke dalam proses pembangunan rumah Tuhan. Kalau komsel kamu kelihatannya berantakan, kacau dan berdarah-darah, he..he…, itu artinya kamu sedang melakukan proses pembangunan yang benar.”

PASTI BERANTAKAN

Mari kita bayangkan, jika kita berada di proyek pembangunan rumah batu, maka tentu tempatnya berantakan, tidak nyaman, berisik, potongan batunya beterbangan, bahkan debu reruntuhannya beterbangan. Apakah karena melihat dan mengalami situasi seperti itu, lalu para tukangnya mundur dan menyerah? Tentu saja tidak. Mengapa? Sebab hal itu adalah proses yang normal. Justru kalau tidak ada kondisi seperti itu, berarti tidak ada proses pembangunan sama sekali. Jadi, jikalau komunitas sel kita hanya santai-santai saja, tidak ada gesekan dan konflik, maka komunitas sel tersebut tidak mengalami proses pembangunan sama sekali. Salomo berkata, “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya,”(Amsal 27:17).

Dalam pembangunan sebuah bangunan, diperlukan proses pengikisan, pembentukan, penghalusan, dan pemasangan. Mengapa tukang-tukang bangunan tidak pernah menyerah, melainkan justru terus bekerja dalam situasi yang sedemikian berantakan? Ini karena mereka memiliki 2 alasan. Pertama, mereka percaya bahwa itulah proses yang benar yang harus dilakukan. Tidak ada karya yang indah tanpa proses yang sulit dan penuh penderitaan. Mereka yakin bahwa tidak ada cara lain untuk mencapai karya yang indah selain melalui proses yang “gory” (berdarah-darah). Kedua, mereka terus-menerus melihat visi yang berupa hasil akhir yang akan dicapai. Ini artinya mereka melihat bagaimana bentuk sempurna dari bangunan yang sedang dikerjakan itu nantinya. Ketika seorang pematung terkenal ditanya tentang rahasia kesempurnaan karya seninya yang berupa patung malaikat, ia menjawab, “Orang melihat batu, tetapi saya hanya melihat malaikat. Jadi, kuncinya sangat sederhana. Saya membuang semua bagian yang tidak serupa dengan malaikat, sehingga hasilnya seperti malaikat.”
BEKERJA DENGAN IMAN

Di bulan ini, kita akan melihat bagaimana agar dalam proses pembangunan rumah Tuhan, kita sebagai tukang-tukang bangunan tidak menyerah, tetapi justrusemakin tekun dan bersemangat. Kunci utamanya adalah bekerja dengan iman. Apa maksudnya? Iman adalah melihat visi akhir dari rumah Allah. Paulus berkata, “Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui. Karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu. Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah,” (Ibrani 11:8-10).

Karena imanlah, maka Abraham bersedia berangkat dan menanggung ketidaknyamanan. Abraham rela tinggal di kemah-kemah, karena ia telah melihat visi Yerusalem baru. Bahkan sampai akhir hidupnya pun, Abraham belum pernah melihat kenyataan rumah Tuhan itu (Ibrani 11:12). Hal yang luar biasa adalah Abraham tetap bersemangat menuju penggenapan Maksud Abadi Allah. Mengapa Abraham rela melakukannya? Mengapa Abraham tidak takut pada proses yang penuh dengan penderitaan? Jawabannya adalah: Abraham melakukannya “karena iman”. Itulah yang kita akan teladani. Kita rindu agar melalui perenungan di bulan ini, kita memiliki iman yang sama dengan Abraham untuk pembangunan rumah Tuhan. Iman datang dari pendengaran Firman Tuhan.

Oleh sebab itu, pada bulan ini kita akan mempelajari surat Petrus yang pertama dan kedua sebagai sumber iman kita. Kedua surat tersebut berkaitan erat dengan pembangunan rumah Tuhan. Selamat membangun rumah Tuhan.

Eddy Leo, Penatua Jemaat Abbalove Ministries

 

Batu Hidup yang Rohani

Banyak orang Kristen berpikir seperti ini: saya diselamatkan, saya dipulihkan, saya diberkati, mati masuk surga. Inilah Kristen kanak-kanak. Hidupnya masih berfokus pada diri, kesenangan hidup dan menuruti hawa nafsu lebih daripada menuruti Tuhan. Paulus menyebut mereka manusia duniawi (1 Korintus 3:1-5, 2 Timotius 3:1-5): masih mudah tersinggung, iri hati, marah, tidak sabar, menghakimi orang lain, melihat dirinya paling benar, sering konflik dengan orang lain, menyalahkan orang lain kalau salah, tidak bersyukur. Yang berbahaya adalah, ada orang yang merasa rohani karena melakukan hal-hal yang rohani seperti aktif pelayanan, tapi sebenarnya hidupnya tidak rohani. Kalau dibandingkan dengan hari sebelumnya, minggu sebelumnya, bulan sebelumnya, tahun sebelumnya, hidupnya tidak berubah lebih dewasa. Kristus tidak menjadi pusat dalam hidupnya.

Salah satu ciri manusia rohani adalah mengerti dan menghidupi 1 Petrus 2:5, “Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.“

Anda dan saya, Tuhan tentukan menjadi baru yang hidup untuk pembangunan sebuah rumah rohani. Perhatikan kata ‘rumah rohani’ dan ‘mempersembahkan persembahan rohani’. Ini sangat penting, karena hari-hari ini, ada orang-orang yang hidup dalam pencemaran jasmani dan rohani (2 Korintus 7:1) dengan apa yang ia baca, apa yang ia lihat dan apa yang ia lakukan. Akibatnya hidupnya tidak lebih baik karakternya dengan orang sekantornya atau tetangganya yang belum kenal Tuhan.

Apakah anda manusia duniawi atau manusia rohani? Manusia duniawi memikirkan apa yang ia bisa dapatkan dari Tuhan, tetapi manusia rohani memikirkan apa yang bisa ia kontribusikan kepada pembangunan rumah rohani. Jangan tinggalkan persekutuan dalam komsel sebagai rumah rohani Anda. Build My home. Sehingga genaplah nas ini: “Supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib”(1 Petrus 2:9).
Sumarno Kosasih – Penatua Jemaat Abbalove Ministries

CHRIST OUR LIFE

Shalom saudara-saudara di dalam Tuhan.
Saya mau menjelaskan bahwa fokus kita 2011 adalah “Build My Home.” Maksudnya adalah bahwa semua jemaat terlibat dalam membangun rumah Tuhan, yaitu tubuh Kristus. Tubuh Kristus adalah jemaat dasar yang harus kita bangun bersama-sama sampai mencapai kepenuhannya. Itulah sebabnya setiap bulan kita memunculkan thema-thema yang sesuai dengan kebutuhan, agar jemaat mengikutinya lewat majalah Build yang terbit tiap bulan. Adapun thema-thema yang diberikan setiap bulan merupakan sub-sub thema sebagai pendukung untuk kita mengerti bagaimana detailnya membangun rumah Tuhan. Misalnya I.D.E atau Iman, Dialog dan Ekspresi adalah cara bagaimana kita membangun rumah Tuhan. Kita percaya bahwa Kristus ada di dalam kita, sehingga kita mengembangkan kemampuan kita untuk terus-menerus melakukan Dialog dengan Tuhan. Setelah berdialog dengan Tuhan, biasanya kita akan mengekspresikan Dia lewat tindakan kita setiap hari.
Ada sub thema ‘New Man’ yang sebenarnya istilah lain dari Tubuh Kristus. Dengan penjelasan ini, kita akan mengerti bagaimana berjalan sebagai manusia baru atau sebagai tubuh Kristus setiap hari dalam hidup kita. Adapun topic kita bulan ini adalah New Life, karena lebih banyak berbicara tentang bagaimana praktisnya kita menjalani hidup kekal yang berkelimpahan dan berkemenangan. Kita akan mempraktekkan Galatia 2:20, “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”
Inti dari New Life adalah apakah Kristus menjadi pusat hidup kita atau Kristus hanya dianggap sebagai pembantu kita. Banyak orang yang salah mengerti ayat ini. Sebenarnya Kristus tidak mau membantu kita, tetapi Kristus mau agar Dia sendiri yang menjalani hidup kita. Itulah inti dari New Life. Jadi, tema kita adalah Christ our life, Kristus hidup kita. Kristuslah new life kita, hidup baru kita.

Oleh : IR. EDDY LEO, M. Th. (Penatua Abbalove Ministries)

Saya atau KRISTUS yang Hidup

Pada waktu kita mula-mula percaya kepada Kristus, kita mengalami pengalaman iman yang luar biasa. Sejak itu, kita memiliki iman dan pengharapan atas hidup yang luar biasa. Kita percaya bahwa tidak ada persoalan apapun yang sanggup mengalahkan kita. Kita yakin bahwa semua dosa dan apapun telah berada di bawah telapak kaki kita. Kita merasa begitu dekat dengan Tuhan. Apa pun kebutuhan yang kita minta, Allah langsung menjawabnya. Kita merasa betapa kita telah menjadi biji mataNya. Kita menjadi anak kesayangan yang begitu dimanja olehNya.
Tetapi, masa “indah” itu tidak berlangsung lama. Perlahan-lahan kita mulai merasakan kehilangan kendali dalam hidup kita. Dosa-dosa lama dan kebiasaan-kebiasaan buruk kembali lagi menguasai kita. Kita mulai berseru dan berteriak di hati untuk minta tolong. Namun, pada saat itu, Allah sepertinya begitu jauh dari kita. Semakin kita berjuang sungguh-sungguh melawan dosa dan kebiasaan buruk tersebut, semakin kita terperosok lebih dalam. Kita mencoba untuk diperlengkapi dengan berbagai acara: seminar, media audio / video, buku-buku, dan pelayanan pribadi, namun kita tetap kalah. Akhirnya, begitu putus asanya kita melihat kekalahan kita, sehingga kita malu membicarakan kehidupan kita.
Apakah Anda pernah dan sedang mengalami keadaan seperti di atas? Apakah kehidupan yang kita miliki adalah benar-benar kehidupan baru yang berkelimpahan dan berkemenangan? Saya yakin bahwa pengalaman tersebut di atas pasti pernah dialami oleh setiap orang Kristen. Apakah pengalaman itu membuktikan bahwa kehidupan baru yang kita peroleh di dalam Kristus bukanlah kehidupan yang unggul? Bukankah firman Tuhan tidak pernah berbohong. Alkitab berkata tentang orang-orang yang telah lahir baru, bahwa, “sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?” (1 Yohanes 5:4-5).
Jika kehidupan baru kita adalah kehidupan yang sanggup mengalahkan dunia dengan segala dosa dan persoalan-persoalannya, mengapa pengalaman kita memberi fakta yang berbeda, bahkan berkebalikan? Apakah yang salah dari cara hidup kita? Memang ada 3 macam orang bila dikaitkan dengan cara hidupnya:
1.Orang yang mengandalkan kekuatan sendiri.
“Saya yang hidup.” Orang ini termasuk orang yang belum lahir baru, atau orang yang belum mengerti bagaimana menghidupi kehidupannya yang baru. Ini adalah cara hidup yang keliru dan sangat berbahaya.
2.Orang yang mengandalkan Tuhan sebagai kekuatannya.
“Kristus yang hidup di dalam saya.” Inilah orang Kristen yang wajar. Inilah orang yang pasti akan mengalami kehidupan yang berkelimpahan dan berkemenangan.
3.Orang yang mengandalkan sesuatu (kekuatan) dari Tuhan.
“Saya yang hidup, Kristus menolong saya.” Kebanyakan orang Kristen mempercayai bahwa inilah cara hidup yang wajar. Padahal ini juga adalah cara hidup yang keliru dan berbahaya.
Jadi, penyebab mengapa banyak orang Kristen yang tidak mengalami janji kelimpahan dan kemenangan seperti yang Alkitab katakan, adalah karena mereka masih hidup dalam cara hidup jenis yang pertama. Tetapi, yang lebih parah lagi adalah orang yang hidup dalam cara hidup jenis ketiga. Mereka merasa telah memiliki cara hidup yang benar, tetapi sebenarnya tidak. Tulisan ini ditulis dari pengalaman-pengalaman kegagalan dalam hidup, untuk dapat memberi pencerahan tentang apakah hidup baru itu. Dengan menerapkan isi tulisan ini, kami percaya Anda dapat beralih dari cara hidup yang keliru kepada cara hidup yang benar.

 

 

Baca juga:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *