LUKA BATIN: Menyembuhkan Jiwa yang Terluka

Oleh Ralph Mahoney
DAFTAR ISI BAGIAN INI
D6.1 – Roh, Jiwa Dan Tubuh
D6.2 – Penyakit Jiwa
D6.3 – Kesembuhan Jiwa

 

Bab 1
Roh, Jiwa Dan Tubuh

 

Pendahuluan

“Semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat …” (1 Tes 5:23 smf).

Tuhan menginginkan kita terpelihara seutuhnya (yaitu, tanpa sakit secara mental, luka batin, atau sakit secara fisik). Dia menginginkan keutuhan itu dalam jiwa, roh dan tubuh kita. Dosa merusak kita. Dosa merusak orang lain/sesama – seringkali mereka yang kita kasihi. Dosa dapat mengakibatkan penyakit roh, jiwa dan tubuh. Hanya Allah dapat menyembuhkan tiga bagian dari kehidupan kita ini, (roh, jiwa dan tubuh) dan dapat menjadikan kita utuh kembali.

Betapa besar pengharapan dan penghiburan yang diberikan oleh perkataan Yesus pada jiwa-jiwa yang hancur dapat kita baca ketika Ia berkata : “Imanmu telah menyembuhkan engkau, pergilah dengan selamat!” (Luk 7:50; 8:48 smf).

Ya, Allah ingin menyembuhkan bagian dari kehidupan kita yang patah dan memar. Roh Kudus ingin setiap bagian dari keberadaan kita itu aman, terutama dan kuat. Ia ingin membawa kehidupan dan kuasa pada roh kita, memulihkan jiwa-jiwa kita dan membawa kesembuhan bagi tubuh kita. Ini adalah berkat-berkat yang disertakan oleh “Keselamatan kita yang besar” bagi setiap orang dari kita.

A. ROH, JIWA DAN TUBUH : ADA PERBEDAAN

Jika kita pertama-tama mempelajari tiga bagian dari manusia, kita akan dibantu untuk lebih mengerti topik dari bagian ini “Kesembuhan Bagi Jiwa”.

Roh berhubungan keatas dengan Allah. Jiwa berhubungan ke dalam, ke dalam dirinya sendiri. Tubuh berhubungan dengan dunia luar.

Agar ketiga bagian dari manusia ini utuh, tiap bagian harus berada dalam keselarasan satu dengan yang lain. Setiap bagian punya peranan atau fungsi yang khusus untuk diperankan demi kebaikan dari orang tersebut.

Beberapa murid sekolah Alkitab percaya bahwa tidak ada perbedaan arti dalam kata “roh” dan “jiwa”. Mereka berkata bahwa kedua hal ini menunjuk pada bagian dari manusia yang bukan jasmani atau kebendaan.

1. Apa Yang Ditunjukkan Alkitab

Sungguh benar bahwa beberapa ayat Alkitab menggunakan kedua kata itu secara umum walaupun demikian, pada ayat-ayat yang lainnya kata-kata ini digunakan dengan arti yang khusus dan jelas.

Penulis kitab Ibrani secara jelas menyatakan bahwa ada perbedaan antara roh dan jiwa manusia :

“Sebab firman Allah hidup dan kuat-berkuasa. Lebih tajam daripada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh …” (Ibr 4:12 smf).

Perhatikan bahwa Firman Allah memisahkan … jiwa … dari roh, membuat keduanya terpisah dan membedakan keberadaan keduanya di dalam diri kita.

Paulus menunjukkan perbedaan antara kedua kata ini dalam suratnya yang pertama pada gereja di Korintus :

“Tetapi manusia duniawi (jiwa) tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani … Tetapi manusia rohani menilai segala sesuatu, …” (1 Kor 2:14,15 smf). Perhatikan perbedaan antara manusia duniawi (secara jiwa) dan manusia rohani.

2. Apa Yang Ditujukan Oleh Bahasa

Marilah kita melihat kata Yunani dalam Perjanjian Baru bagi roh, jiwa dan tubuh.

a. Pneuma. Kata Yunani dari “roh” itu adalah pneuma.

Yang artinya “nafas”. Penyakit paru-paru “pneumonia” mengambil namanya dari istilah itu.

b. Psuche. Kata Yunani dari “jiwa” adalah psuche. Karena itu, “Psychology”, adalah pelajaran tentang jiwa (pikiran) manusia.

c. Soma. Akhirnya, kata Yunani dari “tubuh” adalah soma.

Penyakit “Psychosomatis” (tubuh-jiwa) adalah kekacauan tubuh yang disebabkan oleh masalah-masalah mental dan emosi (yang berhubungan dengan masalah kejiwaan).

Tiga kata Yunani ini telah dijajaki secara teliti di seluruh Alkitab Perjanjian Baru. Dalam rangka perbaikan manusia, kata-kata itu digunakan sebagai berikut.

B. ROH, JIWA DAN TUBUH : BAGAIMANA MEREKA BERFUNGSI

1. Roh (pneuma)

“Roh” adalah bagian dari manusia yang sadar akan adanya Allah – kesadaran Allah. Hal ini “dihidupkan” oleh Roh Allah saat kita diselamatkan. Dan diberi “kekuatan” oleh Roh Allah saat kita dipenuhkan oleh Roh Kudus.

Penggunaan/tugas dari Roh termasuk hal-hal berikut ini :

  1. Wahyu dari Allah
  2. Doa pada Allah
  3. Persekutuan dengan Allah
  4. Penyembahan pada Allah
  5. Bersaksi pada manusia (dunia)
  6. Ingatan : mengingat kembali (mengingat-ingat, memantulkan)
  7. Mengkhayal/membayangkan : menciptakan (penglihatan, mimpi)
  8. Kesadaran : untuk menghakimi (membedakan)
  9. Kecurigaan : untuk menanyakan (menjelajahi)
  10. Dugaan : untuk menafsirkan (merasa dan mengerti)
  11. Persekutuan dengan Allah (gereja)
  12. Membedakan roh-roh (indera rohani)
  13. Peperangan rohani
  14. Tempat pembibitan untuk buah roh
  15. Daerah/bagian penerimaan bagi Karunia Roh

2. Jiwa (psuche)

“Jiwa” adalah bagian dari manusia yang sadar akan dirinya – kesadaran diri. Ini adalah pusat dari ego atau kepribadian.

Fungsi dari jiwa dapat digaris besarkan sebagai berikut:

  1. Akal : untuk berpikir (meditasi, membayangkan)
  2. Emosi : untuk merasakan (bernafsu, membayangkan)
  3. Kehendak : untuk menginginkan (memutuskan)

3. Tubuh (soma)

“Tubuh” adalah bagian dari manusia yang sadar dan bereaksi dengan dunia luar – kesadaran – kesadaran duniawi.

Fungsi dari tubuh dapat digaris besarkan sebagai berikut :

a. Penerimaan. Keterangan diterima dari dunia luar melalui panca indera (mata, telinga, peraba dan seterusnya).

b. Reaksi. Tubuh bereaksi lewat sistem otot motoris oleh perkataan dan perbuatan.

c. Ekspresi. Tubuh dapat mengekspresikan pada dunia pikiran, perasaan dan keputusan-keputusan dari jiwa.

C. ROH, JIWA DAN TUBUH : BAGAIMANA MEREKA BERHUBUNGAN

Kita dapat menyatukan ketiga-tiganya dengan cara sebagai berikut:

1. Jiwa Dan Tubuh

Tubuh kita menerima informasi (melalui penglihatan dengan mata kita, pendengaran dengan telinga kita, penciuman dengan hidung kita) melalui indera-indera pada tubuh fisik kita.

Informasi ini kemudian diteruskan pada jiwa (“meneruskan” berarti menterjemahkan, menghakimi dan mengerti apa yang kita terima. Untuk melakukannya, kita harus bersandar pada alasan dan ingatan kita).

Bagaimana kita berpikir dan merasakan tentang suatu keadaan menentukan tindakan apa yang kita akan ambil. Dengan kata lain, keinginan atau kehendak kita sekarang ikut berperan.

Kemudian kita berbuat atau berkata sesuatu (reaksi dari tubuh). Jadi jiwa kita bekerja sama dengan tubuh kita dan tubuh kita dengan jiwa kita.

2. Roh Dan Jiwa

Hubungan dari ke tiga bagian dari keberadaan manusia ini dimengerti sebagai berikut :

Roh manusia tidak berfungsi sepenuhnya karena adanya dosa. Sebelum dilahirkan oleh Roh Kudus (lahir kembali), roh manusia tidak punya kemampuan/kuasa – maksudnya, tidak berfungsi dengan benar sesuai dengan Roh Allah.

Ketika manusia bertobat dan menerima Kristus sebagai Juru Selamatnya, rohnya mulai memberi reaksi dan berhubungan dengan Roh Allah.

Dengan dibaptiskan dalam Roh Kudus, ia menerima kuasa rohani (atau kuasa dari roh) yang diperlukan saat ini untuk hidup dalam kehidupan yang baru dalam Kristus.

3. Roh Kudus Dan Jiwa

“Tetapi manusia duniawi (jiwa) tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah. Karena hal ini bagiNya adalah suatu kebodohan; Dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani (1 Kor 2:14 smf).

Adalah rencana Allah bahwa semua fungsi dari jiwa manusia berada di bawah (kepemerintahan) Roh Kudus. Buah-buah, karunia-karunia dan kemurahan-kemurahan yang diberikan oleh Roh Kudus memungkinkan bayi yang baru lahir dalam Kristus ini untuk tumbuh dalam Tuhan dan mulai mentaati Allah dan FirmanNya.

Jika kita mendukakan Roh Kudus dengan gaya hidup yang alamiah dari jiwa, maka kita akan menahan aliran Roh Kudus melalui hidup kita. Kemudian kita jatuh kembali pada gaya hidup lama kita (yang keduniawian dan kedagingan itu).

Alkitab menyebutnya sebagai “nafsu kemanusiaan” atau hidup dalam “daging” (lihat Rm 8:5; Gal 5:16-26).

D. ROH, JIWA DAN TUBUH : APA YANG ALLAH TELAH PERBUAT

Bila kita jauh dari pekerjaan Roh Kudus dalam hidup kita, kita akan mengikuti keinginan atau nafsu daging. Ini adalah tanda dari manusia “duniawi” atau “kedagingan”.

Walaupun demikian, keinginan kita sebenarnya, adalah untuk menjadi seperti Yesus. Dalam kemanusiaanNya Ia adalah manusia yang sempurna. Dia adalah manusia “rohani”.

Karena Ia seperti kita – seutuhnya manusia dalam roh, jiwa dan tubuh – Ia dapat memahami kita dalam kebutuhan dan penderitaan manusia.

1. Hubungan Kita Kepada Allah

Di atas salib, Dia menggenapkan “keselamatan kita yang besar”.

Ketika Ia berseru, “sudah genap”, pekerjaan penebusan telah dilaksanakan.

Keselamatan adalah jaminan bagi roh, jiwa dan tubuh manusia:

a. Dibenarkan : Roh kita telah “dibenarkan” – diperdamaikan dengan Allah.

b. Disucikan : Jiwa kita “disucikan” – dikuduskan di hadapan Allah.

c. Dimuliakan : Tubuh kita harus dimuliakan – eternal oleh Roh Allah.

Ya, keselamatan kita dalam Kristus menutupi seluruh pengalaman hidup kita – masa lampau, sekarang dan masa depan.

2. Hubungan Kita Dengan Dosa

a. Kita telah diselamatkan dari “hukuman” dosa.

b. Kita sedang diselamatkan dari “kuasa” dosa.

c. Kita akan diselamatkan dari “hadirat” dosa.

E. KESIMPULAN

Paragraf oleh Paulus berikut ini sekarang meminta perhatian tambahan bagi kita :

“Yang ditaburkan oleh tubuh alamiah (psuche), yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah (pneuma). Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah” (1 Kor 15:44 smf).

Paulus mengatakan pada kita bahwa tubuh yang kita tinggali sekarang di dunia adalah “tubuh-jiwa”. Tubuh yang akan kita miliki di Sorga adalah “tubuh-roh”.

Yesus dibangkitkan dari antara orang mati oleh Roh Kudus. Setelah kebangkitanNya, tubuhNya adalah tubuh rohaniah (pneuma). Katanya “Aku hidup, sampai selama-lamanya” (Why 1:18). Dengan pernyataan itu yang Dia maksudkan adalah Dia tidak akan pernah mati. Dia memiliki tubuh rohaniah (pneuma) – yang akan hidup selamanya.

Pada kebangkitan kita, kita juga akan memiliki (pneuma) tubuh rohaniah, dan seluruh keberadaan kita – roh, jiwa dan tubuh – akan dijadikan sempurna dalam Kristus Yesus.

Hal-hal tersebut di atas seharusnya telah menjelaskan semua yang kita perlu ketahui tentang roh, jiwa dan tubuh. Marilah kita semua sekarang meneruskan topik kita – “Penyakit Jiwa”

 

Bab 2
Penyakit Jiwa

 

Pendahuluan

Arti dari kata Yunani sozo (keselamatan) mencakup dari kesehatan, kesembuhan dan keutuhan roh, jiwa dan tubuh.

Penyakit jiwa adalah masalah yang biasa dari umat manusia. Penyakit jiwa atau luka batin disamakan dengan istilah “patah hati”. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan luka dari jiwa yang dalam.

Yesus berkata : “… Roh Tuhan ada padaKu … untuk menyembuhkan hati yang luka (jiwa yang terluka) (Luk 4:18).

Kita diberitahu dalam Mazmur 23 bahwa gembala yang baik dari jiwa kita itu akan “menyegarkan” jiwa kita.

Ini adalah topik penting, sebab apapun yang menghancurkan jiwa kita akhirnya dapat menghancurkan tubuh. Sakit secara jiwa dapat menyebabkan penyakit tubuh. Patah semangat dan hancurnya pikiran akan membawa pada kehancuran dalam tubuh. Kita benar-benar membutuhkan penyegaran jiwa.

Seperti yang telah kita lihat, fungsi dari jiwa mencakup pikiran, emosi, imajinasi bahkan ingatan kita.

Banyak orang Kristen menderita luka-luka dalam batin (jiwa) mereka. Mereka mempertahankan banyak ingatan-ingatan masa lalu yang menyakitkan.

Sebagai akibatnya, mereka meragukan saat sekarang dan takut menghadapi masa depan. Mereka mungkin telah memiliki jawaban-jawaban dalam kepala mereka, tetapi sangat sulit untuk berpikir dengan baik jika hati seseorang itu terluka.

Saya kira kita semua akan setuju bahwa banyak dari kita membutuhkan suatu “kesembuhan batin” dari jiwa. Pikiran, ingatan dan emosi kita perlu disehatkan seutuhnya. Saya menyebut hal ini sebagai “Pelepasan dari jiwa”.

A. ALLAH INGIN KITA SEHAT SEPENUHNYA

Kesembuhan dari manusia seutuhnya adalah suatu proses. Itu dimulai dengan bertemu Yesus sebagai Juruselamat dan Pembaptis kita dalam Roh Kudus. Ini akan kita dapatkan jika kita memiliki hati yang baru dan roh yang bebas.

Allah selalu memulai pada pusat dari keberadaan kita yaitu, dalam roh kita. Pertama-tama Dia menjamah roh kita dengan RohNya. Setelah roh kita dilepaskan, jiwa kita dapat dipulihkan.

Allah memulai dalam roh kita (kadang-kadang disebut manusia batiniah; lihat Yoh 7: 37,38). Kemudian Ia ingin mengerjakan jalanNya dalam jiwa kita untuk menyembuhkan dan memulihkannya.

Dia berharap untuk membawa kehidupan dan Kuasa KesembuhanNya pada roh, jiwa dan tubuh kita – supaya kita menjadi “tiada bernoda” (sehat dan sempurna ketika Ia datang kembali.

1. Roh, Jiwa Dan Tubuh : Kesehatan Kita

Seperti yang telah kita katakan, fungsi dari roh, jiwa dan tubuh berhubungan satu dengan yang lain. “Roh” yang sehat adalah dasar yang kuat bagi “jiwa” yang kuat. “Jiwa” yang sehat memberikan “tubuh” yang sehat.

Hal ini juga secara kebalikannya. Sangatlah sulit untuk berada dalam keadaan rohani yang prima jika kita secara emosional atau fisik sakit. Jika kita sakit dalam pikiran atau tubuh, hal ini akan mempengaruhi pekerjaan dan kesaksian kita bagi Allah. Hubungan kita dengan Roh Allah memang aman dan terjamin, tetapi aliran Roh Kudus lewat hidup kita pada dunia akan terbatas.

Kita telah diciptakan untuk bertugas sebagai manusia-manusia “seutuhnya”. Saya percaya bahwa rasul Yohanes mengkaitkan kebenaran ini dalam salah satu suratnya.

“Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja” (3 Yoh 2 smf).

Ayat ini mengajar kita bahwa kesehatan fisik berhubungan dengan keadaan yang baik dari jiwa seseorang. Dengan kata lain, kehidupan jiwa yang sehat adalah penting bagi kehidupan tubuh yang sehat.

2. Roh, Jiwa Dan Tubuh : Kesembuhan Kita

Tubuh kita cenderung untuk mengikuti kepemimpinan dari jiwa kita. Dan jiwa kita mengikuti kepemimpinan dari roh kita.

Masalah-masalah rohani (roh) menghasilkan masalah-masalah mental dan emosional (jiwa): secara berurutan hal ini mengakibatkan masalah-masalah fisik (tubuh). Siklus antara roh, jiwa dan tubuh kita benar-benar membentuk suatu rantai yang tidak terputuskan.

Orang tidak dapat menyelesaikan masalah psykologis (jiwa) dengan hanya merawat tubuh saja. Seperti juga, orang tidak dapat menyelesaikan suatu masalah rohani hanya dengan menangani pikiran dan emosi orang itu saja.

Inilah yang menyebabkan mengapa beberapa terapi oleh dokter-dokter dan para ahli jiwa mengalami kegagalan. Alasan-alasan yang mengakari jiwa dan/atau roh yang mengakibatkan masalah belum dicabut sampai ke akarnya.

Hal ini benar bahkan dalam doa kesembuhan pada beberapa kasus dari penyakit secara tubuh. Setelah doa orang itu nampaknya telah disembuhkan. Kesakitan tubuh dan gejala-gejala fisik telah hilang untuk beberapa saat. Tetapi, jika kebutuhan yang mendalam dari jiwa (emosi) dan roh belum dipenuhkan, masalah fisik kemungkinan akan segera timbul kembali.

Saya telah melihat hal seperti ini sering terjadi dalam pelayanan dari para penginjil kesembuhan. Banyak orang telah benar-benar disembuhkan dan tidak pernah menderita masalah fisik mereka lagi.

Walaupun demikian, banyak orang lain yang terus menerus datang kembali untuk didoakan. Mereka terus “kehilangan” kesembuhan mereka setelah jangka waktu yang singkat.

Banyak orang dalam pelayanan ini yang tidak sadar akan tingkatan yang lebih dalam dari kebutuhan dalam jiwa-jiwa dari orang-orang itu.

Ya, Allah menginginkan kita sehat. Dia ingin kita untuk menjadi utuh dalam roh, jiwa dan tubuh. Tetapi harus ada pekerjaan yang total dari kesembuhan – seseorang yang bergerak dari dalam ke luar (yang memulainya di dalam roh, melanjutkannya dalam jiwa dan akhirnya diekspresikan dalam tubuh).

Jika tidak demikian, maka yang terjadi hanya kesembuhan yang terbatas atau timbul sebagian yang tidak akan bertahan lama. Karena alasan ini, kita berharap untuk mempelajari jenis-jenis penyakit yang dapat merusak jiwa manusia.

B. PENYAKIT JIWA

Ada banyak hal yang dapat menyebabkan luka yang menahun dalam jiwa kita.

1. Disebabkan Karena :

a. Orang Tua Kita. Contohnya, banyak anak-anak menderita karena kesalahan dan kegagalan dari orang tua mereka.

Alkitab mengatakan pada kita bahwa anak-anak harus diajar dan dilatih dalam kasih (Ef 6:4). Kata-kata dan tindakan yang tidak baik, tidak adil atau tidak bijaksana dapat mengakibatkan ketakutan atau kemarahan dalam hati anak-anak.

1) Penyiksaan Fisik. Beberapa orang tua adalah orang tua yang sangat kasar dan suka mengecam. Mereka tidak pernah memuji atau memberi semangat anak-anaknya. Beberapa bahkan cenderung untuk menyiksa secara fisik dan memukul dengan kejam.

Dalam kasus-kasus seperti itu, bukan hanya tubuh yang menderita. Jiwa (kepribadian dan emosi) dapat juga menjadi sangat rusak. Luka-luka dalam ini sering dibawa sampai masa dewasa.

2) Penyiksaan Emosi. Lebih buruk dari kepedihan dan luka-luka dari siksaan fisik adalah luka-luka yang tidak terlihat karena orang tua yang terlalu suka mengecam yang melukai jiwa.

Mereka yang telah menderita luka seperti ini tumbuh dan menjadi dewasa dengan banyak masalah emosional. Ini mempengaruhi hubungan mereka dengan orang lain – dalam keluarga, di sekolah dan di tempat kerja, dan bahkan di dalam gereja.

Banyak anak-anak yang karenanya menderita rasa rendah diri yang mendalam. Mereka tidak dapat menggambarkan/membayangkan dirinya menjadi berhasil dalam hal apapun. Mereka takut untuk mengambil tugas-tugas baru atau bahkan mempersiapkan dirinya sendiri untuk posisi yang lebih baik dalam hidupnya.

Mereka telah terlalu sering direndahkan (diejek atau dikritik), mereka telah kehilangan harapan. Mereka hidup di bawah awan kepribadian yang ragu-ragu dan rasa tidak aman.

Setiap orang memiliki beberapa perasaan seperti ini dari waktu ke waktu. Walaupun demikian, beberapa orang telah sangat menderita dan mereka tidak dapat hidup secara normal.

b. Dosa-dosa Kita. Hukum kasih Allah dan moralitas diberikan untuk kesejahteraan kita. Mereka datang dari Bapa di sorga karena Dia memperhatikan anak-anakNya. Dia memberikan kita aturan-aturan (hukum-hukum) untuk menjaga kita dari luka-luka dan rasa sakit. Saat kita melanggar hukum Allah, kita akan patah (luka) hati (jiwa). Jika anda melanggar hukum Allah, anda akan mengakhiri dengan patah (luka) hati (jiwa).

Tidak hanya kita yang menderita, tapi orang lain juga.

Dosa kita mempengaruhi orang lain, dan dosa-dosa mereka mempengaruhi kita. Konsekwensi akibat dari pelanggaran hukum Allah sering melukai dan menyakitkan anak-anak yang polos. Mereka sama sekali tidak dapat dipersalahkan karena kepedihan dan penderitaan mereka.

Apakah anda memiliki orang tua yang pecandu minuman alkohol? Orang tua seperti ini kadang-kadang memukul dan melukai anak-anak mereka di waktu mereka sedang mabuk. Anaknya menderita (walaupun tidak berdosa dan tidak bersalah apa-apa).

1) Dosa-Dosa Seks. Dosa secara moral dan sejenisnya juga melukai dan merusak jiwa. Perjanjian Lama dengan tegas menyatakan kebenaran dengan cara ini:

“Siapa melakukan zinah tidak berakal budi; orang yang berbuat demikian merusak diri (jiwa) – siksa dan cemooh diperolehnya, malunya tidak terhapuskan” (Ams 6:32,33 smf).

a) Apa Yang Dikatakan Masyarakat. Sedihnya, masyarakat modern ingin mengangkat semua batasan moral mengenai hubungan seks. Beberapa “orang bodoh” zaman modern berkata bahwa sepanjang tidak ada yang keberatan, segala kegiatan seks itu tidak apa-apa.

Percabulan, kegiatan homoseks, hubungan seks dengan anak-anak, dan praktek-praktek memalukan lainnya tidak dianggap salah. Mereka semua berada dalam “hak-hak” pribadi dari setiap orang. Tindakan seperti ini disebut sebagai tanda-tanda “kedewasaan” dan “kebebasan” pribadi oleh orang-orang kusta secara moral dari zaman modern ini.

b) Apa Yang Allah Katakan. Firman Allah dengan jelas melarang tingkah laku yang tidak bermoral seperti ini dan memperingatkan orang-orang akan akibat yang menyakitkan baik bagi individu itu sendiri maupun masyarakat.

Prinsip moral Allah adalah untuk kesejahteraan dan kebahagiaan pribadi kita. Hal-hal itu juga bagi kebaikan dari masyarakat secara keseluruhan.

Merusak atau melanggar hukum Allah tidak membawa kebebasan yang sesungguhnya. Sebaiknya, kita berada di bawah ikatan yang akhirnya hanya akan membawa pada kematian dan kehancuran.

Dalam proses penurunan, ada banyak rasa sakit pada tiap tingkat – rohani, mental, emosional dan fisik. Ini benar bagi individu dan masyarakat umumnya.

c) Akibat. Masyarakat modern telah mulai menuai panenan yang mengerikan dari benih-benih dosa yang telah ditaburkan : Perpecahan keluarga, hati-hati yang patah dan perkawinan-perkawinan yang hancur; anak-anak yang kebingungan dan tersiksa; ibu-ibu yang tidak menikah dan aborsi; penyakit-penyakit seksual yang mematikan.

Dan Allah berduka karena manusia terluka. Itu adalah luka-luka yang dihasilkan oleh pemberontakan manusia terhadap hukum-hukum ilahi kasih Allah. Mengabaikan kebenaran ini sama dengan mengundang tragedi – karena semua luka-luka yang tidak bermoral ini – dan menghancurkan jiwa.

2) Dosa-dosa Yang Lain. Keterangan selanjutnya mengenai penyebab luka-luka batin dapat ditemukan dalam tulisan Rasul Petrus ini:

a) Apa Yang Dikatakan Kitab Suci. “Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasehati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang (yang adalah musuh-musuh yang akan menghancurkan dan berperang) melawan jiwa” (1 Ptr 2:11 smf).

Petrus berkata bahwa jika kita menyerah pada keinginan daging yang kuat, dosa-dosa ini (seperti tentara musuh) yang akan berusaha untuk menghancurkan emosi-emosi, pikiran dan kemampuan berpikir kita. Sebagai akibatnya, jiwa akan dilukai, babak belur dan patah.

b) Akibat-akibatnya. Kehidupan yang ada dalam kita ini akhirnya berdiri atas dasar alasan dan emosi. Apabila emosi kita telah dirusakkan, sangatlah sulit untuk berpikir dengan benar. Ingatan-ingatan yang menyakitkan itu terjalin dalam hati dan pikiran kita. Kita tidak dapat melihat dan mengerti dengan jelas diri kita sendiri ataupun orang lain. Masa depan itu dipenuhi dengan bayangan-bayangan/imajinasi-imajinasi yang menakutkan.

Imajinasi kita memiliki gambaran mental atau “bayangan/imajinasi” tentang apa yang akan terjadi. Warna dan karakter dari gambaran-gambaran ini dikendalikan oleh kehidupan jiwa kita yang berkeadaan baik.

Jika “jiwa kita dalam keadaan baik”, masa depan itu cerah dan penuh dengan harapan serta iman.

Namun, jika pikiran kita, ingatan dan emosi-emosi kita masih terluka oleh kejadian-kejadian yang menyakitkan dari masa lalu, kejadiannya akan berbeda. Gambaran/imajinasi akan diwarnai dengan warna-warna gelap dari kesakitan, kekuatiran, kepahitan, kecemburuan dan rasa mengasihani diri sendiri.

Tidaklah heran jika Allah yang adalah kasih memberi kita pedoman rohani yang harus dijalani. Dia tahu kepedihan yang akan menyengsarakan jika kita mengikuti keinginan daging atau nafsu kita.

3) Pekerjaan-pekerjaan Daging. Dalam suratnya pada jemaat di Galatia, Paulus menyusun beberapa daftar pekerjaan daging yang dapat sangat merusakkan jiwa. Kita bisa memberikan hal-hal ini perhatian khusus (Gal 5:19-21) :

  1. Percabulan – hubungan sex dengan orang yang bukan pasangan anda;
  2. Kecemaran – pikiran, perkataan dan tindakan yang najis, homoseks;
  3. Kepentingan Diri Sendiri – sifat egois dan tidak tahu malu;
  4. Penyembahan Berhala – menyembah berhala-berhala dan ilah-ilah palsu;
  5. Sihir – penggunaan kuasa magis setan;
  6. Perseteruan – sifat yang buruk;
  7. Perselisihan – membuat masalah, berkelahi;
  8. Iri Hati – cemburu;
  9. Amarah – murka;
  10. Percideraan – perdebatan;
  11. Roh Pemecah – menyebabkan perpecahan;
  12. Kepercayaan Lain – pengajaran palsu;
  13. Kedengkian – ingin milik orang lain;
  14. Pembunuhan – membunuh orang;
  15. Kemabukan – menggunakan minuman keras (liquor/wiski);
  16. Pesta-pora – pesta-pesta yang liar dan sia-sia.

2. Berakibat Pada :

a. Diri Kita Sendiri. Pekerjaan daging direncanakan oleh setan untuk merusak jiwa. Kita akan ditinggalkan dalam keadaan lemah dan menderita luka batin. Kehidupan kita akan dirampok, dibuang dan bahkan dihancurkan. Suatu bangsa yang mengijinkan dan mendorong aktivitas “kedagingan” seperti ini lewat majalah-majalah, koran-koran dan film-film bioskop yang semacam itu sedang melakukan bunuh diri sosial. Mereka seperti menaburkan benih kematian dan kehancuran di antara bangsanya.

b. Masyarakat Kita. Pada tingkatan pribadi, akhirnya akan berakibatkan kehancuran fisik dan emosi. Pada tingkat sosial, standar moral jatuh dan angka kriminalitas/kejahatan naik.

Ini adalah keadaan yang menyedihkan yang banyak kita temukan di dunia/bumi kita sekarang ini. Rumah-rumah sakit, penjara-penjara, dan lembaga-lembaga sosial lainnya penuh bahkan melimpah. Jika penduduk suatu negara sakit jiwanya, seluruh masyarakat juga akan menderita.

3. Kita Punya Suatu Pilihan

Yesus mengingatkan murid-muridNya bahwa iblis telah datang untuk “mencuri, membunuh dan membinasakan”. Dia kemudian mengatakan : “Tapi Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yoh 10:10 smf).

a. Hidup atau Mati. Pilihan ini jelas; salah satu di antaranya : Hidup atau mati, buah-buah roh atau pekerjaan daging.

Jika suatu masyarakat mengacuhkan atau dengan sengaja melanggar hukum-hukum Allah, itu akan membuka pintu-pintu kepada iblis sendiri. Akibatnya tragis pada tiap tingkat kehidupan, baik, bagi pribadi, keluarga, masyarakat atau negara.

“Berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah Tuhan …” (Mzm 33:12). Sangatlah menyedihkan jika sebuah negara yang dulunya didirikan atas prinsip-prinsip Ilahi itu menghalau Allah dari kehidupan masyarakat umumnya. Jika nilai-nilai moral direndahkan di sekolah-sekolah dan di televisi, ada harga yang harus di bayar. Dosa itu tidaklah murah – dosa menuntut banyak untuk melayani setan.

b. Mendekat Pada Allah. Saat kita mendekat pada Allah, Dia mendekati kita (Yak 4:8). Jika kita menolak Allah dari kehidupan kita, kita menjauhkan diri/menutup diri dari perlindungan hadiratNya. Dia akan menghargai pilihan kita dan menyerahkan kita pada jalan-jalan kita yang jahat :

“Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran … karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka … Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan … dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka” (Rm 1:18,24,26,27 smf).

C. KESIMPULAN

Ya, kita telah melihat di sekitar kita akibat-akibat dari jalan manusia yang jahat. Dosa itu seperti pedang yang menusuk ke dalam jiwa manusia.

Tapi ada pengharapan. Pengharapan itu dapat ditemukan dalam Firman Allah. Dalam kemurahanNya, Dia telah menyediakan kesembuhan bagi tubuh dan jiwa manusia yang terluka karena dosa. Dia ingin kita sehat bagi kebaikan kita dan bagi kemuliaanNya.

 

Bab 3
Kesembuhan Jiwa

 

Pendahuluan

Ada dua proses kesembuhan bagi tubuh : alami dan supraalami (Ilahi). Para dokter tahu bahwa mereka tidak dapat menyembuhkan. Mereka hanya membantu kuasa kesembuhan “alamiah” yang sudah ada dalam tubuh.

Tapi Yesus itu lebih besar dari semua dokter. Dengan kuasa supraalamiNya tubuh-tubuh yang sakit dapat segera disembuhkan. Kuasa Ilahi bagi penyembuhan seperti ini datangnya langsung dari Allah.

A. DUA SUMBER KESEMBUHAN

Dua sumber kesembuhan yang sama juga dipakai bagi jiwa.

Orang berkata bahwa waktu dapat menyembuhkan. Kesembuhan secara alamiah setelah jangka waktu tertentu ini, dapat pula membantu kita untuk menyembuhkan beberapa luka-luka dalam yang menjadi masalah pada masa muda kita.

1. Alamiah

Kita akan mengetahui pada suatu saat bahwa tidak semua orang itu lebih kuat, lebih pandai, lebih tampan daripada kita. Banyak dari kita belajar untuk berhubungan dengan orang lain dan berhasil dalam lapangan kerjanya, kita memperoleh penghargaan dari keluarga, teman-teman dan teman-teman kerja kita.

Sementara umur kita makin bertambah, kita dapat menghadapi kedukaan, penderitaan dan kehilangan dengan pengertian. Bahkan mereka yang sakit secara mental sering berangsur-angsur pulih dengan sendirinya setelah beberapa waktu. Tampaknya jiwa itu memiliki kuasa kesembuhan alamiah, seperti halnya dengan tubuh.

Tetapi beberapa orang tidak pernah mengatasi masalah mereka dari awal kehidupan mereka. Mereka membawa luka-luka yang menyakitkan itu ke masa dewasa mereka. Kita semua mungkin memiliki beberapa luka yang sering kita ingat dari masa lalu yang mempengaruhi tindakan dan perbuatan kita di masa sekarang ini.

Walaupun demikian, bagi beberapa orang, beban ini sangatlah berat, mereka hampir tidak dapat melakukan tugasnya dengan normal. Banyak orang seperti ini mengalami kejatuhan mental atau emosi. Jika luka itu dalam, akibatnya bisa bertahan seumur hidup.

Para psikolog dan psikiater adalah dokter-dokter yang merawat/menangani ketidak teraturan mental dan emosi. Mereka mencari, lewat obat-obatan dan nasehat-nasehat, untuk membantu kuasa kesembuhan alamiah dari jiwa.

Tapi, sama seperti ada beberapa penyakit fisik yang tidak dapat disembuhkan, begitu pula dengan penyakit dari jiwa ada yang tidak dapat ditolong oleh cara-cara alamiah. Untuk “memulihkan” jiwa seperti ini, perlu “mujizat” – kesembuhan ajaib.

Saya tahu dari orang-orang muda ada yang telah “membakar” otak mereka dan merusak jiwanya dengan obat-obat terlarang. Pada suatu saat mereka sangat ceria, pemuda yang sehat dengan banyak harapan untuk melihat ke depan dalam kehidupannya.

Sekarang mereka hancur dalam roh, pikiran dan tubuh. Masihkan ada pengharapan ataukah sudah terlalu terlambat? Hanya mujizat yang dapat memenuhi kebutuhan seperti ini. Puji Tuhan, masih ada harapan.

Tuhan itu Allah yang besar dari mujizat-mujizat dan kemurahan.

2. Supraalami

Marilah kita melihat perkataan nabi Yesaya yang penuh kemurahan ini :

“Apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kau inginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapan akan seperti rembang tengah hari”. (Yes 58:10 smf).

Rasa sakit akibat penolakan (atau pengusiran – perceraian) dapat disembuhkan hanya dengan kasih dan penerimaan. Allah ingin menjamah orang-orang yang “ditolak” lewat anda dan saya – lewat hati dan tangan kita.

a. Daud Mengalami Kesembuhan. Daud berbicara pada kita saat ia menderita luka batin, ketika ia berteriak : “Tuhan, kasihanilah aku, sembuhkanlah aku (jiwaku), sebab terhadap Engkaulah aku berdosa” (Mzm 41:3 smf).

Daud secara pribadi tahu tentang kasih Allah yang menyembuhkan, atau ia tidak akan pernah menulis Mazmur 23 : “Tuhan adalah Gembalaku … Ia menyegarkan (menyembuhkan/memulihkan) jiwaku”.

Selanjutnya, penulis Mazmur berbicara tentang kemurahan Allah dalam kata-kata yang indah ini :

“Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka … besarlah Tuhan kita dan berlimpah kekuatan, kebijaksanaanNya tidak terhingga. TUHAN menegakkan kembali orang-orang yang tertindas …” (Mzm 147:3,5,6 smf).

b. Dahulu Yesus Membawa Kesembuhan. Ada suatu bagian yang khusus dalam kitab Injil yang saya lihat dalam suatu terang yang baru. Saya ingin membagikannya dengan anda, sebab hal ini berbicara tentang sifat alamiah dari pelayanan kesembuhan Tuhan :

“Yesuspun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu. Maka tersiarlah berita tentang Dia di seluruh Siria dan dibawalah kepadaNya semua orang yang buruk keadaannya, yang menderita pelbagai penyakit dan sengsara, yang kerasukan, yang sakit ayan dan yang lumpuh, lalu Yesus menyembuhkan mereka” (Mat 4:23,24 smf)

Suatu hal yang menarik untuk dicatat bahwa Alkitab mengatakan bahwa Yesus menyembuhkan “pelbagai macam” penyakit dan kesakitan (ayat 23). Ini termasuk juga masalah rohani, mental, emosi dan fisik. Ayat 24 menyebutkan beberapa penyakit yang berhubungan dengan tiap bagian daripada keadaan manusia total :

  1. Penyakit Rohani – kerasukan setan;
  2. Penyakit Emosional – sengsara ;
  3. Penyakit Fisik – lumpuh.

c. Allah Menyembuhkan Sekarang-Hari Ini. Dulu Yesus bekerja untuk membuat manusia laki-laki dan perempuan benar-benar utuh. Setiap kali dosa mendobrak untuk masuk – roh, jiwa dan tubuh – Yesus mengampuni, membasuh (menyucikan) dan membawa kuasa kesembuhan dari Kasih Allah.

Saya teringat tentang teman baik saya, Costa Deir. Ketika Allah menemukannya di dalam dosa, dia adalah sebuah kehidupan yang tidak ada pengharapan. Alkohol telah merusak otak, hati, jantung dan sistem pencernaannya. Setan telah merampoknya dari sahabat-sahabat dan keluarganya. Iblis telah menghancurkan tubuhnya dan mengejar jiwanya.

Dia sudah sakit secara rohani, mental dan fisik dan hampir mati, kemudian dia bertemu dokter yang terbesar di seluruh dunia – Tuhan Yesus Kristus.

Dan apa yang dilakukan Yesus? Dia membuatnya benar-benar sehat tubuh – suatu ciptaan yang baru – dalam roh, jiwa dan tubuh. Halleluyah! Tidak heran jika sekarang ia ingin memberikan kuasa kesembuhan dari Kasih Allah ke seluruh dunia.

B. LIMA LANGKAH UNTUK KESEMBUHAN JIWA

Ya, Allah ingin kita sehat. Tapi bagaimanakah proses yang dapat membawa “kesembuhan batin” dalam hidup kita?

Saya percaya bahwa ada lima langkah penting yang dapat kita ambil dengan doa dalam iman.

Tiga dari lima langkah bagi kesembuhan jiwa yang luka itu dapat ditemukan dalam kata-kata pengharapan dan penghiburan dari Yesus ini :

* “Datanglah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu”.

* “Pikullah kuk yang Kupasangdan

* “Belajarlah padaKU, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan (kata pemulihan dalam bahasa Inggris adalah Restoration yang diambil dari kata rest=ketenangan)” (Mat 28:29 smf).

1. Datang Pada Yesus

Langkah yang pertama bagi kesembuhan dalam (atau kesembuhan bagi jiwa) adalah ini: Datang pada Yesus! Yesus mengundang kita untuk datang padaNya.

Jika kita ke tempat yang lain atau mencari sumber yang lain, kita akan dikecewakan dan merasa rugi. Pada siapa anda berpaling pada saat anda membutuhkan? Yesus berkata “Marilah KepadaKu …”.

Ya, Yesus menunggu dengan tangan terbuka dan mengajak kita untuk datang padaNya. Di situ ada sambutan bagi orang-orang berdosa yang terhilang.

Seperti yang dikatakan sebelumnya, kita perlu diampuni, dan dibebaskan dari beban perasaan bersalah dan penghukuman.

Di sinilah tempat dimana “kesembuhan batin” itu dimulai. Kita semua harus datang pada Yesus sebagai Juruselamat kita. Tanpa langkah pertama ini, kita tidak akan pernah mengambil langkah yang kedua. Kita harus bertobat jika kita ingin dipulihkan.

2. Pikullah KukNya

Kuk dari Kristus menunjuk pada pemerintahan (kendali)Nya atas kehidupan kita. Dia tidak boleh hanya menjadi Juruselamat kita saja, tapi juga Tuhan dan Tuan kita.

Iblis ingin menipu kita dengan dusta. Dia ingin kita untuk percaya bahwa kita akan kehilangan “kebebasan” kita jika kita menyerahkan hidup kita pada Tuhan. Dia tidak akan pernah mengatakan pada kita bahwa beban dosa itu akan lebih berat dan menyakitkan bila kita terus memikulnya. Pada akhirnya, kita akan jatuh di bawah beratnya itu. Hanya kemurahan Allah yang dapat benar-benar membebaskan kita.

Banyak orang Kristen menderita di bawah beratnya beban yang dibuatnya sendiri. Itu adalah beban dan kehidupan yang ingin memenuhi kehendak sendiri. Mereka telah mengaku Kristus sebagai Juruselamat mereka. Mereka ingin masuk sorga jika mereka mati. Tapi, mereka juga ingin melakukan jalannya sendiri di banyak bidang dalam hidup mereka di dunia ini.

Kadangkala Allah mengijinkan kita memilih jalan kita untuk memberi kita pelajaran. Kita akan segera mengetahui bahwa nyatanya jalan itu merupakan jalan yang sangat menyakitkan. Berjalan dalam “daging” mencakup banyak kejatuhan-kejatuhan yang menyakitkan. Tiap kejatuhan meninggalkan bekas luka dalam jiwa-jiwa kita, seperti yang telah kita lihat sebelumnya.

Jelas, luka batin yang seperti ini dapat disembuhkan hanya apabila kita berbalik pada Yesus dan mengakuiNya sebagai Tuhan, atas hidup kita. Untuk kesukaan kita, kita akan menemukan bahwa kukNya itu ringan dan mudah – seperti bulu pada seekor burung.

Penyerahan total dari diri kita pada Yesus berarti kesembuhan total dari kehidupan kita oleh Yesus. Lebih daripada itu, ini adalah satu-satunya cara menuju pada kebebasan rohani yang benar.

Jika iman, pengharapan dan rencana-rencana kita untuk masa depan kita hubungkan dengan Tuhan, kekuatan dalam kita akan diperbaharui dan dipulihkan. Kemudian kita dapat dengan bebas membumbung, tak merasa lelah – seperti berada di atas sayap burung rajawali (Yes 40:30,31).

3. Belajarlah Pada Dia

Jika Yesus adalah Tuhan dari kehidupan kita, kita menjadi muridNya, seorang murid itu adalah seseorang yang melihat, mendengar dan belajar dari gurunya. Apa yang kita dapat pelajari dari Yesus tentang kesembuhan jiwa (kesembuhan batin)?

Kita mungkin berpikir: Apakah Yesus pernah dalam keadaan di mana jiwaNya dilukai dan disakiti? Jika Dia pernah, bagaimana reaksiNya pada rasa sakit yang seperti ini? Bagaimana jiwaNya dipulihkan?

a. Dia Menderita. Yesus adalah pola atau model/contoh yang sempurna bagi hidup kita. Jika kita dapat menemukan bagaimana Dia – dalam kemanusiaanNya – menghadapi masalah-masalah seperti itu, kita dapat menemukan penyelesaian bagi masalah-masalah kita. Marilah kita berbalik pada Firman Allah – bagi jawaban-jawaban kita. Peristiwa lukaNya Yesus dimulai dari Taman Getsemani :

“Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus sertaNya.

Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar.

“Lalu kataNya kepada mereka : “HatiKu sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah disini dan berjaga-jaga dengan Aku” (Mat 26:37,38 smf).

Jam-jam yang mengerikan yang mengikuti Kalvari digambarkan oleh nabi Yesaya. Dia berkata tentang tubuh Tuhan kita yang dipukuli, supaya tubuh kita menjadi sehat : “Oleh bilur-bilurNya kita menjadi sembuh” (Yes 53:5).

Saya percaya Dia juga menderita dalam jiwaNya – agar kita dapat disembuhkan.

Dengarkan kata-kata ini lebih lanjut dari pena nabi ini :

“Sesudah kesusahan jiwaNya ia akan melihat terang dan menjadi puas; … karena Ia telah menyerahkan nyawaNya (jiwaNya) ke dalam maut …” (Yes 53:11,12).

Seperti yang dikatakan di atas, nubuatan yang mengerikan ini dipenuhkan menjelang peristiwa penyaliban Kristus. Dia tidak hanya menderita secara tubuh, tapi jiwanya juga terluka. Dia ditinggalkan oleh murid-muridNya dan ditolak oleh orang-orang Yahudi.

Mereka mengolokNya, menarik jenggotNya dan menampar mukaNya. Dia ditertawai dan diludahi dan dibawa ke tempat terbuka untuk dipermalukan di hadapan orang-orang. Pemimpin-pemimpin rohani di hari itu dengan keras mengejek, sementara Ia menderita dalam kesakitan.

Apa yang dapat dilakukan lagi untuk membuat penderitaan jiwaNya lebih buruk? Hanya satu hal – ditinggalkan oleh Bapa SorgawiNya! Tidak mungkin ada kepedihan yang lebih besar bagi hati manusia. Tapi hal itu harus terjadi. Itu adalah harga yang harus dibayarNya bagi hukuman dosa kita.

Tidak hanya hati AnakNya yang patah, tapi hati Sang Bapa di Sorga juga. “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan untuk Allah” (2 Kor 5:21 smf).

Tangisan dari mulut Yesus ini pasti sangat menyedihkan, saat tangis itu bergema dari bumi ke sorga “AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mrk 15:34). Benar, waktu pedang itu (tombak) ditusukkan ke lambung Yesus, lebih dari darah dan air yang keluar : “Ia telah menyerahkan nyawaNya (jiwaNya) ke dalam maut …” (Yes 53:12). Ya, Tuhan Yesus telah memberi jiwaNya, supaya kita bisa memiliki kesembuhan bagi diri kita. Tanpa suatu keraguan, Dia mengalami setiap luka yang dikenal untuk jiwa manusia.

b. Dia Mengampuni. Tekanan dan tindasan pada jiwaNya selama jam-jam yang mengerikan itu pasti sangat berat. Bagaimana Ia dapat menjaga keadaan batinNya dalam kemenangan? apa yang menjaga jiwaNya dari kehancuran?

Saya percaya jawabannya dapat ditemukan pada reaksiNya pada “penganiaya-penganiaya” Nya – para pemimpin yang kejam dan prajurit-prajurit di kaki salib : “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34 smf).

Apa yang menjaga dan memulihkan jiwaNya? Pengampunan! Benar, ini adalah yang harus kita pelajari dari Yesus – bagaimana untuk mengampuni. Ini adalah kunci utama pada kesembuhan batin – jiwa.

c. Kita Harus Memaafkan. Apakah anda mengingat cerita yang Yesus katakan tentang seseorang yang telah dibebaskan dari hutang yang besar oleh tuannya? Tapi dia sendiri tidak mau mengampuni saudaranya yang berhutang lebih sedikit padanya.

Tuannya menjadi sangat marah ketika diketahuinya tentang rohnya yang tidak pemaaf. Karena itu orang tersebut dimasukkan ke penjara untuk “di siksa” oleh penjaga-penjaga penjaranya.

Yesus melampirkan cerita ini dalam suatu cara yang sangat pribadi : “Maka BapaKu yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu” (lihat Mat 18:30-35).

Apa yang dimaksud Yesus dengan hal ini? Jika kita gagal memaafkan orang lain, akar kepahitan akan mulai tumbuh dalam jiwa kita. Pada saat yang sama, hal itu akan menghasilkan buah yang sangat pahit. Jika kita berpedang terus pada “perasaan yang terluka atau keras” pada seseorang, jiwa kita akan menderita.

Pada saatnya, luka itu akan membawa siksaan pada semua bagian kehidupan kita – suatu kehidupan yang menjadi neraka di bumi, Pengampunan adalah kunci yang membuka pintu-pintu penjara dalam neraka.

Pemazmur sedang berbicara tentang Yesus ketika ia berkata : “Sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati dan tidak membiarkan orang kudusMu melihat kebinasaan” (Mzm 16:10 smf).

Jiwa kita dapat rusak dan layu di neraka karena tidak mau mengampuni. Neraka tidak dapat menahan Tuhan Yesus, sebab Dia telah memegang kunci pengampunan dalam tanganNya yang berbekas paku.

Jika anda menderita suatu sakit batin dari kepahitan, lihat pada Yesus untuk kemurahan dan pengampunan. Pasti, ini adalah pengobatan yang cepat yang dapat membawa kesembuhan bagi jiwa anda.

Katakan dengan keras kata-kata ini : “Bapa, ampunilah mereka dan ampunilah saya – sekarang juga, demi Yesus dan dalam namaNya, saya berdoa. Amin.” Maka terjadilah!

4. Datang Seperti Anak-anak Kecil

Setelah mengampuni mereka yang telah melukai dan menyakiti kita, kita siap untuk langkah kita selanjutnya menuju kesembuhan batin. Kita datang pada Yesus sebagai anak-anak kecil.

Dukungan Alkitabiah datang dari Injil Markus. Para orang tua membawa anak-anak kecil mereka kepada Yesus untuk dijamah dan diberkati. Para murid tidak senang dengan tindakan ini karena hal itu merampas waktu mereka bersama Yesus.

Karena itu mereka tidak menyetujui tindakan para orang tua dan berusaha mengusir anak-anak kecil itu. Yesus merasa sangat tidak senang dengan tindakan mereka ini, dan mengatakan hal ini pada para murid :

“Biarkan anak-anak itu datang kepadaKu, jangan menghalangi mereka, sebab orang-orang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah, Aku berkata kepadamu : sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya” (Mrk 10:14,15 smf).

Ada kuasa kesembuhan, bagi manusia yang utuh dalam Kerajaan Allah. Yesus menunjukkan hal ini lewat pelayananNya di dunia. Tapi, untuk menerima kuasa kesembuhan itu, kita harus datang seperti anak-anak kecil.

a. Ingatan-ingatan Pada Masa Lampau Perlu Kesembuhan. Banyak kali luka-luka batin disebabkan karena peristiwa-peristiwa pada masa-masa awal kita sebagai anak-anak. Kemudian luka-luka ini ditambah lagi dengan luka-luka yang lainnya yang kita terima, sementara kita beranjak dewasa.

Saya percaya bahwa menjadi seperti seorang anak kecil, termasuk kembali pada ingatan-ingatan kita pada tahun-tahun permulaan kita. Apakah kita, dan bagaimana perasaan dan pikiran kita sekarang, adalah hasil dari semua tahun-tahun masa lampau kita yang ditambahkan bersama-sama.

Banyak dari kita memiliki bayangan-bayangan dari masa lampau yang membuat hidup masa sekarang kita gelap. Hal-hal itu dapat dicari jejaknya pada luka-luka dari jiwa yang menyakitkan yang timbul ditahun-tahun yang lampau. Luka-luka itu telah sangat merusak pikiran dan emosi kita, sangatlah sulit untuk masuk dalam ke hidupan baru kita dalam Kristus dengan sepenuhnya.

b. Roh Kudus Membawa Kesembuhan. Walaupun demikian, kita sekarang telah memiliki Roh yang baru dalam kita, yang dapat memberi kuasa kesembuhan dari Yesus pada tempat-tempat di batin kita yang terluka.

Dengan bantuan Roh Kudus, gambarkan diri anda sebagai seorang anak kecil yang bersama Yesus. Lihat diri anda sendiri berjalan melalui garis ingatan anda bersama Tuhan. Anda tidak perlu takut untuk menghadapi segala sesuatu, di manapun atau pada siapapun jika Yesus ada disampingmu. Dia tidak ingin melukai anda, tapi untuk menyembuhkan anda dari kejadian-kejadian menyakitkan yang terjadi di masa lampau.

Dia akan menunjukkan pada anda mengapa anda merasa dan bertindak seperti yang anda lakukan saat anda menghadapi situasi tertentu.

Kita sering mengeluarkan perasaan kita saat kita menghadapi sesuatu yang mengingatkan kita pada bagian-bagian masa lalu yang menyakitkan atau memalukan. Kadang-kadang kita tidak segera sadar tentang penyebabnya, tapi reaksi emosi itu masih ada. Setiap kali kita tetap merasakan hal yang sama.

Yesus ingin kita meraih akar dari refleksi-refleksi yang menyakitkan ini. Dia ingin menyembuhkan ingatan-ingatan itu dengan kasih dan pengertianNya. Kadang-kadang kita teringat orang-orang yang menyebabkan luka di jiwa kita. Mereka mungkin orang tua atau anggota keluarga lainnya. Guru-guru dan orang-orang yang berwenang lainnya kadang-kadang menyalah gunakan hak mereka untuk berkuasa atas kehidupan orang lain.

Sangat dapat dimengerti bahwa seringkali orang-orang seperti ini merasa sakit juga jiwanya. Mereka juga telah pernah terluka di masa lalunya. Jadi mereka menggunakan kuasa dari posisi/kedudukan mereka untuk membangun rasa percaya diri.

Pada kasus-kasus seperti ini Allah meyakinkan kita tentang kasihNya bagi kita, dan tentang tempat khusus kita di dalam keluarga Allah. Kemudian Ia juga menyatakan pada kita bagaimana Ia ingin membawa kasih dan pengampunanNya pada semua orang.

Sentuhan kasih seperti itu akan membawa penyembuhan bagi batin kita. Kita mampu menerima pengampunanNya dan pembebasan dari perasaan pahit hati atau mengasihani diri sendiri. Lebih lagi kasih itu membuat kita mampu untuk mengampuni dan membebaskan orang lain pada kemurahan dan kasih karunia Allah.

c. Pengampunan Membawa Kesembuhan.

1) Kisah Tentang Seorang Isteri Dan Ibu Muda. Saya teringat akan seorang isteri dan ibu muda pada salah satu dari konferensi musim panas World MAP kami. Dia dikuasai oleh roh gipsi pengembara. Kadang-kadang, tiba-tiba ia meninggalkan suami serta anak-anaknya dan pergi mengendari mobil keluarga bermil-mil dari rumahnya.

Sekali waktu, ia telah pergi lebih dari 1000 mil sebelum ditemukan dan ditempatkan di kamar isolasi dari rumah sakit setempat. Akhirnya ia diusahakan untuk datang pada salah satu pertemuan kami untuk didoakan.

Tuhan memberi salah satu dari pemimpin tim kami kata-kata hikmat – pewahyuan pengetahuan dari Roh Kudus, tentang penyebab dari tindakannya ini. Dia telah hidup lewat serentetan kejadian pada masa mudanya yang telah merusakkan jiwa secara serius.

a) Dia Menderita. Dia dilahirkan di Eropa menjelang Perang Dunia II. Sebelum usianya yang ke enam, ia telah disiksa secara fisik dan emosi baik oleh ayah dan ibunya. Kemudian orang tua yang kelaparan ini meninggalkannya untuk mengurus dirinya sendiri.

Perang adalah masa yang menakutkan dalam hidupnya. Dia hidup lewat banyak ledakan-ledakan bom, tanpa mengetahui apakah dia akan hidup atau mati. Ia mencari makanan di tong-tong sampah, dan tidur di manapun dia dapat temukan tempat berteduh.

Akhirnya ia bergabung dengan sebuah kelompok gipsi dan mengikuti mereka berkelana dari tempat satu ke tempat yang lain. Sehingga `roh’ gipsi itu mengikat dirinya.

b) Dia Mengampuni. Beberapa saat kemudian, datang ke Amerika menemukan Tuhan dan menikah. Tapi, ia masih disiksa oleh mimpi-mimpi buruk, didorong oleh keinginan yang tiba-tiba dan aneh untuk berkelana seperti seorang gipsi tanpa alasan atau kesadarannya. Hal ini butuh wahyu dari Tuhan untuk membuka penyebab dari luka jiwanya.

Setelah berdoa, bimbingan dan dorongan yang terus menerus, ia mampu mengampuni mereka yang telah menyiksanya. Setelah beberapa waktu, luka di hatinya telah disembuhkan. Allah memulihkan jiwanya dan mengalihkan rasa sakit itu dari masa lalunya yang tragis. Dia menjadi seorang perawat, melayani orang-orang sakit dan menderita. Puji Tuhan!!

2) Pelajaran Dari Kehidupan Yusuf. Seperti yang telah kita lihat peran dari pengampunan itu sangat penting dalam menerima kesembuhan batin. Contoh yang indah dari kesembuhan batin ini ditemukan dalam cerita Perjanjian Lama tentang Yusuf (lihat Kej 37-46).

a) Ia Menderita. Anda ingat bahwa ia diberi kebaikan dan perhatian yang khusus oleh ayahnya, Yakub. Sebagai seorang anak kecil, ia diberitahu oleh Allah dalam sebuah mimpi bahwa suatu hari nanti, ia akan menjadi seorang pemimpin yang besar. Saudara-saudaranya sangat iri dan akhirnya menjualnya sebagai budak ke Mesir. Isteri tuannya gagal untuk menggoda dia secara seksual. Dalam amarahnya, ia berdusta (memfitnah) mengenai sikap Yusuf, dan membuat Potifar, suaminya memenjarakan Yusuf di ruang bawah tanah.

Yusuf memulai hidupnya sebagai anak laki-laki dengan janji tentang masa depan yang cerah. Dia berakhir sebagai seorang yang tanpa harapan di dalam penjara yang gelap. Alkitab berkata bahwa ia : “dan besi masuk ke dalam jiwanya” (terjemahan bebas : Mzm 105:18 amp). “Lehernya masuk ke dalam besi” (terjemahan LAI).

Dikhianati, dijual sebagai budak, diberi tuduhan palsu, dilupakan dalam penjara, ia diuji oleh Firman Allah. Secara normal, ia memiliki alasan yang kuat untuk menjadi marah, pahit, benci dan bahkan menghancurkan dirinya sendiri karena mengasihani diri sendiri dan berputus asa. Tapi ia tidak melakukannya.

Situasi seperti ini hanya akan membuat kita “pahit” atau “baik”. Hal ini tergantung pada bagaimana kita bereaksi. Pilihan itu ada pada kita. Bagaimana reaksi Yusuf?

b) Ia Mengampuni. Kita tahu cerita selanjutnya. Yusuf telah diberi kewajiban-kewajiban penting bahkan sementara ia dalam penjara. Setelah tigabelas tahun dalam penjara, ia adalah satu-satunya orang di Mesir yang dapat mengartikan mimpi Firaun.

Akibatnya, ia diberi kedudukan oleh Firaun pada posisi dari otoritas dan kuasa yang tertinggi. Dia menjadi penguasa atas seluruh Mesir.

Allah kemudian membawa saudara-saudaranya kembali padanya. Apa yang dilakukannya? Berdiri dengan kemarahan? Menghancurkan mereka dengan kemarahan yang sepadan yang disulut oleh tahun-tahun penuh kebencian? Tidak, ia memberi mereka makan dan mengampuni mereka!

Apa yang menyebabkan reaksi yang sangat terhormat dari Yusuf? Saya tidak percaya bahwa tindakan Yusuf ini suatu tindakan yang tergesa-gesa atau hanya kebetulan. Ini bukanlah hal yang terjadi begitu saja karena tampaknya ini adalah suatu “ide yang baik” pada saat itu. Itu adalah tindakan yang lahir dari karakternya – dan dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membangun suatu karakter/sifat yang seperti itu.

Ketika Yusuf melihat saudara-saudaranya, ia telah berada di Mesir selama + 23 tahun. Dia adalah seorang pemuda berusia 17 tahun waktu ia tiba disana. Itu adalah waktu yang cukup lama untuk menjadi “pahit” atau “baik”.

d. Tujuan-Maksud Allah Baginya untuk Kebaikan. Saya percaya bahwa Yusuf memegang teguh Firman Allah dan mimpi bagi kehidupannya. Itu adalah pengharapannya. Dia telah memiliki takdir Ilahi. Karena itu, segala sesuatu akhirnya akan bekerja sama untuk tujuan yang baik. Pewahyuan itu membuatnya tetap setia dan mengampuni. Anda ingat perkataan hikmatnya pada saudara-saudaranya:

” `Jangan takut, sebab aku inikah pengganti Allah? Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga’. Demikianlah ia menghiburkan mereka dengan menenangkan hati mereka dengan perkataannya” (Kej 50:19-21 smf).

1) Yusuf Percaya Pada Allah. Tapi, ada kebenaran yang lain tentang kesembuhan batin yang dapat kita pelajari dari hidup Yusuf. Setelah ia diangkat sebagai penguasa di Mesir, dia diberi Asenat, putri/anak perempuan dari Potifera, untuk menjadi isterinya. Anda akan memperhatikan bahwa nama ayah dari isterinya sangat mirip – baik dalam arti maupun bunyi – dengan tuannya yang dahulu Potifar.

a) Allah Menyembuhkan Ingatannya. Setiap sisa-sisa luka atau kekesalan hati Yusuf terhadap Potifar sebenarnya dapat dengan mudah menjadi masalah besar. Hanya dengan melihat dari ayah mertuanya saja atau bahkan menyebut namanya – dapat membawa pikiran Yusuf pada tahun-tahun yang menyakitkan dari hukumannya yang tidak adil di penjara. Berapa banyak orang telah menderita karena “membawa beban” dari masa lalu ini.

Dalam kemurahan Allah, Yusuf telah disembuhkan dari semua luka yang kejam dan tidak adil dari masa lalunya. Hal ini dapat dilihat dengan jelas pada kedua nama anaknya, Manasye dan Efraim (Kej 41:51,52).

Manasye berarti : “melupakan” Yusuf menerangkan pilihan dari nama ini dengan kata-kata yang indah : “Allah telah membuat aku lupa sama sekali kepada kesukaranku (luka-lukaku, sakit hatiku pada masa mudaku) dan kepada rumah bapaku” (ayat 51 smf). Allah telah menyembuhkan ingatan Yusuf.

Sekarang hal ini tidak berarti bahwa semua ingatan-ingatan itu telah dihapus secara total. Tapi hal ini memang berarti bahwa luka dari ingatan-ingatan itu telah dipindahkan.

Allah telah memulihkan jiwa Yusuf. Yusuf dapat mengingat masa lampau tanpa merasa sakit atau menderita. Kehilangan keluarga yang dialaminya dan kerasnya hidup dalam penjara memang benar-benar terjadi. Tapi itu tidak menghancurkan jiwanya!

b) Allah Membuatnya Berbuah. Efraim – nama anak keduanya – berarti “berbuah”. Yusuf menambahkan pemikiran ini dalam hatinya :” “Allah membuat aku mendapat anak (berbuah) dalam negeri kesengsaraanku” (ayat 52 smf).

Allah tidak hanya memindahkan rasa sakit itu dari ingatan Yusuf; Dia juga berbuat hal yang lain. Dia benar-benar mengambil peristiwa-peristiwa jahat dalam kehidupan Yusuf dan mengubahnya untuk menjadi benar-benar baik bagi Yusuf dan bagi Allah! Tujuan kekal Allah dikerjakan pada masa itu lewat kehidupan Yusuf. Tidak ada yang hilang atau terbuang. Allah dapat membuat anda berbuah di tempat luka dan derita anda. Ijinkan Dia masuk untuk menyembuhkan anda.

5. Serahkanlah Jiwa Anda pada Allah

Allah tidak hanya ingin menyembuhkan luka-luka masa lalu kita, tapi juga ingin memberi kita harapan yang cerah bagi masa depan kita. Kita dapat percaya pada Dia untuk melindungi kita dari macam-macam luka dalam yang akan merusak jiwa kita pada hari-hari yang akan datang.

Kemurahan dari pengampunanNya yang tersedia dapat dengan cepat/segera memadamkan api kemarahan, kepahitan, ketakutan, kasihan pada diri sendiri – sebelum hal-hal itu dapat melukai kita atau menajiskan orang lain. Jiwa kita dapat menjadi damai dan kita dapat bersukacita dalam kasihNya yang besar bagi kita.

Di sini kita dapat menemukan suatu perasaan yang sesungguhnya tentang penghargaan diri seperti Yusuf, kita juga memiliki takdir yang kekal – dalam Yesus Kristus.

Mungkin pembaca yang terkasih, dalam hati anda telah sangat tersentuh oleh pengharapan akan kesembuhan jauh di dalam jiwa anda sendiri. Terimalah ini sebagai pekerjaan yang lembut dari Roh Kudus yang menyiapkan anda bagi suatu pelepasan yang sangat anda dambakan.

a. Yesus Akan Menyatakan. Anda mungkin telah berusaha sebelumnya, dengan usaha anda sendiri, untuk mencari hal-hal yang dari masa yang lalu. Tapi karena hal itu hanya membawa pada tekanan yang lebih dalam, anda mengesampingkan semuanya itu.

Saat ini, cobalah datang pada Yesus – dan biarkan Dia yang mencari hal-hal tersebut dalam jiwa anda. Dia itu bijaksana, pengasih dan sangat lembut. Dia dapat membawa pada pikiran anda bagian-bagian, tempat-tempat dan orang-orang di masa lalu anda yang perlu sentuhan kesembuhanNya. Sekali lagi kami katakan Yesus ingin memulihkan jiwa anda dan ingin menjadikan anda utuh. Jangan Takut!

b. Allah akan Menyembuhkan. Seorang anggota dari tim pelayanan kami, Dr. Robert Frost (yang meninggalkan kehidupan ini untuk berjalan dengan Yesus pada tahun 1992), mengatakan kisah ini :

“Saya berkata-kata tentang hal ini dari pengalaman pribadi. Saya pernah berusaha membuka luka-luka lama saya dengan usaha dan hikmat saya sendiri. Hal ini hanya membuatnya lebih buruk.

“Akhirnya saya datang pada Tuhan dan dengan sederhana berkata : `Aku akan percaya padaMu Roh Kudus untuk menyatakan padaku apa yang perlu kuketahui. Perbuatlah itu dengan jalanMu, dan dalam waktuMu’.

“Tiga hari kemudian, Allah mengingatkan saya tentang sesuatu yang telah lama saya lupakan. Saya melihat diri saya sendiri sebagai seorang anak kecil ditengah-tengah situasi yang sangat menyedihkan. Saya telah ditolak, disisihkan dengan cara yang menyakitkan, tanpa kebaikan dan tanpa kasih.

“Saya melihat diri saya sendiri di bawah tangga sekolah yang gelap dengan air mata mengalir turun ke wajah saya. Saya telah mencari pertolongan dari Allah, karena saya telah terluka dan sakit di dalam diri saya.

“Dalam iman, saya membawa Tuhan Yesus langsung ke bagian masa lalu saya itu. Saya memintaNya untuk menyembuhkan ingatan yang menyakitkan itu. Saya menggambarkan Yesus dalam pikiran saya datang dalam kasih pada anak kecil itu. Saya melihat Yesus meletakkan tanganNya, memeluk saya seperti seorang adik dan kakak.

Sumber: http://lead.sabda.org/

Baca juga:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *