Integritas Diri

Tunjukkan nilai apa yang Anda anut, maka kutahu integritasmu. Ya, integritas tergantung pada nilai-nilai yang diyakini. Maka, pastikanlah nilai dan alat ukur yang digunakan!
Integritas sebuah kata yang terkesan gagah. Kata itu kini digembar-gemborkan. Terkhusus dalam konteks kondisi bangsa yang carut-marut. Para pakar mengatakan hanya pribadi berintegritas yang mampu melawan ketidakbenaran yang telah mengorbankan keadilan masyarakat.

Akan tetapi, mungkinkah integritas itu dijalankan dalam kehidupannya nyata? Jangan-jangan hanya slogan yang tak memberi dampak. Terlalu sering kita mendapatkan kesan yang ini berintegritas, yang itu tidak. Namun, betapa kecewanya kita. Yang diagung-agungkan justru terbukti melawan integritas itu sendiri.
Okelah. Fakta di atas memang ada. Kerap kita temukan. Tidak jauh dari kehidupan sehari-hari. Namun, bukan berarti pesimis. Pukul rata. Apalagi berkesimpulan integritas sukar dijalankan di zaman ini. Memang faktanya sukar. Namun, sukar tidak berarti tidak bisa dilakukan. Bukankah orang bijak berkata, “Di mana ada kemauan di situ ada jalan.” Artinya, menjalankan hidup berintegritas sangat mungkin. Sepanjang ada kemauan, terbuka kesempatan untuk memiliki integritas sejati.
Lagi-lagi, persoalannya dimulai dari mana? Perhatikanlah budaya masyarakat yang tak menempatkan integritas sebagai panglima. Bahkan ada kecenderungan memandulkan nilai integritas, lalu menggantikan dengan nilai lain yang kualitasnya lebih rendah.
Kalau begitu, dari mana integritas itu mulai dibangun? Pokok ini penting ditanyakan. Pasalnya, langkah awal menentukan suksesnya langkah-langkah berikut.
Prinsip Rohani

Berbicara mengenai integritas nampaknya sukar dilepaskan dari masalah rohani. Masalah rohani mendasari integritas sejati. Seperti dikatakan Pdt. Ir. Mangapul Sagala, Th.D (54). Bagi Mangapul, untuk membangun integritas harus kembali ke firman Tuhan. Integritas di luar firman hanya bersifat semu karena kebenaran-kebenaran lain relatif sifatnya. Dicontohkan Mangapul, Yusuf dan Daniel. Mereka berada dalam kondisi yang punya alasan logis untuk tak berintegritas. Namun, kedua orang ini setia pada firman Tuhan. Nilai-nilai firman Tuhan itulah yang membentengi mereka dari segala penyangkalan jati diri sebagai anak Tuhan.
Dalam Perjanjian Baru, Yesus sendiri mengajarkan bagaimana berintegritas. Secara khusus Dia berbicara perihal berkata benar. Yesus berkata tegas, bila ya katakan ya. Bila tidak, katakan tidak. Selebihnya berasal dari iblis.
Memang, tak bisa menutup mata adanya godaan yang hendak menggerogoti integritas. Namun, tidak berarti tak bisa diatasi. Doctor of Theology dari Trinity Theological College/SEAGST ini meyakini integritas dapat dilakukan secara praktis. Bahkan bisa diterapkan sebagai gaya hidup. Bagaimana caranya? Selain kembali ke firman Tuhan, suami Dra. Junicke Siahaan ini menyatakan perlunya membangun komunitas. Katakanlah komunitas orang-orang berintegritas. Dalam komunitas itu, masing-masing saling mengawasi, menegur dalam kasih, dan mengingatkan bila langkahnya sudah mulai miring. Barangkali ini kelemahan selama ini. 
Lingkungan pergaulan, komunitas, amat menentukan. Bila bergaul terus dengan komunitas maling, koruptor, lama-lama akan tergoda untuk menjadi maling. Tanggul pertahanan integritas dapat jebol di tengah komunitas yang tidak mendukung. Maka, kehidupan rohani menentukan kualitas integritas. “Bila kerohanian merosot, sulit mempertahankan integritas,” cetus kelahiran Samosir, Sumut tersebut.
Alat Ukur

Integritas harus melanda seluruh bidang kehidupan. Apa pun itu, integritas tetap jadi prioritas. Dalam bidang bisnis misalnya. Banyak orang berkata kalau tidak berbohong, tidak menipu, tidak memanipulasi data, bagaimana dapat untung? Susah! Namun, George Iwan Marantika, MBA (42) meyakinkan bahwa integritas dapat diterapkan dalam bidang apa saja. Semua bidang harus punya standar integritas. Rektor Universitas Kristen Imanuel (UKRIM) Yogyakarta ini percaya prinsip tersebut. “Integritas itu mutlak diperlukan,” jelas Master Business Administration (MBA) University of La Verne, California USA tersebut.
“Itu sih teori,” kata seseorang. “Coba praktiknya apa bisa demikian?” timpal temannya lagi. Pertanyaan ini mewakili banyak orang yang meragukan soal integritas dalam kehidupan nyata. Apa ukuran suatu integritas? Lagi-lagi Iwan tak putus asa. Consultant at world Bank itu menjelaskan selalu ada jalan keluar. Dari pespektif manajemen, integritas dapat dilihat dari dua sudut pandang. Sudut pandang pertama adalah penilaian diri sendiri. Seseorang menilai integritasnya dari sisi nilai yang ia pegang secara pribadi. Nilai yang selama ini dinilainya benar. Namun, ada pula sudut pandang yang lain. Sudut pandang itu adalah perspektif komunal. Sudut pandang ini tidak lagi berdasarkan penilaian diri. Nilai-nilai komunal yang telah diatur itulah standar yang dapat menilai.
Dinilai sendiri oleh Staf Ahli Ekonomi Bupati Kulon Progo Yogyakarta ini, alat ukur pada sudut pandang pertama tidak dibenarkan dalam konteks institusi. Mengapa? Karena alat ukur itu didasarkan pada kebenaran pribadi yang sangat subjektif. Berarti alat ukur itu sangat lemah. Sebaiknya, alat ukur komunal itulah yang perlu diperhatikan. Sebuah perusahaan atau bisnis bukanlah pribadi. Kolektif pastinya. Maka, alat ukur komunal yang bersifat kolektif itulah dasar penilaian integritas setiap pribadi di institusi tersebut.
Dalam perspektif lembaga misalnya, kata Iwan, sebuah lembaga harus diawasi. Misalkan dalam industri pendidikan. Industri pendidikan persyaratannya sangat berat. Syarat-syaratnya tidak mudah. Orang tidak gampang memanipulasi, kecuali nekad dan mau berurusan dengan hukum. Menurut putra Pdt. Dr. Chris Marantika, Th.D ini, industri pendidikan yang pengawasannya lebih baik di negeri ini. Negara langsung mengawasi. Ada kopertis yang dipercaya negara untuk mengevaluasi setiap perguruan tinggi. Terlihat jelas campur tangan negara di situ. “Bandingkan dengan institusi yang lain. Perbankan misalnya,” tegas kelahiran Semarang, Jawa Tengah itu. Berbeda dengan perbankan. Kasus Bank Century itu rumit. Pansus pun sangat kesulitan mendapatkan bukti-bukti yang meyakinkan dan memuaskan. “Perbankan itu harus direformasi mulai dari sentralnya—Bank Indonesia (BI),” kata Iwan dengan nada tinggi.
Alarm

Tak ada manusia yang sempurna. Karena ketidaksempurnaan, sering terjadi dikotomi dalam pendiriannya. Dalam tembok gereja misalnya, terkesan sangat berintegritas. Namun, jangan tanya di luar tembok itu. Hanya Tuhan dan orang tersebut yang mengetahuinya. George Iwan Marantika pun mengakui hal ini. Namun, Pengawas Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) DIY tersebut punya kiat khusus. “Lihat itu, sambil menunjuk tulisan Galatia 5:22-23 yang terpampang di dinding kantor Rektor UKRIM,” ajak Iwan kepada Zega dan Luci dari Bahana. Rupanya, ayat-ayat firman Tuhan itu bukan sekadar hiasan dinding. Ayat itu adalah alarm bagi Iwan tatkala menghadapi tantangan bagi integritasnya. “Ayat firman Tuhan pengingat bagi saya,” katanya sembari tersenyum.
Jadi, yang telah dipraktikkan komisaris perusahaan multinasional tersebut, nampaknya sejalan dengan saran Pdt. Ir. Mangapul Sagala, Th.D. Mangapul mendorong agar umat selalu menyelaraskan hidupnya dengan firman Tuhan. Seperti dikatakan Heraclitus tidak ada yang kekal di dunia ini kecuali perubahan-perubahan. Maka, integritas sejati hanya terjadi bila manusia kembali ke firman. Apa pasal? Jelas, Allah dan firman-Nya kekal. Maka, bila mendambakan integritas yang sejati, menghayati dan melakukan nilai-nilai iman dalam kehidupan nyata, adalah pilihan bijaksana. Andakah orangnya?

Baca juga:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *