Bagaimana Menjaga Hati

Kondisi hatimu menentukan kondisi hidupmu

Bagaimana menjaga hati?

1.  Jaga dengan perenungan Firman

Amsal 4:20  Hai anakku, perhatikanlah perkataanku, 

2.  Jaga dengan menjaga apa yang engkau dengar.

Amsal 4:20  Hai anakku, perhatikanlah perkataanku, arahkanlah telingamu kepada ucapanku; 

Roma 10:17 berkata bahwa iman datang melalui pendengaran Firman Tuhan. 

Menurut Ibrani 11:1, iman adalah bukti dari sesuatu yang belum kita lihat. 

Tetapi, kita semua dapat mengakui bahwa kita belum hidup dalam iman secara sepenuhnya
dan sempurna. Jika iman kita masih penuh kekurangan dan jika iman datang melalui
pendengaran, maka yang selalu dapat dipertanyakan ialah apa yang masuk dalam pendengaran kita. 

Untuk pertumbuhan rohani kita sekalian, kita telah mendengarkan Firman-Nya melalui
hamba-hamba Tuhan di gereja dan juga melalui VCD, radio, televisi dan internet. 

Banyak di antara kita telah dengan setia melakukan renungan harian dan bahkan, beberapa
telah dapat mendengarkan suara Gembala Agung secara pribadi. 

Di lain pihak, setiap hari, berbagai macam suara duniawi meminta waktu dan perhatian penuh
kita sekalian. Kita masih hidup di dunia ini; ini adalah hal yang sangat normal dan bukan
sesuatu yang perlu dihindari. 

Yang menjadi tanda-tanya adalah apa yang kita perbincangkan dan dengarkan dari
orang-orang di sekitar kita. Kita tidak dapat melarang apa yang seseorang mau katakan,
tetapi kita dapat memilih siapa dan apa yang mau kita dengarkan. 

Apakah kita terus memilih untuk mendengar gosip tentang kelemahan-kelemahan hamba-hamba
Tuhan? 

Ataukah, kita mau mendengar apa yang baik dan benar? 

Penulis sadar bahwa ada dosa dan kelemahan di dalam gereja.  Ini bukan sesuatu yang perlu
disangkali. Kita tidak akan menutup mata akan dosa dan kelemahan. Tetapi ingatkah kita
bahwa Tuhan Yesus datang untuk orang yang sakit dan berdosa, bukan untuk orang baik dan
sehat? 

Marilah kita lihat cuplikan kehidupan murid-murid Tuhan Yesus. 

Selama tiga tahun ke-12 murid Tuhan Yesus hidup, berjalan dan melayani bersama Tuhan
Yesus; mereka belajar dari Pengajar Mulia itu sendiri. 

Bila kita amati hidup mereka, tentulah kita sekalian tercengang-cengang. 

Di Lukas 9, Tuhan Yesus mengirim ke-12 murid-Nya, memberi mereka kuasa dan otoritas akan
segala kuasa kegelapan dan sakit-penyakit (Luk. 9:1). 

Mereka mengabarkan Injil dan menyembuhkan di mana-mana (ayat 6). 

Yang mengherankan, setelah itu mereka hidup dengan ketidakpercayaan (ayat 41),
persaingan antara satu sama lain (ayat 46) dan kedengkian terhadap "pelayanan" lain
(ayat 49-50) ; mereka kemudian mengusulkan kepada Tuhan Yesus untuk supaya api dari
surga dikirim agar orang-orang yang belum mau percaya dibinasakan (ayat 51-54). Ini
sesuatu yang sangat luar biasa.
Jikalau salah satu dari kita sekalian menjadi pengajar murid-murid tersebut, mungkin
mereka akan kita panggil dan langsung ke telinga mereka meneriakkan, "Marilah kita
renungkan ulang Matius 5 sekali lagi! Kalau perlu dua kali." Tetapi, apa yang Tuhan
Yesus lakukan?
Dia bahkan mengirim 70 orang lain untuk pelayanan (Luk. 10). Yang 12 belum baik, 70
lagi dikirim. Aneh tapi nyata. Itulah cara Tuhan Yesus.

Inti hati penulis adalah berikut.
Akan ada selalu dosa dan kelemahan di dalam gereja. Tetapi, secara pribadi, penulis
mau belajar hidup dengan iman; penulis mau percaya akan sesuatu yang belum penulis
lihat, yang sudah tertera di Firman-Nya. Iman penulis sendiri sudah penuh kekurangan,
mengapa perlu dikotori dengan mendengarkan sampah dan ketidak percayaan milik
orang-orang lain? 

Sangatlah penting apa yang kita pilih untuk dengar dan "renungkan" dalam hati. Jika kita
sekalian MEMILIH untuk mendengarkan sampah, maka kita akan membayangkan, mengharapkan,
dan gemar akan sampah. Jika kita ingin mendengarkan kebaikan Tuhan, maka kita seharusnya
mendengarkan orang-orang yang telah merasakan kebaikan-Nya. Jika kita mau hidup penuh
dengan mujizat Tuhan, maka kelilingilah hidup dengan orang-orang yang hidup penuh dengan
mujizat dan kuasa. Jika kita hendak hidup dalam doa, maka bertemanlah dengan pendoa-pendoa. Di kitab Ester, bangsa Yahudi
menghadapi ambang kepunahan. 

Dengan hikmat Tuhan

Ester mempersiapkan diri untuk menghadap Raja Ahasyweros dan membela nasib bangsanya.
Di Ester 4:16 dia meminta bangsa Yahudi untuk dukungan doa puasa. Sementara itu, Ester
dan pembantu pembantunya akan juga berdoa puasa sendiri! Ini penulis belum pernah
dengar. Tolong amati sekali lagi. Pembantu-pembantu Ester berdoa syafaat dan puasa.
Tidak pernah penulis dengar bahwa pembantu-pembantu rumah tangga adalah pendoa-pendoa
syafaat dan dapat langsung masuk dalam doa puasa. Luar biasa bagaimana Ester memilih
orang-orang yang  berada di sekelilingnya!! Tidak heran  doa-doa mereka menggoncangkan
tata hidup suatu negara dan Tuhan berkenan untuk menyelamatkan bangsa Israel melalui
Ester. 

Kita sebagai umat percaya masih hidup di dunia.
Dapatlah dimaklumi dalam kehidupan sehari-hari kita dengar umat yang belum lahir baru
mengucapkan atau memperbincangkan hal-hal yang kurang enak didengar. 

Tetapi dalam hidup rohani kita sehari-hari, siapakah yang di sekeliling kita? "Kritikus
rohani" atau orang-orang yang penuh belas kasihan? Pengejek atau pendoa? Pribadi yang suka
berdebat rohani dengan dasar kedagingan atau yang rindu untuk duduk di kaki-Nya dan
mendengarkan suara-Nya? Penulis sendiri bergumul dan sangat lemah mengenai hal-hal
tersebut. Sebagaimana contoh, penulis mendengar tentang "kelemahan" dari seseorang
hamba Tuhan tertentu dan bersama rekan ini diamati secara teliti. Lambat-laun, yang
kami dengar dan pikirkan dari percakapan kami adalah "gosip"; bukankah kami seharusnya
tersungkur dihadapan-Nya dan mendoakan hal tersebut? Sering kali, sangat sedikit beda
antara gosip atau diskusi, mencemooh atau memperhatikan, benci atau cinta. 

Menjaga hati kita adalah hal yang sangat penting (Amsal 4:23).
Marilah kita jaga apa yang masuk melalui indra pendengaran kita. Marilah kita belajar
dengan penuh rendah hati tersungkur di depan takhta-nya, menikmati hadirat-Nya dan
hanya memusatkan perhatian kita ke bisikan Pencipta Mulia itu. Suara-Nya, dan hanyalah
suara-Nya sajalah, yang menjadi perintah hidup kita sekalian. 

3.  Jaga dengan menjaga mata dan imajinasimu tetap memvisualisasikan Firman Tuhan

Amsal 4:21  janganlah semuanya itu menjauh dari matamu, simpanlah itu di lubuk hatimu.
Amsal 4:22  Karena itulah yang menjadi kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya dan
kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka. 

4.  Jaga dengan selalu menjaga perkataanmu agar tetap sesuai dengan Firman Tuhan

Amsal 4:24  Buanglah mulut serong dari padamu dan jauhkanlah bibir
yang dolak-dalik dari padamu. 

5. Jaga dengan selalu disiplin mengarahkan hidup ke tujuan ilahi 

Amsal 4:25  Biarlah matamu memandang terus ke depan dan tatapan matamu tetap ke muka.
Amsal 4:26  Tempuhlah jalan yang rata dan hendaklah tetap segala jalanmu.
Amsal 4:27  Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, jauhkanlah kakimu dari kejahatan.

Baca juga:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *