7 Peringatan Dalam Kekristenan Berdasarkan 1 Korintus 6

7 Peringatan Dalam Kekristenan Berdasarkan 1 Korintus 6
Dalam kehidupan yang fana ini, meski kita adalah seorang kristen, bukan berarti kita tidak mengalami berbagai persoalan dalam dunia ini, apalagi persoalan yang bersumber dari nafsu dan keberdosaan kita.
Berdasarkan 1 Korintus 6, di bawah ini ada 7 peringatan sekaligus panduan dalam kehidupan anda, supaya anda bisa menjalani kekristenan dengan kualitas yang lebih baik lagi.
Langsung saja, inilah 7 Peringatan Penting Dalam Kekristenan Berdasarkan 1 Korintus 6

Nomor 1: Kenalilah Siapa Dirimu

Jemaat Korintus dengan segala kelebihannya, juga memiliki masalah yang sangat banyak, dan masalah yang terjadi di jemaat Korintus terus meningkat. Kasus-kasus seperti perzinahan dengan istri ayah terjadi di Korintus (ps. 5). Ditambah lagi kasus dimana sesama orang Kristen saling menggugat satu sama lain yang seharusnya dapat diselesaikan dalam kasih Kristus.
Di ayat 1, Rasul Paulus sangat heran ketika mendengar bahwa anggota gereja Tuhan di kota Korintus mendakwa sesama mereka dan mencari keadilan kepada orang-orang yang tidak benar (tidak mengenal Tuhan Yesus). Begitu herannya Paulus, sehingga ia menuliskan ‘berani mencari keadilan….’. dalam terjemahan KJV dituliskan dalam bentuk pertanyaan ‘dare any of you….?’
Maksudnya bagaimana kamu begitu berani untuk melakukan hal yang sama sekali tercela pada pemandangan Tuhan dengan menggugat satu sama lain di pertontonkan di muka dunia.
Paulus di sini bukan bermaksud mencela badan pengadilan non Kristen, tetapi ia melihat bahwa sikap perselisihan dari orang Kristen di Korintus adalah suatu gejala dari hal yang lebih penting yakni tidak mengerti dan tidak menghidupi Firman. Mereka sudah kehilangan perspektif sebagai anak-anak Tuhan. Jemaat Tuhan di kota Korintus tidak memancarkan terang Kristus di tengah kegelapan yang ada di kota tersebut. Kehidupan orang Kristen (anak Tuhan) seharusnya ada dalam damai dengan sesama (Roma 12:18).
Jika kita mengerti dan menghidupi Firman, apakah mungkin terjadi saling menggugat di antara sesama orang percaya?
Yesus memberikan perintah di dalam Yohanes 13:35:” Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” Inilah yang seharusnya menjadi ciri khas kita sebagai murid Kristus yaitu jika kita saling mengasihi. Kita harus menyadari bahwa Tuhan memanggil kita supaya kita berbeda dengan dunia. Jika dunia saling membenci, maka murid Kristus seharusnya saling mengasihi. Jika perselisihan terjadi maka harus bisa diselesaikan secara internal.
Mengapa Paulus melarang orang Kristen mencari keadilan pada orang-orang yang tidak benar?
1. Karena orang yang tidak percaya tidak memiliki peraturan-peraturan yang suci dan adil dalam menyelesaikan perselisihan menurut dasar Kekristenan (ay 6)
2. Meminta dan mencari keadilan pada orang yang tidak benar, merendahkan/memalukan kekristenan. (ay 5)
3. Karena orang kuduslah yang akan menghakimi dunia dan malaikat (ay 2, 3), sebab itu masalah perselisihan yang merupakan masalah sepele, masakan tidak dapat diatasi oleh anak-anak Tuhan bahkan yang paling sederhana sekalipun di dalam jemaat Tuhan (ay. 4)?
4. Karena orang yang tidak adil tidak mendapat bagian dalam kerajaan Allah (ay 9)
Perselisihan jika tidak diselesaikan akan mendatangkan perpecahan. Karena tubuh Kristus adalah satu, maka perpecahan tidak dikehendaki Tuhan. Sebab itu setiap perselisihan harusnya bisa diselesaikan dengan segera. Bagaimana caranya? Jika tidak dapat diselesaikan sendiri, sebaiknya dibawa kepada orang-orang kudus yakni orang yang berhikmat dalam jemaat. Yesus sendiri telah memberi perintah yang jelas bagaimana menyelesaikan perselisihan di antara orang Kristen dalam Mat 18:15-19.
Ingatlah siapa diri kita sebenarnya! Yohanes 1 mengatakan bahwa kita adalah anak-anak Allah yang memancarkan terang Kristus. Jika kita menghidupi Firman, apakah kita bisa hidup dalam perselisihan dengan sesama anak Tuhan? (bandingkan dengan Mat 5:22-24)

Nomor 2: Fokuslah Hanya Untuk Menyenangkan Tuhan.

Sebenarnya, pertanyaan yang sering sekali diabaikan dalam mengoreksi tujuan hidup adalah, “siapakah yang saya senangkan”?
Heal the world adalah salah satu lagu yang sangat terkenal dari Michael Jackson. Lagu yang menceriterakan tentang perdamaian dunia. Dunia tidak akan lebih baik jika terjadi perang terus, rasisme dan egoisme. Dalam salah satu kalimatnya dikatakan ‘See The Nations Turn Their Swords Into Plowshares’. Alangkah indahnya melihat bangsa-bangsa menggantikan pedang mereka menjadi mata bajak.
Yakobus menuliskan :’ darimanakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu? Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa.’ (Yak. 4:1-2).
Jika orang dunia berperang dan berkelahi itu karena mereka masih tinggal dalam kedagingan. Tetapi jika hal yang sama terjadi dalam tubuh Kristus, ini yang menjadi masalah. Sebab itu Paulus berkata: “hentikan itu, bukankah lebih baik bagi orang Kristen untuk menerima kerugian dan menderita ketidak adilan daripada di hadapkan di depan hakim yang tidak percaya untuk menyelesaikan perselisihanmu?”.
Yesus pernah memberikan suatu perintah yang seharusnya menjadi standar perilaku para muridNya, yakni agar kita tidak melawan orang yang berbuat jahat kepada kita, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu (Mat 5:39-40).
Pesan yang sama juga dituliskan oleh Rasul Paulus dalam Rom 12:17-21 yakni untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, karena pembalasan adalah hak nya Tuhan. Bahkan sebagai murid Kristus kita harus menjadi agen pembawa damai (ay. 18).
Sebagai orang Kristen, dunia memperhatikan kita. Sekali kita membuat label bahwa kita adalah pengikut Kristus, maka banyak orang akan menaruh kita di bawah mikroskop. Setiap tindakan kita diperhatikan, apakah ada kualitas dan kebaikan pada hidup kita. Jemaat di Korintus telah kehilangan perspektif ini. Perilaku mereka didasarkan oleh ketamakan, keegoisan serta hawa nafsu. Seharusnya fokus mereka adalah kepada panggilan Kristus yaitu menjalankan mandat dari Allah untuk menjangkau kota mereka bagi Kristus. Namun mereka hanya peduli kepada kepentingan mereka sendiri dengan membalas orang-orang yang menyakiti mereka.
Dalam ayat 5 Paulus mencela jemaat Korintus yang menganggap diri hebat namun tidak ada yang bisa menjadi penengah/mediator untuk mengatasi perselisihan di antara mereka.
Kita memanggil Yesus dengan Tuhan, namun sebenarnya seringkali kita tidak menaruh Yesus di tempat yang seharusnya sebagai Tuhan. Bukankah kita lebih sering membuat diri kita sendiri sebagai Tuhan? Kita begitu berupaya untuk menyukakan diri kita sendiri. Egoisme dan hawa nafsu adalah bukti bahwa kita mentuhankan diri sendiri. Untuk memberi persembahan kepadaTuhan saja, Tuhan tidak berkenan kecuali kita berdamai dengan sesama kita (Mat 5:24). Kalau kita memanggil Yesus Tuhan itu berarti kita tunduk akan perintahNya dan kita hanya hidup menyenangkan hatiNya. Renungkanlah!

Nomor 3: Hati hati Dengan Bahaya Gaya Hidup Duniawi

Di ayat 9 Paulus memperingatkan jemaat Korintus yang menamakan diri Kristen untuk menguji diri mereka apakah mereka sungguh-sungguh hidup dalam iman. Banyak orang mengaku Kristen tapi cara hidup mereka tidak mencerminkan kekristenan. Gaya hidup mereka jauh berbeda dengan gaya hidup Yesus. Keselamatan harus didemonstrasikan melalui keseharian hidup kita.
Yakobus 2:20 mengatakan bahwa Iman tanpa perbuatan adalah mati. Jemaat di Korintus mengklaim bahwa mereka adalah pengikut Kristus dengan perkataan mereka, namun perkataan mereka tidak sejalan dengan perbuatan mereka. Gaya hidup mereka tidak beda dengan gaya hidup orang yang tidak percaya yang ada di sekitar mereka.
Di sini Paulus menantang orang Kristen di Korintus untuk mengintrospeksi hidup mereka. Jika mereka mengaku Kristen, maka hiduplah sebagai pengikut Kristus yang sejati.
Paulus mencatat ada 10 kategori perbuatan dosa yang digambarkan tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Hal ini ditujukan, bukan bagi orang yang mungkin tanpa sadar melakukan perbuatan dosa tetapi yang dimaksudkan adalah orang-orang yang gaya hidupnya mencirikan satu atau lebih dari kategori-kategori dosa tersebut atau dengan kata lain, orang yang HIDUP DALAM dosa. 10 kategori dosa yang disebutkan Paulus adalah:
1. Cabul: orang yang memuaskan diri terus menerus dalam pornografi dan dosa seksual dengan ketidak-menyesalan.
2. Penyembah berhala: mereka yang menyembah allah lain. Pemujaan yang ada di Korintus saat itu adalah berpusat kepada kuil Aphrodit yang berkaitan dengan percabulan. Bagaimana kalau kita kontekstualisasikan dengan masa sekarang? Hal apakah yang bisa mengalihkan penyembahan kita dari Tuhan?
3. Perzinahan: orang yang melakukan hubungan intim dengan orang yang bukan suami/istrinya.
4. Homoseks/Lesbian. Imamat 18:22 dengan jelas Allah melarang seorang tidur (melakukan seksual) dengan yang sejenis (laki dengan laki atau perempuan dengan perempuan). Meskipun saat ini beberapa Negara telah melegalkan hubungan ini, namun bagi Tuhan tetap ini adalah suatu kekejian bagi Tuhan.
5. Pemburit (kata aslinya adalah arsenokoites yang artinya bisa sodomi)Sodomi berasal dari kata Sodom yang dilumatkan dengan api oleh Tuhan karena hawa nafsu mereka (Kej 18:20)
6. Pencuri: orang yang mengambil dari orang lain yang bukan kepunyaannya. Kata aslinya adalah kleptes, dari kata ini muncul istilah kleptomaniac, seseorang yang memiliki dorongan neurotic untuk mencuri. Contoh Alkitab: Zakheus dan Yudas adalah pencuri, tapi yang satu bertobat dan yang lainnya tidak.
7. Kikir: orang yang karena keserakahannya, sering mengambil keuntungan dari orang lain untuk memuaskan kelaparannya yang tak pernah puas agar dapat lebih.
8. Pemabuk: orang yang kebiasaannya diracuni oleh alcohol atau hal lainnya.
9. Pemfitnah: mereka yang menghancurkan reputasi orang lain dengan kata-kata atau gossip yang jahat.
10. Penipu: mereka yang menggelapkan uang dari usaha atau perorangan, mereka yang memamerkan perilaku predator untuk merugikan orang lain.
Di ayat 11 Paulus menuliskan bahwa dahulu memang kita hidup dalam dosa, tapi setelah diselamatkan, kita telah disucikan, dikuduskan dan dibenarkan. Yang menjadi masalah adalah bahwa banyak jemaat di Korintus yang masih hidup dengan gaya hidup lama (sebelum diselamatkan). Bagaimana dengan kita? Mari kita renungkan sejenak adakah hal-hal yang harus kita bereskan? Jika ada segeralah bereskan di hadapan Tuhan.

 

Nomor 4: Jadilah Hamba Bukan Diperhamba

 

 

Jika di ayat sebelumnya Paulus memperingatkan akan bahaya perselisihan, maka di ayat 12 ini, Paulus memulai suatu hal yang baru yang sebenarnya adalah kelanjutan dari masalah sebelumnya.
Ia menyoroti bagaimana seharusnya murid Kristus menggunakan tubuhnya. Banyak orang menyangka bahwa keselamatan itu hanya urusan rohani yang tidak berkaitan dengan tubuh. Pendapat itu adalah suatu kekeliruan yang besar. di ayat 14 dan 15, dengan sangat jelas bahwa tubuh kita bisa dipakai setan untuk menjauhkan kita dari kasih karunia Allah.
Sebab itu kita harus sangat hati-hati dalam menggunakan tubuh kita. Tubuh kita harus dipakai untuk memuliakan Tuhan (ay 20). Dalam Efesus 1:7 dikatakan :” Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya,” Anak Tuhan tidak boleh menggampangkan segala sesuatu karena merasa bahwa Tuhan sudah mengampuni dosa-dosanya.
Di ayat 12 ini Paulus ingin memperingatkan kepada orang Kristen baik yang berada di dalam atau di luar kota Korintus, bukan karena sesuatu dapat diampuni menjadikan sesuatu itu berguna. Hanya karena Tuhan mau mengampuni kita dari hukuman dari dosa-dosa kita, orang Kristen menjadi seenaknya menempatkan diri di bawah kuasa dosa.
Banyak orang berpikir bahwa yang memiliki ‘manual’ (pedoman) dari diri kita adalah diri kita sendiri. Padahal manual hidup kita sesungguhnya adalah Alkitab. Jika kita membeli sebuah handphone, maka kita pasti akan menemukan di dalam kotaknya sebuah buku/lembaran manual atau buku/lembaran pedoman tentang bagaimana mengoperasikan handphone tersebut. Apa yang harus dan tidak boleh dilakukan ada di dalam buku/lembar manual.
Sama dengan kita, yang membentuk hidup kita ini adalah Allah (Maz 139:13), maka Allahlah yang mengetahui segala hal tentang kita. Dan segala ketentuan tentang apa yang harus dan yang tidak boleh dilakukan dituliskan di dalam sebuah buku manual yang kita kenal dengan Alkitab. Jika kita mentaati semua yang tertulis dalam Alkitab, maka hidup kita akan berfungsi dengan maksimal sesuai dengan rencana sang Pencipta hidup ini.
Beberapa hal yang tentunya baik dan berguna yang disetujui oleh Allah yakni: Kasih, sukacita, damai, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah-lembutan dan penguasaan diri. Sebaliknya hal-hal yang tidak baik dan tidak diperkenan Allah adalah: perzinahan, mencuri, iri hati, mabuk, penyembahan berhala, kesombongan dll. Walaupun semuanya itu dapat diampuni, namun hal tersebut merugikan dan lebih buruknya jika kita tetap melakukan perilaku tersebut, maka kebiasaan berdosa tersebut akan menguasai kita.
Menabur pilihan, menuai tindakan; menabur tindakan, menuai kebiasaan; menabur kebiasaan, menuai gaya hidup; menabur gaya hidup, menuai takdir/nasib. Rasul Yakobus menuliskan, “ Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut. Saudara-saudara yang kukasihi, janganlah sesat!” (Yak. 1:14-16).
Kristus telah memerdekakan kita melalui pengorbananNya di kayu salib (Yoh 8:36).
Paulus mengatakan bahwa dulu memang kita hamba dosa, namun setelah dimerdekakan maka kita menjadi hamba Allah dan beroleh buah yang membawa kita kepada pengudusan (Rom 6:22). Masalahnya adalah meskipun sudah dimerdekakan, tapi masih ada orang Kristen yang masih memberikan dirinya diperhamba oleh hawa nafsu (Gal 5:1). Atau mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk hidup di dalam dosa (Gal 5:13).
Kemerdekaan kita bukanlah dalam arti kita bisa berbuat segala sesuatu karena sudah merdeka. Jika demikian maka sebenarnya kita belum merdeka karena kita masih dikuasai atau di bawah keinginan dan hawa nafsu. Ingat keinginan itu adalah halal atau baik tapi jika keinginan itu yang memperhamba kita maka itu menjadi tidak berguna dan bisa menyeret ke dalam dosa. Mari kita periksa diri dan hati kita, adakah hal-hal atau keinginan-keinginan yang memperhamba kita saat ini? Jika ada bertobatlah dan serahkanlah dirimu menjadi hamba kebenaran. Pdm.

 

Nomor 5: Perhatikan Spiritualitas Dan Imoralitas

 

 

Kota Korintus termasuk wilayah jajahan pemerintah Romawi ketika surat ini ditulis. Pengaruh agama Romawi sangat kuat terhadap penduduk di Korintus. Mereka menyembah dewi Venus/Aphrodite yang adalah “dewi cinta” berdasarkan hawa nafsu.
Peraturan di Korintus bahwa di dalam kuil Dewi Venus harus ada seribu gadis cantik yang tetap tinggal di sana sebagai pelacur dan yang beribadah kepada dewi Venus atau ‘dewi cinta’ itu.
Bagi masyarakat di kota Korintus saat itu percabulan adalah hal yang umum dan legal, bahkan dianggap sebagai “tindakan penyembahan agamawi”. Mereka menganggap apa yang legal, berarti secara moral juga bisa diterima. Itu sebabnya Paulus di awal pasal 6 ini membahas mengenai kesalahan orang Kristen Korintus yang mencari keadilan pada hakim yang tidak percaya akan Tuhan.
Hakim duniawi hanya mengadili sesuai dengan apa yang tertulis secara legal, sedangkan di Korintus saat itu ada banyak hal-hal yang tidak bermoral menjadi di legalkan (lihat pasal 5:1). Karena hakim duniawi hanya berdasarkan hikmat manusia.
Dalam kekristenan ada hubungan antara spiritualitas/kerohanian dengan moralitas. Tidak mungkin kita mengatakan seseorang memiliki spiritualitas yang tinggi sementara moralitasnya rendah. Spiritualitas yang benar akan menghasilkan moralitas yang saleh. Spiritualitas yang benar akan menjauhkan seseorang dari imoralitas (bandingkan dgn ay. 9-10). Imoralitas adalah suatu tindakan yang menuju keterikatan. Ingat Samson di Perjanjian Lama yang menjadi contoh bagaimana dosa seksual bisa menguasai seseorang. Samson adalah orang yang terkuat di bumi pada waktu itu. Ia diberikan karunia yang luar biasa, dengan kekuatannya ia dengan mudah melepaskan ikatan yang kuat, membinasakan ribuan orang dengan tulang rahang keledai. Namun Samson tidak bisa menguasai diri. Samson membiarkan dirinya terikat oleh nafsu seksual. Nafsu seksual nya menjadikannya ‘kecanduan’.
Orang yang terikat dengan alcohol menjadi ‘kecanduan alkohol’, demikian juga orang yang terikat dengan nafsu seksual menjadi ‘kecanduan seksual’. Orang yang kecanduan karena ia menempatkan sesuatu tersebut sebagai tuannya. Kita bisa terlepas dari kecanduan apapun jika kita menempatkan Yesus sebagai tuan dan Tuhan kita. Jika kita menTuhankan Yesus, maka tuan-tuan yang lain yang ada di hidup kita sebelumnya harus disingkirkan.
Ayat 13 Paulus menuliskan tentang makanan dan perut yang adalah fisik sebab itu keduanya tidak kekal dan akan dibinasakan. Tuhan mengajarkan bahwa bukan makanan yang mencemarkan manusia. Mengapa Paulus menyinggung masalah makanan dan perut? Karena orang Korintus mensejajarkan antara kebutuhan makanan untuk tubuh dengan seks untuk tubuh dan tubuh untuk seks.
Tuhan tidak menciptakan tubuh dengan kemampuan seksualnya untuk semata-mata dipuaskan secara sembarangan. Tuhan menciptakan tubuh untuk tujuanNya yakni membawa kemuliaan bagi Nya. Kita tidak menggunakan tubuh kita untuk melayani diri kita sendiri, melainkan untuk melayani Tuhan. Dimensi seksual adalah dimaksudkan di dalam ikatan pernikahan dimana kesatuan seksual menjadi kudus dalam pernikahan (Ibr 13:4).
Seperti perut membutuhkan makanan, maka tubuh kita membutuhkan Tuhan. Ketika Paulus mengatakan Tuhan untuk tubuh menjelaskan bahwa tubuh kita membutuhkan Tuhan lebih daripada makanan. Tuhan adalah sumber hidup kita baik secara tubuh maupun roh.
Perenungan: Salah satu bukti kondisi spiritualisme/kerohanian kita adalah bagaimana standar moralitas kita. Apakah kita menggunakan tubuh untuk memuaskan hawa nafsu diri sendiri ataukah kita menempatkan tubuh kita sebagai alat kemuliaan Allah?

 

Nomor 6: Renungkan kembali Makna Menjadi Satu Daging

 

 

Ayat 15-17 kita melihat ada ketidakcocokan dari 2 kesatuan: pertama, kesatuan jemaat Korintus dengan Kristus, kedua, kesatuan mereka dengan pelacur melalui seksual. Ketika Allah membangun pernikahan pertama di taman Eden, antara Adam dan Hawa, Ia mendefinisikan pernikahan ketika Ia berkata: “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging” (Kej 2:24). Definisi ini sangat mendalam. Jika seorang pria melibatkan diri dengan seorang wanita dalam hubungan seksual, maka keduanya menjadi satu daging. Itu sebabnya mengapa jika seseorang menyatukan diri dengan wanita di luar pernikahan adalah merupakan dosa.
Ketika kita percaya dalam Yesus Kristus, maka kita menjadi satu dengan Kristus (ay 17). Dalam Ef. 5:31-32, Paulus mengkorelasikan hubungan suami istri dengan hubungan Kristus dan jemaat. Jadi jelas hubungan atau kesatuan suami istri adalah kudus di hadapan Tuhan. Sebab itu Paulus memperingatkan baik jemaat di Korintus maupun seluruh orang Kristen bahwa bagaimana mungkin seorang yang sudah dipersatukan dengan Kristus sekarang bersatu dengan orang yang bukan pasangannya (pelacur)?
Dua kali Paulus mengatakan “tidak tahukah kamu” (ay 15 & 16). Paulus ingin mengingatkan kembali jika mereka sudah melupakan apa yang seharusnya mereka tahu akan dampak dari bahaya percabulan. Jemaat Korintus harus mengetahui bahwa apa yang mereka lakukan dengan tubuh mereka ada akibatnya dengan hubungan mereka dengan Tuhan. Paulus ingin menjelaskan bahwa seseorang tidak dapat bersatu dalam roh dengan Kristus dan sekaligus menjadi satu dalam tubuh dengan percabulan. Jadi, apa yang dilakukan secara spiritual berhubungan secara langsung kepada apa yang dilakukan dalam tubuh, atau sebaliknya.
Kata percabulan (ay 18) berasal dari kata Yunani porneia yang artinya berhubungan dengan semua jenis dosa seksual: perzinahan, perceraian, inses, homoseksual, seks di luar nikah, dll. Jadi masalah percabulan berlaku di sepanjang masa bahkan sampai masa sekarang. Selanjutnya di ayat 18, Paulus menyoroti bahwa dosa seksual sangat serius. Dosa yang bisa mendatangkan kehancuran. Apa saja yang dihancurkan oleh dosa seksual?
Merusak tubuh (Ams. 5:3,11).
Ada banyak penyakit yang diakibatkan oleh masalah seksual.
1. Merusak keluarga. Perceraian banyak disebabkan oleh dosa seksual yang mengakibatkan penderitaan jiwa anak-anak.
2. Merusak spiritual. Dosa menceraikan manusia dari Allah.
Bagaimana kita bisa mengatasi dosa ini?
  • Harus senantiasa ingat apa kehendak Tuhan yaitu untuk menjauhi percabulan (ay. 18, 1 Tes 4:3)
  • Menyadari bahwa dosa seksual meninggalkan akibat. Dosa bisa diampuni, tapi akibat harus dipikul.
  • Minta kekuatan dan pertolongan dari Roh kudus.
Menjadi satu dengan Tuhan bukan saja terjadi di dalam roh, tapi dampaknya sampai kepada tubuh. Penebusan Yesus adalah menyeluruh dan sempurna: tubuh, jiwa dan roh. Janganlah kita memutuskan kesatuan kita dengan Tuhan dengan menyerahkan tubuh kita kepada hawa nafsu yang membinasakan.

 

Nomor 7: Ingat Kembali, Bahwa Tubuh Adalah Bait Roh Kudus

 

 

Sekali lagi Paulus menuliskan “tidak tahukah kamu?”. Nampaknya jemaat di Korintus tidak mengetahui bahwa tubuh mereka adalah bait Roh Kudus. Mereka bertindak seakan tubuh mereka adalah milik mereka sendiri yang mereka bisa lakukan sesuka hati mereka.
Ketika kita dengan sadar membuat keputusan menjadi pengikut Kristus dan memanggil Dia dengan sebutan TUHAN, maka Tuhan akan tinggal dalam diri kita. Tubuh kita menjadi baitNya. Sama seperti dalam Perjanjian Lama Allah menampakkan diri di bait suci, maka sekarang, Ia menampakkan diriNya dalam kita. Allah berdiam dalam kita. Maka tubuh kita bukan milik kita lagi, tapi milik Allah. Ia telah membayar kita dengan harga yang tak ternilai, yakni darah AnakNya sendiri.
Tubuh kita diciptakan oleh Allah (Maz 139), dan diciptakan sebagai bait Roh Kudus, dan sebagai alat untuk memuliakan Allah. Tubuh kita bukan milik kita, tapi sebagai penata-layan yang dipercaya oleh Tuhan, kita menggunakan tubuh kita untuk memuliakan Tuhan. Sebagai orang yang sudah ditebus, kita sudah mati atas dosa bersama Kristus, dan telah dibangkitkan juga bersama Kristus ke dalam hidup yang baru. Sepatutnya kita tidak berani menggunakan tubuh kita sebagai alat kejahatan, tapi kita harus menggunakannya sebagai alat kebenaran (Rom 6:12-13).
Jika kita hidup seturut dengan panggilan kita, maka kita harus menjauhkan dari imoralitas. Paulus bukan hanya menyuruh kita untuk menghindari, tapi untuk menjauhkan (flee from) dari imoralitas. Kekudusan adalah syarat mutlak bagi umat Tuhan sebab Allah yang kita layani adalah kudus (Im. 19:2). Dalam 1 Tes 4:7, Paulus mengingatkan kembali bahwa Allah memanggil kita bukan untuk melakukan yang cemar, melainkan apa yang kudus.
Masalah pada jemaat di Korintus adalah mereka dipengaruhi oleh apa yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya yang tidak mengenal Tuhan. Mereka kompromi dengan standar budaya masyarakat bukan kepada standar Kristus. Alkitab memiliki standar yang jauh melebihi standar duniawi. Jika suatu hal illegal maka kita dengan mudah mengkategorikannya sebagai tidak bermoral. Tetapi jika suatu dianggap legal, kita harus bertanya apakah hal tsb diijinkan dalam Alkitab? Sebagai contoh, pada beberapa Negara masalah homoseksualitas sudah menjadi legal. Sebagai murid Kristus di mana RohNya berdiam dalam tubuh kita, kita harus mengetahui bahwa meskipun hal tsb adalah legal, tapi Alkitab melarang dan mengatakan bahwa hal tersebut adalah kekejian bagi Tuhan. Standar orang beriman adalah Alkitab bukan yang lain.
Setiap kali kita diperhadapkan oleh pergumulan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh kita sebagai Bait Roh Kudus, cobalah untuk menggunakan pertanyaan-pertanyaan berikut:
  • Apakah tindakan ini akan memberi kontribusi kepada pertumbuhan dan kedewasaan kerohanian saya?
  • Apakah tindakan ini akan memberi kontribusi bagi pertumbuhan dan kedewasaan sesama orang percaya?
  • Apakah tindakan ini sesuai dengan Injil?
  • Apakah tindakan ini memuliakan Allah?
  • Ingatlah kita harus memuliakan Allah dengan tubuh kita.
Itulah 7 peringatan penting dalam kekristenan berdasarkan 1 korintus 6.
 
Catatan: Artikel ini adalah karya dari Jenny Setiawan, SE, M.Th yang diedit oleh Parlin Purba
Sumber: http://www.pasupasu.com/2017/04/7-peringatan-dalam-kekristenan.html

Baca juga:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *